NovelToon NovelToon
Nafas Yang Mencekik

Nafas Yang Mencekik

Status: sedang berlangsung
Genre:Enhypen / Romansa / Dark Romance
Popularitas:87
Nilai: 5
Nama Author: rerevana

Hubungan Serena dan Heeseung selalu berada di antara lembut dan mencekik.

Setiap kali badai berlalu, Heeseung datang membawa janji dan ketenangan yang membuat Serena ingin percaya lagi. Tapi di balik perhatian dan perlindungan itu, ada rasa memiliki yang terlalu kuat untuk diabaikan.

Serena terjebak antara takut kehilangan dan takut tinggal.

Cinta yang awalnya terasa aman, perlahan berubah menjadi sesuatu yang sulit untuk dilepaskan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rerevana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

sisi lain

Jam menunjukkan pukul 22.17.

Klik.

Pintu terbuka.

Revan masuk dengan langkah lelah. Jasnya masih tergantung di lengan, dasinya sudah dilonggarkan. Sehari penuh ia menahan napas di kantor. Berpura-pura baik-baik saja.

Tapi begitu kakinya masuk...

Ia berhenti.

Ruangan itu gelap. Hanya lampu meja yang menyala redup.

Dan berantakan.

Gelas pecah. Buku berserakan. Air mengering di lantai. Meja kosong.

Jantung Revan jatuh.

Pandangan nya bergerak cepat. Mencari.

Di sudut ruangan, di antara pecahan kaca, ada Serena.

Tertidur di lantai. Memeluk lututnya sendiri. Wajahnya menghadap ke dinding.

"Rena,"

Suara Revan pelan. Hampir berbisik.

Tidak ada jawaban.

Ia buru-buru meletakkan tasnya. Melepas sepatu. Berjalan hati-hati agar tidak menginjak pecahan.

Ia berjongkok di depan Serena. Tangannya ragu. Lalu menyentuh bahu Serena pelan.

"Rena... bangun."

Serena mengerut. Matanya terbuka.

Pertama yang ia lihat adalah wajah Revan. Lelah. Khawatir. Sama seperti biasanya.

Tapi malam ini berbeda.

Serena langsung duduk. Napasnya tercekat.

"Aku mau pulang," katanya. Suaranya serak. Datar.

Revan memejamkan matanya. Ia tidak menyangka akan serumit ini. Ia mengira marah. Ia mengira diam. Ia tidak mengira ini.

"Rena, dengerin aku dulu ya..."

Tangannya terangkat. Jempolnya mengusap pipi Serena. Pelan. Seperti biasa ia menenangkan.

Serena langsung menoleh. Menghindari sentuhan itu.

Matanya menatap lurus ke depan.

"Pulangkan aku ke rumah orang tuaku."

"Rena, sekarang udah malem. Kita bicara baik-baik dulu—"

"PULANGKAN AKU!!"

Teriakan itu membelah sunyi.

Serak. Pecah.

Mata Serena merah. Basah. Wajahnya kacau. Sembab. Ada sisa air mata yang mengering di pipinya.

Itu pertama kalinya.

Pertama kalinya ia berteriak pada Revan.

Revan tertegun. Tangannya yang tadi di pipi Serena, jatuh ke samping.

Di sekeliling mereka, apartemen masih berantakan. Seperti bukti dari semua yang selama ini Serena pendam.

Dan di tengah semua itu, Serena hanya mengulang dengan suara bergetar:

"Pulangkan aku..."

Revan masih berjongkok di depan Serena.

Matanya menyapu wajah Serena. Sembab. Merah. Kacau.

Lalu turun. Ke leher. Ke tangan.

Kosong.

Jantungnya seperti dipegang.

"Di mana cincin dan kalung kamu, sayang?"

Suaranya naik. Panik. Bukan marah. Panik.

Serena tidak menjawab.

Ia hanya menatap Revan. Geram.

Matanya merah. Tangan di samping tubuhnya mengepal erat sampai buku-buku jarinya memutih.

Revan mengangkat tangan. Ingin menyentuh pipi Serena lagi. Seperti biasa. Seperti cara ia "menenangkan" selama ini.

Pak.

Tangan Serena menangkisnya. Kasar. Kuat.

Revan terdiam. Tangannya menggantung di udara. Lalu turun pelan.

Ia tertawa. Kosong.

"Kamu nggak tau ya... aku ngelakuin semua ini karena aku sayang sama kamu."

Serena masih menatapnya. Tidak berkedip. Tidak ada air mata lagi. Yang ada cuma capek.

Revan menyeringai. Sudut bibirnya naik, tapi matanya tidak ikut ketawa.

"Kamu gak tau apa yang baik dan gak baik buat kamu. Teman-teman kamu itu... apa pentingnya mereka dibanding aku?"

"Kamu udah kelewatan," potong Serena. Suaranya rendah. Bergetar.

"Iya, memang," Revan mengangguk. Pelan. "Aku tau itu, sayang. Aku udah kelewatan. Karena aku cinta sama kamu, Serena."

Ia menyeringai lagi. Lebih lebar.

"Kamu mau pulang? Boleh. Tapi nanti. Setelah aku mengizinkan."

Dada Serena naik turun.

Ia menatap pria di depannya. Pria yang dulu ia kira rumah.

"Kamu sakit, Revan."

Revan mengangkat wajahnya. Senyumnya hilang.

Diganti tatapan gelap.

"Karena kamu, Rena."

Suara Revan menekan. Berat.

"Dan siapa pun yang berani dekati kamu... nggak akan aku ampuni."

Sunyi.

Hanya suara jam dinding. Tik. Tak. Tik. Tak.

Di antara pecahan kaca, dua orang yang saling "mencintai" duduk berhadapan.

Satu ingin pergi.

Satu menolak melepas.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!