Demi membiayai operasi ayahnya, Natalie nekat menjual keperawanannya pada seorang pria yang tidak ia kenal. Namun pria yang datang ternyata seorang dokter berhati baik yang justru ingin menyelamatkannya dari jalan buntu itu.
Setelah melewati malam yang penuh gairah, Drake malah kecanduan dengan tubuh Natalie, padahal dia tahu kalau wanita itu hanya mengejar uang.
Saat rahasia tergelap mereka terbongkar, mampukah hubungan rapuh dan terlarang ini tetap bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
Tangan Nathalie di tarik oleh Andreas, dan tubuhnya di dorong hingga membuat dia jatuh tersungkur ke lantai.
"Kita ikat saja dia" ucap Dyah.
Andreas mengangguk setuju. Mereka mengikat tangan Nathalie dan menyumpal mulutnya dengan kain. Sementara kaki nya di lebarkan dan juga di ikat.
Nathalie mencoba memberontak, dia menggerakkan kaki dan tangannya hebat. Namun ikatan yang kuat di tubuhnya tidak bisa membuat dirinya lepas. Dia menatap Andreas
Andreas menatap lapar tubuh Nathalie. Dia menyusuri kulit mulus Nathalie dengan jari telunjuknya.
"Mmmm...." Nathalie memberontak sambil meneteskan air mata. Kepalanya menggeleng kesana kemari tapi tidak membuahkan hasil. Dia menatap Andreas dengan tatapan iba, tapi tidak membuat hati laki-laki itu terketuk.
Sementara itu Dyah, diam saja sambil sibuk menghitung uang dari Andreas, sebagai uang muka. Dia tidak sedikitpun merasa iba dengan putrinya. Dia malah menikmati pemandangan di hadapannya.
“Berhenti memberontak, atau aku akan memperlakukanmu dengan cara kasar,” ancam Andrea dengan suara rendah, menggelegar seperti guntur di malam hujan. Kata-katanya bukan sekadar ancaman kosong, ada nada kepemilikan yang dalam, seolah Nathalie sudah menjadi miliknya sejak lama.
Dia menatap tajam mata wanita itu, pupilnya melebar menangkap setiap getaran ketakutan dan kegelisahan yang terpancar di sana. Tangan kanannya terulur cepat, jari-jarinya yang kuat dan kasar meremas dagu Nathalie dengan tekanan yang cukup untuk membuat kulit halus itu memerah.
Nathalie meringis, bibirnya yang terbuka sedikit, mencoba menarik napas, tapi remasan itu membuat kepalanya terangkat paksa, memaksa tatapannya bertemu dengan mata Andrea.
“Mmmm...mmmm...” bisik Nathalie lemah, suaranya tidak bisa keluar. Tapi tubuhnya justru bereaksi sebaliknya, denyut nadi di lehernya semakin cepat, pipinya memanas bukan hanya karena remasan, tapi karena kedekatan pria itu yang membuat udara di antara mereka terasa panas dan tegang.
Tanpa memberi kesempatan untuk melanjutkan protes, Andrea mendekatkan wajahnya hingga napas hangatnya menyapu kulit Nathalie. Bau cologne mahal bercampur aroma maskulinnya memenuhi indra penciuman wanita itu.
Dengan satu gerakan kasar, tangan kirinya menyambar kerah kemeja yang dikenakan Nathalie. Kancing-kancingnya yang rapuh tak kuasa menahan tarikan kuat itu.
Satu demi satu kancing terlepas dengan suara kecil yang nyaring di tengah keheningan ruangan, kain kemeja robek sedikit di bagian bahu saat Andrea melepasnya paksa. Kemeja itu meluncur turun dari bahu mulus Nathalie, memperlihatkan kulit putih yang halus seperti sutra, dan akhirnya terjatuh begitu saja ke lantai.
Sekarang, dada Nathalie yang indah terpapar di depan mata Andrea. Bra hitam berenda yang dikenakannya tak mampu menyembunyikan sepenuhnya bentuk dada yang montok dan kencang itu.
Payudara Nathalie menyembul menggoda di balik kain tipis, puncaknya yang mengeras karena dingin dan ketegangan terlihat samar-samar. Napasnya yang cepat membuat dada itu naik turun dengan irama yang menggoda, seolah memanggil sentuhan lebih lanjut.
Andrea menarik napas dalam, matanya gelap penuh nafsu. “Lihat dirimu... begitu sempurna, begitu rapuh di bawah sentuhanku,” gumamnya serak, jari-jarinya yang masih memegang dagu Nathalie kini meluncur turun ke leher, menyusuri tulang selangka yang halus, lalu berhenti di tepi bra.
Dia menarik tali bra itu pelan, tapi penuh ancaman, membuat kainnya meregang dan kulit di bawahnya terasa panas. Nathalie menggeliat, tangannya mencoba mendorong dada Andrea, tapi tenaganya tak sebanding dengan kekuatan pria itu.
“Mmmm....,” protes Nathalie lagi, sambil menatap Andreas dengan tatapan memohon. Air matanya sudah berderai membasahi pipi cantiknya.
Andrea tersenyum tipis, senyum yang penuh kemenangan dan kegelapan. Dia mendorong Nathalie lebih kuat, satu kakinya menyelinap di antara kaki wanita itu, memisahkan sedikit demi sedikit pertahanan terakhirnya. Tangan kanannya kini turun ke dada yang telanjang itu, meremas lembut dulu, lalu semakin kuat, ibu jarinya menyapu puncak yang sensitif hingga Nathalie mengeluarkan erangan kecil yang tak terkendali.
“Kau bilang berhenti? Tapi tubuhmu ini... bilang sebaliknya,” bisik Andrea di telinga Nathalie, gigitannya ringan di cuping telinga membuat wanita itu menggigil hebat. Dia terus melepas sisa pakaian dengan gerakan yang tak sabar, kain bra akhirnya terlepas, dan dada mulus Nathalie benar-benar bebas, bergoyang lembut setiap kali ia bergerak.
Andrea menunduk, bibirnya menyentuh kulit yang panas itu, meninggalkan jejak ciuman kasar dan gigitan kecil yang membuat Nathalie melengkungkan punggungnya secara insting.
Ruangan yang tadinya sunyi kini dipenuhi suara napas berat, erangan tertahan, dan gesekan kain yang tersisa. Andrea tak berhenti di situ. Tangannya yang bebas menjelajah lebih bawah, menyusuri pinggang ramping Nathalie, lalu meraih pinggiran rok yang masih melekat di tubuhnya.
Setiap sentuhan penuh penguasaan, setiap kata ancaman yang keluar dari mulutnya justru semakin membakar api di antara mereka. Nathalie, meski masih mencoba memberontak dengan kata-kata, tubuhnya sudah menyerah—mengalir bersama arus hasrat yang tak terbendung.
Malam itu masih panjang. Andrea berniat membuat Nathalie merasakan setiap inci dari cara kasar yang dijanjikannya, hingga batas di mana perlawanan berubah menjadi permohonan, dan nama Andrea menjadi satu-satunya kata yang keluar dari bibirnya.
Dyah hanya tertawa girang melihat putrinya di sentuh oleh Andreas. "Nikmati saja Nathalie. Kamu pasti menyukainya" ucapnya sambil menyesap rokok yang terjepit di antara jari tangannya.
Nathalie menangis sambil menatap kecewa ke arah ibunya. Dia sudah lelah untuk memberontak. Dia hanya pasrah dengan sentuhan Andreas.
Andreas melucuti pakaiannya, hingga tanpa sehelai benang pun. Nathalie memalingkan wajahnya melihat milik Andreas yang sudah berdiri tegak.
Pada saat Andreas hendak menyatukan miliknya ke milik Nathalie. Tiba-tiba pintu rumah itu di dobrak paksa.
Brak......