Abraham yang seorang Komisaris Polisi dan Arshinta seorang guru TK. anak-anak Lucifer setelah dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linieva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Wanita-wanita yang malang itu merasa sangat malu, tubuh nya yang setengah telanjang itu di pertontonkan pria-pria hidung belang.
“Sekarang wanita-wanita ini akan mulai di obral, dengan nomor 01, di mulai dari harga 15 juta……
Seorang wanita berkulit cokelat dengan rambut keriting, orang pertama yang akan di jual.
“16 juta….
“18 juta…..
“20 juta…..
*******
Dua orang wanita yang cantik dan seksi sedang menggoda pria-pria hidung belang.
“Nona, apa yang kau lakukan di sini?” tanya pria yang bertugas menjaga keamanan transaksi.
“Abang… aku sedang mencari seseorang, dia berjanji pada ku untuk ku temani bermain, tapi aku tidak tahu ada di mana dia….”ucap Mega wajah memelas.
“Seperti apa orang nya?” tanya pria itu lagi.
“Dia gendut, punya kumis, dan jenggot. Sebenar nya aku tidak mau ikut dengan nya, tapi dia berjanji akan memberikan ku uang banyak, jadi aku mau…”jawab Mega mengelus dada pria itu dengan nakal.
“Hahaaha…. Untuk apa kau mencari pria gendut itu, ikut saja dengan ku, akan aku bayar dua kali lipat dari nya. Bagaimana?” bisik nya yang mulai tergoda.
“Benar kah? Om gendut itu janji akan memberikan ku uang 10 juta untuk menemani nya, berarti kau akan memberikan ku 20 juta dong?” tanya nya genit mengusap pipi si pria yang mulai terangsang.
“20 juta? Aku bahkan bisa memberikan mu lebih dari itu, ayo sayang… mari kita nikmati malam berdua kita…”pria itu memeluk Mega dengan erat.
“Baiklah, aku akan ikut.” Mega ikut dengan pria itu kesuatu tempat.
“Pion A sudah di singkirkan, lanjutkan…”ucap Mega dengan suara pelan.
“Pion B juga sudah di singkirkan…” ucap rekan nya lagi, Dita dengan tugas yang sama dengan Mega.
“Apa yang selanjut nya kita lakukan pak Adley?” tanya Venam.
“Tunggu sebentar, belum ada perintah dari Abraham.” Jawab Adley.
Adley dan Venam sudah bersembunyi di tempat lain. Tugas mereka hanya mengontrol dan melacak titik-titik mana yang memiliki pengawasan.
Sementara di tempat transaksi, Yoe masih mengikuti acara, hingga wanita bernomor delapan.
“Nomor delapan selanjut nya, saya akan mulai dengan harga…..
“Bergerak sekarang.” Ucap Yoe dengan suara pelan.
Tiba-tiba…..
SSSSYYUUUTTTTTT…..SSSSYYYUUUTTTTTHHH……
Beberapa pria turun dari atas dengan menggunakan tali.
Memakai pakaian dan sarung tangan hitam.
“Apa itu? siapa mereka?” tanya mereka yang melihat pria-pria yang turun dari atas.
BBBBRRAAAAKKKHHHH…..
“Angkat tangan kalian semua!” teriak beberapa polisi berseragam dengan mengangkat pistol nya.
Yoe berlari dengan cepat naik ke atas panggung, wanita-wanita itu ketakutan, mereka berpelukan sambil menjerit, mencari tempat yang aman.
Pria pembawa acara sudah di tangkap salah satu pria yang turun dari atas. Begitu juga dengan yang lain nya.
Semua yang ada di situ di tangkap, baik tamu mau pun pihak penyelenggara.
“Sekarang kalian ikuti…..
“Awas di belakang mu….
Yoe melihat kebelakang nya dan seseorang menusukkan pisau nya tepat di bagian dada nya.
Pisau itu masih tertancap di tubuh nya.
Yoe segera memukul pria itu dan rekan Yoe segera membawa nya.
“Cepat bawa mereka ke penjara!” teriak Yoe.
Abraham yang dari awal menyamar sebagai Yoe membuka jenggot dan kacamata nya.
“Aahhh…. Panas sekali. Ini membuat ku gatal.” Ucap nya menggaruk-garuk dagu.
“Lepaskan baju kalian, berikan pada mereka.” Suruh Abraham yang juga membuka pakaian luar nya.
Mereka membuka pakaian dan memberikan pada wanita-wanita yang hanya memakai pakaian dalam itu.
Agar pria-pria lain dan termasuk anak buah nya tidak tergoda dan menyakiti korban.
“Tu…tuan…. Pisau…pisau itu..” ucap wanita yang berteriak tadi.
“Oh… ini…tidak apa-apa.” Jawab Abraham menarik pisau yang tertancap tegak.
“Kau pakailah baju ini, pasti kedinginan kan?” Abraham memberikan pakaian nya pada wanita korban penculikan dengan nomor 10.
“Te…..terimakasih.” jawab wanita itu dengan malu.
“Bawa mereka ke rumah sakit.” Suruh nya lagi pada rekan kerja nya.
“Kalian ikuti mereka ya.” Dia menyuruh semua wanita-wanita itu mengikuti anak buah nya.
Akhir nya semua mengikuti, wanita dengan nomor 10 masih melihat Abraham yang kembali fokus mengerjakan tugas nya.
Dia merasa sangat senang dan tersenyum malu.
************
semua sudah di bawa, sebagian di borgol agar tidak melarikan diri. Mega dan Dita juga sudah menangkap pria yang di goda nya.
Abraham tanpa luka, berhasil memukul lawan nya sebagai pelajaran.
Adley dan Venam yang sudah mengatur kendaraan di luar untuk mengangkut mereka dengan mobil truk bertuliskan POLICE.
“Hahahahaha….. kau sangat lucu sekali Abraham, pasti Shinta akan meledek mu.” Tawa Adley melihat Abraham yang keluar dari lokasi dengan keadaan masih memakai tubuh palsu yang terbuat dari karet untuk menebalkan kulit nya sehingga terlihat gendut.
“Berisik…
Abraham menggeserkan tubuh Adley yang masih menertawai nya.
“Selanjut nya kita kemana?” tanya Adley.
“Ke kantor. Aku ingin menginterogasi mereka.” Jawab Abraham yang sudah duduk di dalam mobil.
“Lalu para korban bagaimana?” tanya Adley lagi.
“Mereka sedang di bawa ke rumah sakit kan? Kalian tidak membawa nya kerumah kalian kan?” ledek Abraham.
“Hahahaha…. Mungkin.” Adley yang sudah duduk di kursi kemudi segera membawa kan mobil nya menuju tujuan berikut nya.
********
Di rumah sakit milik Aditya Bagas, putera dari Steven dan Lisna. Dia dan beberapa dokter juga perawat sangat sibuk mendadak, karena
mendapatkan pasien yang banyak, yang di kirim Abraham.
Perawat-perawat berlari membantu mereka, dan langsung membawa masuk keruangan.
“Di mana Abraham?” tanya Aditya.
“Dia masih ada urusan, mungkin sedang melampiaskan kemarahan nya.” Jawab Venam.
Aditya fokus kembali mengobati korban penculikan yang berjumlah 21, laki-laki dan perempuan.
“Nanti kalau dia sudah menyelesaikan tugas nya, tolong suruh kesini. Aku ingin berbicara pada nya.” Suruh Aditya.
“Baik, aku akan memberitahukan nya. Untuk saat ini kami mengerahkan banyak polisi untuk menjaga rumah sakit ini, jadi anda tidak usah khawatir dengan keamanan nya.” Ucap Venam.
“Iya, aku tahu itu…”
“Suster…” panggil Aditya.
“Iya dok?” perawat nya dengan segera datang.
“Tolong bawakan pakaian pasien segera.” Suruh nya.
“Baik dok.”
“Kasihan sekali mereka, di siksa sampai seperti ini.
Bagaimana bisa mereka di culik?” tanya Aditya mengolesi obat pada korban.
“Aku di bius dok, lalu saat aku membuka mata, ternyata aku berada di tempat lain bersamaan dengan mereka.” Jawab seorang pria, salah satu korban.
Aditya menganggukkan kepala nya.
********
BBUUGGHHH…..BBUUGGGGHHHH…..BBBUUGGGHHH….
“Aaakkkhhh…..
Di dalam sel, Abraham memukuli tahanan itu karena masih belum memberikan jawaban yang jelas.
Di pukul di bagian wajah, di tending, dan menjambak rambut mereka.
Mereka semua merasa kesakitan dan ketakutan.
Adley hanya diam, berdiri menikmati pemandangan itu.