NovelToon NovelToon
Terjebak Pesona Paman Tunanganku

Terjebak Pesona Paman Tunanganku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Crazy Rich/Konglomerat / Beda Usia
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Novaa

"Kamu tidak bisa melangkah keluar dari pintu itu sebelum kamu bertanggung jawab untuk apa yang sudah kamu lakukan padaku."

"Tanggung jawab? Harusnya kamu bersyukur Tuan, dapat ciuman gratis dari gadis secantik aku malam ini. Bye!"

....

Demi kabur dari kejaran pengawal papanya, Zevanya Anneliza Sanjaya (21) nekat menerobos ruang VIP sebuah bar eksklusif dan membungkam pria asing di dalamnya dengan ciuman panas. Dia mengira urusan mereka selesai malam itu juga.
Namun, takdir bercanda. Seminggu kemudian, Anya dipaksa bertunangan dengan Calvin Fernandez (25), pria kaku yang super membosankan. Syoknya lagi, pria asing yang dia cium di bar malam itu ternyata adalah Bara Fernandez (35) sang paman tunangannya yang berkuasa. Di depan keluarga, Bara tampil berwibawa bak malaikat, tapi di depan Zevanya, dia menjelma menjadi pria nakal yang siap menjeratnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 #Tagihan per Jam

​Suara berat dan penuh penekanan dari Tomi Fernandez seketika membuat pasokan udara di sekitar balkon lantai dua itu terasa membeku. Calvin menegang sempurna. Jantungnya berdegup liar, menghantam rongga dadanya dengan begitu keras. Ini adalah pertama kalinya dalam seumur hidup seorang Calvin Fernandez berada di situasi di mana dia harus berbohong kepada orang tuanya sendiri.

​Calvin membalikkan tubuh, berusaha sekuat tenaga mengontrol ekspresi wajahnya agar tetap terlihat tenang di bawah tatapan mengintimidasi sang papa. Dia menelan ludah dengan susah payah sebelum membuka suara.

​"Ah... itu, Pa. Mbak Melati itu senior kampusku dulu saat masih kuliah S1," bohong Calvin, suaranya diatur sedatar mungkin. "Dia dulu sering sekali membantuku dalam menyusun tugas-tugas akhir. Dan kebetulan, sekarang dia sedang butuh bantuanku untuk memilih beberapa perabot untuk rumah barunya."

​Tomi Fernandez tidak langsung merespons. Sepasang mata tuanya yang tajam masih menatap Calvin dengan tatapan tidak percaya yang begitu pekat. Aura kepemimpinan yang kuat dari pria paruh baya itu seolah sedang menguliti setiap jengkal kebohongan yang baru saja diucapkan putranya.

​"Senior kampus?" Tomi memicingkan mata, nada suaranya terdengar meremehkan. "Apa wanita itu tidak memiliki suami atau pasangan, sampai-sampai harus meminta bantuan dari tunangan orang lain seperti dirimu? Lagipula, Papa perhatikan wajahmu terlihat sangat lesu dan kecewa hanya karena tidak bisa membantunya."

​Sentakan pertanyaan itu membuat Calvin sempat kehilangan kata-kata. Namun, dia buru-buru menyusun pembelaan diri. "Ah, tidak kok, Pa. Wajahku biasa saja, mungkin hanya sedikit lelah karena urusan kantor. Mbak Melati sudah punya suami, aku bahkan mengenal suaminya dengan baik. Tapi dia memang meminta bantuanku karena dia tahu aku lebih paham mengenai kualitas barang dan furniture yang bagus untuk estetika ruangan. Hanya sebatas itu, Pa."

​Tomi Fernandez diam selama beberapa saat, menimbang-nimbang kebenaran dari setiap untaian kalimat Calvin. Setelah helaan napas panjang, Tomi akhirnya menganggukkan kepala perlahan. "Baiklah kalau begitu. Ingat posisi dan statusmu, Calvin. Jangan sampai ada rumor tidak jelas yang bisa merusak rencana pernikahanmu dengan Zevanya."

​"Baik, Pa. Aku mengerti," sahut Calvin patuh.

​Meskipun Tomi berbalik dan melangkah pergi meninggalkannya sendirian di balkon, Calvin tahu persis bahwa papanya tidak sepenuhnya bodoh. Pria tua itu masih menyimpan setidaknya lima puluh persen kecurigaan di dalam hatinya. Calvin memijat pangkal hidungnya yang terasa pening, menyadari bahwa hubungannya dengan Melati kini sedang berada di ujung tanduk yang berbahaya.

*****

​Keesokan harinya, atmosfer yang sepenuhnya berbeda justru sedang terjadi di sebuah salon kecantikan mewah di pusat kota.

​Zevanya Anneliza Sanjaya sengaja memilih untuk melakukan aksi mogok kerja hari ini. Berdasarkan perjanjian gila di antara mereka, Anya seharusnya langsung datang ke penthouse mewah milik Bara Fernandez setiap kali pulang kuliah untuk menjalankan tugasnya sebagai pelayan pribadi. Namun, mengingat kejadian intim di kamar mandi kemarin, serta rasa cemburunya yang membakar dada akibat kehadiran Jessica. Anya memilih untuk menantang maut. Dia mematikan notifikasi ponselnya, mengabaikan eksistensi pria matang itu, dan justru menyeret kedua sahabatnya, Bella dan Alena, untuk menikmati treatment salon bersamanya.

​"Gila ya, ini kuku jari manismu bisa patah seperti ini cuma gara-gara nyuci, Nya?" tanya Bella sembari memperhatikan jemari Anya yang sedang dibersihkan oleh kapster salon.

​"Iya, lagian kamu aneh-aneh aja. Nyuci gitu doang pakai tenaga dalam sampai kemeja sutra mahal punya Om Bara bisa robek?" sahut Alena dengan mata berbinar-binar penuh minat.

​Sebagai dua sahabat yang sudah tahu sejak awal bahwa Anya bekerja sebagai pelayan pribadi di penthouse Bara akibat insiden ciuman satu kali di bar malam itu, Bella dan Alena selalu menganggap hubungan Anya dan Bara adalah sebuah komedi-romantis yang sangat seru. Tentu saja, Anya tidak pernah menceritakan detail kejadian intim yang terjadi di balik pintu tertutup bersama Bara. Dia terlalu gengsi untuk mengakui bahwa posisinya kini bukan lagi sekadar pelayan biasa, melainkan sudah melangkah jauh ke zona terlarang.

​"Aku cuma... kesal aja kemarin. Makanya tenaganya agak berlebihan," jawab Anya ketus, memalingkan wajahnya yang mendadak terasa hangat saat teringat bagaimana Bara mengurungnya di kamar mandi.

​"Kesal atau cemburu karena ada wanita dewasa yang mau dijodohin sama Om-Om seksi itu, hm?" goda Alena sembari menyenggol lengan Anya jahil. Anya memang sempat bercerita soal Jessica pada dua temannya ini pagi tadi.

​"Gak usah bahas dia deh. Aku mau tidur bentar, kepalaku pusing," gerutu Anya. Dia kemudian menyandarkan punggungnya pada kursi treatment yang nyaman, lalu memejamkan kedua matanya rapat-rapat, membiarkan kapster salon mulai membentuk kuku baru di semua jarinya dengan menggunakan bahan extension.

​Melihat Anya yang sudah mulai terlelap dengan napas teratur, sebuah ide jahil dan super usil mendadak melintas di kepala Alena. Wanita itu bertukar pandang dengan Bella, memberikan isyarat lewat kedipan mata yang langsung dipahami oleh Bella dengan senyuman menahan tawa.

​Alena mencondongkan tubuhnya, berbisik dengan suara yang teramat pelan kepada pelayan salon yang sedang menangani kuku Anya. "Mbak... nanti khusus untuk kuku di jari manisnya yang ini, tolong digambari seni nail art motif bara api yang sedang menyala, ya? Terus di tengah-tengah baranya, kasih inisial huruf B yang rapi."

​Pelayan salon itu sempat tertegun ragu, namun melihat kedipan penuh keyakinan dan senyuman lebar dari Alena serta Bella, sang pelayan akhirnya mengangguk patuh dan mulai melukis kuku Anya dengan sangat detail sesuai pesanan rahasia tersebut.

.

.

​Hampir dua jam berlalu, Anya akhirnya terbangun saat proses treatment rambut dan kukunya selesai. Dia meregangkan tubuhnya yang terasa jauh lebih rileks, lalu mengangkat jemarinya ke arah cahaya lampu untuk memeriksa kuku jari manisnya yang sempat patah mengenaskan kemarin.

​Namun, sedetik kemudian, mata Anya membelalak sempurna. Seluruh kantuknya hilang menguap entah ke mana. Di atas permukaan kuku jari manisnya yang kini tampak cantik, terdapat lukisan sebuah kobaran api merah jingga yang berkobar, sebuah visualisasi dari kata 'Bara' lengkap dengan sebuah inisial huruf B kapital berwarna hitam tegas di bagian tengahnya.

​"ALENA!!! BELLA!!! APA-APAAN INI?!" jerit Anya tertahan, wajahnya memerah padam antara kesal dan sangat malu.

​Alena dan Bella langsung meledakkan tawa mereka di dalam ruangan salon, tidak memedulikan tatapan heran dari beberapa pengunjung lain. "Bagus kan, Nya? Biar kamu selalu ingat kalau kamu itu adalah milik Om Bara Fernandez! Anggap aja itu tato temporer tanda kepemilikan!" goda Alena tanpa rasa bersalah.

​"Hapus gak! Mbak, tolong hapus ini sekarang juga!" perintah Anya panik pada pelayan salon.

​Namun, sebelum pelayan itu sempat melangkah maju, kasir utama salon kecantikan mewah tersebut tiba-tiba berjalan mendekati area tempat duduk mereka bertiga dengan sikap yang teramat sopan dan hormat.

​"Mohon maaf mengganggu waktunya, Kak Anya, Kak Bella, dan Kak Alena," ujar sang kasir sembari membungkukkan tubuhnya sedikit. "Kami hanya ingin mengonfirmasi bahwa seluruh rangkaian treatment mewah, perawatan kuku, serta perawatan rambut yang dilakukan oleh kakak-kakak bertiga pada hari ini sudah selesai."

​Anya yang masih sibuk menutupi kuku jari manisnya segera meraih tasnya. "Oh iya, Mbak. Total biayanya jadi berapa semuanya? Biar saya yang bayar."

​Sang kasir tersenyum sangat ramah, lalu menggelengkan kepalanya perlahan. "Tidak perlu, Kak Anya. Seluruh total biaya untuk Kak Anya beserta kedua temannya sudah dibayarkan secara penuh dan lunas sekitar satu jam yang lalu melalui transfer bank."

​Dahi Anya berkerut dalam, begitupun dengan Bella dan Alena yang langsung menghentikan tawa mereka karena terkejut. "Hah? Dibayar sama siapa, Mbak? Perasaan kami belum ada yang ke kasir sejak tadi," tanya Bella bingung.

​Sang kasir mengeluarkan sebuah struk pembayaran resmi dari balik papan dadanya, lalu menyerahkannya ke tangan Anya. "Atas nama Tuan Bara Fernandez, Kak. Beliau juga meninggalkan sebuah pesan singkat di sistem kami untuk disampaikan langsung kepada Kak Zevanya Anneliza Sanjaya."

​Jantung Anya berdegup kencang saat mendengar nama pria itu disebut. Dengan jemari yang sedikit gemetar, Anya membuka lipatan kertas kecil yang diserahkan sang kasir bersama struk tersebut. Di sana, tertulis sebuah deretan kalimat yang diketik dengan begitu rapi namun sarat akan intimidasi nakal khas milik sang tuan otoriter.

​"Nikmati waktu bersenang-senangmu sore ini bersama teman-temanmu dengan uangku, Zevanya. Tapi ingat... setiap satu jam yang kamu habiskan untuk bolos dari penthouse-ku hari ini, akan aku tebus dengan satu tanda merah baru yang akan mendarat di leher dan dadamu saat liburan akhir pekan kita besok. Sampai jumpa di villa, Sayang."

​Anya seketika refleks menjatuhkan kertas itu ke atas meja, kedua tangannya bergerak cepat menyembunyikan lehernya sendiri yang mendadak terasa panas. Wajahnya kini benar-benar merona merah padam, terlihat persis seperti udang yang sedang direbus matang.

​"Anya, kamu kenapa? Pesan dari Om Bara isinya apa? Kok mukamu langsung kayak orang kebakaran jenggot gitu?!" tagih Alena dengan wajah yang kembali dipenuhi rasa penasaran tingkat dewa.

​Anya tidak menjawab. Dia hanya bisa merutuki nasibnya di dalam hati. Sialan. Bara Fernandez benar-benar iblis manipulatif yang selalu tahu cara mengunci pergerakannya, bahkan saat pria itu tidak berada di hadapannya langsung!

1
Yohana Pandie
lnjut thor.ceritanya keren bnget
Novaa: Halo, terimakasih sudah mampir. pantengin terus ya karena om Bara bakal semakin memBara 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!