Elara terjebak dalam novel–bukan sebagai pahlawan, bukan juga sebagai penjahat, melainkan selir yang bahkan namanya kerap terlupa.
Lebih dari itu, ia adalah orang yang hanya ingin hidup tenang, bermalas-malasan, bahkan terlalu malas untuk melafalkan dialog yang ditetapkan untuknya.
Oleh sebab itu, sebagai tokoh pendukung yang bangkit dari kematian, ia tak berniat menuntut balas? Ia memilih tak ikut campur sedikit pun.
Namun, bagaimana jika alur malah berbalik dan membuatnya menjadi tokoh utama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
"Dan jujur saja, format laporan Anda sangat buruk. Font-nya... eh, tulisan tangannya terlalu kecil, tidak ada spasi, dan tidak ada ringkasan eksekutif di halaman depan. Kalau saya jadi Kaisar, saya akan memecat Anda bukan karena korupsi, tapi karena membuat saya pusing membacanya.”
Elara mendorong Tabel Kejujurannya ke arah Lord Vance.
“Ini sistem baru. Terapkan ini. Kalau ada angka yang nggak seimbang, Anda tahu apa yang harus dilakukan. Sekarang, permisi. Saya mau tidur siang. Debat selesai. Anda kalah. Tolong jangan berteriak lagi, nanti saya lapor Kepala Pelayan bahwa Anda mengganggu jam istirahat medis saya.”
Lord Vance menatap tabel itu dengan tangan gemetar. Ia adalah seorang ahli keuangan selama dua puluh tahun, dan ia baru saja dihancurkan secara telak oleh seorang gadis yang mengaku hanya membaca laporan karena insomnia.
“Yang.. Yang Mulia..” Lord Vance berbalik ke arah Kaisar, suaranya kini terdengar sangat kecil. “Hamba.. hamba akan segera menerapkan sistem Tabel Kejujuran ini. Hamba permisi.”
Lord Vance practically berlari keluar dari ruangan, meninggalkan asistennya yang harus menyeret gulungan kertasnya.
***
Keheningan kembali menyelimuti Ruang Kerja.
Elara langsung melipat tangannya di atas meja, meletakkan kepalanya di atas lengan, dan memejamkan mata.
“Kerja bagus, Menteri Keuangan bayangan,” suara Lucian terdengar geli dari seberang meja.
“Jangan panggil saya begitu,” gumam Elara, suaranya terdengar teredam karena tertahan oleh lengannya. “Saya cuma mau tidur. Orang itu berisik. Kalau dia nggak ngajak debat, saya nggak bakal nyari kesalahan dia.”
Lucian berdiri, berjalan mengelilingi meja, dan berhenti di samping kursi Elara. Ia menatap wanita yang tertidur dengan wajah sedikit memerah karena tekanan lengan.
“Kau tahu,” ucap Lucian pelan, “Lord Vance adalah salah satu menteri paling licin di istanaku. Tidak ada yang bisa menjatuhkannya selama sepuluh tahun. Dan kau menghancurkannya dalam tiga menit, hanya karena dia mengganggu waktu tidurmu.”
Elara tidak menjawab. Napasnya sudah teratur, terdengar halus dan tenang. Ia benar-benar tertidur.
Lucian tersenyum. Sebuah senyum yang jarang sekali ia tunjukkan, sebuah senyum yang tulus dan penuh kehangatan.
Ia melepas jubah luarnya yang tebal dan hangat, lalu dengan hati-hati menyelimuti bahu Elara.
“Tidurlah, Elara,” bisik Lucian. “Biarkan dunia luar yang sibuk. Untuk saat ini, istanaku aman berkat kemalasanmu.”
Lucian kembali ke kursinya, mengambil kuasnya, dan mulai menyalin konsep ‘Debit’ dan ‘Kredit’ ke dalam buku catatan pribadinya.
***
Elara terbangun karena aroma manis yang menguar di dekat hidungnya.
Ia membuka mata perlahan. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah Kaisar Lucian yang sedang menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca. Jubah hitam Kaisar yang hangat masih tersampir di bahunya.
“Yang Mulia..” suara Elara serak karena baru bangun tidur. Ia menguap lebar, tidak peduli pada etika istana. “Apakah Anda selesai mengintimidasi saya dengan tatapan itu? Karena jika ya, saya ingin makan. Perut saya berbunyi lebih keras dari suara drum perang.”
Lucian berkedip, seolah baru saja ditarik kembali dari lamunannya. Ia menatap jam pasir di sudut ruangan. Elara tidur selama dua jam penuh. Dan selama dua jam itu, Lucian tidak melakukan apa-apa selain menatap wanita yang tidur dengan mulut sedikit terbuka itu, sekaligus menyelesaikan tiga tumpukan dokumen.
“Kau benar-benar tidak punya rasa takut,” gumam Lucian, melepas jubahnya dari bahu Elara. “Kau tidur di pangkuan kekuasaan kekaisaran seperti seekor kucing di atas tungku perapian.”
“Kucing punya insting untuk tahu di mana tempat paling hangat dan aman,” balas Elara sambil meregangkan tubuhnya.
Tulang-tulangnya berbunyi *kretek*. “Dan jujur saja, Yang Mulia, mengintimidasi orang yang sudah mati rasa itu tidak ada seninya. Sekarang, apakah koki istana sudah membuatkan bubur jamur truffle saya? Atau saya harus mati lagi karena kelaparan?”
Lucian tertawa kecil, sebuah suara yang membuat para pengawal di luar pintu saling berpandangan dengan ngeri. Kaisar mereka.. Tertawa karena seorang selir mengeluh lapar?
“Ayo,” ucap Lucian, berdiri dan mengulurkan tangannya. “Kita akan makan siang di Taman Musim Semi. Udara di Ruang Kerja ini terlalu pengap untuk otak brilianmu yang sedang ‘berhalusinasi’.”
***
Taman Musim Semi adalah surga bagi orang yang ingin bermalas-malasan. Pohon-pohon willow menjuntai di tepi danau buatan, bunga-bunga musiman bermekaran, dan paviliun tengahnya dilengkapi dengan bantal-bantal sutra yang empuk.
Elara langsung merebahkan dirinya di atas tumpukan bantal begitu mereka tiba. Nira dengan sigap menyiapkan meja rendah berisi berbagai macam dimsum, kue buah, dan tentu saja, semangkuk bubur dengan irisan jamur truffle hitam yang melimpah.
“Ini surga,” gumam Elara, langsung menyendok bubur itu dan memakannya dengan lahap. “Nira, kau adalah malaikat. Kaisar juga boleh dianggap malaikat, tapi cuma karena dia bayar makanannya.”
Lucian duduk di seberangnya, menuangkan teh untuk dirinya sendiri. Ia menatap Elara dengan tatapan yang semakin lama semakin.. hangat. Ia tidak tahu kapan tepatnya ia mulai merasa nyaman di dekat wanita ini, tapi rasanya seperti baru saja lepas dari zirah besi yang ia pakai selama sepuluh tahun.
Namun, kedamaian itu tidak bertahan lama.
Suara langkah kaki yang terdengar terlalu keras dan tergesa-gesa memecah ketenangan taman.
“Yang Mulia Kaisar!”
Seorang wanita dengan gaun merah menyala dan perhiasan giok yang berkilauan berjalan masuk. Wajahnya cantik, namun matanya menyala dengan api kebencian yang nyaris tidak bisa disembunyikan.
Selir Lin. Selir Tingkat Dua. Wanita yang, menurut memori Elara, adalah dalang di balik racun Nightshade yang hampir membunuhnya di Bab 1.
Elara menelan buburnya. Ah. Bos wanita yang toksik. Kenapa dia selalu muncul pas aku lagi makan?