Kota Mecha, pusat teknologi tercanggih di dunia, kini menjadi incaran kota-kota luar yang iri dan ingin menghancurkannya. Demi menjaga kedamaian, pemerintah dan perusahaan Mechabest mencari pahlawan generasi baru berhati mulia untuk menggantikan para pahlawan senior yang pensiun.
Kehidupan empat sahabat—Yasing, Maul, Alfian, dan Sahla—berubah drastis ketika agen rahasia mendatangi rumah mereka dan mengundang mereka mengikuti trial khusus. Berbekal Jam Perubah berkekuatan berbasis keahlian hewan, mereka harus bekerja sama menghadapi musuh, menguasai mode robot masing-masing, dan bertahan dari petualangan yang penuh aksi sekaligus aksi kekonyolan khas persahabatan mereka!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyasy Asy-Syaif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari Pahlawan Baru
Gedung raksasa yang berdiri megah tepat di pusat Kota Mecha itu bukan cuma sekadar bangunan biasa. Itu adalah Markas Pusat Mechabest—garda terdepan yang bikin kota paling canggih ini tetap aman dari serbuan kota-kota luar yang iri.
Suasana di ruang utama markas hari ini lumayan tegang, tapi juga campur aduk. Beberapa anggota pahlawan senior dan petinggi Mechabest lagi ngumpul melingkari meja hologram.
"Jadi gimana, Pik? Pensiunnya tim senior bikin pertahanan kita agak pincang nih," ucap Prof. Einstein sambil mengelus janggutnya yang putih. Sebagai kepala Mechabest, dia yang paling pusing mikirin masa depan kota.
Teh Caca, sang komandan yang tegas tapi penyayang, langsung menepuk meja. "Kita nggak bisa asal pilih orang. Kriteria kali ini harus bener-bener ketat. Calon Mechabest baru harus kuat fisik, kuat mental, tulus jalanin setiap misi, dan yang paling penting... rela berkorban buat Kota Mecha."
"Tenang aja, Ca. Syarat kayak gitu mah udah wajib," sahut Pasya santai sambil nyender di kursi. Sebagai pemegang Mecha Poison, pembawaannya memang selalu tenang tapi mematikan.
"Iya sih, Bang Pasya benar. Tapi nyari anak muda yang tulus zaman sekarang tuh susah-susah gampang tahu," tipal Clairine, pengguna Mecha Water yang paling muda di sana.
Opik, sang ahli analisis, cuma tersenyum tipis. Jari-jarinya menari lincah di atas layar touchscreen transparan. "Gua udah antisipasi itu. Data seluruh remaja di Kota Mecha udah gua crawl. Sekarang tinggal penyaringan tahap akhir."
Opik menekan satu tombol merah. BZZZT!
Dari atap gedung Mechabest, puluhan drone pengintai berukuran mikroskopis meluncur ke udara, menyebar ke seluruh penjuru kota. Tujuan utama mereka: mengawasi sekolah-sekolah menengah di Kota Mecha dan merekam pergerakan para siswa secara real-time.
"Drone udah jalan. Sekarang kita cuma tinggal tunggu datanya masuk," kata Opik sambil nyeruput kopinya.
Sementara itu di Sekolah Menengah Kota Mecha, suasana kelas sama sekali jauh dari kata 'heroik'.
Di pojokan kelas, Yasing lagi adu panco sama temen sekelasnya sambil teriak-teriak heboh. "Gak bisa! Gua gak boleh kalah! Daya tahan gua tuh setingkat badak!" serunya dengan muka merah padam.
Di sampingnya, Maul cuma duduk tegap sambil benerin kerah bajunya, sok cool banget padahal dari tadi merhatiin cermin kecil. Tapi begitu Yasing mementalkan meja gara-gara terlalu antusias, muka Maul langsung berubah datar dan makin ditekuk. "Sing, bisa diem gak? Kesel gua lama-lama. Gua lagi gak bisa diajak becanda ya."
Gak jauh dari mereka, Alifian lagi sibuk menceramahi anak-anak cewek tentang 'Strategi Memilih Jajanan Kantin Sesuai Nutrisi'. "Kalian tuh harusnya beli siomay bagian tahu sama telornya aja, minyaknya dikit! Percaya sama gua!" oceh Alifian berapi-api. Tapi pas ditanya kenapa dia sendiri malah makan kerupuk kaleng, Alifian cuma nyengir. "Ah, teorinya kan gitu, prakteknya mah bebas!"
Sementara Sahla? Dia malah rebahan di mejanya, tapi matanya lirik kiri-kiri sambil nggosip sama temen sebelahnya. "Eh, kalian tahu gak? Katanya anak kelas sebelah semalem ditembak sama ksatria kegelapan tapi ditolak gara-gara kurang canggih. Beneran, gua gak bohong!" bisik Sahla antusias, padahal cerita itu cuma karangan halunya doang biar gak bosen pas pelajaran.
Empat sahabat dengan kelakuan ajaib itu sama sekali gak sadar... kalau di luar jendela kelas mereka, ada drone kecil transparan yang lagi merekam semua tingkah konyol mereka.
Singkat cerita, Yasing, Maul, Alif, dan Sahla berjalan bareng pulang sekolah menuju rumah mereka masing-masing. Tanpa sepengetahuan mereka, sebuah drone transparan mengawasi setiap langkah mereka dari jauh.
Ketika mereka sampai di dekat tempat penyeberangan, mereka melihat seorang nenek yang membawa banyak barang bawaan dan tampaknya kesulitan untuk menyeberang. Yasing yang matanya jeli langsung berbisik ke Maul buat nolongin nenek itu. Tanpa pikir panjang, yang lain pun langsung mengiyakan.
Sahla yang biasanya mageran tiba-tiba cekatan membawakan barang bawaan si nenek, Alif dengan gaya sok dewasanya menuntun si nenek pelan-pelan, sementara Yasing dan Maul berdiri paling depan di jalan raya sambil melambaikan tangan menghentikan kendaraan yang lewat.
Namun, dari kejauhan ada satu motor yang ngebut dan kelihatan enggak mau mengalah. Kelihatan jelas kalau pemotor itu nekad mau menerobos.
Melihat ancaman itu, Maul langsung pasang muka amat serius. Kesabarannya hilang seketika. Dengan sigap, Maul pasang kuda-kuda dan menghentikan pengendara motor yang melaju kencang itu hanya menggunakan kedua tangannya! BRAK! Bagian belakang motor itu sampai terangkat ke udara karena tertahan paksa.
Sang pengemudi motor seketika pucat pasi dan ketakutan melihat aksi ekstrem Maul.
Yasing yang emosinya ikut terpancing langsung maju dan ngomelin pemotor itu, "Woy Pak! Liat enggak ada orang mau nyebrang?! Buka matanya dong, bahaya tau!"
Pengendara motor yang masih gemetaran itu cuma bisa mengangguk-angguk pasrah. "I-iya dek, maaf, maaf banget... saya lagi buru-buru..." ucapnya gagap sambil buru-buru memutar balik motornya dan pergi dengan kapok.
Alif yang menuntun si nenek langsung berdeham sok keren. "Makanya Pak, kalau berkendara itu harus mengutamakan keselamatan pejalan kaki! Kan saya udah sering bilang di teori kesopanan lalu lintas!" celetuk Alif, padahal tadi dia cuma berdiri santai di samping nenek.
"Udah-udah, Alif, ngomong doang kamu," sahut Sahla sambil merapikan tas nenek. Lalu dengan gaya khasnya yang suka bual, Sahla berbisik ke nenek itu, "Nenek tenang aja, dua temen saya yang di depan tadi sebenarnya mantan atlet angkat beban tingkat galaksi, jadi motor mah lewat!"
Nenek itu cuma tertawa kecil dan mengelus dada lega. "Terima kasih banyak ya, anak-anak baik. Kalian mulia sekali mau bantu nenek," ucap nenek itu tulus.
Setelah memastikan si nenek sampai di seberang jalan dengan aman, keempat sahabat itu saling melempar tos dan melanjutkan perjalanan pulang sambil tertawa-tawa.
Sementara itu, jauh di atas udara, drone pengintai merekam seluruh kejadian tersebut. Sinyal rekaman itu langsung terkirim ke markas pusat Mechabest.
Di ruang utama Mechabest, Opik menatap layar monitor dengan senyum lebar. "Ca, Pasya, lihat ini. Sensor ketulusan dan keberanian mereka tembus skor maksimal. Kita udah nemu calonnya."
Teh Caca dan Pasya tersenyum puas melihat rekaman aksi Yasing, Maul, Alif, dan Sahla.
"Luar biasa," ujar Teh Caca bangga. "Siapkan agen. Kirim mereka ke rumah anak-anak itu sekarang!"