Cerita cinta seorang duda dewasa dengan seorang gadis polos hingga ke akar-akarnya. Yang dibumbui dengan cerita komedi romantis yang siap memanjakan para pembaca semua 😘😘😘
Nismara Dewani Hayati, gadis berusia 20 tahun itu selalu mengalami hal-hal pelik dalam hidupnya. Setelah kepergian sang bunda, membuat kehidupannya semakin terasa seperti berada di dalam kerak neraka akibat sang ayah yang memutuskan untuk menikah lagi dengan seorang janda beranak satu. Tidak hanya di situ, lilitan hutang sang ayah yang sejak dulu memiliki hobi berjudi membuatnya semakin terpuruk dalam penderitaan itu.
Hingga pada akhirnya takdir mempertemukan Mara dengan seorang duda tampan berusia 37 tahun yang membuat hari-harinya terasa jauh berwarna. Mungkinkah duda itu merupakan kebahagiaan yang selama ini Mara cari? Ataukah hanya sepenggal kisah yang bisa membuat Mara merasakan kebahagiaan meski hanya sesaat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rasti yulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TCSD 12 : Turn On
Dengan perasaan sedikit takut Dewa mulai mendongakkan kepalanya. Seketika matanya pun terbelalak dan membulat sempurna. Tatkala melihat ada sosok seorang wanita berpakaian putih dan rambutnya sedikit berantakan, duduk di dahan pohon.
"Kun... Kuntilanak????!!!!"
"Tuan... Aku manusia, bukan kuntilanak!"
Wanita itu berteriak, berupaya untuk menghentikan langkah kaki Dewa, namun sia-sia saja karena Dewa terus berlari sekencang mungkin untuk pergi dari hadapannya.
Wanita yang masih nangkring di atas pohon itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kuntilanak apa? Masa iya ada kuntilanak memakai kebaya seperti ini? Ya Tuhan sekarang aku harus bagaimana? Aku bahkan sama sekali tidak bisa turun dari sini."
Wanita itu nampak dirundung kesedihan, kehadiran seorang laki-laki yang ia anggap bisa menjadi dewa penolong untuknya ternyata malah lari ketakutan karena menganggapnya sebagai kuntilanak.
"Mungkin aku harus berada di atas pohon ini sampai esok hari. Barangkali esok, banyak orang-orang yang berlalu lalang di sini dan aku bisa meminta tolong."
Sedangkan Dewa, ia berlari tunggang langgang menghindar dari makhluk yang ia anggap sebagai kuntilanak itu. Hatinya dipenuhi oleh perasaan takut. Takut jika kuntilanak itu akan murka karena telah ditantang olehnya dan bisa jadi akan menculiknya sama seperti yang pernah ia dengar bahwa makhluk ghaib seperti itu seringkali membawa manusia untuk ia seret ke dunia mereka, untuk dijadikan pendamping.
Niat hati pergi ke kota ini untuk menenangkan hati justru malah membuat hatinya lebih porak poranda dengan kesialan yang ia alami. Mesin mobil mogok, dan kini ia bertemu dengan sosok kuntilanak yang nyangkut di atas pohon. Namun langkah kaki Dewa terhenti tatkala logikanya mulai bekerja. Ia terlihat tengah memikirkan sesuatu.
"Tunggu, tunggu, jika memang benar itu adalah kuntilanak, tapi mengapa dia minta tolong untuk turun dari pohon? Bukankah kuntilanak itu bisa terbang? Tapi mengapa ia malah minta tolong? Dan bukankah kuntilanak itu memakai pakaian putih panjang seperti jubah? Namun, mengapa tadi memakai kebaya? Dan biasanya rambutnya tergerai namun mengapa tadi yang aku lihat seperti disanggul?"
Dewa semakin larut dalam pikirannya. "Apakah mungkin ia adalah sosok kuntilanak zaman now? Yang mengikuti tren perkembangan zaman? Aaahhh sepertinya dia memang manusia, sama sepertiku."
Dewa berbalik arah. Logikanya yang telah berjalan maksimal, membuatnya kembali untuk menghampiri sosok wanita yang nyangkut di atas pohon itu.
"Hei? Apa yang kamu lakukan di atas pohon seperti itu malam-malam begini?" Teriak Dewa tatkala ia telah sampai di tempat semula.
Wanita yang tidak lain adalah Mara tersenyum lebar karena pada akhirnya ada seseorang yang bisa memberikan pertolongan untuknya. "Tuan, bisakah Anda menolong saya untuk turun dari pohon ini? Saya tidak bisa turun!"
Dewa berdecak. "Lagipula mengapa kamu harus naik pohon jika tidak bisa turun? Dan apa yang kamu lakukan di atas sana?"
Dewa sedikit gemas dengan apa yang diucapkan oleh wanita ini. Baginya sangat tidak masuk akal jika ada orang yang bisa memanjat pohon namun tidak bisa turun. Biasanya jika ia paham bagaimana cara memanjat pasti juga paham bagaimana caranya untuk turun, bukan?
"Tuan, nanti akan saya ceritakan. Sekarang bantu saya terlebih dahulu untuk bisa turun dari sini."
Dewa menatap lekat pohon di hadapannya ini. Pohon yang lumayan tinggi dan ia pun juga tidak bisa memanjat. "Aku tidak bisa memanjat dan bagaimana mungkin aku bisa menolongmu?"
"Tuan... Tuan tidak perlu ikut memanjat. Tuan bersiap-siap saja untuk menangkap saya. Saya akan loncat dari sini."
Kedua bola mata milik Dewa membulat sempurna. "Loncat? Tidak, tidak, tidak! Siapa tahu tubuh kamu itu berat sehingga membuatku tidak kuat untuk menangkapmu!"
"Tenang Tuan... Berat badan saya tidak lebih dari enam puluh kilo, jadi Tuan pasti bisa menangkap saya."
Dewa semakin membulatkan kedua bola matanya. "Tidak sampai enam puluh kilo itu sama saja bisa sampai setengah kuintal. Tidak, tidak, tidak, aku tidak mau jika tubuhku sampai encok karena menangkapmu."
Mara yang masih berada di atas pohon hanya bisa berdecak. Tidak menyangka jika lelaki ini begitu sulit untuk ia mintai tolong. "Baiklah kalau begitu. Jika Tuan tidak mau menolong saya, saya akan loncat dari sini. Dan jika sampai saya mati, saya akan bergentayangan mengganggu kehidupan Tuan."
"Hei mengapa bisa begitu? Kalau kamu memang berniat lompat, mengapa tidak sedari tadi kamu lompat, sebelum aku berada di tempat ini? Dasar wanita aneh!"
"Jadi benar kalau Tuan tidak mau menolong saya? Baiklah, biar saya lompat sekarang." Mara berancang-ancang. "Satu... Dua.... Ti...."
"Tunggu, tunggu, tunggu. Jangan lakukan itu!" Dewa membuang nafas kasar. Ternyata nuraninya masih bekerja dengan baik. Ia paling tidak bisa melihat orang lain kesusahan. Apalagi ini menyangkut hidup dan mati wanita yang baru saja ia temui ini.
Dewa memasang badan, bersiap untuk menangkap tubuh Mara. "Hitungan ketiga, kamu bisa lompat. Satu... Dua... Tiiiiiigaaaa...."
Haaapp!!!!
Bughhh.. Buggghhh.....
Awwwwwhhhh.....
Cupp.....
Dewa yang mengira bisa menahan bobot tubuh wanita ini ternyata meleset. Kini mereka berdua sama-sama jatuh di atas tanah dengan posisi tubuh Mara menindih Dewa dan bibir wanita itu mendarat mulus di permukaan bibir Dewa.
Mara menatap lekat kedua netra lelaki yang ada di bawah tubuhnya ini. Sepasang mata yang memiliki sorot mata tajam namun terasa meneduhkan. Sorot mata yang dari sana terpancar binar kasih sayang yang terlihat begitu kentara.
Sedangkan Dewa, ia merasakan ada sesuatu aneh yang tiba-tiba terjadi pada tubuhnya. Saat bagian dada Mara menempel tepat di dadanya, ia merasakan miliknya yang hampir setengah tahun tertidur, mulai memberikan respon dengan menggeliat. Dan bisa dipastikan sebentar lagi akan berdiri. Seketika membuat Dewa merasakan jika senjata miliknya akan kembali berfungsi dengan normal.
Sepersekian menit keduanya hanyut dalam keheningan dengan posisi saling menindih dan bibir keduanya bersentuhan. Hingga pada akhirnya suasana hening itu dipecahkan oleh suara Dewa yang tetiba memekik seperti seseorang yang tengah menahan rasa sakit.
"Aaaadududuhhh.... Sakit....!!!"
Mara mengerjapkan mata, berusaha sadar dari keterpakuannya. Sensasi sentuhan bibir seorang laki-laki yang baru pertama kali ia rasakan ini sungguh membuat degup jantungnya seolah tiada terkendali dan membuatnya merasakan sesuatu yang sulit untuk ia ungkapkan.
"M-Maaf Tuan!"
Buru-buru Mara bangkit dari posisinya menindih Dewa. Ia kemudian duduk di atas tanah, sedangkan Dewa juga ikut bangkit dan duduk di samping Mara. Berkali-kali ia menepuk-nepuk pakaiannya, berusaha untuk menghilangkan tanah yang menempel di badannya.
"Tuan, terima kasih banyak sudah membantu saya. Saya benar-benar berhutang budi pada Tuan."
Dengan penuh ketulusan, Mara mencoba mengucapkan rasa terimakasihnya kepada Dewa, yang ia anggap sebagai dewa penolong untuknya. Jika Dewa tidak berada di tempat ini, mungkin malam ini ia akan tidur di atas pohon.
"Hmmmmm ini semua karena kamu yang membuatku kerepotan seperti ini. Lagipula untuk apa kamu harus nangkring di atas pohon seperti tadi? Seperti orang yang kurang kerjaan saja."
"Maaf Tuan. Saya tadi terjebak di tempat ini di saat berusaha untuk lari dari kejaran anak buah juragan Karta. Karena tidak memungkinkan untuk berbalik arah, akhirnya saya memanjat pohon ini."
Dewa sedikit mengerutkan keningnya. Ia teringat dengan lima orang yang tadi berbincang-bincang di tempat ini. Ternyata wanita yang mereka kejar adalah wanita yang saat ini ada di hadapannya.
"Memang kesalahan apa yang sudah kamu lakukan, hingga membuatmu dikejar-kejar oleh anak buah juragan Karta?"
"Saya lari dari perjodohan dengan juragan Karta, Tuan."
Dewa terkesiap. "Perjodohan? Jadi kamu bukanlah istri juragan Karta?"
Mara menggeleng. "Sama sekali bukan, Tuan. Saya belum ingin menikah karena usia saya baru akan menginjak dua puluh tahun."
Dewa semakin dibuat terkejut oleh ucapan Mara. Gadis di hadapannya ini belum genap berusia dua puluh tahun namun sudah memiliki bentuk tubuh yang sempura. Dewa menatap lekat tubuh Mara dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ia hanya bisa menelan salivanya kuat-kuat, melihat kemolekan tubuh Mara yang terbalut oleh kebaya itu. Terlebih di bagian dada. Bisa dikatakan gadis ini memiliki ukuran dada yang sangat, aaahhhh... Mungkin jika diukur menggunakan size produk bra yang diproduksi oleh perusahaan konveksi miliknya, dada gadis di hadapannya ini memiliki size 40B (wwkkkkkk seperti apa tuh besarnya 😂)
Dewa hanya tertegun melihat kesempurnaan ciptaan Tuhan yang ada di hadapannya ini. Dalam hatinya, ia mengakui jika wanita ini begitu sempurna.
Dan.. aahhhh mengapa tetiba pisang tandukku memberikan respon seperti ini? Padahal sudah setengah tahun aku tidak merasakan turn-on , dan kini aku bisa merasakannya kembali. Apakah ini adalah awal dari kesembuhanku?
.
.
. bersambung....
mengecewakan😡