Celine Wang pernah percaya bahwa cinta mampu mengubah hati seorang pria yang dingin.
Selama tiga tahun pernikahannya dengan Alexander Wu, pewaris keluarga konglomerat Wu Group, Celine berusaha menjadi istri yang sempurna. Ia merawat rumah mereka, mendampingi Alexander ketika menghadapi kesulitan, dan diam-diam membantu menyelamatkan perusahaan suaminya dari krisis keuangan.
Namun, semua pengorbanannya tidak pernah dianggap berarti.
Bagi Alexander, Celine hanyalah wanita biasa yang beruntung mendapatkan tempat di keluarga Wu. Terlebih lagi, kehadiran Evelyn Zhao, cinta pertama Alexander yang kembali ke Shanghai, perlahan menghancurkan rumah tangga mereka.
Atas hasutan Evelyn dan tekanan keluarganya, Alexander menuduh Celine sebagai wanita yang tidak tahu diri, menandatangani surat perceraian, lalu mengusirnya dari rumah tanpa memberinya kesempatan menjelaskan kebenaran.
Pada malam yang sama, Celine mengetahui bahwa sebagian besar penderitaan yang dialaminya bukanlah kebetulan. Ada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 — Perang di Ruang Rapat
Suasana ruang rapat Shen Capital mendadak membeku ketika pintu terbuka keras.
Semua orang menoleh bersamaan.
Alexander Wu berdiri di ambang pintu dengan setelan hitam yang sempurna, tetapi wajahnya menunjukkan kemarahan yang tidak berusaha ia sembunyikan. Tatapannya langsung tertuju kepada Celine Wang, yang duduk di sisi meja konferensi dengan sejumlah dokumen investasi di hadapannya.
Di samping Celine, Adrian Shen perlahan meletakkan pena.
“Alexander Wu?” salah seorang direktur Shen Capital berbisik. “Apa yang dilakukan CEO Wu Group di sini?”
Celine tidak berdiri. Ia hanya menutup map di hadapannya, lalu menatap mantan suaminya dengan dingin.
“Ini rapat bisnis tertutup,” katanya. “Kau salah masuk ruangan.”
Alexander mengabaikan ucapannya dan melangkah mendekati meja.
“Aku perlu bicara denganmu.”
“Kalau begitu, buat janji melalui sekretarisku. Oh, maaf.” Celine tersenyum tipis. “Kau tidak punya sekretaris yang berwenang mengatur jadwalku.”
Beberapa peserta rapat saling bertukar pandang. Mereka tahu nama Alexander Wu cukup besar untuk membuat banyak orang berhati-hati, tetapi tidak seorang pun menyangka Celine akan memperlakukannya seperti tamu yang mengganggu.
Wajah Alexander mengeras.
“Celine, jangan mempermainkanku.”
“Aku tidak sedang mempermainkan siapa pun. Aku sedang bekerja.”
Adrian akhirnya berdiri.
“Tuan Wu, jika kedatangan Anda berkaitan dengan kerja sama antara Wu Group dan Shen Capital, silakan sampaikan melalui jalur resmi. Jika ini masalah pribadi, saya khawatir Anda harus meninggalkan ruangan.”
Alexander menoleh kepadanya.
“Jangan ikut campur dalam urusan kami.”
Adrian mengangkat alis. “Urusan kalian?”
“Ya. Ini masalah antara aku dan Celine.”
“Kalau begitu, Anda seharusnya menyelesaikannya di luar kantor ini. Celine berada di sini sebagai konsultan investasi, bukan sebagai mantan istri Anda.”
Kalimat itu membuat wajah Alexander semakin gelap.
Ia memandang Adrian dari ujung kepala hingga kaki. Pria itu berbicara dengan tenang, tanpa rasa takut sedikit pun. Yang lebih menyakitkan bagi Alexander adalah kenyataan bahwa Celine tidak membantahnya.
Perempuan yang dahulu selalu berusaha meredakan amarah Alexander kini membiarkan pria lain berdiri di sisinya.
“Jadi, sekarang kau yang berbicara untuknya?” tanya Alexander sinis.
“Tidak,” jawab Adrian. “Dia mampu berbicara untuk dirinya sendiri. Saya hanya mengingatkan Anda tentang batas profesional.”
Celine bangkit dari kursinya.
“Adrian, terima kasih. Tapi biarkan aku yang menangani ini.”
Ia kemudian menatap Alexander.
“Katakan apa yang ingin kau katakan. Satu menit.”
Alexander terdiam sesaat. Ia telah membayangkan berbagai kemungkinan dalam perjalanan ke Shen Capital, tetapi tidak pernah membayangkan bahwa Celine akan memberinya batas waktu seperti orang asing.
“Aku ingin kau menghentikan penyelidikan terhadap transaksi 0917.”
Keheningan langsung menyelimuti ruangan.
Celine menatapnya tanpa berkedip.
“Menarik. Jadi kau menerobos rapat perusahaan lain hanya untuk meminta seseorang menghentikan penyelidikan yang mungkin berkaitan dengan kematian ayahnya sendiri?”
“Aku tidak mengatakan kau harus berhenti selamanya.”
“Lalu apa? Kau ingin aku menunggu sampai keluargamu selesai menyembunyikan bukti?”
“Aku sedang berusaha melindungimu!”
Suara Alexander menggema di seluruh ruangan.
Celine tertawa pendek.
“Melindungiku?” Ia melangkah mendekat. “Di mana perlindungan itu ketika kau menyerahkan surat cerai kepadaku? Di mana perlindungan itu ketika aku menerima ancaman karena mencari tahu apa yang terjadi pada ayahku? Dan di mana kau ketika aku harus meninggalkan rumah yang selama tiga tahun kusebut rumahku?”
Alexander terdiam.
“Jangan datang ke sini dan menggunakan kata perlindungan seolah-olah kau selalu berada di sisiku.”
“Aku tahu aku melakukan kesalahan.”
“Kesalahanmu bukan sekadar menceraikanku, Alexander. Kesalahanmu adalah berpikir bahwa setelah semua yang kau lakukan, kau masih berhak menentukan apa yang boleh kulakukan.”
Celine menunjuk kursi kosong di ujung meja.
“Di ruangan ini, aku bekerja berdasarkan bukti. Kalau kau memiliki informasi yang relevan dengan penyelidikan, serahkan kepada tim hukum. Kalau tidak, pintunya ada di belakangmu.”
Alexander menatapnya dengan rahang mengeras.
“Kau benar-benar berubah.”
“Tidak. Aku hanya berhenti mengalah kepadamu.”
Alexander akhirnya mengalihkan perhatiannya kepada layar presentasi yang masih menampilkan laporan keuangan.
Matanya menangkap nama sebuah perusahaan kendaraan pribadi yang tercantum dalam lampiran transaksi.
Perusahaan itu pernah muncul dalam berkas yang ia temukan di arsip ayahnya.
“Apa hubungan perusahaan itu dengan penyelidikan kalian?” tanyanya.
Celine tidak langsung menjawab.
Adrian menatap Alexander dengan curiga. “Mengapa Anda mengenali nama tersebut?”
“Aku bertanya kepada Celine.”
“Dan aku sedang mempertimbangkan apakah kau layak menerima jawaban,” balas Celine.
Alexander mengabaikan sindirannya.
“Perusahaan itu pernah menerima pembayaran dari salah satu anak usaha Wu Group. Pembayaran tersebut dicatat sebagai biaya operasional, tetapi tidak pernah masuk ke laporan audit tahunan.”
Salah seorang analis Shen Capital segera membuka dokumen pendukung.
“Benar,” katanya setelah beberapa saat. “Ada transaksi dengan nominal besar. Penerima akhirnya tidak tercantum dalam salinan yang kami miliki.”
Celine merasakan jantungnya berdegup lebih cepat.
Inilah perusahaan yang muncul dalam laporan kecelakaan ayahnya.
Namun, ia tidak ingin membiarkan Alexander mengalihkan perhatian mereka dengan informasi setengah matang.
“Apakah kau memiliki bukti bahwa pembayaran itu berkaitan dengan ayahku?” tanyanya.
Alexander terdiam sepersekian detik terlalu lama.
Celine menangkap keraguannya.
“Kau punya sesuatu yang belum kau berikan kepada Daniel, bukan?”
“Dokumennya belum lengkap.”
“Itu bukan jawaban.”
“Aku sedang memeriksanya.”
“Sendiri?”
Alexander tidak menjawab.
Celine menggeleng kecewa. “Kau selalu melakukan hal yang sama. Kau menyimpan informasi, memutuskan siapa yang boleh mengetahuinya, lalu mengharapkan orang lain mempercayaimu.”
“Aku tidak bisa menyerahkan dokumen keluarga begitu saja.”
“Kalau dokumen itu berkaitan dengan kematian ayahku, itu bukan lagi sekadar urusan keluargamu.”
Adrian menyilangkan tangan.
“Jika dokumen tersebut autentik, tim hukum kami dapat membantu memverifikasinya bersama pengacara Celine. Namun, tidak ada alasan untuk menghentikan penyelidikan yang sah.”
Alexander menatap Adrian tajam.
“Kau terlalu tertarik pada masalah keluargaku.”
“Karena masalah keluarga Anda mungkin melibatkan transaksi ilegal dan kematian seseorang. Itu bukan hal yang bisa diabaikan hanya karena Anda tidak menyukainya.”
“Jangan berpura-pura menjadi pahlawan.”
“Aku tidak perlu menjadi pahlawan untuk mengetahui bahwa seseorang harus bertanggung jawab.”
Alexander mengepalkan tangan di sisi tubuhnya.
Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa dirinya tidak lagi memiliki kekuasaan yang sama atas situasi ini. Di Wu Group, satu perintah darinya cukup untuk menghentikan perdebatan. Di Shen Capital, gelarnya tidak membuat orang lain tunduk.
Terutama Celine.
“Celine,” katanya akhirnya, menurunkan suaranya. “Aku ingin berbicara denganmu secara pribadi.”
“Tidak.”
“Ada sesuatu yang tidak bisa kubicarakan di depan semua orang.”
“Kalau itu berkaitan dengan transaksi 0917, kirimkan melalui Daniel. Kalau itu berkaitan dengan hubungan kita, jawabanku tetap sama.”
Alexander menatapnya dengan campuran kemarahan dan keputusasaan.
“Apakah kau benar-benar tidak merasakan apa-apa lagi?”
Pertanyaan itu membuat beberapa orang di ruangan tersebut saling berpandangan. Ini bukan lagi percakapan bisnis, dan Alexander tampaknya sudah tidak peduli siapa yang menyaksikannya.
Celine terdiam sejenak sebelum menjawab.
“Perasaanku bukan urusan rapat ini.”
“Aku hanya ingin tahu apakah semua yang pernah kita miliki benar-benar tidak berarti bagimu.”
“Pernikahan kita pernah berarti bagiku. Itulah sebabnya perceraian itu sangat menyakitkan.”
Tatapan Celine melembut sesaat, tetapi suaranya tetap tegas.
“Aku pernah mencintaimu, Alexander. Aku pernah menunggumu pulang, membelamu ketika keluargamu meremehkanku, dan mencari alasan untuk setiap kali kau melukaiku. Tetapi aku tidak akan terus menghukum diriku sendiri hanya karena pernah mencintai orang yang salah.”
Alexander terlihat kehilangan kata-kata.
“Dan jangan salah mengartikan rasa sakitku sebagai undangan untuk kembali,” lanjut Celine. “Aku tidak membutuhkanmu untuk membangun hidupku lagi.”
Ia berbalik kepada peserta rapat.
“Saya minta maaf atas gangguan ini. Kita akan melanjutkan pembahasan dari halaman dua belas.”
Tidak seorang pun langsung bergerak.
Adrian memandang Alexander.
“Tuan Wu, saya minta Anda meninggalkan ruangan.”
Alexander menatap Celine untuk terakhir kalinya, seolah menunggu perempuan itu berubah pikiran.
Namun, Celine sudah kembali duduk dan membuka dokumennya.
Ia bahkan tidak lagi memandangnya.
Dengan wajah membatu, Alexander berbalik dan berjalan menuju pintu.
Sebelum keluar, ia berhenti.
“Jika Adrian menyembunyikan sesuatu darimu, jangan katakan aku tidak pernah memperingatkanmu.”
Celine mengangkat kepala.
“Dan jika kau menyembunyikan sesuatu dariku, jangan berharap aku akan memaafkanmu hanya karena kau mengaku melakukannya demi melindungiku.”
Pintu tertutup keras.
Rapat dilanjutkan, tetapi suasananya tidak lagi sama.
Setelah semua peserta meninggalkan ruangan, Adrian menghampiri Celine.
“Kau baik-baik saja?”
Celine merapikan dokumen di hadapannya.
“Aku baik-baik saja. Hanya lelah menghadapi seseorang yang mengira kecemburuannya memberinya hak untuk mengatur hidupku.”
“Dia tampak sangat terganggu melihat kita bekerja bersama.”
“Aku tahu.”
“Apakah kau khawatir dia akan mengganggu penyelidikan?”
Celine menghela napas.
“Aku lebih khawatir dia akan terus menyembunyikan informasi yang sebenarnya bisa membantu kita menemukan kebenaran.”
Adrian mengangguk. “Kalau begitu, kita harus memastikan semua bukti diperiksa secara independen. Tidak ada yang boleh menjadi satu-satunya sumber informasi kita.”
Celine tersenyum tipis. “Itulah alasan aku menerima pekerjaan ini.”
Saat Adrian kembali ke mejanya, ponsel Celine bergetar.
Sebuah pesan masuk dari Daniel.
Celine, aku baru menerima salinan laporan lama. Perusahaan kendaraan yang kalian temukan ternyata pernah menyewakan mobil kepada seseorang dari keluarga Wu pada malam William meninggal.
Celine segera mengetik balasan.
Siapa orangnya?
Jawaban Daniel datang beberapa detik kemudian.
Nama pada formulir penyewaan sudah dihapus. Namun, ada satu tanda tangan yang masih bisa dibaca. Aku sedang mengirimkan salinannya kepadamu.
Sebuah gambar muncul di layar.
Celine memperbesarnya.
Di bagian bawah formulir, terdapat tanda tangan yang membuat napasnya tertahan.
Victor Wu.
Ayah Alexander.
Sebelum Celine sempat memproses temuannya, pesan lain masuk dari nomor tak dikenal.
“Alexander datang untuk menghentikanmu bukan hanya karena cemburu. Tanyakan kepadanya mengapa ayahnya menyewa mobil kedua pada malam William Wang meninggal.”
Celine menatap pintu yang baru saja dilewati Alexander.
Kini ia memahami satu hal.
Kedatangan Alexander mungkin memang dipicu oleh kecemburuan dan ketakutannya kehilangan Celine. Namun, ada rahasia yang membuatnya jauh lebih gelisah daripada kehadiran Adrian di sisi perempuan itu.
Dan jika tanda tangan Victor benar-benar autentik, perang yang baru saja terjadi di ruang rapat hanyalah awal dari pertarungan yang jauh lebih berbahaya.
Kali ini, Celine tidak akan membiarkan siapa pun menghentikannya.