NovelToon NovelToon
SIAPA YANG MENYIMPAN NAMAKU?

SIAPA YANG MENYIMPAN NAMAKU?

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan
Popularitas:45
Nilai: 5
Nama Author: Omni Tales

"Dunia ini riuh oleh nama-nama, sementara aku tersisa di sela-sela kata." Nio tidak memiliki identitas, gender yang jelas, maupun ingatan masa lalu. Dia hanya hidup bersama pendar layar monitor dan residu informasi yang dibuang orang lain.
Ketika sebuah kasus anomali mendatangi meja kerjanya, Nio menemukan bentuk kejahatan yang tidak biasa: seseorang sedang mencabut sejarah manusia hingga tak bersisa. Di balik berkas-berkas mati yang membusuk dalam sistem, sebuah teror berinisial Zero mulai mengawasi setiap geraknya. Berpacu dalam kesepian dan ketakutan, Nio harus memilih: membongkar rahasia yang terkunci, atau menjadi lembaran kosong berikutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Omni Tales, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Klien Tanpa Bukti

Layar monitor hitam itu masih memancarkan simbol merah darah yang seolah menatap tajam ke arah Nio.

Nora tersengal-sengal di sebelah meja, jemarinya mencengkeram tepi kemeja Nio dengan sisa tenaga yang dia miliki.

'Sialan, cewek ini malah makin nempel saat situasinya makin tidak masuk akal,' batin Nio sambil melirik tangan Nora yang gemetaran.

Nio menepis pelan cengkraman jemari Nora lalu menggeser kursi berputarnya mendekati papan ketik.

"Duduk di kursi kayu sana dan berhenti meremas baju orang," tegur Nio dengan nada dingin yang tak terbantahkan.

Nora terhenyak kaku, matanya yang basah menatap Nio dengan kepasrahan total.

"Ta-tapi... pesan di layarmu itu... dia tahu kita sedang membicarakan Milo, kan?" bisik Nora dengan vokal bergetar.

"Belum tentu," sahut Nio cepat, jemarinya mulai menekan kombinasi tombol untuk melacak asal sinyal pesan tersebut. "Bisa jadi ini cuma pesan otomatis untuk menakut-nakuti orang bodoh."

"Aku bukan orang bodoh!" seru Nora menaikkan intonasi suaranya.

"Kalau begitu bertindaklah rasional dan berhenti menjerit di telingaku," potong Nio tanpa menoleh sedikit pun.

Nora menelan ludah secara kasar, tubuhnya mendadak melunak dan dia akhirnya menurut untuk duduk di kursi kayu.

Keangkuhan Nora yang sebelumnya sempat terlihat kini lenyap sepenuhnya, berganti menjadi kepatuhan mutlak di bawah kendali tegas Nio.

'Bagus, setidaknya sekarang dia bisa diam dan tidak menambah beban kepalaku,' batin Nio lega.

Sistem komputer Nio mendadak memunculkan bunyi peringatan melengking kencang.

Sinyal pengirim pesan misterius itu mendadak hilang, terhapus bersih tanpa menyisakan jalur IP address satu pun.

"Sialan, pelakunya bergerak sangat cepat," umpat Nio pelan sambil mengetuk jemarinya di atas meja.

Nio memutar kursinya menghadap Nora secara penuh.

"Sekarang ceritakan semuanya secara runtut dari awal," perintah Nio dengan pandangan tajam. "Jangan ada satu detail pun yang kamu sembunyikan jika masih ingin adiknya ketemu."

Nora mengangguk cepat, kedua tangannya saling bertaut rapat di atas pangkuan.

"Pagi ini aku ingin memanggil Milo untuk sarapan," ujar Nora mengawali ceritanya dengan terbata-bata. "Tapi kamarnya kosong melompong, seolah-olah tidak pernah ada yang menempatinya."

"Mungkin adikmu cuma pergi keluyuran pagi-pagi tanpa pamit?" cetus Nio bersikap skeptis.

"Tidak! Semua pakaiannya di lemari hilang, tempat tidurnya berubah jadi kasur tua berdebu!" jerit Nora emosional.

Nio meraba tekstur selembar kertas kosong di dalam saku jaketnya untuk menenangkan gejolak cemas yang mendadak muncul.

Kertas polos tanpa garis itu selalu menjadi jangkar emosi Nio saat realitas di sekitarnya terasa mulai retak.

'Dunia ini riuh oleh nama-nama, sementara aku tersisa di sela-sela kata,' gumam Nio dalam batinnya memecah ketegangan.

"Lalu apa yang kamu lakukan setelah melihat kamar adikmu kosong?" cecar Nio kembali pada mode interogasi.

"Aku mengambil ponsel untuk meneleponnya," jawab Nora sambil menyodorkan ponsel pintar miliknya ke meja Nio. "Tapi nama Milo di daftar kontak mendadak terhapus saat mataku menatap layar secara langsung."

Nio meraih ponsel tersebut dan meneliti setiap folder penyimpanan internalnya.

Seluruh file foto yang sebelumnya disodorkan Nora kini telah berubah nama menjadi deretan kode anomali yang tidak bisa dibuka.

Saat Nio mencoba melakukan proses rekonstruksi data sederhana, sirkuit ponsel tersebut mendadak panas dan layarnya berkedip mati.

"Ponselmu baru saja mengalami pembersihan residu digital secara paksa dari jarak jauh," jelas Nio seraya meletakkan ponsel mati itu ke meja.

"A-apa artinya itu?" tanya Nora dengan mata melebar penuh rasa panik.

"Artinya musuhmu bukan manusia biasa yang cuma membawa pisau atau pistol," sahut Nio datar. "Dia adalah peretas tingkat tinggi yang mampu memanipulasi jaringan data kota dalam hitungan detik."

Nora menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, tangisnya kembali pecah meratapi nasib sang adik.

"Lalu aku harus bagaimana?" rintih Nora pasrah. "Polisi menganggapku gila dan dokumen kependudukannya di balai kota juga mendadak jadi kertas kosong biasa!"

Kalimat terakhir Nora membuat gerakan tangan Nio terhenti seketika.

"Kertas kosong biasa?" ulang Nio dengan nada menuntut. "Maksudmu dokumen fisik terbuat dari kertas juga ikut berubah?"

"Iya! Akta kelahirannya yang aku simpan di lemari besi berubah jadi lembaran putih polos tanpa tinta!" teriak Nora histeris.

'Bentar, ini sudah di luar nalar hukum teknologi,' batin Nio dengan pelipis meneteskan keringat dingin. 'Bagaimana bisa pembersihan data digital berdampak langsung pada tinta kertas fisik di dunia nyata?'

Nio meraba kertas kosong di sakunya dengan genggaman yang makin erat.

Pikiran Nio mendadak melayang pada kemungkinan terburuk yang selama ini selalu dia hindari.

'Jangan-jangan... kertas kosong di sakuku ini dulunya juga berisi data penting tentang identitas asliku yang terhapus?' pikir Nio kaget.

"Bisa kamu tunjukkan padaku di mana akta kelahiran kosong itu sekarang?" tanya Nio mencoba tetap tenang.

"Ada di rumahku... aku meninggalkannya di atas meja tamu karena panik melarikan diri ke sini," jawab Nora penuh penyesalan.

Nio berdiri tegak dari kursi berputarnya dan menyambar jaket abu-abu yang tergantung di sandaran.

"Rapikan pakaianmu dan berhentilah menangis," kata Nio tegas sambil mengunci pisau lipat di sakunya. "Kita berangkat ke rumahmu sekarang juga sebelum pelakunya membersihkan sisa bukti fisik di sana."

Nora mendongak kaget, menatap Nio dengan pandangan tidak percaya.

"Ka-kamu mau membantuku?" tanya Nora ragu.

"Aku tidak membantumu secara gratis," tanggap Nio dingin. "Aku cuma butuh kepastian apakah pelaku bernama Zero ini ada hubungannya dengan ingatan masa laluku yang hilang atau tidak."

"Terima kasih... terima kasih banyak, Nio," bisik Nora dengan nada tunduk dan penuh rasa hormat.

Nio berjalan mendahului Nora menuju pintu keluar laboratoriumnya yang pengap.

Saat Nio membuka pintu kayu bernomor dua ratus empat tersebut, sosok Kael berdiri di luar sambil memegang nampan kayu.

Pria tua bertubuh bungkuk itu menatap Nio dan Nora secara bergantian dengan pandangan hangat.

"Mau pergi keluar, Nio?" tanya Kael lembut tanpa menanyakan alasan atau urusan mereka.

"Ada urusan sebentar di luar, Pak Kael," jawab Nio melunakkan nada suaranya.

"Bawa roti hangat ini untuk ganjal perutmu di jalan," ujar Kael seraya menyerahkan bungkusan kertas cokelat.

"Terima kasih banyak, Pak Kael," ucap Nio menerima bungkusan itu.

Bagi Nio, presensi Kael di lantai dasar adalah satu-satunya hal nyata yang membuatnya merasa tetap memijak bumi di tengah keasingan kota.

Nio dan Nora melangkah turun meniti tangga besi berkarat menuju jalan raya yang masih riuh oleh kendaraan.

Udara dingin kota menyambut wajah mereka saat melangkah keluar dari gang samping bangunan tua Kael.

Nora berjalan cepat memimpin jalan di samping Nio, wajahnya masih tampak pucat meski tatapan matanya mulai menunjukkan keberanian.

"Rumahku tidak jauh dari sini, cuma butuh waktu sepuluh menit jalan kaki melewati lorong pertokoan," kata Nora memberi petunjuk.

Nio hanya mengangguk pelan tanpa menghentikan langkah kakinya yang konstan.

Namun, baru melangkah beberapa puluh meter menelusuri lorong pertokoan yang senyap, Nio merasakan sebuah firasat aneh.

Langkah kaki Nio mendadak terhenti di depan sebuah toko kelontong yang tutup.

"Ada apa, Nio?" tanya Nora ikut berhenti dan menoleh bingung.

"Jangan bergerak dan tetap di belakang badan saya," bisik Nio dengan intonasi rendah.

Di sudut lorong yang remang-remang, sebuah bayangan amorf tampak berdiri diam mengawasi pergerakan mereka.

Pendar merah redup dari sebuah layar perangkat genggam terlihat menyala di kegelapan tempat bayangan itu berdiri.

Seketika itu juga, lampu-lampu jalanan di sepanjang lorong pertokoan mendadak mati secara bersamaan.

Keheningan pekat yang menekan dan terasa dingin langsung menyelimuti atmosfer di sekitar mereka.

Suara ketukan pesan masuk terdengar bersamaan dari ponsel Nio dan Nora secara otomatis.

Nio merogoh ponselnya dengan tangan gemetar, membaca satu kalimat singkat yang muncul di layar:

"Langkah pertama untuk menghapus eksistensi adalah memadamkan cahayanya."

Nio mendongak cepat, tetapi bayangan amorf di ujung lorong itu telah lenyap tanpa menyisakan jejak sama sekali.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!