Nadia menikahi pria yang tidak pernah mencintainya. Sang suami adalah teman masa kecil nadia. Namun dimas melupakan gadis tersebut. Selama pernikahan mereka, Nadia terus merasakan sakit yang teramat sakit. Melihat sang suami bersama dengan wanita lain. Sang suami masih berhubungan dengan wanita yang masih berstatus kekasih. Dan bahkan mengajak kekasihnya itu untuk datang ke rumah. Setiap hari Nadia harus melihat kemesraan sang suami dengan wanita lain di depan mata sendiri. Nadia hanya bisa menahan rasa sakit yang ia rasakan demi keutuhan rumah tangganya. Nadia berprinsip menikah sekali seumur hidupnya. Nadia juga tidak ingin berpisah dari Dimas pria yang ia cintai sedari dulu. Dan ia ikhlas menerima rasa perih yang tidak pernah di dapatkan dari keluarganya. Nadia yakin, suatu saat nanti sang suami akan mencintainya juga, walaupun ia tidak terlalu yakin dengan hal tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Matcha Lala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
"Jawab gue, dimana jam tangan gue?!," bentak Dimas.
Dimas membentak sang istri dan membuat Nadia benar benar terkejut dengan sikap sang suami yang sangat kasar padanya.
Nadia menatap Dimas. "Lepasin dulu rambut ku kak, nanti aku ber-----,".
"Jangan banyak bicara! Jawab dimana jam tangan gue!, Lo jual ya?!," marah Dimas.
Dimas begitu keras kepala Karena dari awal ia sudah mengecap sang istri wanita yang tidak baik. Maka dari itu setiap ucapan sang istri adalah kebohongan bagi Dimas. Ia tidak akan memberikan waktu untuk istrinya berbicara, karena baginya itu akan membuang waktu saja.
"Di dalam laci, jam tangan kakak aku simpan di dalam laci kamar. Tadi aku melihat jam tangan itu tergeletak di tempat kakak duduk bersama kekasih kakak. Aku simpan karena aku yakin jam tangan itu berharga bagi kakak," ucap Nadia.
Nadia menjelaskan semuanya kepada sang suami dan tanpa rasa kasihan dengan kondisi nadia, Dimas langsung berlari masuk ke dalam kamar. Sudut bibir Nadia sudah mengeluarkan darah Karena di tampar Dimas. Nadia berdiri dan memilih untuk masuk ke dalam kamar tamu. Ia yakin sang suami tidak akan suka melihatnya masuk ke dalam kamar mereka. Di tambah lagi, Dimas dalam ke adaan marah besar, karena pertengkarannya bersama Darren tadi.
**********
Di dalam kamar. Dimas membuka laci dan melihat jam tangannya terletak rapi di dalam kotak jam yang ada di dalam laci. Pria itu mengambil jam tangannya dan memeriksa ke adaan jam tangan tersebut. Jam tangan kesayangannya terlihat baik baik aja, dan Dimas langsung menatap pintu kamarnya. Ia berjalan keluar kamar dan tidak menemukan Nadia.
"Kemana perginya gadis itu? Kenapa tiba tiba tidak ada di sini?," gumam Dimas.
Pria itu mencari Nadia di dapur dan melihat sudah ada makanan di atas meja makan, namun ia tidak melihat keberadaan sang istri. Dimas kembali mencari sang istri dan tanpa sengaja pria itu melewati kamar tamu. Terlihat Nadia tengah berbaring di atas kasur dengan kondisi rambut yang berantakan, di tambah lagi sudut bibir gadis itu terlihat berdarah. Belum lagi kepala Nadia tadi terbentur keras.
Dimas membuka pintu kamar tamu, Nadia langsung duduk saat mendengar suara pintu kamar terbuka. Nadia duduk dengan perasaan takut, di tambah lagi Dimas berjalan ke arahnya. Detak jantung Nadia benar benar tidak karuan, dia takut dikasari oleh sang suami seperti tadi.
"Sorry, tadi udah fitnah yang enggak enggak," ucap dimas.
Ucapan dari Dimas membuat Nadia terkejut bukan main, sehingga Nadia hanya bisa membalasnya dengan menganggukkan kepalanya saja. Dimas mengeluarkan salep dari saki celananya dan melemparkan salep itu ke arah Nadia.
"Obati luka Lo, gue mau tidur. Lo tidur di kamar, perjanjiannya jangan sampai lupa. Tidur harus sekamar, biar terbiasa. Jadi kalau mama dan papa gue nginep, kita berdua enggak bakalan canggung," ucap Dimas.
Dimas menjelaskan perjanjian itu kembali agar Nadia tidak lupa. Tanpa berlama lama Dimas keluar dari dalam kamar tamu. Nadia menatap kepergian sang suami dan langsung mengambil salep yang ada di atas kasur. Ia menatap salep tersebut dan tersenyum kecil melihat perhatian suaminya terhadapnya.
Nadia menyimpan salep tersebut ke dalam saku baju tidurnya, dan langsung berdiri untuk menghampiri sang suami yang sudah berada di dalam kamar. Saat di dalam kamar, terlihat Dimas sudah tertidur di atas kasur dan Nadia langsung mendekati sang suami. Gadis itu menyelimuti suaminya dan tersenyum kecil melihat wajah Dimas yang terlihat sangat tampan.
"Mimpi indah," gumam Nadia.
Nadia langsung berbaring di atas kasur tepatnya di samping suaminya. Gadis itu mengingat perjanjian di kertas yang ia tanda tangani, tidak ada sentuhan. Ia akan mengikuti apa yang sudah di tetapkan oleh Dimas, agar pria itu tidak kecewa dan marah kepadanya.
'aku akan berusaha untuk mengikuti semua yang kamu inginkan,' batin Nadia.
Kadis tersebut langsung memejamkan kedua matanya dan akhirnya sepasang suami istri tersebut tertidur sangat pulas di atas kasur yang sama.
Pagi hari, pukul 06.30 WIB. Nadia sudah mempersiapkan baju kerja untuk suaminya. Dimas bangun dari tidurnya dan melihat Nadia yang tengah meletakkan baju kerjanya di atas meja.
"Kak, mau makan di rumah atau di luar?," ucap Nadia.
"Gue bakalan sarapan bareng pacar gue, enggak usah masak," ucap dimas.
Nadia menganggukkan kepalanya, ia langsung keluar dari dalam kamar. Ia membersihkan sepatu sang suami yang terlihat kotor. Setelah itu, ia langsung membersihkan rumah, karena di rumah Dimas tidak memiliki membantu. Dimas keluar dari dalam kamarnya dengan pakaian rapi dan langsung keluar dari rumah tanpa berpamitan.
Nadia yang melihat dari lantai dua hanya bisa diam, sambil memegang sapu dan tubuhnya di penuhi keringat karena membersihkan rumah Dimas yang sangat besar. Gadis itu langsung tersenyum kecil dan melanjutkan pekerjaannya. Tiga puluh menit berlalu, akhirnya pekerjaannya pun selesai. Nadia langsung berlari masuk ke dalam kamar dan tanpa sengaja kakinya tersandung sudut meja dan mengeluarkan banyak darah.
"Aw, ya ampun pakai berdarah lagi," gumam nadia.
Tanpa pikir panjang nadia langsung mengambil pel dan membersihkan darah yang menetes di lantai depan kamarnya. Setelah bersih, Nadia langsung masuk ke dalam kamar dan mengobati lukanya terlebih dahulu.
"Oke, udah di obati. Aku langsung mandi aja deh, habis itu baru beli alat buat melukis," gumam Nadia.
Hari ini Nadia akan pergi ke toko tempat menjual alat lukis. Nadia keluar dari dalam kamar mandi dengan pakaian yang sudah rapi. Gadis itu mengirim pesan kepada Dimas, meminta izin untuk pergi keluar. Dimas mengizinkannya dan Nadia langsung masuk ke dalam taksi online yang ia pesan.
"Toko tempat jual alat lukis ya pak, toko permata," ucap Nadia kepada supir taksi.
"Baik neng," ucap supir taksi tersebut.
Taksi pun menjauh dari rumah dimas, Nadia hanya diam sambil memainkan ponselnya di kursi penumpang. Gadis cantik itu memotret pemandangan pagi hari di dalam taksi. Pemandangan pagi hari ini begitu indah, nadia langsung tersenyum kecil dan langsung meng-upload foto tersebut ke media sosial. Sudah sebulan lebih, Nadia tidak aktif di media sosial miliknya.
Tiga puluh menit di perjalanan, akhirnya taksi berhenti tepat di depan toko permata. Nadia langsung membayar taksi dan melebihkan uang taksi tersebut.
"Terima kasih ya pak," ucap Nadia.
"Sama sama neng, harusnya bapak yang berterima kasih pada neng. Terima kasih sudah melebihkan ongkos taksi," ucap supir taksi tersebut.
Nadia tersenyum dan langsung masuk ke dalam toko dengan ke adaan kaki yang terluka, tanpa berlama lama gadis itu langsung mengambil canvas dan alat lukis lainnya. Setelah selesai, Nadia langsung berjalan ke arah Kasir dan membayar semua belanjaannya.
"Udah lama benget enggak liat mbak ke sini?," ucap karyawan toko tersebut.
Nadia tersenyum saat mendengar ucapan sari karyawan toko tersebut. "Saya sudah menikah mbak, jadi ngurusin rumah dan suami. Maka dari itu saya jarang keluar," ucap Nadia.
"Wah, selamat ya mbak," ucap karyawan tersebut.
"Terima kasih mbak," ucap Nadia Sambil tersenyum.
Setelah belanjaannya ia bayar, Nadia berpamitan dan keluar dari dalam toko. Gadis itu berjalan menuju cafe terdekat, Karena ia merasa lapar. Saat ia sudah berada di depan cafe, Nadia tidak sengaja melihat suaminya yang tengah bermesraan dengan Jessica di depan Darren, Raka, dan Ardana. Hati Nadia benar benar terasa sangat sakit, Nadia langsung berlari keluar dari cafe. Raka yang melihat Nadia langsung berdiri dari tempat duduknya dan mengejar Nadia. Membuat Dimas, Jessica, Darren dan Ardana terkejut.
"Raka Lo mau kemana?," teriak Ardana.
Ardana berteriak memanggil Raka, namun Raka mengabaikan teriakan sahabatnya tersebut.
"Dia kenapa sih?," Jessica ikutan bingung, melihat Raka yang tiba tiba saja berlari keluar cafe.
********
Di sisi lain. Nadia langsung berjongkok di samping cafe, gadis itu menangis dan memukul dadanya dengan sangat kuat. Dadanya benar Baner terasa sangat sesak, melihat sang suami yang begitu perhatian pada wanita lain. Raka berjongkok di depan Nadia dan menahan tangan Nadia yang akan memukul dadanya kembali dan Raka meletakkan tangan gadis itu di dadanya.
"Pukul gue aja nad, gue enggak tega liat Lo nyakitin diri Lo sendiri," ucap Raka.
Nadia menatap Raka dengan air mata yang sudah membasahi ke dua pipinya.
"Pukul gue nad, pukul gue aja. Jangan pernah sakiti diri Lo yang berharga ini, gue enggak tega liatnya. Gue tau Lo sakit ngeliat semuanya," ucap Raka.