Sequel CBOP.
Menceritakan tentang kehidupan Anabella setelah menjanda. Dia disukai oleh 2 orang pria. Jadi di sini Anabella harus memilih antara Johan, Faris atau tetap menjanda?
Ya, semenjak Arkan meninggal. Lauren bagai teman bagi Anabella. Tapi untuk Isabella, sekeras apapun Lauren dan Anabella membujuk Isabella untuk ikut dengan mereka. Dia tak pernah mau tinggal bersama Anabella. Isabella justru menuduh Anabella adalah wanita pembawa sial. Bagi Isabella, semua orang yang dekat dengan Anabella akan mati tak bersisa.
Faktanya bukan seperti itu. Sebenarnya banyak masalah lain. Tentang kejanggalan kematian Arkan dan tersangka yang sesungguhnya.
***
"Aku menginginkanmu. Menginginkan semua yang ada pada dirimu Ana. Tak perduli kau janda, aku akan tetap menyukaimu." Faris.
"Anabella, hanya kau seorang wanita yang ku kagumi. Andai waktu dapat terulang kembali. Mungkin kita sudah menikah. Maaf atas kekhilafanku." Johan.
Harap bijak dalam membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unchi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Cuma Mau Dekat Denganmu
"Dia sepupuku Faris. Urusan dia cuma sama aku, kamu gak perlu ikut campur." sahut Anabella.
Isabella yang mendengar ucapan dari Anabella itu bukannya malah berbuat baik. Justru kebenciannya kepada Anabella semakin menjadi.
Dendamnya semakin besar terhadap Anabella. Isabella sangat iri, kenapa nasib Anabella selalu beruntung dari pada dia?
Dia menganggap Tuhan pilih kasih. Tapi kenyataannya, Isabella yang terus-terusan membenci Anabella. Sampai warna putih dia anggap warna hitam. Kebaikan Anabella tak pernah dianggap oleh Isabella. Semua yang dilakukan Anabella selalu salah di matanya sampai kapanpun.
"Gak usah sok muna kau Anabella. Urusan kita tak akan pernah selesai sampai kapanpun. Kau akan menyesal suatu saat. Aku pastikan itu!"
Lalu Isabella berlari meninggalkan Isabella dan Faris yang masih berdiri menatapnya.
Kepergian Isabella membuat Anabella menatap marah kepada Faris.
"Harusnya kau tak perlu ikut campur Ris. Isabella jadi makin benci kan sama aku? Mending kamu pergi aja deh Ris. Lagian Devan gak perlu kamu kok." ujar Anabella.
Faris yang mendengar itu sangat begitu heran pada Anabella. Padahal dia berusaha bersikap baik. Tapi tak apalah, Faris sudah sering diabaikan oleh Anabella. Tapi kalau dia diusir dengan cara seperti ini, Faris tak terima.
Dia langsung menarik Anabella dan mengurung Anabella. Posisi Anabella kini bersandar di dinding dan Faris yang tengah mengurung pergerakan Anabella. Persetan dengan pembantu atau Lauren yang bakal melihat adegan mereka, Faris tak perduli.
"Kau mengusirku Ana?" tanya Faris yang membuat Anabella ketakutan.
"Lepasin aku Ris. Kau mau apa ha?"
"Aku cuma mau dekat denganmu Ana."
"Bukankah kau udah dekat dengan ku Ris? Kau main kesini aku ijinin." balas Anabella.
"Tapi kau mengusirku hari ini Ana. Dan aku masih butuh sesuatu yang lebih darimu." ucap Faris dengan begitu menggoda. Dia mencari-cari sela di telinga Anabella, supaya Anabella terbawa suasana.
"Kau jangan gila Faris!" Anabella berusaha mendorong Faris sekuat tenaganya. Namun gagal. Anabella kalah kuat jika melawan seorang pria.
"Aku udah gila sejak pertama kali melihat mu Ana. Ayolah, temani aku berkencan sekali saja."
Kencan yang Faris maksud sangat berbeda dengan kencan yang ada di pikiran Anabella. Anabella jelas menduga, itu kencan satu malam. Yang dimana dia harus rela melayani Faris sampai Faris puas.
Tapi sayang, Anabella tak semurahan itu. Lagi juga, Anabella tak pernah mau melakukan hubungan tanpa status pernikahan. Menikah? Terlalu dini bagi Anabella untuk membahas itu. Dia baru menjanda 6 bulan, semudah itukah dia melupakan Arkan? Tidak, dia akan menjaga cintanya walau banyak cobaan yang menerpanya.
Namun disini, yang dimaksud Faris berkencan adalah menemani dia makan malam sampai kenyang. Kalau perlu berburu makanan kesukaan Anabella. Pasti lebih seru. Itu yang Faris bayangkan.
"Kau kira aku ini apaan? Kau merendahkan status jandaku Ris?"
"Siapa yang merendahkanmu Ana?" Faris menjauh dari badan Anabella.
Dia mengusap kepalanya sendiri karena bingung dengan pikiran orang-orang yang menganggapnya mesum atau yang lainnya. Emang ada apa dengan berkencan? Kencan tak harus berenak-enak di dalam hotel kan? Sungguh mereka sangat negatif pikirannya dalam menilai Faris.
"Kau terus berusaha mengajakku berkencan. Apa itu bukan hal yang ngerendahin aku?"
"Ck, makanya punya otak jangan dipake buat berpikir hal-hal negatif mulu. Sekali-kali, ini otakmu (sambil menyentil kepala Anabella dengan jari telunjuk tangan kanannya) harus dicuci dengan air bersih. Biar pikiranmu bersih buat menilaiku."
Anabella terdiam. Lalu kalau bukan one night stand lalu apaan? Pikir Anabella lagi.
"Yaudah, aku pulang dulu. Tapi kasih kiss dong?" ledek Faris yang langsung kena bogem dari Anabella.
"Galak amat sih, pasti menyenangkan kalau kita benar-benar berkencan." ujar Faris lagi sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Dasar cowok gila." gerutu Anabella sambil menutup pintu rumahnya.
"Gila campur mesum. Amit-amit. Aku harus jaga diri kalau dekat-dekat sama tu orang." gumam Anabella sambil bergidik ngeri, mengingat hembusan nafas Faris yang sempat berkali-kali mengenai lehernya.
Anabella masih normal untuk hal yang satu itu. Tapi dia tahan untuk tidak melakukan itu. Dia wanita yang bisa menahan hawa nafsunya. Meskipun kecil kemungkinan juga bakalan tergoda. Selama dia masih mampu, kenapa harus terbujuk dengan rayuan setan?
***
Hari ini Johan terlihat biasa saja. Maksudnya tak terlalu perduli pada Anabella. Anabella juga berusaha cuek. Ngapain dia perduli sama suami orang? Nanti dikiranya kegatelan lagi.
Serba salah memang menjadi janda itu. Bersikap ramah, dikira ganjen. Cuek, dikira sombong. Benar-benar sulit. Tapi sebagai bawahan, dia juga harus menyapa Johan duluan. Bersikap formal sepertinya lebih baik.
"Pagi dok, ada pasien yang minta pulang hari ini. Ada di kamar Anggrek nomor 7." ujar Anabella.
Dan Johan terlihat sedikit berpikir. Dia begini gara-gara kena labrak oleh si Faris.
Faris menemuinya semalam. Dan melarang Johan untuk tidak mendekati Anabella lagi. Mana bisa Johan berjauhan dengan Anabella? Sementara apa yang Johan mau belum terlaksanakan juga.
"Nanti aku melihatnya." balas Johan dingin. Namun tatapannya begitu tajam, sampai Anabella sedikit ketakutan.
"Kau kenapa? Ada masalah?" tanya Anabella pada akhirnya. Bagaimana pun juga, mereka pernah dekat. Dan sampai sekarang masih menjalin hubungan pertemanan meskipun kadang-kadang kayak musuh.
"Ada. Aku ingin kau cuma dekat dengan ku Bel. Aku gak rela ada cowok manapun mendekati mu."
"Aku gak ada waktu untuk bahas ini. Permisi." Anabella segera meninggalkan Johan. Dia tak suka Johan membahas itu-itu terus.
Ya meskipun kalau boleh jujur. Sebenarnya Anabella juga terbawa perasaan oleh sikap perhatian Johan padanya. Wanita mana yang gak akan baper jika setiap waktunya selalu dikasih perhatian. Tapi Anabella sadar diri. Dia siapa, dan cintanya buat siapa? Jadi dia berusaha tegas sekarang. Meskipun sulit sih sebenarnya. Tapi jalan satu-satunya adalah menghindar seperti sekarang ini.
'Maaf Johan, aku gak mau jadi wanita perusak hubungan mu. Kalau ini jalanmu untuk mendekati ku, aku akan berusaha terus menghindarinya semampuku. Tiap kamu ingin mendekati Devan, aku akan berusaha menjauhkannya. Biar Devan lupa sama kamu, dan juga aku tak menyimpan rasa denganmu.' batin Anabella sambil meyakinkan dirinya.
Tapi Anabella tahu, sekeras apapun dia berusaha menjauhkan Devan dengan Johan. Pasti lagi-lagi Johan akan datang bersama Rena. Entah sampai kapan, lama-lama kelamaan Anabella juga merasa tak enak juga. Padahal Anabella pemilik rumah, tapi yang ada rasa iri saat melihat Rena dan Johan yang tertawa bahagia bermain bersama Devan. Seperti ibu, ayah dan anak. Sementara dia, dia hanya single parents yang numpang nonton kebahagiaan orang lain.
Lalu apa yang akan Anabella lakukan agar dia bisa bahagia meskipun tanpa suami?
Bersambung...
mjl