NovelToon NovelToon
Sistem Guru Legendaris: Dari Guru Buangan Menjadi Guru Terhebat

Sistem Guru Legendaris: Dari Guru Buangan Menjadi Guru Terhebat

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Idola sekolah
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Husen Alkhafi adalah seorang guru idealis dengan kemampuan mengajar luar biasa yang ditugaskan ke SMA Garuda dan memimpin Kelas XI-7 yang terkenal sebagai sarang berandalan.

Namun, di tengah keputusasaan menghadapi murid-murid bermasalah yang hobi melawan guru, Husen membangkitkan Sistem Guru Legendaris yang memungkinkannya melihat potensi tersembunyi setiap siswa beserta kelemahan mereka.

Kini, berbekal sistem misterius dan keteguhannya, Husen bertekad mengubah kelas sampah itu menjadi yang terbaik, membimbing murid-muridnya menuju masa depan yang cerah,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Wusss.

Angin pagi berhembus cukup kencang melewati lapangan utama sekolah yang mulai ramai.

Ratusan murid berkerumun di depan mading utama dengan wajah tegang.

Hari ini adalah hari pengumuman hasil ujian tengah semester yang ditunggu-tunggu oleh semua orang.

Bara berdiri paling depan dengan menyilangkan kedua tangannya di dada.

"Bos, lu deg-degan nggak sih lihat kertas sialan itu belum ditempel?"

Rico berbisik pelan sambil menggigit kuku jari tangannya yang sudah memendek.

Bara hanya mendengus kasar mendengar pertanyaan cemas anak buahnya itu.

"Gue lebih deg-degan nunggu muka si Anton brengsek itu hancur hari ini di depan kita."

"Lu tenang aja, si kacamata galak udah ngecek jawaban kita semalam dan katanya masuk akal semua."

Nisa yang berdiri tidak jauh dari mereka berdua hanya memutar bola matanya malas.

"Aku bilang rumusnya masuk akal, bukan berarti hasil akhirnya pasti benar semua seratus persen, Bara."

"Kalian berdua ini terlalu percaya diri padahal otak kalian baru dipakai belajar keras seminggu terakhir."

Siska dan beberapa murid XI-7 lainnya tertawa pelan mendengar sindiran tajam Nisa.

Suasana kelas buangan itu memang terasa jauh lebih akrab dan hangat dari biasanya.

Tap tap tap.

Suara langkah sepatu pantofel yang sangat keras terdengar mendekati kerumunan murid tersebut.

Pak Anton berjalan dengan dagu terangkat tinggi bagaikan seorang raja yang baru memenangkan perang besar.

Di tangannya terdapat setumpuk kertas pengumuman hasil ujian yang sudah dicetak sangat rapi.

Bu Ratna berjalan mengekor di belakangnya dengan senyum sinis yang tak kalah menyebalkan.

"Minggir semuanya, beri jalan untuk wali kelas unggulan kita tercinta ini."

Pak Anton berseru dengan nada mengejek yang ditujukan langsung ke arah murid-murid XI-7.

Bara mendecih pelan namun tetap menggeser tubuh besarnya memberi jalan ke arah papan mading.

Srek srek srek.

Pak Anton mulai menempelkan lembaran kertas pengumuman itu menggunakan paku payung merah.

Dia sengaja menempelkan kertas hasil kelas XI-7 di bagian paling tengah agar semua orang bisa melihatnya dengan jelas.

"Mari kita lihat seberapa bodohnya kelas sampah yang dibanggakan oleh guru buangan kalian itu."

Pak Anton mundur selangkah dan menunjuk kertas tersebut dengan jari telunjuk kanannya.

Seluruh murid langsung memajukan wajah mereka untuk membaca deretan nama dan angka di sana.

Keheningan yang sangat panjang mendadak melanda seluruh lorong sekolah tersebut.

Tidak ada yang bersuara sama sekali selama hampir satu menit penuh.

Mata Pak Anton membelalak lebar melihat tidak ada satupun murid yang menertawakan hasil ujian tersebut.

"Kenapa kalian diam saja seperti patung?"

"Apakah kalian terlalu kasihan melihat angka nol berjejer di kertas itu hari ini?"

Pak Anton bertanya dengan nada bingung lalu menoleh untuk melihat kertas yang baru saja dia tempel.

Deg!

Jantung Pak Anton serasa berhenti berdetak saat itu juga melihat deretan angka yang tercetak jelas di sana.

Nisa Larasati, nilai matematika seratus sempurna.

Bara, nilai matematika delapan puluh lima.

Rico, nilai matematika tujuh puluh delapan.

Bahkan murid dengan peringkat terendah di kelas XI-7 mendapatkan nilai tujuh puluh lima pas.

Rata-rata kelas XI-7 untuk ujian matematika adalah delapan puluh satu.

"Ini... ini sama sekali tidak mungkin terjadi di sekolah ini!"

Pak Anton berteriak histeris sambil memukul papan mading itu dengan sangat keras.

Brak!

"Pasti ada kesalahan ketik dari pihak tata usaha saat mencetak kertas ini semalam!"

Bu Ratna yang ikut melihat angka tersebut langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan saking terkejutnya.

"Pak Anton, saya yang mengetik sendiri nilai tersebut langsung dari lembar koreksi otomatis mesin pagi ini."

"Mesin pemindai lembar jawaban komputer tidak mungkin berbohong soal hasil akhirnya."

Bara tersenyum menyeringai dan menepuk bahu Rico dengan sangat keras sampai anak itu meringis.

Plak!

"Lu lihat kan, Rico, kita berhasil ngalahin ujian sialan itu tanpa curang sedikit pun!"

"Kita bukan sampah kayak yang diomongin sama guru sombong penjilat ini!"

Rico tertawa terbahak-bahak dan melompat kegirangan memeluk teman-teman di sebelahnya.

Seluruh murid kelas XI-7 langsung bersorak sorai merayakan kemenangan akademik pertama mereka seumur hidup.

Husen yang sedari tadi berdiri bersandar di pilar ujung lorong akhirnya berjalan mendekat perlahan.

Senyum tipis dan penuh kebanggaan terpancar jelas dari wajah guru muda tersebut.

"Selamat pagi, Pak Anton."

"Sepertinya Bapak baru saja melihat langsung hasil dari kerja keras murid-murid yang Bapak sebut sampah ini."

Pak Anton menoleh menatap Husen dengan wajah memerah padam bagaikan kepiting rebus.

Urat-urat di lehernya menonjol keluar menahan rasa amarah dan rasa malu yang luar biasa besar.

"Anda pasti memberikan kunci jawaban kepada mereka sebelum ujian dimulai kan, Husen?!"

"Mereka tidak mungkin bisa memecahkan soal olimpiade kelas dua belas itu dengan otak bodoh mereka!"

Suasana lorong yang tadinya riuh langsung hening seketika mendengar teriakan tuduhan keras tersebut.

Bara mengepalkan kedua tangannya bersiap meninju wajah Pak Anton namun Husen segera mengangkat tangannya menahan.

"Bapak baru saja mengakui sesuatu yang sangat menarik di depan seluruh murid sekolah ini, Pak Anton."

"Bapak mengakui bahwa Bapak sengaja menukar soal kelas sebelas dengan soal olimpiade kelas dua belas."

Wajah Pak Anton langsung berubah pucat pasi menyadari kesalahan fatal dalam ucapannya barusan.

Dia terlalu emosi sampai keceplosan membongkar kelicikannya sendiri di depan umum.

Murid-murid dari kelas lain mulai berbisik-bisik mencemooh tindakan tidak terpuji dari wali kelas unggulan tersebut.

"Bapak sengaja menyabotase ujian kelas saya agar mereka gagal dan saya keluar dari sekolah ini secepatnya."

"Tapi Bapak lupa satu hal yang sangat penting tentang seorang murid sekolah."

Husen melangkah maju hingga jaraknya hanya tersisa setengah meter dari Pak Anton.

"Murid yang sudah terbiasa hidup menderita tidak akan mudah menyerah hanya karena tekanan dari soal ujian jebakan."

"Mereka sudah berjuang sampai kurang tidur selama seminggu penuh untuk memahami pola rumus yang Bapak gunakan itu."

Nisa membetulkan letak kacamatanya dan menatap Pak Anton dengan pandangan sedingin balok es.

"Trik modifikasi variabel ganda yang Bapak pakai itu sudah sangat usang dan mudah ditebak polanya."

"Saya sudah mengajarkan dasar logikanya kepada mereka semua sehari sebelum ujian berlangsung di kelas tambahan."

Pak Anton mundur selangkah dengan tubuh sedikit gemetar mendengar penjelasan logis dari siswi genius tersebut.

"Tidak, ini pasti kecurangan terencana yang kalian susun rapi!"

"Saya akan melaporkan hal ini kepada pihak yayasan dan menuntut kelas kalian dibubarkan hari ini juga!"

"Apa yang mau Anda laporkan kepada yayasan hari ini, Pak Anton?"

Sebuah suara berat dan berwibawa tiba-tiba memotong perdebatan panas tersebut dari ujung lorong yang lain.

1
Dewiendahsetiowati
selamat untuk kemenangan sekolah Garuda Kelam Husein dan tiga serangkai Bara, Rico dan Nisa
Nissa Safira: Terima kasih banyak kak🥰🙏
Kemenangan ini bukan cuma buat Husen, tapi buat kita semua yang udah nahan kesel lihat kelakuan Pak Surya. Akhirnya tiga serangkai Bara, Rico, Nisa bisa senyum lega juga😁
Makasih ya kak udah jadi saksi kemenangan Garuda Kelam. Ditunggu dukungan kakak di tingkat nasional ya💪🥰🥰
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
mampus kau
Nissa Safira: Mampus bener kak💪😂
akhirnya diborgol sendiri di depan wartawan. Puas banget nulisnya aku juga pas Husen colok flashdisk itu.
Makasih ya kak udah ikut puas bareng🤣🤗💪
total 1 replies
Aisyah Suyuti
seru
Nissa Safira: gasss terus kak.. ikuti keseruan cerita ini sampai akhir yaa🥰🔥
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
lawan mereka Bara dan bikin malu mereka
Nissa Safira: gaaaas kak aku juga teriak bara lawan! lawan! 😤🔥
Tapi inget latihan Husen kak "Seorang pemimpin sejati tidak perlu memukul musuh yang bodoh, cukup mempermalukannya dengan fakta tajam"🔥🔥💪
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
semakin seru ceritanya
Nissa Safira: waaaa makasih banyak kak 😭🙏
Serunya baru mulai kak.. Di Olimpiade nanti kita lawan Akademi Cakrawala lagi, Reno udah bilang "aku akan menghancurkannya sampai tak berbekas"! Bara juga udah ngamuk "aku ingin meremukkan kesombongan anak-anak kaya itu!"🔥🙏
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Nissa Safira: Hadirrr kak dewi😁🙏🔥
Absennya aku catet paling atas nih kak😂
Makasih udah hadir pagi-pagi kak💪
total 1 replies
xebeck D ron
akhirnya GK gabut gw😄😄
Nissa Safira: up tiap hari kok kak rudi💪
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!