Pengorbanan seorang istri demi kebahagiaan sang suami, mengharuskan Hanum berbagi bukan cuma raga tapi juga hati. "Saya terima nikah dan kawinnya Amalia binti Ahmad dengan seperangkat alat sholat di bayar tunai."
"Sah.... sah"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 🕊R⃟🥀Suzy.ೃ࿐, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ingkar 1
Hanum mengantar Ilham sampe depan pintu, sebelum masuk kedalam mobil Ilham berpamitan, "Jangan menungguku, aku takut nanti kemalaman pulang nya, kamu langsung tidur aja ya Dek," ucap Ilham.
Hanum mengangguk sambil mencium takzim tangan Ilham, "Hati-hati di jalan Mas," pesan Hanum.
Ilham mengangguk seraya mencium lembut kening Hanum, "Iya sayang, terima kasih."
Mobil Ilham keluar dari garasi, berjalan membelah jalanan Ibu Kota yang mulai padat di jam masuk kerja.
Sesampai nya di kantor Ilham disambut ramah sang sekertaris yang tak lain juga istri keduanya, "Selamat pagi Pak," sapaan halus yang terdengar sangat merdu di telinga siapapun yang mendengarnya.
Amel berjalan masuk ke dalam mengikuti sang empu ruangan.
"Apa jadwalku hari ini?" tanya Ilham.
"Tidak ada hanya ada meeting di jam makan siang nanti."
"Oh, oke."
Setelah selesai memberi laporan Amel tak langsung keluar dari ruangan, tapi malah duduk di pangkuan sang atasan.
"Mel, ini di kantor lho jangan begini ya nanti kalau ada yang lihat gimana?"
"Memang nya kenapa Mas, aku kan istrimu kalaupun ada yang lihat aku rasa tidak apa-apa."
"Bukan begitu … hhh," terdengar helaan nafas Ilham.
"Kita menikah tidak semua orang kantor tau, kamu tau kan kalo ada affairs di kantor salah satunya harus keluar, lagian kita juga baru menikah siri belum resmi jadi nggak bagus kalau banyak orang yang tahu."
"Maka nya mas Ilham buruan dong resmiin pernikahan kita, aku gak mau ya dianggap selingkuhan kamu Mas," sungut Amel.
"Iya kamu yang sabar dong, papa sama mamaku saja belum memberikan restu kita menikah siri kemarin gimana mau resmiin nya," ucap Ilham.
"Lagian kenapa sih Mas dengan orang tuamu, padahalkan kita menikah karena kamu pengen punya anak? karena selama lima tahun menikah, mbak Hanum belum bisa ngasih kamu anak kan apa jangan-jangan mbak Hanum mandul lagi?"
"Amel," bentak Ilham.
Amel terjengkit mendengar suara bentakan Ilham yang terdengar nyaring di telinga nya.
"Jaga bicara mu, Hanum tidak mandul dia sehat," sentak Ilham emosi.
"Kok kamu bentak aku Mas, apa salah aku bicara begitu buktinya memang benar kan, bahkan sampe sekarang mbak Hanum belum bisa ngasih kamu anak," sungut Amel kesal.
Ilham mengepal erat kedua tangan nya berusaha menahan amarah yang sebentar lagi akan meledak, "Kamu keluar dari ruangan ku, sebelum aku lepas kendali dan menyakitimu," ucap Ilham serak.
Amel memandang Ilham dengan mata berkaca-kaca, ia lantas berdiri dari pangkuan Ilham dan pergi meninggalkan ruangan dimana Ilham tadi membentak nya.
"****," umpat Ilham marah.
Untuk pertama kalinya Ilham membentak seorang perempuan yang bergelar seorang istri, Ilham juga tidak mampu menahan emosinya, dan untuk pertama kali nya juga Ilham kehilangan kendali atas dirinya, saat ada seseorang berkata buruk tentang bidadari hatinya, wanita yang begitu ia cintai.
Ilham menyugar rambutnya frustasi, apa yang harus dia lakukan sekarang?
Amel keluar dari ruangan Ilham dengan air mata yang membasahi kedua mata cantik nya, "Mas Ilham jahat, hiks … hiks."
Amel berjalan ke kamar mandi guna merapikan riasan nya yang berantakan karena air mata yang terus keluar dan tanpa Amel sadari ada rival kerjanya yang melihat Amel menangis,
Dengan berwajah sinis, Irma berkata "Kenapa Mel, gagal loe godain bos sampe keluar dari ruangan nya sambil nangis begitu," kekeh irma.
Spontan Amel berbalik melihat siapa yang menghina nya, "Jaga ya ucapan loe, siapa yang godain bos, bahkan tanpa gue godain juga bos loe pasti juga bertekuk lutut sama gue, gak kayak loe udah halalin segala cara jadi sekertaris bos aja gak bisa," sombong Amel.
"Brengsek," ucap Irma murka.
"Apa?" tantang Amel.
"Lihat aja ntar Mel, sekarang loe boleh bangga bisa jadi sekertaris bos, tapi saat kebusukan loe terungkap gue yakin jangankan jadi sekertaris jadi babu nya aja loe gak pantes." ucap Irma.
"Sialannn," maki Amel.
Amel menjambak rambut nya kesal, ini semua gara-gara suami nya yang tanpa alasan marah-marah padanya, padahal apa yang dia ucapkan itu kenyataanya, bahwa istri pertamanya itu mandul gak bisa ngasih keturunan, kenapa Ilham harus marah?
Keluar dari kamar mandi, Amel kembali ke meja kerjanya, bersikap profesional seolah tidak ada yang terjadi dengan nya. Tak lama suara dering telepon kantor terdengar dari meja nya.
Kringg … kring
"Hallo dengan Amel bisa dibantu,"
"Masuk keruangan saya, sekarang."
Klik ,suara telepon ditutup dari sebrang.
Dengan langkah malas Amel berjalan masuk ke ruangan bos yang tak lain suaminya sendiri, ya suara telfon tadi dari Ilham yang merasa bersalah karena telah membentak Amel.
Tok … tok … tok
Terdengar suara pintu diketuk dari luar.
"Masuk," jawab si empu ruangan.
"Bapak memanggil saya?" tanya Amel sopan.
Hhhh, Ilham menghembuskan nafas kasar. "Masuk Mel sini, ada yang inginku omongin."
Amel duduk di kursi yang ada didepan Ilham, "Langsung saja Pak apa yang ingin dibicarakan," ucap Amel formal.
"Jangan formal begitu Mel, maaf ya tadi aku marah-marah sama kamu."
Amel hanya diam, tak menanggapi permintaan maaf dari Ilham.
"Jangan diem aja dong Mel, aku menyesal udah marah-marah sama kamu sekali lagi maaf, aku harus apa biar kamu maafin aku Mel," sesal Ilham.
Amel tersenyum melihat penyesalan Ilham, niat hati ingin terus marah tapi karena melihat kesungguhan Ilham, Amel luluh juga akhirnya.
"Ya udah aku mau maafin Mas tapi ada syarat nya gimana mau apa nggak," tawar Amel.
"Ya udah apa syarat nya kalo Mas bisa penuhin pasti Mas lakuin?"
"Malam ini Mas makan malam bareng sama Amel ya, Amel pengen masak buat kamu Mas."
"Hmm, baiklah Mas juga ada yang pengen di bicarain lagi nanti sama kamu, kalau begitu kamu kembali kerja lagi biar nanti pulang nya bareng, tunggu Mas di basement ya?"
"Iya Mas," jawab Amel sumringah.
Tak terasa jam kerja kantor selesai, Amel bersiap pulang sesuai yang di bilang Ilham bahwa dia harus menunggu di basement yang ada di bawah. Amel berjalan sendiri sambil menunggu Ilham selesai tak lama Ilham muncul, "Sudah lama menunggu." tanya Ilham sembari mengeluarkan kunci mobil dan bersiap masuk kedalam.
"Baru Mas belum lama," ucap Amel disusul suara debaman pintu mobil yang tertutup.
"Kita belanja dulu ya Mas, stok belanjaan di rumah habis aku belum sempet belanja, kemarin kamu juga gak pulang."
"Ok, kita belanja dulu."
Mobil melaju keluar dari area perkantoran menuju pusat perbelanjaan, membeli semua kebutuhan yang Amel inginkan. Sampai di pusat perbelanjaan, mereka berdua berbelanja dengan begitu mesra nya, Ilham mendorong keranjang belanjaan dan Amel sibuk memilih apa yang akan dibeli dan tanpa mereka sadari, ada dua pasang mata yang melihat kemesraan itu dengan mata yang berkaca-kaca.
***
itu anak siapa?