Ini kisah seorang wanita introvert serta brokenhome, dalam segala hal tidak ada yang berjalan lancar baginya. Seorang wanita yang workaholic, soal percintaan jangan tanyakan. Sudah dapat dipastikan hancur juga sama seperti keluarga nya, Ia hanya dapat bertahan hidup untuk dirinya sendiri dengan cara menonton drama Korea kesukaannya, belanja di toko online, membeli makanan dan lain-lain.
Mei 1999 seorang wanita bernama Mahika Avisa Zalana, sejak lulus sekolah ia memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikannya. Jangan tanyakan alasannya, sudah dipastikan karna ia ingin bekerja dan tidak mau merepotkan keluarganya. Kalau ditanya kenapa tidak kuliah padahal keluarganya mampu bahkan sangat mampu untuk membiayai pendidikannya. Hanya saja ia terlanjur "Malas" yang berkaitan dengan keluarga nya lagi. Bukan berarti dia membenci keluarganya tapi ia ingin hidup tenang tanpa mengingat harus membayar hutang (tidak cuma-cuma) pendidikan yang ia pinjam pada keluarga nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyimas zaharah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21.Pilon
...بسم الله الر حمن الر حيم...
.......
.......
...Sandyakala "Aksa dan Amerta"...
...Karya : Ms_nyms...
***
"Bangun tidur ku terus mandi, tidak lupa menggosok gigi. Habis mandi ku langsung.. "
"Gak usah nyanyi, langsung berangkat lama kali pakek acara nyanyi pula" Potong Fian yang baru saja lewat. "Jangan lama sampai di anggar, Sen!"
"Siap" Berjalan pelan keluar dari dalam barak.
Hansen kembali bernyanyi, Fian yang mendengar suara Hansen langsung menoleh kembali ke arah belakangnya. Ia hanya bisa menggeleng kan kepalanya, sudah bingung harus bagaimana lagi dengan salah satu anggota nya itu.
"Dulu aku bercita-cita menjadi seorang prajurit muda, berdiri dengan gagah perkasa, menunaikan tugas mulia, kini aku sedang ditempa di Lanud Adi Soemarmo" tetap berjalan meninggalkan barak asrama. "Lupa kawan lupa saudara, lupakan saja semuanya "
Hansen hanya tersenyum sembari bernyanyi,suara bergema di dalam barak kesatuan.
"Walau badan sakit-sakit, sampai masuk rumah sakit, saya tahan menderita, siang malamku ditempa, walau diriku ditempa, gembira-gembira selamanya.. "
"Sen!! "
"Siap bang! "Hansen berlari mendekat ke seorang pria yang tengah berada di parkiran motor, Mahija.
"Letda. Fian di barak kah? "
"Siap"
"Saya kasih tugas dulu kamu "
"Siap"
"Saya besok tidak di asrama, jadi tolong awasi beberapa prajurit yang baru masuk kesatuan kemarin untuk latihan di lapangan sama Letda. Fian bisa? "
"Siap bisa ndan, oke "
"Yasudah, saya mau ke barak dahulu. Lanjutkan nyanyi nya "
"Siaap hehehe " Hansen kembali berjalan menuju anggar pesawat, tempat dimana seluruh prajurit langit akan melakukan simulasi terbang hari ini.
Suasana anggar memang sedikit panas, namun angin hari ini cukup kencang dan membuat udara disekitar anggar pesawat sejuk.
Tampaknya beberapa prajurit sedang mengecek mesin pesawat dan beberapa lagi sedang bersiap untuk latihan terbang, Jaka dan Yusuf juga sudah berada di anggar.
"Kemana Letda. Fian?? pesawat nya udah siap terbang ini" tanya seorang wanita dengan seragam pilot tempur.
"Siap, masih di barak senior" jawab Yusuf diikuti sikap sempurna.
"Oh gitu, yaudah"
Wanita itu berjalan menjauh ke sudut ruangan, memandangi landasan pacu Lanud, tempat dimana ia bertugas beberapa bulan ini.
"Siapa tu? " tanya Hansen yang tidak mengetahui siapa wanita tersebut, bahkan ia tidak pernah melihat siapa wanita itu.
"Itu senior Anna, lebih lengkapnya Letda. Anna Zirasyaputri lulusan STPI tahun 2020 jalur Prajurit PK TNI baru bergabung di kesatuan kita 2 bulan lalu dan jarang terlihat karna lebih sering di anggar, 2 bulan berada di kesatuan kita ia sudah mempunyai julukan yaitu Iblis langit"
"Seperti nya akan terjadi perebutan jalur langit nanti, apakah Letda. Fian akan menang? "
"Tentu saja Letda. Fian akan menang dikarenakan Letda. Fian pilot pesawat tempur F-16 yang sudah terlatih dan profesional. Menerbangkan F-16 bukanlah hal yang mudah, tapi bagi Letda. Fian itu hanya hal kecil baginya, Letda. Fian juga sudah sering mewakili Indonesia dalam lomba militer ajang pesawat tempur di setiap negara. Letda. Fian juga sering menampilkan aksi aerobatik nya disetiap hari kemerdekaan Indonesia maupun acara kenegaraan jadi tidak perlu diragukan lagi"
"Semoga saja hari ini tidak ada pertikaian di langit, apalagi kalau lawannya manusia terkuat di muka bumi yaitu wanita" cetus Hansen sedikit kesal.
"Heh! Mulutmu itu bisa gak di rem dikit aja Sen? Lu mau kita bertiga ni di hukum sama Letda. Anna? "
"Gua ngomong sesuai fakta, benar tidak Jak? " seru Hansen melirik Jaka yang berdiri di tengah-tengah mereka.
Yusuf langsung menatap Jaka yang masih diam dengan seribu bahasa melihat mereka berdua sedang berdebat saat ini didepan dirinya, ia juga bingung harus menjawab apa disaat seperti ini.
"Jak? Benar gak apa yang gua bilang? " tukas Hansen kembali bertanya.
"Ndan!!" Jaka langsung berlari seketika menjauh dari kedua sahabatnya itu saat melihat Letda. Fian dan Lettu. Mahija datang. Segera ia berlindung dibalik tubuh kedua atasannya itu, Hansen dan Yusuf hanya diam melihat Jaka yang tidak ingin menjawab pertanyaan mereka.
"Ada apa?" tanya Mahija yang melihat raut wajah Hansen dan Yusuf.
"Siap tidak ada ndan" serempak keduanya.
"Oke, persiapan Take-off" perintah Fian.
"Hati-hati, gak usah lu pamerin semua teknik aerobatik lu. Latihan simulasi ini, bukan acara kenegaraan" Mahija memberikan peringatan pada Fian, kemudian ia berjalan menuju sebuah ruangan air traffic controller atau ATC.
***
"Hati-hati nyetirnya bang, lu mau nikah jangan ugal-ugalan nyetirnya. Ingat ada idaman yang harus dilamar. " peringat Fian yang mengantar Mahija ke mobilnya.
"Iya, titip anggota dulu sementara. Sorry enggak bisa ikut kesana, lain waktu "
"Iya bang, tugas gua juga lagi banyak disini" ujar Fian.
"Yaudah lu balik sana ke posisi" titah Mahija.
"Siap." Fian meninggalkan Mahija di parkiran.
Mahija sudah masuk ke dalam mobil dan bersiap untuk berangkat, namun tiba-tiba saja ponselnya berdering.
Drrrrt Drrrrt Drrrrt
Sebuah panggilan atas nama Pak Sukardi Kades, tertera di layar ponsel Mahija saat ini.
"Assalamualaikum letnan Mahija" suara dari seberang sana membuka obrolan terlebih dahulu.
"Wa'alaikumussalam pak, baru saja saya hendak menelpon bapak ingin memberitahukan bahwa saya akan kesana hari ini? " jawab Mahija.
"Begini letnan Mahija, saya ingin meminta maaf terlebih dahulu. Apakah Letnan sudah dalam perjalanan menjemput orang tua Letnan? "
"Minta maaf untuk apa pak? Saya masih di asrama, baru ingin berangkat menjemput orang tua saya lalu saya akan kesana langsung"
"Begini Letnan Mahija, sepertinya saat ini waktu untuk melamar diundur terlebih dahulu saat ini Avisa sedang tidak baik-baik saja. Mohon maaf terlebih dahulu saya sampaikan Letnan, nanti jika memungkinkan waktunya akan saya kabarkan kembali kepada Letnan. "
"Maaf Pak, Mahika kenapa? Sakit? "
"Bisa dibilang seperti itu Letnan, Avisa pulang tadi pagi setelah seharian tidak pulang semalam lalu sesampainya disini, ia ditemukan di pintu masuk desa dalam keadaan pingsan tadi pagi oleh pemuda desa. Barang-barang seperti tas dan ponselnya juga tidak ditemukan disekitar nya. Saya curiga ada sesuatu hal yang menimpa Avisa kemarin dan kami keluarga di desa memutuskan untuk memulihkan kondisi Avisa saat ini, ia penuh luka saat ditemukan namun sudah di perban. "
"Baiklah saya langsung kesana saja pak untuk melihat kondisinya. "
"Tidak Letnan, Avisa saat ini tidak ingin dijenguk siapapun. Ia mengurung diri dirumah nya. Kami para orang tua di desa sudah memahami hal ini, mungkin 2 atau 3 hari lagi Letnan bisa berkunjung ke desa nanti. "
"Baiklah kalau begitu pak.. "
"Kalau begitu saya tutup dulu ya Letnan, Assalamualaikum" ucap Pak Sukardi menutup sambungan telepon.
"Wa'alaikumussalam" final Mahija.
Ia menjatuhkan ponselnya sesaat setelah menutup sambungan telepon, akhirnya praduga nya ternyata benar. Wanita yang ditemukan di depan markas pada pukul 2 malam itu adalah Mahika, wanita yang penuh darah itu.
"Namun mengapa ia dalam keadaan seperti itu, apakah ada suatu hal yang terjadi pada Mahika. "
Mahija berjalan kembali ke barak, bahunya
tidak tegap seperti biasanya. Ia terduduk diatas kasurnya dengan diam, isi kepalanya penuh dengan beberapa pertanyaan dan sedang berpikir apakah suatu hal yang ia tidak ketahui dari seorang Mahika.
Apakah ada yang terlewati selama mencari tahu tentang seorang Mahika, sehingga ia tidak menyadari hal seperti ini akan terjadi.
"Loh bang, kenapa masih disini" tanya Fian yang baru saja masuk ke dalam barak asrama.
Fian terkejut abangnya belum berangkat saat itu, tidak ada jawaban dari Mahija. Terlihat raut wajahnya penuh dengan pertanyaan, Fian sudah tahu bahwa abangnya adalah tipe orang yang berpikir.
"Hm.. Pasti lagi mikir, dahlah nanti juga cerita" ujar Fian berbicara sendirian.
Tiba-tiba saja Mahija berdiri, membuat Fian yang ada di ranjang seberang terperanjat kaget. Ia melirik dari atas ranjang, kemana abangnya itu pergi.
"Hati-hati" teriaknya.
"Ndan, mau kemana ndan? " tanya seorang prajurit yang berlawanan arah dengan Mahija, namun pertanyaan dan sapaan tersebut tidak digubris sama sekali.
Fian yang sudah berdiri di ambang pintu barak asrama, langsung memasang wajah datar.
"Sorry ya, ndan kalian lagi mumet kepalanya itu. Gua aja sebagai adiknya dikacangin juga" jelas Fian yang kembali masuk ke dalam barak.
Prajurit tersebut hanya menganggukkan kepalanya pertanda ia mengerti, Mahija kembali ke parkiran dan masuk ke dalam mobilnya. Ia melajukan mobilnya secepat mungkin di area asrama, hingga membuat beberapa prajurit langsung sigap membuka gerbang.
"Siang ndan!! " hormat beberapa prajurit yang sedang berjaga, Mahija hanya membalas dengan membunyikan klakson mobilnya.
***
Laki-laki itu berjalan sendirian menuju sebuah rumah yang menjadi tujuannya, sepatunya terhenti tepat di depan sebuah gerbang. Melihat ke halaman rumah yang sepi, tidak ada tanda-tanda ada seseorang di dalam rumah. Semuanya tertutup rapat, tidak ada celah untuk melihat ke dalam rumah.
Ia kembali berjalan meninggalkan rumah tersebut, namun baru beberapa langkah ia mendengar suara tangisan. Ia meyakinkan diri untuk memeriksa rumah tersebut, suara rintihan tangis semakin terdengar jelas dari dalam rumah.
Tok tok tok
Laki-laki itu mengetuk rumah tersebut, suara tangisan yang terdengar tadi juga lenyap seiring ia mengetuk pintu rumah tersebut. Tidak ada jawaban dari dalam sana, apakah pendengaran nya salah.
"Letnan!! " panggil seseorang dari arah belakang dirinya. Mahija langsung memutar arah tubuhnya menghadap ke seseorang yang memanggilnya barusan.
"Oh Assalamu'alaikum bu Kades" Sapa Mahija yang berjalan mendekat ke arah bu Kades yang baru saja melewati pagar.
"Waalaikumsalam, sedang apa Letnan disini? "
"Cuma mau bertemu dengan Mahika"
"Avisa tidak dirumah" Bohong bu Kades.
Nyatanya perempuan itu sedang berada dirumah dengan menahan sakit, bu Kades terpaksa berbohong karena Avisa yang meminta nya untuk melarang siapapun untuk datang kerumahnya termasuk anak-anak yang ada di desa.
"Tapi saya dengar tadi ada seseorang didalam rumah Mahika, apakah itu dia? "
"Avisa sedang berada di luar kota, ada kegiatan relawan bersama teman-teman nya. Saya kesini cuma mau bersih-bersih rumah Avisa." Jeda bu Kades. "Ini kunci rumah nya" Menunjukkan sebuah kunci rumah yang ada di tangan nya.
"Kalau begitu saya titip ini bu, berikan pada Mahika saat ia pulang nanti. Tolong ya bu" Memberikan sebuah bungkusan paperbag berwarna putih yang berada di tangannya.
"I-iya"
"B-baiklah kalau begitu saya pamit pulang bu, Assalamu'alaikum" ucap Mahija lalu pergi begitu saja tanpa sekali pun bertemu dengan Mahika.
Mahija ingin memastikan sekali lagi, apakah dugaannya benar atau tidak tentang wanita yang ia temukan di depan markas jam 2 pagi kemarin. Mahija kembali menyetir dengan diam menuju asrama, ia tidak terlalu banyak berbicara sesampainya di asrama. Matanya sendu menatap layar ponselnya, pukul 21.04 tertulis dilayar ponselnya.
Suasana asrama saat ini sepi karna adanya sosialisasi kepada prajurit-prajurit yang bertinggal di asrama, Mahija duduk di tepi ranjangnya menatap ke pintu lemari dengan tatapan kosong.
"Sepertinya harus diselidiki.. " ujarnya berbicara pada diri sendiri.