Tidak ada manusia yang ingin gagal dalam membina rumah tangga, begitu pun aku. Ku berikan seluruh cinta ku, perasaan ku pada suami ku.
Namun semua yang ia katakan ternyata hanya iming-iming saja, tanpa ada yang menjadi nyata.
Aku hanyalah manusia biasa, dan perlahan cinta ku hilang terkikis habis oleh setiap air mata yang aku keluarkan karena kecewa. Bahkan pintu hati ku pun sudah ku tutup dengan begitu rapi untuk nya.
Lantas bagaimanakah dengan Devan? karena setelah Hanna menyerah dalam mempertahankan rumah tangga nya ia pergi dengan membawa Derren dan janin yang masih ia kandung.
Akankah Devan bahagia dengan kepergian Hanna? Atau Devan justru berubah menjadi gila.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IPAK MUNTHE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Istri Impian
Di ranjang rumah sakit, di sebuah ruang anak. Seorang ibu terus berusaha memeluk putra nya. Dia Hanna yang terus memeluk Derren dengan tangan yang terpasang selang infus, setelah dokter mengatakan jika Derren harus di rawat inap. Karena ia juga diare. Tidak ada kata lelah saat merawat Derren, Hanna benar-benar menikmati perannya sebagai seorang Ibu. Kasih sayang yang di berikan Hanna begitu besar pada anaknya, di pikirkan Hanna hanya satu yaitu Derren tidak boleh merasakan seperti apa yang ia rasakan selama ini. Hidup sendiri tanpa kedua orang tuanya, besar dengan berjuang sendiri tanpa ada belas kasih sayang. Derren tidak boleh merasakan itu semua, Hanna akan melakukan apa pun demi kebahagiaan Derren.
Tok tok tok.
terdengar seseorang mengetuk pintu, kemudian ia memutar gagang pintu lalu masuk.
"Selamat siang Nyonya," sapa pria tersebut. Dia adalan dokter Adam, seorang dokter umum yang menangani Derren. Karena dokter Adam kini menjadi salah satu asisten dokter anak.
"Iya dokter," jawab Hanna, ia tersenyum ramah pada dokter Adam.
Tidak lama berselang pintu kembali terbuka, dan di sana ada Devan dengan jas hitam yang melekat pada tubuhnya.
"Devan," kata Adam yang cukup mengenali pria bertubuh tegap itu.
"Sedang apa kau di sini?" tanya Devan tanpa basa-basi.
"Pertanyaan konyol," ujar Adam, "Aku ini dokter di sini," jelas Adam sambil kemudian ia memegang lengan Derren yang di peluk Hanna.
"Dia anak ku!" kata Devan.
"Ooo....ini putra mu....lalu dia siapa?" tanya Adam menunjuk Hanna, sebab Adam tahu istri Devan itu seorang model dengan pakaian mahal dan **** yang selalu melekat pada tubuhnya.
"Dia pengasuh bayi ku," jawab Devan.
Deg.
Hanna tersenyum miris, air matanya seketika terjatuh begitu saja. Ia hanya menunduk sambil melihat wajah Derren, sangat sakit sekali mendengar apa yang dikatakan oleh Devan. Lagi-lagi ia sangat terluka dengan pengakuan Devan, miris sekali apa yang Hanna harapkan pengakuan? Tidak mungkin.
"O...." Adam mengangguk mengerti, "Derren ini Om Adam, adik Papa kamu.....kita pernah bertemu saat acara syukuran mu," jelas Adam.
Adam Agatha Sanjaya adalah putra kedua dari Agatha Sanjaya, ia lebih memilih melarikan diri dari rumah. Karena keinginannya menjadi seorang dokter, sedangkan keluarganya menuntutnya menjadi penerus perusahaan. Hingga Adam berhasil menyelesaikan studinya dengan jeripayah nya sendiri. Dan ia kini sudah mulai di terima di keluarga nya, namun tidak sepenuhnya karena Agatha masih begitu dingin padanya.
Hanna terdiam ia terkejut karena selain memiliki orang tua yang lengkap ternyata Devan juga memiliki seorang adik, miris sekali hidup Hanna ia benar-benar di bohongi mentah-mentah oleh Devan selama ini. Sungguh ia merasa orang paling bodoh di dunia ini, bukan hanya pendidikan nya saja yang rendah bahkan pengetahuan nya juga sangat rendah.
"Dimana Kak Diana? Kenapa dia tidak di sini?" tanya Adam pada Devan.
"Itu bukan urusan mu!" jawab Devan dengan wajah dinginnya, ia sangat membenci Adam yang begitu dekat dengan Hanna.
"Baiklah," Adam yang seorang dokter, dengan keramahannya pada pasien hanya tersenyum saja, "Derren baik-baik ya sama Tante?" Adam menatap Hanna seolah bertanya siapa nama wanita itu.
"Hanna," jawab Hanna.
"Iya Tante Hanna, sekaligus ceritakan tentang Om Adam ya.....dia ini istri idaman Om," kata Adam lagi.
Deg.
Hanna terdiam mendengar apa yang di katakan oleh Adam, ia tidak bahagia namun tidak juga bersedih. Bahkan ia sudah mati rasa, tidak ada kata untuk jatuh cinta lagi. Katakan saja Hanna terlalu angkuh, tapi itulah yang ia rasakan kini penghianatan Devan sungguh masih begitu membekas di hati.
Sementara Devan semakin mengepalkan tangannya, raut wajahnya semakin berubah mengerikan. Apa yang dikatakan oleh Adam sangat membuat emosinya mendidih.
"Keluar dari sini!" kata Devan.
"Kau kenapa Kak Dev, apa masalah mu," Adam terlihat santai, bahkan ia masih menatap Hanna dengan kagum.
"Keluar!" Devan mengeratkan giginya, dan ia semakin menahan emosi nya.
"Baiklah, Hanna sampai bertemu lagi....katakan pada orang tua mu, untuk menerima ku menjadi menantunya," ujar Adam dengan senyuman ramahnya.
Devan memijat kepalanya mendengar apa yang dikatakan oleh Adam, ada rasa tidak rela saat Adam mengatakan hal itu.
Adam berjalan kearah Devan, kemudian ia mendekatkan dirinya pada Devan, "Dia istri idaman ku Kak Dev, aku harap kami berjodoh," Adam menepuk pundak Devan, lalu ia pergi begitu saja dengan senyum bahagia saat menatap Hanna.
Pintu tertutup rapat, Devan kini berdiri di hadapan Hanna.
Hanna menjauh dari Devan, kata hanya 'pengasuh anak ku,' yang di ucapkan Devan masih sangat membekas di hatinya. Sulit di percaya dulu ia begitu di manja, di sanjung tapi setelah ia memberikan anak yang di pinta Devan ia disingkirkan begitu saja.
"Apa kau senang!" terdengar suara Devan yang berat dan tertahan mulai memecahkan keheningan di antara keduanya.
Hanna seakan menganggap Devan tidak ada di ruangan itu, ia membaringkan Derren dan juga ikut membaringkan dirinya. Hanna cukup lelah karena dari pagi tadi ia belum makan, dan Derren sangat rewel sekali. Sedangkan ASI-nya terus di minum Derren semakin membuat Hanna kekurangan energi.
"Hanna apa kau tidak mendengar aku berbicara!" tegas Devan dengan suara yang meninggi.
Hanna yang sudah berhasil menidurkan Derren di ranjang mulai bangun dengan perlahan, ia benar-benar hati-hati agar Derren tidak terbangun dan kembali menangis. Hanna berdiri di hadapan Devan, matanya berkaca-kaca, "Tuan Devan," Hanna berbicara dengan nada pelan, dan menggerakkan kelopak matanya hingga cairan bening menetes begitu saja, "Saya mohon, jangan membuat keributan di sini...." Hanna menunjuk Derren yang tidur berbaring di ranjang.
Clek.
Pintu terbuka, dan itu Risa yang datang membawa makanan. Karena hari sudah siang tapi Hanna belum makan.
"Hanna ini makanan, kamu belum makan kan?" tanya Risa yang belum menyadari keberadaan Devan, namun setelah ia masuk ia baru melihat ada Devan dengan jelas di sana, "Maaf tuan," Risa sedikit menunduk, dan ia benar-benar tidak tahu ada Devan di sana.
Hanna mengusap air matanya, ia mendekati Risa tanpa perduli pada Devan, "Sa, pas banget kamu bawa makanan aku emang laper banget, uluh hati aku juga perih banget," kata Hanna.
"Iya udah kamu makan dulu, biar aku yang jagain tuan Derren," Risa meletakan rantang di tangannya pada meja, dan ia langsung mendekati Derren yang terbaring lelap di ranjang.
Sedangkan Hanna langsung duduk di sofa, dan membuka rantang berisi makanan yang di bawa oleh Risa.
"Kamu kenapa Han?" tanya Risa, karena Hanna memegang perutnya.
"Maag aku kambuh Sa, perih banget," Hanna meremas perutnya, rasanya sangat sakit sekali. Bahkan ada butiran air mata yang menetes dari wajahnya.
Deg.
Jantung Devan berdetak karena ternyata Hanna dari tadi menahan rasa sakit.
*
Tolong like dan Vote buat novel ini ya Kakak.