Rasa percaya diri Refisha benar-benar hilang karena di usianya yang sudah memasuki 29 tahun, orang tuanya berkali-kali menjodohkan, tetapi banyak kendala pria menikahinya dan termasuk banyak orang tua pria yang tidak setuju menikah dengan.
Refisha juga selalu bertentangan dengan adiknya yang sudah berusia 24 tahun dan ingin secepatnya menikah. Banyak sekali permasalahan percintaan dalam hidupnya yang tidak sesuai dengan karirnya dalam dunia pekerjaan.
Sampai seketika orang tuanya kembali menjodohkannya dengan seorang Ustadz, Refisha tidak pernah menolak apapun yang dilakukan orang tuanya, dia setuju, tetapi bukannya kebahagiaan yang didapatkan justru penghinaan dari pria yang memahami permasalahan agama itu membuat kepercayaan dirinya semakin hilang.
Lalu siapa sangka Ustadz pemuka agama itu menolaknya, satu pria pria yang dia temui tidak sengaja dengan usianya yang lebih muda, justru ingin melamarnya, mengejarnya dengan cara ugal-ugalan.
Mari mengikuti ceritanya.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11 Permintaan
Refisha baru saja keluar dari kamar mandi setelah bersih-bersih sebelum tidur. Refisha melihat ke atas nakas dengan ponselnya yang berdering, nomor baru yang belum diberi nama itu sangat dia tahu bahwa itu adalah Ezra. Refisha ternyata tidak berniat untuk mengangkat telepon dari Ezra.
Tetapi ponsel itu terus saja berdiri membuat Refisha menghela nafas dan kemudian mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Assalamualaikum!" sapa Refisha.
"Walaikumsalam," jawab Ezra
"Saya tidak menyangka ternyata setelah sekian abad kamu akhirnya menjawab telepon saya," ucap Ezra yang saat ini berbicara berdiri di depan jendela kamarnya dan sama seperti Refisha yang juga berjalan menuju jendela kamarnya.
"Kenapa menghubungi saya malam-malam seperti ini?" tanya Refisha.
"Yang pertama saya ingin meminta maaf atas sikap saya tadi kepada kamu yang mungkin membuat kamu risih dan malu di depan kedua orang tua kamu," ucap Ezra.
Refisha tersenyum tipis mendengar kata permintaan maaf itu, Ezra ternyata tipe orang yang jika melakukan kesalahan dan tidak malu untuk meminta maaf.
"Kamu masih marah kepada saya soal itu, sampai-sampai kamu begitu jutek kepada saya tadi?" tanya Ezra.
"Tidak! saya memang hanya kelelahan saja," jawab Refisha.
"Jika itu yang pertama lalu apa yang kedua?" tanya Refisha.
"Apa kamu ragu untuk menikah dengan saya?" tanya Ezra membuat Refisha seketika terdiam.
"Apa mungkin yang kamu pikirkan saat ini adalah saya yang hanya main-main saja kepada kamu? apa kamu takut saya tidak bisa bertanggung jawab kepada kamu?" tebak Ezra.
"Refisha saya tidak akan memaksa kamu, kamu juga berhak memilih, jangan karena kamu merasa putus asa karena setiap perjodohan yang kamu lakukan terus batal dan masalah orang-orang di luar sana hanya satu masalah saja, lalu kamu tidak berhak memilih, kamu berhak memilih untuk membatalkan atau tidak dan saya memberi kamu kesempatan itu, sebelum semuanya terlambat, sebaiknya kamu putuskan saja," ucap Ezra ternyata memberi kesempatan Refisha.
Refisha hanya diam, orang-orang akan berpikiran bahwa dia wanita yang tidak tahu diri, sudah usianya sangat matang dan wajar untuk menikah tetapi masih tetap saja memilih dan meragukan sosok pria yang ingin serius kepadanya.
"Yang saya ketahui kamu adalah wanita yang mengabaikan perkataan orang lain, jadi tetaplah sesuai dengan hati kamu, saya juga bukan laki-laki yang harus memaksa kamu untuk melakukan segala sesuatu yang tidak kamu inginkan," ucap Ezra.
"Tanggal pernikahan kita sudah ditentukan, undangan pernikahan sudah dicetak dan segera dibagikan, mari sama-sama istikharah, semoga ada petunjuk menuju pernikahan, semoga semuanya dipermudah, sebaiknya jangan saling berkomunikasi sampai hari pernikahan tiba jika memang tidak ada keraguan di dalam hati," ucap Refisha mengambil keputusan dengan sangat bijak.
Ezra sampai tidak bisa berkata-kata dan mungkin benar apa Refisha, daripada hati bimbang dan lebih baik meminta petunjuk kepada sang pencipta.
******
Komunikasi antara Refisha dan Ezra benar-benar terputus, Ezra tidak berani menghubungi Refisha lagi dan sementara untuk persiapan pernikahan mereka ternyata keduanya memutuskan untuk tidak ikut campur dan menyerahkan kepada kedua orang tua mereka, jadi mereka juga tidak bertemu selama proses pernikahan berlanjut.
"Ezra...." Rami memanggil putranya itu yang berjalan menuju kamar Ezra.
Rami membuka pintu kamar dan untung saja belum sempat mengeluarkan suara karena ternyata melihat Ezra yang sholat malam.
Rami seketika terdiam, tak hanya melihat putranya yang melakukan sholat di sepertiga malam. Ya, selama ini dia tidak tahu bagaimana ibadah putranya kepada tuhannya, apakah yang wajib sering dilakukan.
"Apa mungkin wanita itu membawa pengaruh baik untuknya? Tetapi kenapa aku begitu khawatir jika mereka akan masuk ke dalam jenjang pernikahan," batin Rami terlihat begitu bimbang.
Rami sebenarnya hanya tidak yakin kepada putranya yang memang belum mapan dan harus menikah dengan gadis yang mapan, hal ini akan menjadi permasalahan yang rumit dalam pernikahan, tetapi Rami tidak bisa berbohong jika Refisha ternyata membawa pengaruh baik.
Rami tidak ingin mengganggu Ezra yang menutup perlahan pintu kamar itu membiarkan Ezra melanjutkan ibadahnya.
******
Hari pernikahan semakin dekat dan bahkan hanya tinggal menghitung beberapa hari lagi, semuanya berjalan lancar setiap proses pernikahan selalu dipertanyakan terlebih dahulu kepada Refisha dan Refisha selalu memberi pendapatnya.
Refisha dan Ezra sudah melewati proses taaruf mereka, mereka juga tidak pernah bertemu dan berkomunikasi, mereka hanya berkomunikasi melalui kedua orang tua mereka masing-masing.
Refisha berdiri di teras kamarnya dengan menghirup udara pagi hari, kedua tangannya diletakkan di pagar teras pembatasan kamar itu.
"Biasanya laki-laki seperti itu hanya penasaran dan ketika sudah menikah, dia pasti akan mencari yang lebih muda yang bisa memberi kepuasan kepadanya," Refisha menoleh ke sebelahnya saat Laudya mengajaknya berbicara.
"Siapa maksud kamu Laudya?" tanya Refisha.
"Siapa lagi jika bukan calon suami Kakak, Kakak yakin akan menikah dengannya? tidak takut jika dia melakukan itu hanya karena penasaran saja dan setelah coba-coba, dia akan berselingkuh mencari kenyamanan di luar sana dengan wanita yang lebih muda," ucap Laudya.
"Insyallah semuanya tidak akan seperti itu, kamu jangan berpikiran buruk kepada calon kakak ipar kamu," sahut Refisha selalu berpikir positif.
"Jadi Kakak benar-benar akan menikah dengannya tanpa berpikir terlebih dahulu?" tanya Laudya memastikan sekali lagi.
"Laudya, Ezra melamar kakak bukan kemarin, tetapi bahkan 2 bulan yang lalu dia melakukan hal itu dan Alhamdulillah kami melewati proses taaruf dengan baik, 2 bulan waktu yang cukup lama untuk berpikir dan sampai saat ini tidak ada keraguan di dalam hati kakak untuk melanjutkan pernikahan ini," jawab Refisha.
"Artinya itu adalah setan, bagaimana mungkin tidak ada keraguan, sangat aneh," sahut Laudya geleng-geleng kepala yang benar-benar menjadi orang yang tidak menyukai Kakaknya untuk menikah dengan Ezra dan mungkin saja sebenarnya Laudya iri.
Lihatlah dari ekspresi wajahnya justru terlihat begitu kesal dan sementara Refisha hanya tampak terlihat tenang.
******
Pernikahan
Gedung yang dipilih sebagai tempat untuk ijab kabul dan juga resepsi pernikahan, gedung mewah itu terlihat semakin cantik dengan ornamen bunga-bunga berwarna putih yang dipadukan dengan merah muda, tamu yang datang juga sudah memasuki gedung tersebut yang mengikuti proses pernikahan.
Awalnya ada permasalahan tentang gedung pernikahan yang sebenarnya tidak disetujui Refisha jika harus uang kedua mertuanya yang dikorbankan, tetapi karena keduanya berasal dari keluarga yang berada dan tidak mungkin juga kedua orang tua Ezra tidak membiarkan tempat pernikahan putranya di tempat sederhana dan Ezra adalah putra satu-satunya mereka dan bahkan putra tunggal mereka.
Tempat ijab kabul yang sudah disediakan terlihat meja bertaplak putih dengan kursi yang disusun berhadapan sebagai calon mempelai pria penghulu dan juga saksi.
Sementara tamu undangan juga sudah duduk di kursi yang telah disusun rapi, mereka datang lebih awal karena ingin menyaksikan ijab kabul yang saat ini terlihat bagaimana Ezra sangat tampan menggunakan pakaian Melayu untuk ijab kabul yang tidak lupa memakai kopiah yang senada dengan pakaiannya berwarna putih.
Ezra terlihat gugup saat berjabat tangan dengan ayah Refisha yang menjadi wali nikahnya.
"Saya terima nikahnya Refisha Adelia Rasya binti Tio Harian dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!!!!!"
Hanya dengan satu tarikan Ezra berhasil mengucapkan ijab kabul tersebut.
"Bagaimana saksi sah!"
"Sah!"
"Alhamdulillah!"
Bersambung.....