Aderson yang sering dipanggil Derson adalah laki-laki yang sangat kejam, suka kekerasan dan juga sangat membenci yang namanya perempuan.
Olivia yang kerap disebut Via datang kekehidupan Derson, Via mampu mengobrak abrik hati Aderson yang dingin dan sangat susah untuk dijangkau.
Jangan lupa dukung karya ini dengan tinggalkam jejak kalian ya, cukup dengan like, komen, vote, kasih hadiah mawarnya.
Terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linasolin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
🌛🌛🌛
Derson berjalan dengan cepat, tangan yang sudah mulai gatal dan emosi yang memuncak membuat dirinya ingin segera menghanjar laki-laki yang berani mengganggu Via.
Brak.... sekali tendang pintu yang terkuci rapat itu langsung terbuka lebar, langkah kaki Derson langsung menuju pelayan yang saat ini terikat dibagian tangan dan kaki.
"Dasar s*alan, aku memperkerjakan mu disini bukan mau memperk*sa istriku tapi bekerja untukku" ucap Derson dengan wajah yang merah padam sambil membabi buta pelayan itu.
"Ampun tuan mohon maafkan saya, saya berjanji tidak akan menggangu nona Via lagi" ucapnya pelan sambil memohon.
"Tidak ada maaf bagimu s*alan" Derson menarik tangan pelayan itu dengan paksa keruang bawah tanah.
Disinilah Derson menghukum pelayan itu dengan sesuka hatinya sampai nafas penghabisan dari pelayan itu. Derson melap tangannya yang berlumur dengan darah tanpa rasa takut Derson kembali kekamar Via.
Klek... kamar itu sudah terkunci dari dalam.
"Via buka pintunya" Derson dengan tidak sabarnya menggedor pintu itu sampai dibuka oleh pemiliknya.
Via membuka pintu dan melihat keadaan Derson yang berlumur darah segar, baju putih itu sudah mendomisili menjadi merah.
"Astaga....." Via menutup mulutnya tidak percaya, sambil mundur pelan-pelan dari hadapan Derson. tanpa berbicara sedikit pun Derson melangkahkan kakinya seiring bergerak mundurnya Via dari hadapannya.
"Jangan mendekat".
"Kamu takut hah? terlambat Via, kau sudah masuk dalam kandang serigala yang kapan saja bisa membunuhmu, lihatlah!" Derson menunjukkan baju dan tangannya yang berlumur darah.
"Aku bisa melakukannya kepada mu lebih dari ini kalau kau berani melawan perintah ku, ingat itu" ancam Derson lagi, kini posisi mereka sudah sampai didinding tangan Derson mengunci Via.
"Hiks.... hiks... Pergi.... pergi dari sini" teriak Via dengan jantung yang sudah mulai ingin copot.
"Aku tidak akan pergi sebelum kau berjanji padaku kalau kau tidak akan melanggar semua perintahku" ucap Derson tersenyum tapi senyum mematikan. Via hanya mampu mengangguk beberapa kali tanpa berani melihat wajah Derson lagi.
"Aku akan pergi, sekarang mandilah lihat bajumu sudah terkena darah sehabis mandi baju dan semua pakaian mu yang kamu pakai sekarang buang" ucap Derson lalu pergi begitu saja setelah membuat Via ketakutakan.
🌛🌛🌛
Tok.... Tok... Tok...
James masuk kedalam ruangan kerja Derson saat pulang dari kantor karena tadi Derson menyuruhnya untuk datang keruangannya.
"Ada kau memanggilku?" Tanya James to the point saat sudah duduk disofa.
"Suruh anak buah mu membereskan mayat Rido dari ruang bawah tanah".
"Haha ada masalah apa kenapa sampai kau memb*nuhnya?" James heran karena sejarahnya Derson tidak pernah memb*nuh pelayan yang ada dirumah.
"Dia ingin memperk*sa Via aku tidak suka hal itu".
"Apa masalahnya dengan mu jika Rido memperk*sanya, toh kamu nggak rugi apa jangan-jangan kamu cemburu ya?" goda James saat tau seorang Aderson rela membunuh pelayan dirumahnya gara-gara wanita.
"Aku tidak cemburu aku hanya tidak ingin Via hamil anak dari pelayan rumah ini, dan Lily akan menganggap itu anakku bisa-bisa langsung ku bunuh si Via sama anaknya itu" lagi-lagi Derson membuat alasan diluar nalar James.
"Terserah padamu saja, oh ya.... aku sudah mengirim barang kita yang tertunda seminggu yang lalu dan kata mereka barangnya sudah sampai ditujuan" ucap James lalu segera pergi dari ruangan Derson.
"Kau mau kemana?".
"Apa kamu masih mau kita berdua-duaan seperti sepsang kekasih?" James mengedip-edipkan matanya untuk menggoda Derson.
"Mata kau yang berduaan kiri sama kanan, sana pergi" usir Derson karena kesal melihat James yang selalu menggoda dirinya.
"Hahahah" James tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya lalu kembali melanjutkan jalannya keruang bawah tanah mengurus mayat Rido.
🌛🌛🌛
Minggu pagi ini Derson menuruni anak tangga tanpa sadar kakinya melangkah menuju kamar Via.
Klek.... kamar terkunci dari dalam sesuai dengan aturan dari Derson.
Tok....Tok... Tok...
"Via...." panggil Derson lembut tapi tidak ada sahutan.
"Via..... " kali ini Derson membuat nada suaranya mejadi lebih keras.
"Dia malas ketemu sama orang kayak kamu" jawab James dari tangga yang kebetulan lewat mau turun kemeja makan.
Derson tidak menanggapi ucapan James dia memanggil satu kali lagi nama Via baru pintu itu dibuka oleh pemiliknya. pemandangan yang pertama yang dilihat oleh Derson. mata yang sembam, rambut yang acak-acakan.
"Jorok banget sih lihat tuh iler mu sudah kering" Derson menunjuk kearah dekat mulut Via.
"Biarain sajalah, toh hari ini nggak mau keluar kamar juga" ucap Via kembali merebahkan badannya dikasur.
"Siapa bilang hari ini kamu nggak keluar, sana mandi ganti baju aku mau kamu temani aku mencing" ucap Derson yang sudah duduk manis di kasur milik Via, maklum kamar Via hanya ada kasur tidak ada sofa.
"Bukannya kamu tidak mau melihat wajahku, jadi apa aku perlu pakai topeng?" Tanya Via dengan polosnya.
"Terserah kamu saja, sana mandi dulu banyak tanya lagi" jawab Derson dengan muka yang cerah secerah matahari pagi ini.
Derson meneliti kamar yang ditinggali oleh Via matanya langsung tertuju pada sebuah kertas-kertas diatas meja, Derson memicingkan matanya membaca isinya yang ternyata ada sebuah surat berisi belanjaan untuk perlengkapan masak.
Derson membuka kertas yang lainnya ada tulisan lagi uang pengeluaran dan pemasukan.
"Dia kerja dirumah makan?" Derson bertanya pada dirinya sendiri.
"Kamu ngapain disana?" Tanya Via yang baru keluar dari kamar mandi sudah menggunakan baju dan juga celana jins.
"Ini apa? kamu kerja dirumah makan?" Derson menunjukkan kertas yang ia baca diatas meja rias Via.
"Achhh itu....aaa.... iya aku bekerja dirumah makan" via menjawab dengan gaguk.
"Kenapa harus kerja bukannya kamu sudah aku kasih uang?" Tanya Derson penasaran.
"Achhh itu karena aku bosan dirumah saja" jawab Via sambil menyisir rambutnya didekat Derson.
Derson dapat mencium aroma dari tubuh Via aroma sabun yang masih melekat, "jangan nyisir didepan aku nanti kutu mu jatuh kepadaku" ucap Derson tapi enggan pergi dari hadapan Via.
"Yaudah kamu pergi dari sini kan tempat nyisir rambut disini" ntah dari mana keberanian Via menjawab ucapan Derson.
"Kamu berani menyuruh saya?" Tanya Derson mendekatkan wajahnya kepada Via.
"Nggak kok, sana jauh-jauh" Via menjauhkan wajahnya dari Derson. Derson tau mungkin Via juga jijik terhadapnya mengingat kemaren malam betapa kejamnya seorang Derson.
"Udah ayok aku sudah siap" ucap Via sudah berdiri didekat pintu. Derson berdiri dari duduknya lalu berjalan mendekati Via.
Via berjalan dibelakang Derson melewati ruang tamu yang saat ini James sedang meminum kopi.
"Wahh ada yang mau pacaran" goda James sambil tersenyum jahil kepada Derson, Derson hanya menatap tajam kearah James yang tidak pernah puas menggoda dirinya.
🌛🌛🌛
Jangan lupa tinggalkan jejak ya kasih Like, Komen, Vote, Favorite, dan juga kasih hadiah ya 🌷🌷🌷
yg sabar ya Via..../Rose//Rose/