Shen Ruozi, mahasiswi kedokteran modern yang super judes dan matre, terlempar ke zaman kuno dan terpaksa tinggal di gua. Ogah hidup miskin, ia berniat menjadi juragan obat kaya raya memanfaatkan ilmu medis abad ke-21 miliknya.
Takdirnya berubah kocak saat ia menyelamatkan Long Tianxu, Jenderal Besar berwajah kaku seperti papan tripleks yang sekarat karena racun kronis. Bukannya tunduk pada wibawa sang Dewa Perang, Ruozi malah menjadikannya asisten magang tanpa gaji, buruh numbuk jamu, hingga investor paksaan untuk mendanai apotek barunya di ibu kota!
Menghadapi musuh politik kekaisaran dengan modal lencana emas Jenderal, tabib matre yang tidak pernah mau rugi ini siap mengguncang dunia medis kuno!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heldahell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 11: Tamparan uang emas dan si nona anggun
Mendengar kata-kata pelayan toko yang super sombong itu, Shen Ruozi bukannya ciut, malah hampir saja tertawa terbahak-bahak. Bekerja seumur hidup katanya? Halah, emas di punggungku ini bahkan bisa buat beli toko ini beserta seluruh isinya, sekalian dengan Mbak-Mbak sombong ini kalau mau! batin Ruozi geli.
Para nyonya bangsawan di sudut toko mulai berbisik-bisik makin kencang, sambil tertawa mengejek di balik kipas sutra mereka.
Ruozi tidak membuang waktu untuk adu bacot. Dengan seringai licik yang andalannya, ia menurunkan buntalan kain besar dari punggungnya dan meletakkannya di atas meja kaca pajangan dengan suara BRAKK! yang cukup heboh.
"Oh, belasan tael emas ya? Murah banget ternyata," ucap Ruozi santai.
Tangan Ruozi dengan sengaja membuka ikatan kain pembungkusnya pelan-pelan, memberikan efek dramatis. Begitu kain terbuka, sebuah peti kayu kuno berukir indah terlihat. Ruozi membuka tutup peti itu.
WUSSS!
kilauan kuning keemasan yang super silau langsung memantul ke langit-langit toko. Seratus pipit tael emas murni berbentuk batangan tertata rapi, memancarkan aura kekayaan yang hakiki.
Seketika itu juga, seisi toko mendadak sunyi senyap. Kipas-kipas para nyonya bangsawan langsung meluncur jatuh ke lantai. Pelayan toko wanita yang tadi melipat tangan sombong, kini matanya melotot hampir keluar dari rongganya. Kakinya mendadak lemas sampai harus berpegangan pada pilar kayu terdekat.
"E-Emas murni?! Sebanyak ini?!" bisik pelayan itu dengan suara bergetar hebat, wajahnya mendadak pucat pasi seperti mayat.
Pemilik toko kain seorang pria paruh baya yang sejak tadi hanya menonton dari balik tirai langsung berlari keluar bagaikan atlet lari cepat. Ia langsung mendorong pelayan wanita itu hingga tersungkur, lalu membungkuk sembilan puluh derajat di depan Ruozi sampai dahinya hampir menyentuh lantai.
"Ayaaa! Butanya mata kami! Mohon Nona Besar mengampuni kelancangan pelayan bodoh ini!" ratap pemilik toko dengan keringat dingin bercucuran. "Nona ingin pakaian yang mana? Seluruh koleksi terbaik, sutra awan dari ibu kota, bahkan ruang ganti VIP paling mewah akan kami siapkan sekarang juga! Gratis! Anggap saja sebagai permohonan maaf kami!"
Ruozi mendengus puas, melipat dadanya sambil menatap pelayan toko yang tadi menghinanya. "Mbak, tadi bilang apa? Ke pasar loak? Coba ulangi, aku agak kurang dengar nih karena tertutup suara emas," sindir Ruozi telak.
Pelayan wanita itu langsung berlutut sambil menangis ketakutan, takut dipecat atau dilaporkan ke pejabat setempat. "Hamba bersalah, Nona! Hamba yang rendahan ini tidak melihat Gunung Tai! Mohon ampuni hamba!"
"Sudahlah, melelahkan melihat drama kalian," potong Ruozi malas. Ia mengambil satu batangan emas kecil dan melemparkannya ke pelukan pemilik toko. "Siapkan air hangat, aku mau mandi dan membersihkan muka. Setelah itu, ambilkan gaun sutra terbaik berwarna ungu kalem ya. Ingat, ungu yang lembut dan elegan, jangan yang norak kayak terong!"
"Baik, Nona Besar! Segera dilaksanakan!" Pemilik toko langsung memerintahkan lima pelayan sekaligus untuk melayani Ruozi bagaikan seorang permaisuri.
Satu jam kemudian, pintu ruang ganti VIP terbuka pelan. Ruozi melangkah keluar, dan semua orang di dalam toko seketika menahan napas serentak.
Debu-debu jalanan dan minyak yang tadinya menempel di wajah Ruozi sudah hilang tak berbekas, digantikan oleh kulit seputih porselen yang halus dan bersinar alami. Gaun sutra awan berwarna ungu kalem itu melekat sempurna di tubuhnya, menonjolkan lekuk tubuh yang anggun tanpa terkesan berlebihan. Rambut hitamnya yang panjang kini disanggul rapi dengan hiasan tusuk konde perak sederhana namun berkelas.
Nona kumal yang tadi mereka ejek, kini bertransformasi total menjadi seorang Nona Agung yang super anggun, elegan, dan memancarkan aura cool yang tak terbantahkan.
"Sungguh luar biasa... kecantikan seperti ini, bagaimana mungkin dimiliki oleh gadis desa yang kumal tadi?" bisik salah satu nyonya bangsawan dengan suara bergetar, kipas sutranya kali ini benar-benar patah karena digenggam terlalu kencang lantaran syok melihat perubahan drastis itu.
Pemilik toko langsung maju dengan senyuman paling lebar yang pernah ia miliki seumur hidup. "Luar biasa! Gaun ini seperti diciptakan khusus untuk Anda, Nona Besar! Sungguh, kecantikan Anda membuat sutra terbaik kami sekalipun jadi terasa redup!" Pria paruh baya itu kemudian memberi kode kepada pelayan di sampingnya.
Sebuah kotak beludru merah kecil disodorkan dengan hormat. Di dalamnya, terdapat sepasang giwang dari giok darah yang sangat langka. "Mohon terima benda tak berharga ini sebagai hadiah permintaan maaf dan tanda persahabatan dari toko kami, Nona. Kami harap Nona berkenan melupakan kejadian tidak menyenangkan tadi."
Ruozi melirik giwang itu, lalu tersenyum tipis. "Wah, lumayan. Modal tampang sangar dan sebatang emas, dapet bonus giok langka. Cuan gede nih!" batinnya girang secara gaul, meski wajah luarnya tetap stay cool layaknya bos besar.
"Baiklah, aku terima niat baikmu. Masalah tadi... anggap saja angin lalu."
Pelayan wanita yang tadi menangis di pojokan langsung bernapas lega sampai hampir pingsan karena bersyukur tidak jadi didepak dari pekerjaannya.
Namun, tepat saat Ruozi hendak melangkah menuju meja kasir untuk merapikan sisa emas batangan di petinya, mendadak lonceng di pintu depan toko berdenting nyaring.
TING!
Aura di dalam toko yang tadinya hangat langsung berubah menjadi dingin dan tegang. Dari pintu masuk, melangkah masuk seorang pemuda tampan yang mengenakan jubah putih bersih bersulam benang perak.
Langkah kakinya begitu tenang, namun sorot matanya yang tajam bak elang langsung menyapu seisi ruangan dan sedetik kemudian, pandangan mata pemuda itu langsung terkunci tepat pada manik mata Shen Ruozi.
Ruozi mengerutkan keningnya. "Duh, siapa lagi nih cowok? Baru juga mau menikmati hidup jadi orang kaya baru, malah keganggu," pikir Ruozi mulai waspada.
Pemuda berjubah putih itu melangkah mendekat, membuat suasana toko semakin senyap sampai-sampai suara helaan napas pun bisa terdengar.
Ia berhenti tepat dua langkah di depan Ruozi, lalu pandangannya turun perlahan menatap peti kayu kuno berisi seratus batangan emas yang masih terbuka di atas meja kaca. Sudut bibir pemuda itu terangkat sedikit, membentuk sebuah senyuman tipis yang sulit diartikan, namun sorot matanya memancarkan ketertarikan yang mendalam sekaligus kecurigaan yang kuat.
"Waduh, gawat nih! Bau-baunya si ganteng ini titisan intel atau malah komplotan begal kelas kakap yang mau malak emas gue!" batin Ruozi langsung ketar-ketir dan otomatis memasang mode waspada tingkat tinggi.
Sebelum Ruozi sempat menutup petinya dengan gaya keren, pemuda itu tiba-tiba mengeluarkan sebuah suara yang berat namun sangat merdu di telinga. "Peti kuno berukir lambang awan terlarang, dan emas murni dengan cap resmi Kekaisaran Barat yang dikabarkan hilang sebulan lalu... Sungguh tidak disangka, barang jarahan bernilai tinggi ini justru berada di tangan seorang nona yang begitu anggun." Kalimat tenang namun mematikan itu langsung membuat detak jantung Ruozi serasa copot.
"Buset! Baru juga mau flexing jadi orang kaya baru, kok malah dituduh jadi maling barang selundupan kekaisaran?!" teriak Ruozi panik dalam hati, sambil memutar otak mencari cara untuk kabur atau malah balik menampar cowok itu pakai batangan emasnya.