NovelToon NovelToon
AKU ADALAH SUBJEK PENELITIAN

AKU ADALAH SUBJEK PENELITIAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Dosen / Anak Genius
Popularitas:66
Nilai: 5
Nama Author: Sara Zefa

Anaxa Daemyn Elrad, seorang mahasiswa psikologi, mulai menerima amplop cokelat berisi laporan penelitian yang menggambarkan kehidupan, kebiasaan, bahkan perilaku pribadinya secara terperinci.

Awalnya dia menganggapnya sebagai kebetulan. Namun, semakin banyak laporan yang muncul, semakin sulit baginya menyangkal satu kenyataan: seseorang sedang mengamati dirinya.

Di balik kehidupan kampus yang tampak biasa, tersembunyi sebuah proyek penelitian bernama EVA-213.

Siapa yang mengawasinya? Apa tujuan penelitian tersebut? Dan sejak kapan hidup Anaxa bukan lagi sepenuhnya miliknya?

Bagaimana jika seluruh hidupmu ternyata hanyalah data bagi seseorang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sara Zefa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

YANG TIDAK PERNAH DICERITAKAN

Anaxa melangkah keluar dari kos Alya. Dia langsung menoleh ke kiri dan kanan seolah-olah mencari sesuatu.

Bahkan Alya dibuat bingung oleh perilaku Anaxa karena pria itu membalik keset didepan pintu kos Alya, lalu berjinjit dan meraba-raba celah ventilasi di atas pintu.

"Aneh." Ucap Anaxa kemudian. Dan sukses membuat Alya tambah kebingungan.

"Ada apa, Anaxa?"

Dan Anaxa kembali menatap ke arah gadis itu. "Biasanya aku selalu dapat amplop coklat... Setiap hari. Selembar demi lembar."

"Dan hari ini kamu tidak mendapatkan amplopnya." Alya melanjutkan ucapan Anaxa dan dibalas anggukan oleh pria itu.

"Aku pikir akan mendapatkan amplop coklat itu di depan pintu kos mu. Tapi rupanya tidak?" Anaxa mulai berpikir keras.

Beberapa saat kemudian, Anaxa berkata lagi setelah mendapat suatu kesimpulan "Waktu menginap di kos Dimas dan Keenan, ponselku saat itu masih..."

Anaxa dan Alya saling bertatapan, mereka berdua mendadak saling mengerti dan mendapatkan jawaban yang sama.

"Jangan-jangan... Memang ada alat pendeteksi ilegal di laptop dan ponselmu?" Alya bertanya

"Dan amplop itu berhenti datang setelah aku mengganti kedua perangkat ku." Ucap Anaxa yang menganggap kejadian tersebut cukup masuk akal untuk terjadi.

Kemudian Alya melihat wajah Anaxa yang terlihat jauh lebih lega setelah dibiarkan bernapas saat setiap harinya dipenuhi terror amplop coklat. Dan Alya mulai memikirkan akan seperti apa dirinya jika tiba-tiba harus menghadapi hal yang dialami oleh Anaxa

"Hah... Syukurlah sudah berhenti. Kamu tidak perlu setres memikirkan terror tersebut."

"Aku harap juga begitu." Anaxa mendadak kembali lesu. Pikiran negatifnya mulai berteriak keras. "Tapi bagaimana kalau amplop itu muncul lagi di kemudian hari..."

Alya langsung menyela "Cukup. Jangan stres berlebihan lagi. Yang terpenting amplop coklat itu berhenti datang hari ini. Kita berdua akan mencari tahu tentang amplop coklat itu, oke?"

"Ah.. Baiklah. Tolong bantuannya." Anaxa tersenyum lemah. Dan gadis itu menyetujui perkataan Anaxa.

"Ayok ke kos kamu. Katanya mau kasih lihat aku isi tulisannya." Ajak Alya. Dan mereka berdua kemudian melangkah keluar kos menuju parkiran. Anaxa yang mengendarai motornya Alya sedangkan gadis itu dibonceng.

Motor dijalankan keluar pagar kos an. Anaxa pamit sebentar kepada satpam penjaga kos Alya kemudian melanjutkan perjalanan. Lain halnya dengan Anaxa yang fokus keadaan jalan dan keramaian kendaraan, Alya malah dibuat bingung oleh pikiran nya sendiri tentang apakah gadis itu boleh memeluk pinggang Anaxa saat berkendara motor atau tidak.

Sejujurnya Alya merasa aneh kepada dirinya sendiri. Karena sejak Anaxa mulai terbuka kepadanya, harapan Alya agar disukai juga oleh Anaxa mendadak melambung tinggi. Gadis itu bahkan mulai membayangkan beberapa moment romantis dirinya dengan Anaxa.

Hanya saja, Alya bertindak cukup pandai untuk membunyikan perasaan yang sebenarnya. Dan Alya tidak memaksa Anaxa harus saat itu juga membalas perasaan nya, karena Alya sadar bahwa yang pertama kali jatuh dalam permainan ini adalah dirinya. Cinta yang agak tragis karena bertepuk sebelah tangan.

"Setidaknya aku masih bisa berada di dekat Anaxa meskipun pria itu masih menganggap ku seorang teman dekat." Ucap Alya dalam hati.

Tanpa Alya sadari, tatapannya terus menerus tertuju ke wajah Anaxa yang terpantul di spion motor. Dan ternyata... Anaxa tahu dan merasa dirinya sedang diamati oleh Alya. Namun pria itu memilih untuk diam.

Menit demi menit berlalu dan akhirnya mereka berdua sampai di depan kos Anaxa. Pria itu memencet tombol klakson, menyuruh pak satpam untuk membukakan pagar kos.

Pak satpam itu keluar dari pos jaganya dan membuka pagar. Namun sebelum Anaxa benar-benar melaju kedalam kos, pak satpam itu berkata "Tumben mas Anaxa bawa teman. Cewek pula yang mas bawa. Pacarnya ya mas?" Pak satpam itu malah menggoda Anaxa.

Alya ingin membuka mulut dan menyanggah perkataan yang dilontarkan oleh pak satpam kos Anaxa, tapi ucapan Anaxa mendahuluinya.

"Cuma teman."

Alya yang mendengar dua kata itu, entah kenapa langsung merasakan nyeri di dadanya. Seperti ada sebilah pisau yang menusuk dalam. Alya pada akhirnya hanya tersenyum tipis dan sedikit miris, karena gadis itu tahu bahwa yang diucapkan Anaxa adalah fakta. "Iya temannya Anaxa." Bahkan ucapannya sendiri juga ikut menoreh luka dihatinya.

"Yakin tuh bukan pacaran?" Pak satpam nya malah lanjut menggoda Anaxa lagi.

Anaxa menggelengkan kepala. Kali ini jawaban yang diberikan Anaxa sangat tak terduga bagi Alya. "Saya lebih suka cewek yang lebih tua, pak." Kata Anaxa sambil tertawa pelan.

Pak satpam tersebut ikut tertawa karena ucapan Anaxa. Namun Alya tidak tertawa sedikitpun. Gadis itu merasa hatinya pecah berkeping-keping bahkan sebelum dirinya sempat melakukan sesuatu untuk membuat Anaxa menyukai dirinya.

Sedangkan Anaxa, bahkan tak tahu jika dirinya sekali lagi menyakiti Alya. Pria itu cuma tahu bahwa Alya mendadak diam dan melamun karena saat Anaxa menyuruhnya turun dari boncengan motor, gadis itu sama sekali tidak memberikan respon

Anaxa terus memanggil nama Alya. Berulang kali. Barulah setelah Anaxa lebih meninggikan suaranya, Alya kembali tersadar. "Ya...?"

"Kamu dari tadi kenapa diam? Aku sudah berkali-kali bilang ke kamu untuk turun dari motor." Alya menangkap kebingungan dari ucapan Anaxa. Dan seolah tidak mau membuat Anaxa lebih khawatir, Alya menggelengkan kepalanya kemudian segera turun dari motor

"Gak papa kok. Aku cuma..."

"Ya?"

Alya memilih alasan yang lebih aman untuk dikatakan nya kepada Anaxa. "Aku... Belum tidur. Ngantuk. Susah tidur." Alya memasang senyum tipis agar perkataannya terlihat lebih menyakinkan dan dipercayai Anaxa.

"Insom?" Anaxa langsung menembakkan kata itu. Lalu di jawab oleh anggukan Alya. Gadis itu menjelaskan kalau dirinya selalu susah tidur, dan Anaxa mendengarkan dengan baik.

"Pernah coba obat tidur? Tapi harus diresepkan oleh psikiater dulu."

"Belum... Mungkin aku bisa mencobanya?"

"Setidaknya kamu dapat beberapa jam tambahan untuk tidur malam harinya."

"Noted."

Dan mereka pun saling berbincang ria sepanjang langkah ke kamar kos Anaxa, melewati lorong yang remang-remang dan cat tembok yang sedikit terkelupas.

Sampai di depan pintu, Anaxa mengeluarkan kunci dari saku nya dan membuka pintu kamar kos nya. Kemudian mempersilahkan Alya masuk. Dan gadis itu langsung mengedarkan pandangan ke sekeliling.

Suasana kamar yang remang-remang

Gorden yang selalu menutupi jendela

Interior ruangan yang simpel

Jumlah dan desain perabot yang minimalis

Alya langsung merasakan jejak Anaxa yang kuat di atmosfer ruangan itu.

"Bagaimana?" Ucap Anaxa yang sadar bahwa gadis itu sedang mengamati keadaan kos nya

Lalu Alya menjawab "Kamu orangnya ternyata rapih ya? Aku lihat sepertinya setiap barang yang ada di sini kamu tata semua letaknya."

"Sengaja aku tata seperti itu. Agar mudah ditemukan saat butuh. Dan aku akan langsung tahu jika ada campur tangan orang lain jika posisi barangnya berbeda dari caraku meletakkannya." Anaxa menjelaskan

"Keren" Kata Alya yang membuat Anaxa seketika merasa bangga.

Namun rasa bangga tersebut malah seketika dirusak oleh Alya karena satu pertanyaan yang diajukan olehnya. "Kalau amplop coklat itu dimana kamu taruh?"

Anaxa langsung mengatup rapat kedua bibirnya. "Kertas-kertas jahanam tersebut ada di atas meja itu. Aku sejujurnya... Gak berani baca semua yang tertulis di dua ratus laporan penelitian tentang diriku sendiri."

Dan perhatian Alya jatuh ke tumpukan kertas diatas suatu meja. Gadis tersebut mendekat kemudian mulai membaca beberapa halaman kertas. Anaxa yang berada di dekat Alya, dapat menangkap dengan jelas ekspresi gadis itu yang terlihat terkejut sekaligus ngeri.

Selama beberapa saat Alya berusaha mencerna informasi yang sedang dibacanya. Dan kemudian gadis itu memandang Anaxa dengan tatapan lurus.

"Ya...?"

"Anaxa." Gadis itu menaruh lembar kertas yang dibacanya di atas meja. Wajah Alya berubah menjadi serius. "Aku khawatir kalau ternyata permasalahan amplop coklat yang meneror mu itu gak selesai secepat dan se gampang yang kita duga."

Alya melirik ke tumpukan kertas laporan, memilih salah satu yang sempat dibacanya, meraihnya, kemudian menyodorkan ke arah Anaxa, meyuruh pria itu untuk membacanya

HARI 3

Subjek masih berusaha beradaptasi di lingkungan baru.

Subjek kembali mengalami tekanan emosional pada malam hari tanpa pemicu eksternal yang terlihat.

Subjek beberapa kali mengingat pertengkaran kedua orang tuanya.

Subjek menunjukkan respons terhadap suara-suara yang hanya muncul dalam ingatannya.

Subjek secara refleks meremas rambutnya dengan kuat ketika tekanan meningkat.

Subjek beberapa kali menekan kedua telinganya, seolah berusaha menghentikan suara yang sebenarnya tidak ada.

Subjek menunjukkan keinginan agar pikirannya berhenti meskipun tidak mengungkapkannya kepada siapa pun... 

Pukul 02.17, subjek menangis dalam keadaan kamar tetap gelap dan tanpa melakukan komunikasi dengan individu lain.

Subjek tidak menyadari bahwa beberapa respons traumatisnya kembali muncul.

"Srak!"

Kertas itu terjatuh dari genggaman. Tubuh Anaxa seolah-olah membeku dalam kengerian yang hebat. Bahkan dapat dirasakan bulu kuduknya yang ikut berdiri.

"Ini..." Alya meneguk ludah sebelum melanjutkan perkataannya. "Ini semua terlalu mustahil untuk ditangkap oleh kamera dan microphone tersembunyi."

Hening seketika.

Suasana berubah jadi lebih mencekam.

Bahkan Alya yang hanya membaca laporan penelitian tentang Anaxa pun mulai merasakan ngeri yang sama yang juga dirasakan oleh pria itu. Dan ucapan terakhir Alya sukses membuat atmosfer kamar kos Anaxa jauh lebih berat.

“Bagaimana seseorang bisa mencatat hal-hal yang bahkan tidak pernah kamu ceritakan kepada siapa pun?”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!