Rosa Evalina, hanya seorang anak pelayan yang menggantikan Ibunya menjadi pelayan di rumah keluarga Hartanto. Lalu, tiba-tiba anak dari majikannya meminta dia untuk menggantikannya dalam sebuah perjodohan. Tidak bisa menolak, akhirnya dia terjebak dalam permainan sandiwàra ini.
"Seharusnya aku tidak pernah jatuh cinta padamu, karena nyatanya kamu tetap tidak akan di takdirkan untukku"
Sementara Albyan Danuel, seorang pria tampan yang sudah matang. Memiliki pribadi yang hangat, lembut dan sopan. Dia yang tidak pernah mengenal cinta, akhirnya menemukan perempuan yang membuatnya nyaman. Namun, apa yang akan terjadi ketika dia tahu jika perempuan itu hanyalah seseorang yang bersandiwara?
Bisakah mereka bersama dalam kisah yang berliku, tentang cinta yang dimulai dari sandiwara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bos Dan Asistennya?
Bara menyodorkan ponselnya pada Byan, sebuah foto Eva disana. "Istriku tidak sengaja bertemu dengannya di Mal, dan mengajaknya makan"
Byan tersenyum, sibuk dengan pekerjaan sejak pagi sampai tidak sempat mengirim pesan pada Eva. Namun, melihat fotonya sekarang membuatnya mendapatkan setitik semangat lagi dari rasa lelah.
"Bi, kalau misalkan sudah benar-benar yakin dengannya, jangan kau tunggu lama lagi, nanti dia di ambil orang lain" ucap Bara.
"Papa memberikan waktu sampai proyek baru Perusahaan kami selesai. Barulah nanti kami akan menemui keluarganya untuk menentukan tanggal"
Bara mengangguk mengerti, dia tersenyum melihat sepupunya yang sudah menemukan wanita yang dia inginkan. Pria hangat yang hampir tidak pernah marah, dan sekarang menemukan cintanya.
"Satu persatu dari kita sudah menikah, dan kau adalah yang terakhir"
Byan mengangguk sambil tersenyum tipis. "Ya, semoga semuanya lancar. Aku juga tidak menyangka jika perjodohan ini akan berhasil. Awalnya aku akan merasa tidak cocok dengan gadis ini, seperti pada gadis-gadis sebelumnya yang pernah Papa jodohkan denganku"
"Apa Laila ini berbeda? Sampai membuat seorang Albyan jatuh cinta?"
Byan tersenyum, pikirannya menerawang pada kejadian pertemuan pertama mereka. Tingkah Eva sungguh membuatnya tersenyum, jelas sekali jika semuanya sedang di buat-buat.
"Kau tahu, saat pertemuan pertama kita, dia bersikap sangat di buat-buat. Seperti sedang sengaja agar aku menggagalkan perjodohan ini. Tapi bodohnya dia, sama sekali tidak sadar jika tingkahnya itu malah membuatku jatuh cinta. Aku menganggapnya sangat lucu"
Bara tertawa kecil, pertama kalinya dia melihat sepupunya ini begitu bersemangat saat bercerita tentang seorang perempuan. Membuat Bara yakin jika kali ini Byan benar-benar sudah jatuh cinta pada Eva dan menjadikan gadis itu untuk menjadi pasangannya.
Mendengarkan semua cerita Byan tentang beberapa kali pertemuannya dengan Eva. Wajah-wajah tegang, cemas, namun di paksakan untuk tetap terlihat biasa saja, tangan dan kaki yang gemetar, tetap tidak bisa dia sembunyikan saat berhadapan dengan Byan.
"Bayangkan saja, dia tiba-tiba menantang aku dengan pertemuan pertama kita. Mengatakan jika pertemuan ini tidak harus hanya sebatas makan malam saja, dan ketiak aku membawanya ke Hotel, wajahnya langsung pucat, bahkan ketika dia berjalan hampir beberapa kali tersandung karena tubuhnya yang gemetar. Haha... Dia lucu sekali"
"Mungkin dia memang belum siap menikah, jadi tidak mau dengan perjodohan ini. Dan sekarang, apa dia sudah mulai menerimamu? Atau masih melakukan hal-hal aneh?"
Byan menggeleng pelan, dia merasa jika sekarang Eva mulai bisa menerima perjodohan ini. "Sekarang sikapnya mulai biasa saja, berpenampilan biasa juga saat bertemu denganku. Tidak sengaja membuat penampilan yang bukan dirinya, hanya agar aku tidak suka padanya"
Bara tertawa kecil, dia ikut bahagia dengan cerita Byan yang akhirnya menemukan wanitanya. "Sekarang dia sudah menyerah, dan sekarang tinggal kau saja yang ambil tindakan. Apa sudah mengungkapkan cinta padanya?"
"Belum, aku masih mencari waktu yang tepat. Mungkin setelah pulang dari sini"
*
Beberapa hari tidak mendapatkan pesan dari Byan, seharusnya dia senang karena merasa pria itu mungkin sudah mulai menjauh. Karena tugasnya memang membuat Byan menjauh dan membatalkan perjodohan. Tapi, hati tidak akan bisa berbohong. Perasaan yang semakin besar dan nyata. Eva tidak bisa lagi membohongi dirinya sendiri jika dirinya malah terjebak dalam permainan sandiwara ini. Hatinya terjebak pada pesona Byan.
Beberapa hari tidak mendapatkan kabar dari Byan, membuat hatinya bergejolak penuh rindu. "Ternyata sudah tidak bisa di hindari lagi. Aku benar-benar jatuh cinta padanya dan merindukannya"
"Siapa yang sedang kau rindukan?"
Deg... Eva terkejut dengan suara seseorang yang tiba-tiba berada di sampingnya sekarang. Saat menoleh ternyata itu adalah Martin, entah darimana munculnya, tapi pria itu sudah berada di sampingnya sekarang.
"Martin, baru datang juga?"
"Ya, kebetulan bertemu denganmu di Lobby. Jadi, siapa yang kau rindukan?" tanya Martin dengan alis terangkat, menatap Eva dengan penasaran.
Eva tersenyum masam, lalu menggeleng pelan. Tidak mungkin juga mengatakan yang sebenarnya. "Hanya seseorang yang sedang bekerja di Luar Kota"
"Ah, bukan Bos kita 'kan? Bos kita dan Asistennya juga sedang ke Luar Kota. Katanya kembali hari ini"
Eva langsung memukul lengan Martin. "Apasih, jangan bicara sembarangan deh"
Martin hanya tertawa saja mendengarnya, mereka masuk ke dalam lift sekarang. "Aku dengar Asisten Bos kita masih lajang loh, banyak karyawan wanita yang antri untuk jadi pendampingnya. Apalagi aku dengar dia juga sebenarnya pewaris dan sepupu Bos kita. Kamu tidak mau ikutan antri, Eva?"
Eva tertawa kecil, bahkan dia belum pernah sekali berpapasan dengan Asisten Bosnya itu, dengan Bosnya saja belum pernah. "Aku saja belum tahu Bos aku, belum pernah bertemu atau berpapasan. Apalagi dengan Asistennya"
Ting... Pintu lift terbuka mereka keluar bersama, berjalan berdampingan. Martin adalah orang pertama yang dia kenal di Kantor ini karena mereka masuk dan bekerja di waktu yang sama, meski berbeda bagian.
"Kau benar belum tahu?"
Eva menggeleng sebagai jawabannya.
Martin membuka ponselnya, mencari di internet tentang Perusahaan tempat mereka bekerja, lalu muncul pendiri Perusahaan, dan pemimpin sekarang juga Asistennya. Martin menunjukan foto itu di ponselnya pada Eva.
"Ini Bos kita, Albara Daniel, kau pasti sudah tahu namanya. Dan ini Asistennya yang aku dengar juga saudara sepupu Tuan Bara. Namanya Albyan Danuel"
Eva merebut ponsel Martin, memperbesar foto di layar ponsel pria itu. Memperjelas penglihatannya, namun dia memang tidak salah melihat tentang foto itu.
"Martin, ini beneran Bos kita dan Asistennya?"
Martin mengangguk, dia menatap bingung Eva yang terlihat sangat terkejut. "Kenapa kaget? Kamu tidak menyangka kalau Bos kita itu tampan? Apalagi Asistennya itu, pantas saja banyak wanita yang antri ingin jadi pasangannya"
Tangan Eva gemetar, matanya berkaca-kaca. Wajahnya memanas, perutnya pun tiba-tiba terasa panas dan mual. Dia mendorong ponsel Martin ke perutnya, lalu dia pergi.
"Eva mau kemana?" teriak Martin saat melihat Eva yang berlari setelah menyerahkan ponselnya.
Eva berlari ke toilet, dia membuka tutup closet dan muntah disana. Perutnya benar-benar seperti di aduk. Mual yang tidak bisa dia tahan. Eva terus muntah sampai air mata mengalir dari sudut matanya. Eva terduduk di lantai toilet, menekan tombol di closet untuk menyiram muntahnya. Eva mengusap sudut matanya yang masih berair.
"Ya Tuhan, bagaimana ini?"
Eva benar-benar merasa mual, pusing dan bahkan tidak tahu harus bagaimana menyikapi semua ini. Serangan panik ini sudah lama tidak pernah kambuh seperti ini. Tapi sekarang dia benar-benar kembali mendapatkan serangan panik ketika tahu jika dirinya ternyata bekerja di Kantor Bara dan Byan.
Aku harus bagaimana?
Akhirnya kepala yang pusing, tidak bisa dia tahan. Eva berusaha berjalan keluar toilet, tapi tubuhnya perlahan limbung dan terjatuh di lantai. Seorang karyawan wanita yang sedang mencuci tangan di wastafel terkejut saat melihat Eva yang jatuh pingsan.
"Ya ampun, tolong ada yang pingsan disini!" teriaknya.
Bersambung