Vania Maharani terpaksa memutuskan jalinan cintanya dengan Leon Mahardika,kekasih masa SMA nya karena desakan dari Nyonya Laras, mamanya Leon. Keadaan lah yang membuat Vania terpaksa menyetujui kemauan Nyonya Laras dan menjalankan rencana yang membuat Leon sangat membenci Vania.
Hingga 7 tahun berlalu, mereka kembali bertemu namun dengan status yang berbeda. Leon sudah menikah dengan Ziva yang tak lain sahabatnya sejak kecil sekaligus dialah orang yang memberikan ide gila pada Nyonya Laras.
Perusahaan tempat Vania bekerja bangkrut, dan di ambil alih oleh perusahaan Leon. Dan di sanalah penderitaan Vania di mulai.
Apa yang terjadi dalam kehidupan Vania hingga membuatnya mau menjadi istri siri Leon?
Simak dan ikuti ceritanya.
Jangan lupa dukung Author dengan cara
Like, Coment, Vote, Favorite dan kasih hadiah buat author ya.
Kamsyahamida 🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cintya Devi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mantan Pacar
Waktu menunjukkan pukul 5 sore. Leon segera menutup laptopnya, lalu menyambar jas yang ia gantung di kursi dan bergegas keluar.
"Eits.., Pak Leon. Kok kelihatan terburu-buru, memang kamu mau kemana?" ucap Pras yang kebetulan terlebih dulu membuka pintu.
"Kamu lagi, kamu lagi Pras. Sudah berapa kali aku bilang, sebelum masuk itu ketuk pintu!!" Leon bersuara dengan dagu mengokoh dan urat yang mengeras.
"Duh.., Leon sepertinya sedang banyak pikiran, dan ini pasti soal Vania. Lebih baik aku jangan ajak bercanda dulu deh. Suasananya lagi gak tepat," batin Pras kikuk.
Leon menatap sinis asistennya tersebut. Tanpa bergeming, ia menggeser tubuh Pras dan melanjutkan kembali langkahnya.
"Leon, kamu mau kemana?" teriak Pras, namun Leon hanya menoleh tanpa menjawab.
"Aissh.., Leon oh Leon. Kamu yang tertimpa masalah, kenapa aku malah jadi ikut kepikiran. Lagian dulu main asal percaya aja, gak cari tahu dulu. Sekarang pasti kamu menyesal kan," gumam Pras sambil menutup pintu ruangan Leon, dan bergegas pergi dari sana.
Sebelum pergi ke rumah Vania, Leon mampir ke toko buah dan kue, dan ingin memberikannya kepada Vania. Leon sengaja mempercepat kedatangannya dan hadir di acara tahlilan Pak Indro.
Setelah membeli semuanya, Leon bergegas ke rumah Vania. 30 menit kemudian mobilnya sudah terparkir di rumah Vania. Mata Vania membulat, saat melihat Leon sudah berdiri sambil tersenyum di depan pintu rumahnya.
"Assalamualaikum," ucap Leon.
"Walaikumsalam," jawab Bu Santi sambil membalas senyum ke arah Leon. Kebetulan saat ini Bu Santi sedang berada di rumah Vania dan membantu Vania mempersiapkan acara malam tahlilan nanti.
"Vania, sepertinya ada yang bertamu," ucap Bu Santi kembali.
"Iya Bu, aku temui orang itu dulu ya," ucap Vania.
"Iya Nak."
Vania pun meletakkan kembali tikar yang baru saja hendak ia buka. Dan dengan langkah cepat, Vania segera menghampiri Leon dengan sorot mata yang tajam.
Leon masih mengurai senyum. Tanpa mempedulikan tatapan kesal dan jutek yang Vania tunjukan.
"Ada perlu apa Bapak datang kemari?" Vania datang menemui Leon sambil berkata sinis.
"Aku datang untuk acara malam tahlilan Bapak. Dan ini ada kue dan buah, buat snack nanti malam."
"Maaf sebelumnya ya Pak Leon, tapi seingat saya, saya tidak mengundang bapak datang ke acara nanti malam. Jadi saya minta Bapak lebih baik pulang dan bawa kembali semua yang ada di tangan Bapak.
"Vania, tolong jangan usir aku. Dan jangan memanggilku seformal itu. Kita kan sedang berada di luar jam kerja."
"Maaf Pak, tapi saya hanya menjalankan perintah Bapak. Bukankah dulu, Bapak yang meminta saya untuk memanggil demikian?"
"Vania.., waktu itu aku..," belum sempat Leon melanjutkan ucapannya, Bu Santi yang sedari tadi mengamati perdebatan antara Leon dan Vania langsung menyela pembicaraan mereka.
"Vania.., dia siapa? Kok gak di suruh masuk," tanya Bu Santi.
"Oh.., itu Bu. Dia ini.."
"Mantan pacarnya Vania. Perkenalkan nama saya Leon, dan saya adalah mantan pacar Vania ketika SMA dulu," sahut Leon penuh percaya diri.
Deg...
Vania langsung memberikan sorotan tajam ke arah Leon sambil memperlihatkan sederet gigi putihnya.
"Kamu bicara apa Leon?" lirih Vania.
"Kan itu kenyataan Van. Aku kan memang mantan kamu," jawab Leon membela diri.
"Duh Vania, ternyata ini mantan pacar kamu toh? Ibu kira malah pacar kamu. Tapi gak papa, siapa tahu kalian nanti bisa kembali bersama. Lagian kalau Ibu amati, kalian ini cocok banget loh. Nak Leon yang tampan, pantas bersanding dengan kamu yang cantik Van. Wah.., wah.., wah.., gak kebayang seganteng atau secantik apa anak kalian nanti. Yaudah di suruh masuk dong Vania, mas mantannya. Ibu ke dapur aja deh, takut ganggu kalian," kata Bu Santi dengan senyum yang menggoda.
"Bu Santi tolong jangan salah paham. Leon itu..."
"Oh iya Bu, ini ada buah dan beberapa kardus kue untuk snack untuk acara nanti malam," sahut Leon. Lagi-lagi ucapan Vania langsung di potong, dan itu semakin membuat emosi Vania ingin meledak.
"Eh iya Nak Leon, terima kasih. Kebetulan snacknya juga belum beli. Kalau gitu Ibu masuk dulu ya Nak Leon, Vania."
"Iya Bu," jawab Leon dan Vania kompak.
kayak perhatian Morgan pada istri orang yang author anggap hal benar
mudah mudahan author merasakan diposisi leon didunia nyata, amin
ternyata sudah ada yang ngantri lagi untuk nyakiti vania🤦♀️🤦♀️🤦♀️🤦♀️