Season pertama mengisahkan kejatuhan tragis klan mafia termasyhur, Valenti, akibat pengkhianatan terencana pada malam penyerahan takhta kepemimpinan. Leo Valenti, pewaris tunggal yang dituduh membunuh ayahnya sendiri, diburu oleh gabungan faksi rival dan terlempar ke titik terendah setelah terluka parah. Di tengah keputusasaan, Leo bersimpangan jalan dengan Elena, seorang peretas dan pemilik jaringan informasi independen yang memiliki masa lalu kelam dengan pelaku kudeta tersebut. Mereka sepakat membentuk aliansi rahasia yang dingin dan saling memanfaatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENGEJARAN DI JALAN RAYA
Ban sedan hitam itu berdecit keras hingga mengeluarkan kepulan asap putih saat bergesekan dengan aspal yang basah oleh sisa hujan. Elena membanting setir ke kiri dengan kecepatan penuh, memotong trotoar, dan melesat masuk ke jalan raya utama distrik hiburan. Di kursi penumpang, Leo terhempas keras ke pintu mobil. Bahu kanannya yang baru saja dijahit kembali membentur panel pintu, mengirimkan gelombang rasa sakit yang membuat pandangannya memutih selama sekian detik.
"Pegangan yang erat!" teriak Elena tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan yang dipenuhi kendaraan warga sipil.
"Kau mau membunuh kita berdua?!" maki Leo sambil mencengkeram tuas pegangan di atas pintu dengan tangan kirinya yang gemetar. Napasnya terengah-engah, bau keringat dan darah segar mulai memenuhi kabin mobil.
"Kalau kau lebih suka ditangkap oleh gorila-gorila Marco, silakan lompat keluar sekarang," balas Elena menginjak pedal gas dalam-dalam.
Mesin sedan itu menggeram marah, membelah kemacetan malam dengan manuver zig-zag yang membuat nyali siapa pun ciut. Elena mengemudi tanpa alas kaki, jari-jari kakinya menari lincah di antara pedal gas, rem, dan kopling. Gaun malam merah marunnya sudah tersingkap ke atas lutut agar tidak mengganggu pergerakannya.
Dari kaca spion luar yang masih utuh, Leo melihat dua buah SUV hitam pekat menyusul dari arah belakang. Mesin V8 raksasa dari mobil-mobil itu mengaum buas, menyapu mobil-mobil kecil di jalanan layaknya buldoser. Mereka tidak peduli dengan lampu merah atau pejalan kaki. Marco jelas sudah memberi perintah mati untuk siapa pun yang merampok kasinonya malam ini.
"Mereka makin dekat, Elena!" peringat Leo menoleh ke belakang.
"Aku tahu, aku tidak buta," desis Elena mengoper persneling ke gigi empat.
Dor! Dor! Dor!
Suara rentetan tembakan memecah kebisingan lalu lintas. Kaca belakang sedan mereka seketika retak seribu, meski tidak langsung hancur. Peluru-peluru berdesing menghantam bagasi tempat tiga juta dolar uang Marco tersimpan.
"Kaca anti peluru?" tanya Leo sedikit terkejut melihat kaca belakang mereka belum tembus.
"Modifikasi ringan. Aku menempelkan film polikarbonat tebal di kaca dan pelat baja ringan di balik kursi belakang," jelas Elena santai seolah memodifikasi mobil sewaan menjadi kendaraan perang adalah hal sehari-hari baginya. "Tapi itu tidak akan bertahan lama kalau mereka pakai senapan serbu kaliber besar. Kita harus menyingkirkan mereka."
"Buka jendelaku!" perintah Leo mencabut pistol polimer kaliber .22 dari pinggangnya.
"Kau mau pakai mainan plastik itu buat nembak SUV lapis baja? Jangan konyol, Leo," ejek Elena menatap pria itu dengan pandangan meremehkan dari sudut matanya.
"Setidaknya aku bisa memecahkan ban atau radiatornya. Buka jendelanya sekarang!" bentak Leo tidak mau kalah.
Elena mendengus kasar, namun jarinya tetap menekan tombol *power window*. Jendela di sisi Leo turun, membiarkan angin malam yang dingin dan sisa gerimis menghantam wajah pria itu. Topeng silikon Rafael Rossi yang masih menempel di wajah Leo terasa semakin lengket dan gatal, tapi ia mengabaikannya.
Leo memutar tubuhnya dengan susah payah, mengeluarkan kepala dan tangan kirinya dari jendela. Angin kencang membuat matanya berair, ditambah silau dari lampu sorot SUV di belakang mereka yang membutakan pandangan. Jarak mereka hanya sekitar belasan meter. Salah satu algojo Marco tampak mengeluarkan setengah tubuhnya dari jendela SUV, memegang sebuah *submachine gun* berwarna hitam pekat.
Leo menahan napas, mencoba menstabilkan tangannya yang memegang pistol kecil itu. Ia tidak peduli dengan rasa sakit di bahu kanannya yang terus mengalirkan darah.
Pfut! Pfut! Pfut!
Pistol kaliber .22 itu menyalak pelan, nyaris tak terdengar di tengah raungan mesin. Peluru pertama meleset menghantam aspal. Peluru kedua mengenai kap depan SUV tanpa meninggalkan penyok yang berarti. Peluru ketiga akhirnya bersarang di kaca spion kiri SUV, menghancurkannya berkeping-keping.
Algojo di mobil itu terkejut dan langsung balas menembak membabi buta. Peluru berdesing melewati kepala Leo, salah satunya menyerempet atap sedan hingga memercikkan bunga api.
"Tutup jendelanya, bodoh! Kau cuma membuang amunisi!" teriak Elena menekan kembali tombol jendela hingga tertutup rapat, memaksa Leo menarik kepalanya masuk ke dalam.
"Sialan, pelurunya terlalu ringan," umpat Leo melempar pistolnya ke dasbor dengan frustrasi. Ia menekan bahu kanannya keras-keras, mencoba menghentikan pendarahan. "Mereka akan menabrak kita dari belakang!"
BAM!
Belum selesai Leo bicara, moncong SUV pertama menghantam bumper belakang sedan mereka dengan sangat keras. Mobil yang dikemudikan Elena langsung oleng ke kanan, ban belakangnya kehilangan traksi. Mereka meluncur miring di aspal, nyaris menabrak pembatas jalan.
"Pegang kemudinya bentar!" perintah Elena tiba-tiba.
"Apa?!" jerit Leo panik.
Tanpa menunggu jawaban, Elena melepaskan kedua tangannya dari setir. Leo buru-buru mencondongkan tubuhnya, menahan setir dengan tangan kirinya agar mobil tidak melintir ke jalur berlawanan. Sementara itu, Elena mengambil ponselnya dari *dashboard*, membuka sebuah aplikasi dengan layar hitam penuh barisan kode, lalu menekan sebuah tombol virtual berwarna merah di layarnya.
"Kembalikan setirnya," ucap Elena merebut kembali kendali mobil dari tangan Leo.
"Kau ngapain barusan?!" napas Leo memburu, jantungnya seakan mau copot dari rongga dadanya.
"Bermain sulap," seringai Elena menatap lurus ke depan. "Kita mendekati perempatan Grand Avenue. Pegangan yang kuat, Pangeran."
Di depan mereka, perempatan jalan terbesar di distrik itu terlihat padat. Lampu lalu lintas dari arah mereka menyala merah. Belasan mobil warga sipil sedang melintas dari arah kiri ke kanan. Tidak ada celah untuk menerobos tanpa memicu tabrakan beruntun yang fatal.
"Rem, Elena! Merah!" teriak Leo menunjuk ke arah lampu jalan.
"Tidak malam ini," balas Elena dingin. Ia justru menginjak gas semakin dalam.
Tepat saat moncong sedan mereka berjarak lima puluh meter dari perempatan, seluruh lampu lalu lintas di area itu tiba-tiba berkedip acak. Detik berikutnya, semua lampu dari keempat arah menyala hijau terang. Kekacauan langsung meledak. Suara klakson bersahut-sahutan. Mobil-mobil yang melintas dari arah samping mendadak kebingungan.
Elena membanting setir ke kiri, lalu ke kanan dengan presisi yang mengerikan, menyelip di antara celah sempit dua buah taksi yang berhenti mendadak di tengah perempatan. Sedan mereka lolos ke seberang jalan tanpa tergores sedikit pun.
Namun, SUV hitam pertama di belakang mereka tidak seberuntung itu. Pengemudi SUV itu panik melihat perempatan yang mendadak kacau. Ia mencoba mengerem, tapi jalanan yang licin membuat mobil seberat dua ton itu terus meluncur. Dari arah kanan, sebuah truk pengangkut sampah raksasa melaju kencang karena lampu jalannya berwarna hijau.
BRAAAK!
Suara benturan baja melawan baja terdengar memekakkan telinga. Truk sampah itu menghantam tepat di bagian samping SUV pertama, melibasnya hingga terbalik dan terseret sejauh belasan meter. Serpihan kaca dan besi berhamburan ke udara, diiringi kobaran api kecil dari tangki bensin yang bocor.
Leo menatap ke belakang melalui kaca yang retak. Napasnya tertahan melihat kehancuran itu.
"Satu anjing tumbang," ucap Elena tersenyum puas, mematikan ponselnya dan kembali fokus ke jalan. "Tinggal satu lagi."
SUV kedua, yang sempat melambat dan menghindar dari tabrakan di perempatan, kini kembali melaju mengejar mereka. Pengemudi SUV itu tampaknya sudah benar-benar kehilangan kewarasan. Mobil itu melesat seperti kesetanan, tidak lagi menembak, melainkan murni ingin menabrak sedan mereka hingga hancur.
"Dia marah besar sekarang," gumam Leo melihat SUV itu makin mendekat di spion.
"Kita arahkan dia ke tempat yang lebih sepi. Jalanan ini terlalu banyak orang," putus Elena memutar setir memasuki jalan layang yang belum selesai dibangun di pinggiran kota.
Area ini dipenuhi beton pracetak, tumpukan pipa besi raksasa, dan alat berat yang ditinggalkan pekerja. Penerangan sangat minim, hanya mengandalkan cahaya bulan yang sesekali mengintip dari balik awan kelabu.
SUV hitam itu terus menempel di belakang mereka, bumpernya berkali-kali menyundul ekor sedan. Bam! Bam!
"Bagasi kita bisa jebol lama-lama!" seru Leo merasakan mobil kembali oleng. Tiga juta dolar di belakang sana adalah tiket mereka untuk membalikkan keadaan, ia tidak rela kalau uang itu harus berhamburan di jalanan.
"Siap-siap, Leo," aba-aba Elena memperlambat laju kendaraannya, sengaja membiarkan SUV itu sejajar dengan mereka dari sisi kanan.
Kaca jendela SUV itu turun. Pria besar dengan senapan mesin tadi kembali muncul, siap memuntahkan peluru ke arah Elena dari jarak dekat.
"Sekarang!" teriak Elena.
Gadis itu menarik tuas rem tangan dengan sentakan luar biasa kuat, lalu membanting setirnya penuh ke arah kiri. Ban sedan menjerit keras. Buntut mobil membuang ke depan, membuat posisi mobil mereka berputar seratus delapan puluh derajat dalam hitungan detik.
Kejutan itu membuat pengemudi SUV terlambat bereaksi. Saat sedan Elena berputar dan berhenti mendadak menghadap ke arah sebaliknya, pengemudi SUV itu refleks membanting setirnya ke kanan untuk menghindari tabrakan. Namun kecepatan mobil yang terlalu tinggi membuatnya kehilangan kendali sepenuhnya.
SUV hitam itu meluncur liar keluar jalur, menghantam tumpukan pipa besi konstruksi berukuran raksasa. Terdengar suara derit logam yang sangat ngilu disusul benturan keras yang membuat bagian depan SUV itu ringsek total hingga mesinnya berasap tebal. Pipa-pipa besi berjatuhan menimpa atap mobil, mengunci kendaraan itu mati di tempat.
Keheningan mendadak turun, hanya disela oleh suara desis radiator SUV yang bocor dan hujan rintik yang kembali turun.
Elena melepaskan tangannya dari kemudi, napasnya naik turun dengan cepat. Ia melirik ke arah Leo yang masih mematung menatap SUV hancur di depan mereka.
"Kau masih hidup?" tanya Elena mencoba mengatur napasnya.
"Aku akan memberimu bonus ekstra setelah kita menghitung uang itu," jawab Leo bersandar lemah ke jok mobil, merasakan kakinya lemas seperti jeli.
"Ayo kita keluar dari mobil ini. Raditor kita juga kena imbas dari tabrakan belakang tadi. Mesin ini tidak akan bertahan sampai distrik utara," perintah Elena mematikan mesin, lalu membuka pintunya.
Leo membuka pintu di sisinya dengan susah payah. Ia berjalan tertatih ke bagian belakang mobil. Elena sudah mencongkel bagasi yang penyok dan mengeluarkan dua tas kanvas hitam raksasa berisi uang jutaan dolar.
"Biar aku yang bawa satu," tawar Leo mengulurkan tangan kirinya.
"Kau urus saja dirimu sendiri, jangan sampai jatuh pingsan di jalan. Aku yang bawa dua-duanya," tolak Elena menyeret kedua tas itu ke arah gang gelap di samping proyek konstruksi.
Mereka baru saja melangkah menjauhi sedan yang ditinggalkan, saat telinga tajam Leo menangkap suara langkah kaki terseret dari arah SUV yang hancur.
Leo berbalik, matanya menyipit menembus kegelapan. Di balik kepulan asap radiator, salah satu algojo yang penuh luka darah di wajahnya berjalan gontai keluar dari sisa-sisa mobil. Pria itu menyeringai gila ke arah mereka. Tangan kanannya terangkat, memegang sebuah benda bulat kecil berbahan logam.
Mata Leo terbelalak ngeri saat melihat pria itu menarik pin granat dengan giginya.
"Elena, awas!" teriak Leo melempar tubuhnya ke arah gadis itu tepat saat granat tersebut melayang di udara.