NovelToon NovelToon
Only You

Only You

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Keluarga & Kasih Sayang / Berbaikan
Popularitas:13.1k
Nilai: 5
Nama Author: moon

Yang tak suka, silahkan minggir!

Perceraian tak lantas menyudahi hubungan diantara Bagaspati Samudera dan Adinda Ayuningtyas. Sebab masih ada penghubung diantara mereka, sayangnya penghubung mereka hilang entah kemana.

"Dua tahun belakangan ini, Eyang sakit, Dind. Beliau mau ke Jakarta, dan ingin menginap di rumah kita," kata Bagas.

"Lalu, apa masalahmu? Bukankah Eyang sudah tahu kita berpisah?" sahut Adinda sengit.

"Itulah masalahnya, Ingatan Eyang mulai kacau sejak dokter memvonis beliau menderita demensia. Please, Dind, anggap saja ini permintaan terakhir Eyang pada kita."

Apakah permintaan Eyang Tuti pada Bagas dan Adinda?

Apakah Adinda sanggup menurutinya, sedangkan mereka bukan pasangan halal seperti dulu?

Berhasilkah mereka merajut kembali benang pernikahan yang dulu tercerai berai? Lantas bagaimana nasib putri kecil mereka yang hilang beberapa tahun silam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#14

#14

“Anak itu—” Dinda bergumam, tatapan kosongnya masih terpaku di tempat yang beberapa saat lalu terparkir mobil jemputan Alisha.

“Oh, Alisha namanya, siswi baru.” Dinara menjawab tanpa curiga. 

“Orang tuanya?” 

“Maminya single mother, profesinya dokter, katanya papanya sudah meninggal,” jawab Dinara. “Kenapa?” 

“Entahlah, perasaanku tiba-tiba kacau.” 

“Wajar, mungkin reaksi psikologis alam bawah sadarmu.” 

Dinda kembali pasrah, kembali memberi pengertian pada dirinya, agar tidak tersugesti untuk mengakui anak orang lain sebagai anaknya yang hilang. “Iya, kamu benar, mungkin saja demikian.” 

Dinara memahami perasaan sahabatnya itu, ia pun menggenggam tangan Dinda, “Sering-seringlah datang kemari, siapa tahu melihat anak-anak bermain dan belajar, akan membuat rasa rindumu pada Abel terobati.” 

Dinda mengangguk, menahan sekuat tenaga air mata yang hendak melompat keluar dari kelopaknya. “Boleh, kah?” 

“Boleh, dong, apa, sih, yang nggak buat kamu? Lagian bisa bantu-bantu ajak main anak-anak, lumayan meringankan tugas pengajar di sini.” 

Dinda mencebik, “Yeee, itu, mah memanfaatkan jasa orang secara cuma-cuma,” Seloroh Dinda. 

“Hahaha—” Dinara tergelak, “kapan lagi bisa mendapatkan tenaga pengajar secara gratisan.” 

Setelah puas mencurahkan segala macam uneg-unegnya, Dinda pun pamit, sebab masih harus ngebut memasang payet swarovski pada gaun pengantin yang akan dipakai pemesannya minggu depan. 

“Bu, tadi ada kiriman makan siang dari Dokter Angga. Mau di makan, nggak?” tanya Kinanti asisten Dinda. 

“Aku sudah makan siang, buat kamu saja.” 

“Baiklah, terima kasih, Bu.” Kinanti kegirangan, sebab ini bukan pertama kalinya. Jika sedang badmood selera makan Dinda pun ikut hilang, pada saat itulah, Kinanti yang dapat rezeki makan siang gratis. Mana menunya gak pernah menu biasa, selalu menu istimewa sekelas restoran bintang lima. 

Setelah Kinanti pergi makan siang, Dinda menggulung rambutnya, lalu berpindah ke ruangan khusus yang biasa dipakai untuk menyelesaikan pesanan gaun. Ada beberapa asisten dan penjahit yang sedang mengerjakan pesanan gaun bridesmaid, serta gaun untuk keluarga mempelai. 

Sementara gaun pengantin dikerjakan langsung oleh Dinda, biasanya ia meminta satu orang saja yang menemaninya menyelesaikan tugas spesial tersebut. 

Dinda bisa berkonsentrasi selama berjam-jam bila sedang mengerjakan satu gaun yang memerlukan detail khusus, baginya ini sangat menyenangkan. Karena itulah, Mama Juwita sudah terbiasa dan tak lagi heran bila Dinda pamit ingin lembur. Hanya satu yang selalu diwanti-wanti oleh Mama Juwita, jangan sampai Dinda melalaikan makan, agar kesehatannya tetap terjaga. 

Tanpa terasa malam menjelang, satu-persatu karyawan Dinda pamit pulang, karena jam kerja mereka telah berakhir. Tinggallah Dinda, Dara serta Kinanti. 

“Mbak, ini Mama barusan telepon, katanya Mbak harus pulang malam ini,” kata Dara ketar-ketir. 

“Harus banget, ya?” 

“Ya, iya. Udah berapa hari Mbak beralasan nginep di butik? Kalau nggak pulang-pulang juga, lama-lama Mama bisa curiga. Ntar yang ada Mbak di kawinin lagi sama Mas Bagas.” 

Gemas dengan ucapan Dara, Dinda mencubit mulut adiknya itu. “Ini mulut, pengen aku pasang lakban aja.” 

“Ya gimana lagi, dari pada Mbak dan Mas Bagas kucing-kucingan?” 

Tak lama kemudian, Kinanti masuk ke ruangan. “Bu, ada tamu di depan.” 

“Siapa?” 

“Kata beliau, namanya Pak Bagas.” 

“Ciyeee yang dijemput mantan,” ledek Dara, namun, Dinda mengacuhkannya. 

“Yang lain sudah pulang, Kinan?” 

“Sudah, Bu. Tinggal kita bertiga.” 

“Ya, sudah, ayo kita pulang.” 

Mereka pun bersiap, membereskan barang bawaan, tak lupa memadamkan lampu ruangan. “Aku temui Mas Bagas dulu, ya?” 

“Oke,” sahut Dara. 

“Ra, yang di depan itu, mantan kekasih Bu Dinda?” tanya Kinan, suaranya berbisik agar Dinda tak mendengarnya. 

“Bukan mantan kekasih, tapi mantan suami.” 

“Ooowww, terus yang suka datang bawa dan kirim makanan itu, siapa?” 

“Itu yang naksir Mbak Dinda. Banyak, kan penggemar mbakku?” 

Kinanti mengangguk, “Nggak heran, sih, orang Bu Dinda-nya juga cantik banget, wajar kalau banyak dikerubungi kumbang jantan. 

“Anehnya aku masih jomblo, padahal wajahku 11 12 sama Mbak Dinda,” gumam Dara. 

“Belum datang aja kali, bentar lagi juga nongol, kok.” 

“Semoga saja, ya.” 

Sementara itu, di depan butik. “Mama menyuruhku pulang dan makan malam di rumah, katanya ada tamu yang akan datang. Nanti setelah—” 

“Nggak usah, malam ini kamu tidur di rumah Mama aja,” kata Bagas, harus mengerti sebab Dinda sudah mau berkorban untuk bersandiwara menjadi istrinya. 

“Lalu Eyang, gimana?” 

“Aku akan bilang ke Eyang, kalau kamu lembur di butik.” 

Kepala Dinda mengangguk, “Baiklah kalau begitu.” 

“Ngomong-ngomong, siapa tamunya? Kekasihmu? Sampai kamu harus pulang?” 

Wajar Bagas bertanya demikian, sebab pria itu masih terngiang-ngiang dengan ucapan Dinda pagi tadi. 

“Mbak, sudah beres, ayo pulang.” Kedatangan Dara membuat Dinda batal menjawab pertanyaan Bagas. Wanita itu justru mengangguk ke arah Dara. 

“Ya, sudah, kami pergi dulu,” pamit Dinda. 

“Duluan, ya, Mas.” Dara ikut berpamitan. 

“Kalian hati-hati, ya?” 

Dinda mengangguk penuh pengertian, jika sedang begini mereka sungguh-sungguh akur, lantas apakah sudah berbaikan, belum tentu. Sebab masih ada yang mengganjal hubungan mereka. 

Mobil Dinda mulai bergerak meninggalkan halaman ruko, disusul kemudian Kinanti dengan motor matic-nya. 

•••

“Tamunya sudah datang, Ma?” Dinda masuk ke ruang makan, dan melihat beberapa hidangan istimewa tersaji di sana.

“Belum, Nak Angga bilang, dia baru pulang dari rumah orang tuanya di puncak mengantar Tiara,” sahut Mama Juwita. 

“Cuma Dokter Angga tamunya, kenapa spesial begini menunya?” gerutu Dara, yang sehari-hari makan dengan menu rumahan biasa. 

“Ya, kan, kakakmu bilang sedang sibuk dengan pesanan gaun di butik, jadi sesekali Mama masak spesial, buat kamu juga, kan?” 

Bibir Dara mencebik, tapi, tak terlalu mempermasalahkannya. 

“Ma, mungkin hingga beberapa hari ke depan aku masih lembur di butik. Nggak papa, kan?” Tanya Dinda dari depan pintu kamarnya. 

“Nggak papa, asal jaga kesehatan, dan jangan memforsir tenaga. Ada yang menemani, kan, di sana?” Mama Juwita tentu khawatir dengan keselamatan Dinda. 

“Ada, Ma. Iya, kan, Ra?” Dinda memberi kode pada Dara, agar mendukung jawabannya. 

“Oh, a-ada, kok, Ma. Aman pokoknya.” 

Mama Juwita tersenyum lega. “Syukurlah.”

Tak lama kemudian, tamu mereka pun tiba. “Masuk, Mas. Mama masak spesial buat Mas Angga.” 

“Wah, jadi tersanjung.” Dokter Angga sumringah bahagia sambil meletakkan buah tangan yang ia bawa dari rumah kedua orang tuanya. 

“Kayaknya bakal ada lampu ijo, nih, Mas,” ledek Dara seraya menaik turunkan alisnya. 

“Dara,” tegur Dinda tak suka, sebab ucapan Dara bisa menimbulkan kesalahpahaman. 

Dara tertawa jahil, “Ayo, Mas. Langsung saja ke meja makan.” Gadis itu mempersilahkan Dokter Angga untuk duduk di meja makan. Sementara Dinda, sibuk membantu Mama Juwita menata hidangan serta menyiapkan pernak pernik makan malam mereka. 

Makan malam berlangsung santai dengan obrolan ringan dengan berbagai topik sehari-hari, tak ada rasa canggung, sebab Dokter Angga sudah sering datang ke rumah Dinda. 

Tapi malam ini, pria itu memiliki niat berbeda, dan ia sudah bertekad mengatakannya di depan Dinda serta Mama Juwita secara langsung. 

“Tante, sebenarnya, saya datang dengan maksud ingin serius melamar Dinda.” 

1
Bunda Aish
ada apa lagi nih 🤔
Shee_👚
ini Tari kakaknya bagas kan ya🤔
aku lupa nama Kaka nya bagas
Dew666
Tari tuh kakaknya bagas ya
moon: iya kak
total 1 replies
Dew666
Smangat bagas
falea sezi
wahh kenapa
🌷Vnyjkb🌷
gerceppp amattt mass 🤭 takut keduluan yg itu tuuu😜😜
Esther
Sikap Tari mencurigakan, ada apa?
Bunda Idza
ada apa dengan mbak Tari??? readers kepoo ni....☺️
Esther
Semangat Bagas untuk bersaing dengan dokter Angga🤭
Sh
ada apa dengan Tari ? selingkuh ? atau mengekorin suami yang dicurigai selingkuh?
Sh
aku jahat ga kalau aku bilang aku suka Ama Mama Juwita yang nyiksa Bagas😂😂. Aku curiga karena kecelakaan mobil, Dinda ga bisa hamil lagi. itu yang menyebabkan Dinda ga mau nikah lagi. Kalau dengan Angga pakai alasan Dinda selama anaknya belum ketemu, Dinda ga berhak bahagia
Bunda Aish
wah mulai nih persaingan perebutan perhatian dan cinta Dinda 🙄
Bunda Aish
ngeselin juga ya sama tingkah nya Bagas dulu waktu kehilangan Abel
Nar Sih
brati kemungkinan bnr ya kak klau alicia ank nya dinda yg hilang dulu
Nar Sih
setujuuu dan 👍bagas lamar lgi dinda jadikan istri mu lgi dan bareng mencari putri mu yg hilang moga sgra ketemu
Shee_👚
nah betul kata bastian, ngapain kan ya orang bukan eyangnya lagi. jadi ya tolak aja
Shee_👚
yang polisi kan kak??
Sh
ga puas episode ini walau menurut ku lumayan panjang
Dew666
🥰😍
Bunda Idza
next Thor.... ditunggu selalu kelanjutannya 💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!