NovelToon NovelToon
Arkaholic

Arkaholic

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Teen / Idola sekolah
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: siyunr

Satu sekolah tahu Lintang Gentariana adalah gadis paling gigih yang setiap hari memanggil nama Gifarka—atlet pencak silat kebanggaan sekolah yang sedingin es.

Dua tahun cintanya bertepuk sebelah tangan, sebuah wasiat tiba-tiba memaksa mereka menikah secara rahasia di bangku SMA.

Lintang mengira impiannya jadi nyata. Namun, yang terjadi adalah...

Dada gadis itu naik-turun dengan napas yang terasa luar biasa sesak.

"Serend*h itu gue di mata lu, Arka? Lu nggak pernah ngaca?! Adu bac*t kita dari dulu selalu dimulai dari lu yang cemburuan gak jelas!" teriak Lintang frustrasi, air matanya mengalir deras membasahi pipi.

"GUE CUMAN NGAMANIN APA YANG MASIH GUE PUNYA!"

Bentakan bariton Arka kali ini menggema begitu kencang di sepanjang koridor rumah.

Lantas, bagaimanakah kelanjutan kisah pernikahan rahasia mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siyunr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Crusher vs crushed

Gedung olahraga indoor GA Pusat mendadak menjelma menjadi lautan gemuruh. Ribuan pasang mata menatap lurus ke arah tengah lapangan parket yang mengilat, tempat tim basket Pusat Jakarta dan tim Madiun sudah berdiri berhadapan.

"ANJIR, ARKA RIVALAN SAMA VAN! INI MAH YANG NAKSIR VERSUS YANG DI TAKSIR!" sindir Zahiya heboh setengah berbisik. Ia menyenggol lengan Lintang dengan sikutnya saat mereka berdiri siaga di dekat posko PMR bawah tribun.

Lintang langsung melotot kaku. Ia buru-buru menyumpal mulut sahabatnya itu dengan sebungkus perban gulung. "Diem lu, lambe turah! Mulut lu minta gue plester?!" umpat Lintang salah tingkah, meskipun matanya diam-diam ikut melirik cemas ke arah Arka yang sedang melakukan pemanasan.

Sistem pertandingan basket hari ini menggunakan aturan standar nasional, yaitu dibagi menjadi empat babak yang biasa disebut kuarter. Masing-masing kuarter berjalan selama sepuluh menit bersih.

PRIIIIITTTTT!

Peluit wasit melengking nyaring. Bola dilempar ke udara di titik tengah (jump ball), menandakan kuarter pertama resmi dimulai. Nakra berhasil menepis bola ke arah Leon, dan tim Pusat langsung melakukan serangan kilat.

Permainan berjalan luar biasa ketat dari kuarter pertama sampai kuarter keempat. Skor mereka kejar-kejaran sangat kritis hingga detik-detik terakhir pertandingan.

Namun, dewi fortuna tampaknya sedang berpihak pada tim Madiun. Melalui tembakan dua angka dari Van di sisa waktu lima detik, papan skor digital mengunci kemenangan tipis untuk tim Madiun.

PRIIIIITTTTT!

Peluit panjang tanda akhir pertandingan berdering nyaring.

Sesuai jadwal panitia, lapangan tengah langsung dikosongkan untuk pergantian cabang olahraga lain.

Rombongan atlet basket yang baru selesai bertanding diarahkan untuk duduk beristirahat di barisan tribun bawah yang sudah disediakan panitia.

Posisi duduk tim Pusat Jakarta tepat berada di belakang barisan tim Madiun.

Suasana tribun bawah langsung terasa pengap oleh hawa panas tubuh para atlet. Gerah karena mandi keringat, Van dan beberapa anak Madiun langsung menarik jersi basket mereka ke atas, melepasnya hingga bertelanjang dada demi mencari angin.

“KYAAAAAAA! COWOK MADIUN PADA BUKA BAJU, ANJIRRR!”

“OH MY GOD, SI VAN ROTI SOBEKNYA KELIHATAN!”

Pekikan histeris langsung meledak dari siswi tribun atas yang nekat melongok ke bawah. Suasana pinggir lapangan mendadak bising.

Di barisan belakang, Arka duduk lempeng menyandar dengan handuk kecil di lehernya.

Sepasang mata elangnya memicing tajam, menatap datar punggung telanjang Van yang berada tepat di depan jarak pandangnya.

"Woy, logistik dateng! Air mineral dingin, ambil satu-satu jangan maruk!" seru Zahiya heboh, datang membawa kardus air mineral bersama anak panitia lain.

Zahiya mengedarkan pandangan, lalu matanya berbinar segar melihat barisan cowok telanjang dada di depannya. "Widiihh, segar bener pemandangan siang ini. Capek gue langsung ilang," gumamnya cengengan tanpa tahu malu.

"Aduh... gila, pundak gue kaku banget," keluh Van tiba-tiba. Cowok blasteran itu meringis, memegangi bahu kirinya yang mendadak mengeras kaku karena otot belikatnya ketarik paksa di menit-menit akhir pertandingan tadi.

"Ngopo koe, Van? Kram maning?" tanya Liam–cowok chindo Jawa yang di maksud Zahiya tempo lalu, teman setimnya dari Madiun yang duduk di sebelah.

"Iya, linu banget ini kalau digerakin," gumam Van serak sambil mencoba memutar bahunya dengan payah.

Melihat kaptennya kesakitan, Bian langsung berdiri dan berteriak ke arah anak-anak PMR yang berjaga di dekat tribun. "Woy, PMR! Tolongin nih, ada yang kram bahu!"

Seorang anggota PMR kelas 10 bernama Elin yang kebetulan lewat langsung buru-buru mendekat. "Oh, bentar kak. Saya ambil P3K dulu," ujarnya sigap.

Elin langsung setengah berlari mengambil kotak P3K di posko medis, lalu kembali lagi dengan terburu-buru.

Elin berjalan ke arah belakang posisi duduk Van. Ia membuka kotak obat, mengeluarkan sebotol minyak urut hangat, lalu menumpahkannya sedikit ke telapak tangan.

Begitu kedua telapak tangan Elin yang sudah berlumuran minyak hangat mendarat di atas kulit pundak telanjang Van dan mulai memberikan pijatan pada otot belikat yang kram, Van langsung memejamkan matanya rapat-rapat.

"aduh... ngilu banget anjir..." gumamnya.

"Ta–tahan sebentar, kak...." ujar Elin mendadak gugup.

"KYAAAAA! BERUNTUNG BANGET SI ANAK PMR BISA MEGANG PUNDAK BULE BELANDA!" teriak seorang siswi dari tribun atas, memicu kehebohan massal.

"WOY! GUE JUGA MAU JADI ANAK PMR KALAU REZEKINYA MODELAN BEGINI!" sahut siswi yang lain, iri setengah mati.

"TUKERAN POSISI DONG, ELIN! BIAR GUE YANG NGURUTIN ROTI SOBEKNYA SI VAN!" timpal teman Elin yang ikutan berteriak kencang, membuat area tribun indoor riuh total oleh siulan meledek.

"Busyet, fansnya Van membludak banget dah," komen Liam sambil geleng-geleng kepala, menatap ke arah tribun atas yang masih gaduh oleh teriakan para siswi.

"Biasalah, Lanang Famous," ujar Bian menimpali santai, menyandarkan punggungnya ke sandaran tribun dengan sisa-sisa napas lelah pascatanding.

"Berisik, bilang aja sirik," komen Van dengan seringai tipis di sudut bibirnya, meskipun matanya masih terpejam menahan linu.

"Bukan syirik, tapi iri dan dengki," ujar Liam malah mengoreksi dengan nada lempeng, memicu tawa renyah dari anak-anak Madiun yang berada di sekitar mereka. Mereka semua tertawa konyol, menganggap enteng kehebohan yang sedari tadi berpusat pada kapten mereka itu.

Di tengah tawa teman-temannya, Van kembali meringis saat pijatan Elin mengenai titik ototnya yang paling tegang. "Adududuh... Pelan-pelan dong, cantik...." godanya pada cewek PMR itu dengan suara serak khas sehabis tanding.

"Eh, maaf kak..." Elin seketika gelagapan digoda begitu. Wajah anak kelas 10 itu langsung memerah padam, tangannya yang berlumuran minyak hangat mendadak kaku dan canggung.

Melihat respons adik kelasnya yang tampak sangat salah tingkah, Van terkekeh pelan lalu perlahan menjauhkan bahunya. "Udah, udah. Gue nggak papa kok, lu balik aja," ujar Van, tidak mau membuat anak orang makin jantungan.

Elin cepat-cepat menarik tangannya kembali. "I–iya kak..." Jawabnya terbata-bata. Tanpa menunggu dua kali, ia segera merapikan botol minyak urut ke dalam kotak P3K dan bergegas pergi dari rombongan cowok-cowok atlet itu sebelum kena goda lebih jauh lagi.

"Parah lu, Van. Siapa aja di godain, kayak Sugar Daddy nyari daun muda," komen Bian menggeleng heran melihat kelakuan ajaib sahabatnya yang masih sempat-sempatnya tebar pesona dalam kondisi cedera.

"Yeuhh... Sialan lu," ujar Van mendengus, sambil tangan kanannya bergerak memijat sendiri pangkal lengan kirinya yang masih terasa kaku.

Liam tiba-tiba mencondongkan badan, teringat sesuatu. "Eh, btw lu udah liat Lintang belum?" tanya Liam memecah fokus Van.

Van menghentikan gerakan tangannya sejenak, matanya mengedar menatap area sekitar posko medis di pinggir lapangan yang tampak sibuk. "Belum liat. Padahal dia PMR, kok belum nongol ya?" ujar Van bergumam heran, menyadari sosok gadis yang dicarinya sejak tadi belum juga menampakkan diri di dekat barisan timnya.

"Yahh, elu tadi bukannya nanya sekalian sama bocah yang tadi," ujar Liam menyayangkan, melirik ke arah jalur perginya Elin.

"Ya mana kepikiran, gue lagi pegel linu," ujar Van membela diri, kembali meringis pelan sambil menggerakkan bahunya yang masih terasa tidak nyaman.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!