Kania harus mengalami malam tergelap dalam hidupnya, ia dinodai dan kehilangan harga dirinya. Ketika kebenaran terungkap, orang-orang yang seharusnya menjadi tempat perlindungannya justru menjadi hakim yang paling kejam.
Tunangannya, Haris, langsung memutuskan pertunangan mereka, menganggap Kania sudah kotor dan tak layak lagi bersanding dengannya. Bahkan ayah kandungnya sendiri membuangnya, menyebutnya telah mencoreng nama baik keluarga.
Tanpa dukungan siapa pun, Kania terhempas ke jalanan, hingga seseorang mengulurkan tangan dan membantunya untuk bangkit dari keterpurukan.
Kini, ia kembali bukan lagi sebagai wanita lemah yang diusir, melainkan sebagai sosok yang berani menantang takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16
Ketukan tangan Kania terdengar pelan di permukaan pintu kayu ruang kerja Victor. Tak lama, suara berat dan dingin terdengar dari dalam.
"Masuk."
Kania melangkah masuk dengan tenang, menutup pintu rapat kembali, lalu berjalan menuju kursi di hadapan meja kerja besar itu. Ia duduk tegak, menunggu.
Victor meletakkan pena yang dipegangnya, lalu mendorong setumpuk map tebal berisi dokumen tertata rapi tepat ke arahnya.
"Pelajari semuanya," ucapnya singkat dan tegas. "Sampai kau paham betul setiap isinya."
Kania menatap tumpukan dokumen itu sekilas, lalu mengangkat wajah menatap Victor. Ada keraguan samar yang terselip di matanya.
"Maaf, Tuan," tanyanya pelan namun sopan. "Apakah aku benar-benar harus mempelajari semua hal ini? Bukankah tujuanku hanya untuk membalas mereka yang sudah menghina dan merendahkanku?"
Victor diam sejenak, menatapnya tajam seolah ingin memastikan kata-katanya meresap masuk ke dalam hati wanita itu.
"Ya," jawabnya singkat namun tegas. "Kamu harus melakukannya."
Ia mencondongkan tubuh sedikit, suaranya terdengar lebih dalam dan serius, "Kamu bisa membalas sekaligus merebut kembali apa yang seharusnya menjadi milikmu. Untuk membalas mereka kamu harus punya kekuatan dan kemampuan. Jika dasar seperti ini saja kamu tidak bisa, kamu akan terus dipandang lemah."
Kania menelan ludah, menatap kembali tumpukan dokumen di hadapannya. Perlahan ia mengangguk yakin.
"Baik. Aku akan mempelajarinya." ucapnya, ia mulai membuka tumpukan berkas satu persatu.
Jam dinding di sudut ruangan berdetak pelan, menjadi satu-satunya suara yang memecah keheningan panjang. Siang berganti sore, cahaya matahari yang tadinya terang menyinari meja perlahan meredup, berubah menjadi warna keemasan senja, hingga akhirnya lampu ruangan menjadi satu-satunya penerang.
Kania tak bergerak dari tempatnya. Ia menekuri setiap lembar dengan ketelitian. Jarinya menelusuri baris angka, catatan strategi, dan catatan kecil di pinggir halaman.
Di balik meja, Victor tetap diam di tempatnya. Matanya tak lepas mengamati setiap gerak-gerik Kania, cara wanita itu mengerutkan kening saat menemui bagian rumit, cara ia mencatat hal penting di buku kecilnya, hingga cara ia mengangguk pelan seolah akhirnya menemukan benang merah dari semua hal yang dipelajarinya.
Saat jam menunjukkan pukul dua belas malam, Kania baru perlahan mengangkat wajahnya. Matanya sedikit lelah, namun berkilau lebih terang dari sebelumnya. Tumpukan map di hadapannya sudah tersusun rapi kembali, tanda ia telah menuntaskan semuanya.
"Aku sudah selesai," ucapnya pelan namun tegas, suaranya sedikit serak tapi penuh keyakinan. "Aku paham semuanya."
Victor mengangguk pelan, sorot matanya yang biasanya dingin kini menyiratkan pengakuan yang dalam.
"Bagus," ucapnya singkat. "Kau tidak hanya belajar cara mengelola perusahaan. Kau baru saja belajar menjadi pemimpin yang sesungguhnya."
Victor menatapnya lama, lalu perlahan menutup berkas yang ada di hadapannya sendiri.
"Cukup untuk hari ini," ucapnya pelan namun tegas. "Istirahatlah. Tubuh dan pikiranmu butuh jeda, agar esok kau bisa menyerap pelajaran berikutnya dengan jernih."
Kania mengerjap pelan, baru menyadari betapa lelahnya matanya setelah berjam-jam tak beralih dari lembaran dokumen.
"Baik, Tuan," jawabnya sambil perlahan berdiri, meluruskan punggung yang kaku. "Terima kasih."
Victor mengangguk singkat, tak menambahkan kata-kata manis. "Besok kita mulai lebih awal. Jangan sampai kau terlambat."
Kania melangkah keluar dari ruangan itu, menutup pintu pelan. Langkah kakinya terdengar pelan namun teratur menyusuri lorong yang sepi. Lampu-lampu koridor sudah diredupkan, menyisakan cahaya remang yang hanya cukup menerangi jalan.
Sesampainya di kamar, ia menutup pintu rapat dan menguncinya pelan. Keheningan yang menyelimuti ruangan itu kini tak lagi terasa sunyi atau menakutkan seperti dulu. Ia berjalan menuju jendela, menarik sedikit tirai tebal hingga memperlihatkan langit malam yang penuh bintang.
"Tunggu saja kalian, aku akan kembali menjadi bayangan hitam yang membuat kalian gemetar."
-
-
-
Luna berjalan dengan langkah melenggang penuh percaya diri di lantai utama mal yang ramai. Kedua temannya berjalan di samping kanan dan kirinya, sesekali menunjuk jendela toko atau barang-barang mewah dengan kekaguman.
"Kalian tahu tidak?" ucap Luna dengan nada penuh kebanggaan, suaranya terdengar ceria dan lantang. "Sebentar lagi aku resmi bertunangan dengan kak Haris. Semuanya sudah disiapkan, cincinnya sudah dipilih, dan acaranya akan diadakan di aula utama hotel Wijaya. Ini akan menjadi acara paling megah dan paling eksklusif di kota ini."
Salah satu temannya segera meremas lengannya dengan antusias, matanya berbinar iri sekaligus senang. "Wah, selamat ya, Lun! Kamu benar-benar beruntung sekali. Siapa yang tak kenal Haris? Tampan, baik, dan dari keluarga terpandang pula. Aku benar-benar iri padamu, Lun."
"Aku juga iri," timpal teman yang lain sambil tersenyum lebar. "Nanti kalau kamu jadi Nyonya Besar keluarga Baskara, jangan lupakan kami ya."
Luna tertawa renyah, perasaan bangga memuncak di dadanya. Ia merasa semua rencananya berjalan sempurna, dan kini semua orang memandangnya dengan kekaguman.
"Tentu saja aku tidak akan melupakan kalian," jawabnya santai namun penuh keyakinan. "Hari itu akan menjadi awal dari segalanya. Tidak akan ada yang bisa merusak kebahagiaanku, aku dan kak Haris memang sudah ditakdirkan untuk bersama."
"Ya sudah, kalau begitu aku duluan ya," ucap Luna sambil melambaikan tangan pada kedua temannya. "Aku harus ke kantor Kak Haris sekarang, kami mau pergi mengambil cincin pertunangan. Nanti aku kabari kalian lagi ya,"
Kedua temannya melambaikan tangan kembali sambil tersenyum penuh harap, sementara Luna berjalan melenggang menuju area parkir mobil pribadinya.
Sesampainya di samping mobil mewahnya, ia meraih gagang pintu, membukanya perlahan, dan baru saja hendak melangkah masuk, sebuah suara terdengar membelah riuh kendaraan di sekitarnya.
"Luna..."
-
-
-
Bersambung...
mungkin sakit hati karna bapak Haris masih cinta sama mama Kania yg kandung😏
sabar ya pemirsa, bentar lagi malam pesta dimulai😁
lanjut dong thor🤭🤭