Bagi Renata, pernikahan adalah ruang tunggu berisi siksaan yang ia jalani demi Dio, putra semata wayangnya. Menikah dengan Aris menuntutnya menjadi wanita yang tak boleh punya rasa lelah. Di rumah itu, dia diperlakukan bak pelayan tanpa gaji, menghadapi ibu mertua yang kejam dan manipulatif, serta menerima hinaan tiada henti dari Siska, adik iparnya yang bermulut tajam.
Sementara Renata bersimbah peluh dan air mata, Aris justru menjadi suami yang abai. Pria itu selalu menutup mata, lebih mementingkan keluarganya, dan bersikap pelit luar biasa pada anak-istri sendiri.
Demi Dio, Renata mencoba melapangkan dada dan bertahan dalam diam. Namun, benteng kesabarannya runtuh berkeping-keping saat ia mengetahui bahwa Aris memiliki wanita lain. Lebih menyakitkan lagi, keluarga mertuanya justru membela kebusukan Aris dan menyalahkan dirinya.
Apakah Renata akan bertahan di keluarga toxic itu? atau dia berani mengambil keputusan untuk melawan mereka yang sudah menyakitinya selama ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Rena melangkah kembali ke dalam rumah Ririn dengan tubuh yang masih bergetar hebat. Di balik masker yang telah basah oleh air mata, dia mencoba sekuat tenaga mengatur deru napasnya. Ia tidak ingin semua orang melihat kesedihannya, dia harus terlihat baik-baik saja demi putranya. Namun, begitu pintu kayu itu tertutup di belakangnya, kekuatan Rena seolah luruh.
Di ruang tengah, suasana tampak begitu tenang. Ternyata Dio sedang tertidur pulas di depan televisi yang menyala pelan, berbantalkan lengan sofa. Ririn yang sedang melipat pakaian bayi langsung menoleh dan bangkit berdiri saat menyadari kedatangan asistennya.
"Mbak Rena..." panggil Ririn lirih, matanya menatap lekat ke arah wajah Rena yang sembap. "Bagaimana di sana? Apa Mbak bertemu dengannya?"
Rena membuka maskernya perlahan, memperlihatkan senyum getir yang dipaksakan. Dia lalu berkata dengan suara yang nyaris habis, "Apa yang dikatakan suami Mbak Ririn... semuanya benar. Mas Aris sudah selingkuh selama ini, Mbak. Dia punya wanita lain, dan mereka punya anak perempuan berumur tiga tahun."
Ririn terkejut bukan main mendengar konfirmasi langsung itu. Dia menutup mulutnya, matanya berkaca-kaca menatap Rena. "Ya Tuhan, Mbak Rena... Sungguh malang nasibmu. Sudah dibohongi selama bertahun-tahun soal uang, ditindas pula sama keluarganya di rumah, ternyata di luar dia malah membiayai perempuan lain."
"Semuanya sudah jelas sekarang, Mbak," bisik Rena, tatapannya kosong menembus lantai.
Ririn lalu bertanya dengan nada penuh kekhawatiran, "Lalu... apa yang akan Mbak Rena lakukan setelah ini? Apa Mbak mau langsung melabraknya atau bagaimana?"
Rena menggelengkan kepalanya pelan, jemarinya meremas ujung jaketnya. "Saya masih belum tahu, Mbak Ririn. Mungkin saya akan menenangkan diri dulu sebelum mengambil keputusan besar. Pikiran saya masih terlalu keruh untuk melangkah."
Ririn sangat menghormati keputusan Rena. Dia mengangguk paham dan mengusap bahu Rena dengan lembut. "Iya, Mbak. Jangan gegabah. Tenangkan dirimu dulu. Kalau Mbak Rena memerlukan waktu untuk beristirahat, saya memberikan libur beberapa hari ke depan. Pekerjaan di rumah ini bisa menunggu."
Mendengar ketulusan itu, Rena hanya bisa tersenyum simpul di tengah badai hatinya. "Terima kasih banyak, Mbak Ririn. Ternyata... orang lain bisa jauh lebih pengertian dan peduli daripada keluarga sendiri di rumah."
Sore harinya, Rena pulang ke rumah dengan hati yang benar-benar hancur. Sepanjang jalan mengayuh sepeda bersama Dio, pikirannya terus berputar pada kenyataan pahit bahwa pernikahannya selama ini dibangun di atas tumpukan kebohongan yang menjijikkan.
Begitu menginjakkan kaki di teras, Rena langsung disambut dengan ocehan mertuanya yang sudah berkacak pinggang di depan pintu. Bu Broto tampak luar biasa geram karena Rena masih tetap mogok melakukan pekerjaan rumah sejak kemarin.
"Bagus ya! Jam segini baru pulang!" semprot Bu Broto dengan mata mendelik. "Kamu sengaja, kan? Gara-gara kamu mogok kerja, terpaksa Ibu yang harus menyelesaikan semua pekerjaan yang menumpuk dan kamu tinggal begitu saja! Pinggang Ibu mau patah rasanya tahu tidak?!"
Rena menghentikan langkahnya tepat di hadapan wanita tua itu. Dia menghela napas panjang, lalu membalas dengan menatap tajam ke arah Bu Broto. Tatapan mata Rena kali ini terasa sangat berbeda—begitu dingin, menusuk, dan sarat akan kemarahan yang tertahan karena dia benar-benar sudah lelah dan butuh menenangkan diri.
Seketika Bu Broto terdiam melihat tatapan Rena yang seolah siap mengulitinya hidup-hidup. Kata-kata makian yang sudah di ujung lidahnya mendadak tertelan kembali.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Rena menuntun Dio masuk ke dalam kamar, lalu menutup pintunya rapat-rapat. Bu Broto yang sempat tertegun baru berani kembali mengomel dengan suara pelan setelah Rena masuk ke dalam kamarnya.
"Duh, enaknya diapain ya punya menantu kayak gini. Nggak berguna, bisanya cuma keluyuran dan hanya menyusahkan saja. Kalau bisa di tukar tambah, tukar tambah deh. Biar aku dapat menantu yang lebih berguna sedikit." omelnya
Namun tidak ada jawaban atau balasan dari balik pintu yang tertutup itu. Hanya kesunyian yang di dapat Bu Broto saat dia berhenti bersuara.
"Dasar wanita aneh. Makin ke sini sikapnya kok ya kayak gitu. " gumamnya lirih.
Malam pun tiba di rumah yang pengap itu. Di dalam kamar tidurnya, Rena sama sekali tidak mengajak Aris bicara sejak suaminya itu melangkah masuk ke dalam kamar. Hatinya teramat sakit setiap kali melihat wajah pria yang telah mengkhianatinya itu. Saat waktu tidur tiba, Rena hanya memunggungi Aris, menatap dinding dengan mata terbuka lebar dalam kegelapan.
Aris sendiri sejak malam itu dia tidak pernah lagi pulang larut dan pulang tepat waktu. Dia tahu dan bisa merasakan kalau Rena masih sangat marah padanya perihal pembicaraan mereka kemarin malam. Namun, dia sama sekali tidak tahu kalau Rena sebenarnya sudah tahu semua kelakuannya di luar sana, lengkap dengan bukti foto dan kesaksian security kantornya bahkan suami Ririn majikannya.
Suasana keheningan yang mencekam itu membuat Aris merasa tidak nyaman. Dia berdehem pelan, lalu bergeser mendekati posisi Rena. Aris mencoba bicara dengan Rena dengan selembut mungkin, berusaha mencairkan kebekuan di antara mereka.
"Ren... kamu masih marah soal semalam?" tanya Aris pelan, suaranya dibuat selembut mungkin. Ketika tidak ada jawaban, dia melanjutkan, "Maafkan aku ya. Aku janji nggak akan pulang terlambat lagi. Aku nggak akan ambil lembur lagi. Apa kau puas?"
Rena masih diam, tidak tertarik sama sekali dengan permintaan maafnya. Tidak tertarik sama sekali dengan bujuk rayunya.
Aris menghela nafas berat sebelum melanjutkan bicaranya. "Begini, Ren, ada hal penting yang mau aku sampaikan padamu."
Rena tetap bergeming dalam posisinya yang memunggungi Aris. Dia masih belum bisa memutuskan apa yang harus ia lakukan setelah semua fakta ini terbongkar, sehingga dia memilih untuk tetap diam mendengarkan walau acuh.
"Ren, tolong dengarkan dulu," bujuk Aris lagi, menyentuh pundak Rena sekilas namun Rena langsung menepisnya dengan gerakan halus. Aris menghela napas, lalu menyampaikan maksudnya.
"Besok, kita akan kedatangan tamu. Sepupu jauhku, anak dari Tante Sari, adik ibuku yang tinggal di luar kota. Rencananya dia akan tinggal di rumah kita untuk sementara waktu. Rumah kontrakan mereka di pinggir kota katanya akan digusur minggu depan, jadi mereka tidak punya tempat tinggal untuk sementara."
Mendengar kalimat itu, mata Rena yang menatap dinding seketika menyipit. Satu lagi beban baru mendadak diletakkan di atas luka-lukanya yang belum mengering. Di saat hatinya sedang hancur karena pengkhianatan Aris, pria itu dengan tidak tahu dirinya justru ingin menambah penumpang baru di dalam rumah tangga mereka yang sudah sekacau ini.