Asep seorang pemuda biasa saja, yang selalu tersisih dari kancah dunia percintaan, ditolak ciwi-ciwi karena selalu tongpes, bokek dan misquin.
Tiba-tiba suatu hari Asep ketiban Durian runtuh sepohon-pohonnya. Walhasil Asep dalam sekejap jadi OKB.
Yuk kita intip, apa yang membuat Asep bisa memperbaiki nasibnya... Hihihi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilamici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Baru Tahu Tempe
Tidak seperti yang dibayangkan Asep dan Emak, ternyata hari ini hujan tidaklah turun, hanya mendung-mendung saja yang terlihat manja bergelayut di bahu langit.
Asep melarikan vespanya dengan kecepatan yang begitu-begitu saja...
Otok otok otok...
Vespa Asep yang sudah banyak makan asam garam itu terlihat meliuk-liuk bagaikan penari ular.
Asep yg setelah ambil uang di ATM langsung beli kacamata hitam langsung memakainya ala idolanya si Albar Harrys tampak oke doke jere dewek.
Di setang vespanya yang sebelah kiri digantungkan satu kresek berisi kotak kue brownies bertabur keju dan berhiaskan stroberi .
Tujuan Asep jelas adalah ke rumah Melati, lalu setelah itu Asep akan ke rumah Sobir, tadi dia sudah chat Sobir bahwa ia membutuhkan teman malam ini di rumah Bibik dan Sobir mengiyakan dengan syarat ditraktir nasi goreng kambing beli di kedai Wkp Iraya dan alpukat kocoknya yang hitz abis.
Asep yang merasa sedang menjadi boss karena pegang uang pinjaman Wak Imah tentu saja langsung mengiyakan syarat dari Sobir.
Bahkan Asep menjanjikan rokok mild kesukaan Sobir langsung dua bungkus nanti. Tentu saja Sobir langsung deal pake banget.
Asep masih bercicit cicit cuit menuju rumah Melati untuk mengantar kue brownies yang manis seperti dirinya menurut dirinya sendiri juga.
Hingga mendekati gedung SD di mana dulu Sobir sekolah dan juga tanah lapang kosong yang dulu Asep sering main layangan dengan Sobir dan Fatih, tampak Asep makin sumringah dengan senyuman yang semakin pula merekah bagaikan kerupuk yang digoreng setelah dijemur kering maximal.
Otok... Otok... Otok...
Vespa Asep seperti Helikopter.
Mengarungi jalanan kampung melewati gedung SD dan tanah lapang.
Namun...
Setelah sekitar seratus meter sejak melewati gedung SD dan Asep hanya melihat kanan kirinya adalah tanah pemakaman serta kebun pisang milik warga, tiba-tiba Asep merasa ada yang salah.
Asep menghentikan Vespanya.
Ia sejenak terlihat celingak-celinguk, bingung kenapa pemandangan di sekitarnya kini berbeda sekali saat ia mengantar pulang Melati?
Apa dia nyasar?
Asep bertonyo-tonyo dalam hati.
Merasa bingung, Asep pun meraih hp di saku jaketnya, mencari kontak Melati yang menghubunginya pagi tadi.
Tapi...
Aneh...
Kenapa kontaknya tidak ada, padahal Asep ingat betul jika ia sudah menyimpannya di dalam hp.
Bahkan Asep menamainya "Ayang Melati".
Asep semakin bertonyo-tonyo, ia kembali mengedarkan pandangan matanya ke sekelilingnya, tanah pemakaman yang dipenuhi pohon bunga Kamboja putih terlihat begitu sepi, membuat Asep tiba-tiba merinding.
Asep akhirnya menyalakan mesin vespanya, dan segera pergi dari sana.
Melati...
Siapa dia sebetulnya?
Benarkah dia hantu?
Tapi bagaimana bisa bantu secantik dan semanis dia?
Asep terus membawa vespanya sambil bolak balik menengok ke belakang takut ada yang mengikuti dari tanah pemakaman.
Hingga kemudian sampai di warung mie ayam yang terlihat banyak orang nongkrong, Asep akhirnya memilih mengarahkan vespanya ke sana lebih dulu.
Ia mau beli minum karena degup jantungnya yang terlalu kencang seolah akan melompat copot.
Orang-orang yang duduk di warung mie ayam itu tadinya tak begitu peduli dengan kedatangan Asep, sampai kemudian Asep permisi baru akhirnya mereka menoleh pada Asep.
"Maaf Bang, mie ayam nya habis."
Kata si penjual mie ayam yang seorang laki-laki separuh baya bertubuh gemuk.
"Tidak apa-apa Pak, saya cuma mau beli minum."
Kata Asep yang wajahnya pucat karena mulai memikirkan semua tentang Melati yang memang harusnya ia sadari tak mungkin itu manusia.
"Pucat amat Bang, kenapa?"
Tanya salah satu orang yang sedang duduk-duduk di warung mie ayam tersebut.
Ia tampaknya sudah selesai makan dari tadi tapi asik merokok lebih dulu sambil ngobrol-ngobrol.
Asep lalu minta ijin ikut duduk bersama mereka, salah satu orang yang ada di sana tampak menuangkan air putih dari teko ke dalam gelas dan memberikannya pada Asep.
Lalu...
"Minum dulu Bang, sepertinya Abang baru saja ngalamin hal yang menakutkan, biar tidak sampai jantungan Bang."
Ujar orang yang memberikan minum pada Asep.
Asep mengangguk sambil mengucapkan terimakasih pada orang-orang yang duduk di warung mie ayam itu.
Bapak penjual mie ayam yang tadi sedang menyeduhkan teh manis memberikan teh seduhannya pada Asep juga.
Asep sedang meneguk air putih lebih dulu sampai habis, setelah deg degannya mereda barulah Asep bicara,
"Bapak-bapak, itu... Itu... Anu... Itu tanah lapang dan gedung SD di kampung sini ada berapa ya?"
Tanya Asep.
Orang-orang yang ditanya terdiam, lalu...
"Maksudnya apa ya Bang?"
Tanya salah satu dari mereka.
"Itu Pak, di daerah sini, apa ada Gedung SD yang persis sama bersebalahan dengan tanah lapang juga tapi di sekitarnya itu perkampungan, bukan tanah makam."
Kata Asep.
Mendengar Asep bertanya begitu orang-orang di warung mie ayam terlihat saling pandang satu sama lain, lalu berikutnya menggeleng.
"Gedung SD di kampung Rukun Jengkol cuma dua Bang, satu yang dekat makam itu SD negeri, kalau yang satunya milik Yayasannya Bu Hajjah Rohimah, yang kakaknya Hajjah Lilik pemilik meubel dekat kedai Wkp Iraya itu."
Ujar pedagang mie ayam.
Asep terlihat terdiam.
Masih segar dalam ingatan sore kemarin ia mengantar Melati pulang lewat jalan depan SD dan tanah lapang yang tadi Asep juga lewati, dan tak jauh dari sana kemudian terlihat perkampungan yang asri dan bersih.
Rumah-rumahnya semua di depannya ditanami bunga, indah sekali.
"Memangnya kenapa Bang?"
Tanya mereka hampir bersamaan.
Asep cepat menggeleng, ia rasanya ingin segera ke rumah Sobir.
Ia kini benar-benar takut jika harus pulang ke rumah Bik Marni sendirian.
Asep segera membayar minumannya, lalu permisi untuk bergegas pergi dari warung mie ayam untuk menuju rumah Sobir.
"Gilaaa... Gila, Melati berarti adalah hantu, kenapa aku baru sadar."
Gumam Asep heran dengan dirinya sendiri.
Asep menyalakan vespanya dan segera membawa vespa itu menjauh.
Di warung mie ayam, orang-orang yang berkumpul tiba-tiba menghilang, termasuk juga penjual mie ayamnya.
Warung itu terlihat hanya segerombolan pohon Bambu yang tumbuh menjorok ke jalan kampung.
Sepi...
Sunyi...
Hanya terlihat kucing oyen lewat dengan tenang di sana, tak peduli banyak hantu di sekitar jalanan yang ia lewati, toh mereka juga tak berani mengganggu si pangeran koceng oyen, karena sudah tahu dia bar bar. Hihihihi...
(Bagian ini mengandung iklan)
Asep terus melajukan vespanya menyusuri jalanan kampung, hingga kemudian ia sampai di pertigaan, ia bertemu anak kecil berusia sepuluh tahunan berjalan sendirian.
Asep yang semula akan lurus di panggil si anak kecil.
"Bang... Bang..."
Asep menoleh.
"Abang mah belok kanan, jangan lurus, itu jalan kami."
Kata si anak kecil yang kemudian melanjutkan jalannya.
Setelah itu tiba-tiba dalam pandangan mata Asep jalanan yang semula pertigaan berubah menjadi tikungan ke arah kiri.
Asep pun langsung gaspol menuju rumah Sobir.
"Han... Han... Hanciiiiiiiiilllll..."
**-------------**
Bismillahirrahmanirrahim
izin maraton thor . . . .
Aq mampir nih...
sukses buat penulisnya karya yg bagus