Dijodohkan dari sebelum lahir, dan bertemu tunangan ketika masih di bangku SMA. Aishwa Ulfiana putri, harus menikah dengan Halim Arya Pratama yang memiliki usia 10tahun lebih tua darinya.
Ais seorang gadis yang bersifat urakan, sering bertengkar dan bahkan begitu senang ikut tawuran bersama para lelaki sahabatnya.
Sedangkan Halim sendiri, seorang pria dingin yang selalu berpembawaan tenang. Ia mau tak mau menuruti permintaan Sang Papi.
Bagaimana jika mereka bersatu? Akankah kehangatan Ais dapat mencairkan sang pria salju?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Surliandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari pernikahan.
Pagi hari begitu cerah. Semua bersemangat mempersiapkan pernikahan yang akan di gelar hari ini. Tinggal beberapa jam lagi, Ais akan bergelas Nyonya Lim, meski usianya masih belia.
"Senyum dong sayangku." goda Nisa.
"Ini, ribet banget deh, dandanannya. Bisa di kurangin ngga sih? Segala macem beginian dipake." keluh Ais, yang telah mengenakan kebaya putih, lengkap dengan mahkotanya yang indah.
"Eh, jangan dingituin, nanti rusak. Nakal banget deh, tangannya." tegur Nisa sang sahabat yang usil itu.
"Tapi, ini berat." keluhhya.
"Kak, ini hellsnya. Dipakai, ya? Supaya makin anggun." ucap salah seorang anggota MUAnya.
"Hah, hells? Mana bisa gue pakai begituan?"
"Ah, ngeluh mulu loe. Ngga papa lah, sesekali. Sekali sumur hidup, juga.".
"Emang yakin, gue seumur hidup sana dia?"
"Hey! Husssst! Jangan katakan itu. Pamali, you know pamali? Ora ilok." Nisa membungkam mulut Ais.
Nisa akhirnya mencari cara, agar sahabatnya itu tak lagi banyak protes. Hingga akhirnya, Ia mendapat sebuah ide agar Ais merasa sedikit nyaman dengan kabayanya itu.
" Nah, pakai ini." ucap Nisa, memberikan sepatu sneakersnya pada Ais.
" Sepatu? Emang boleh?"
"Boleh, asal ngga ketahuan. Cepetan, bentar lagi acara." pinta Nisa.
Ais akhirnya memakai sepatu itu di bantu sahabatnya. Hells yang diberikan, di sembunyikan dikolong tempat tidur yang akan menjadi ranjang pengantin Lim dan Ais nanti nya.
Semua orang telah bersiap. Begitu juga Lim, yang telah duduk di singgasananya dengan pakaian begitu rapi.
"Siap bro?" tanya Dimas, memberinya semangat.
"Loe tahu, gue ngga pernah punya pilihan sekarang."jawab Lim, dengan nada datarnya.
Sambutan demi sambutan telah diucapkan. Kini hanya tinggal acara inti. Semua berdiri, menyambut kedatangan Ais yang baru keluar dari kamar pengantinnya. Entah kenapa, kamar pengantin di buat dilantai bawah. Padahal, kamar atas lebih megah dari yang lainnya.
Ais melangkah anggun, menghampiri Lim di tempatnya berdiri. Lim menatapnya tanpa berkedip, begitu pangling dengan dandanan Ais saat ini.
"Gadis kecil ini, kenapa begitu berbeda? Tak seperti biasanya." batin Lim. Ia menatapnya, dari ujung kepala sampai ujung kaki. Hingga fokus, dengan apa yang Ais pakai.
"Ya, hanya dandanannya yang berbeda." tawa Lim dalam hati.
"Hay, Kak Lim." sapa Ais dengan ramah. Ia pun duduk dengan manis disebelah sang calon suami.
"Kalian siap?" tanya Pak penghulu.
"Siap." jawab Lim dengan mantap..
Ais menatapnya," Seyakin itukah, Kakak menikahi gadis kecil sepertiku?" batinnya.
Pak penghulu mulai melakukan semua yang diperlukan. Hingga akhirnya, Ijab Qabul pun di mulai. Keduanya berjabat tangan, dan Lim memasang wajah yang lebih serius dari biasanya.
"Gantengnyaaa..." batin Ais.
Dengan segala keseriusannya, Halim mengucap ijab qabulnya dengan begitu fasih, dalam satu tarikan nafas. Tanpa hambatan sama sekali.
Hati Ais bergetar begitu kencang, tatkala semua saksi dan para tamu undangan berteriak 'SAH' pada pernikahan itu.
"Hah, sudah sah? Ais sudah resmi jadi istri orang? Ais, sudah menjadi Istri Kak Halim, yang bahkan Ais tak kenal sama sekali. Pa... Ais sudah memenuhi keinginan terakhir Papa. Apa Papa bahagia?" ucap Ais dalam hati.
Semua orang bertepuk tangan. Membuyarkan lamunannya yang cukup panjang. Ais kemudian diminta menandatangani sebuah buku nikah, lalu mencium tangan Lim yang telah sah menjadi suaminya.
Meski bukan yang pertama kali, tapi rasanya begitu berbeda.
"Ais, kenapa tanganmu dingin?" tanya Lim.
"Ais ngga tahu, mungkin karena deg-degan." jawabnya lirih.
"Atau, kamu butuh kehangatan?" tanya Lim.
Gleeekkk! Ais menelan salivanya dengan kasar. Berusaha mencerna apa yang dikatakan suami nya itu.
biar je...