mengira tanda tangan di atas meterai itu adalah tiket emas menuju karier impiannya. Namun, ia salah besar. Akibat kurang teliti membaca pasal demi pasal, Silla justru terjebak kontrak kerja mutlak dari Sagara , sang CEO tampan sekaligus mantan pacar yang paling ingin ia hapus dari sejarah hidupnya.
bagi Silla, menghadapi Sagara bukan sekadar urusan profesional. Sagara adalah mantan kekasihnya-pria yang pernah mengisi hatinya, sebelum hubungan mereka berakhir dengan penuh gengsi.
Sebagai sekretaris, Silla yang memiliki sumbu pendek dan gampang emosi dipaksa harus selalu sigap melayani kebutuhan Sagara. Celakanya, Sagara tahu persis di mana tombol "emosi" Silla berada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon manggiskaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4.
Setelah seharian memeras energi di perusahaan yang dipimpin oleh mantan kekasihnya, Sila akhirnya bisa bernapas lega. Malam ini adalah waktu untuk me-time, sebuah ritual wajib untuk menyembuhkan lelah fisik dan batinnya.
Begitu sampai di kamar kosan yang ia tempati, Sila langsung mengganti pakaian kerja yang kaku dengan piyama satin yang longgar dan nyaman. Ia menyalakan AC, meredupkan lampu kamar, dan menghidupkan televisi. Layar kaca langsung menampilkan aplikasi streaming drama Korea favoritnya yang sempat tertunda beberapa episode.
Baru mulai 10 menit,emosi nya kembali muncul.
Ia berdiri dan mematikan televisi serta laptop nya yang menampilkan adegan drama kemudian,
Sila menghempaskan tubuhnya ke kasur empuk kamar kosnya. Kepalanya masih berputar memikirkan kejadian gila hari ini. Sambil menghela napas panjang, ia merogoh tasnya dan membuka kunci layar HP-nya.
Tanpa berpikir dua kali, ia langsung menekan kontak dengan nama "Hana Sahabat Unyil" dan melakukan panggilan suara. Setelah deringan kedua, panggilan langsung diangkat.
"WOI! Tumben telepon jam segini? Gimana hari pertama jadi asisten CEO? Pasti mewah ya, makan siang gratis?" suara cempreng hana langsung menyambar dari seberang telepon.
Sila memijat pangkal hidungnya, suaranya terdengar lemas. "Han... lo enggak bakal percaya apa yang baru aja terjadi sama hidup gue hari ini."
"Kenapa? Lo numpahin kopi ke jas bos lo? Atau lo salah jadwalin rapat?" canda hana sambil tertawa kecil di sana.
"Lebih parah dari itu," bisik Sila dramatis. "CEO baru di perusahaan tempat gue kerja... itu gara."
Hening sesaat di seberang telepon, sebelum akhirnya hana merespon. "Gara? Gara siapa?gara mantan lo yang lo putusin waktu sma?yang buat lo nangis berhari hari itu?"
"Iya,han! Mantan terindah sekaligus mantan paling menyebalkan di hidup gue! Sekarang dia jadi bos gue! Bayangin, gue harus catat jadwal dia, ambilin dia minum, dan parahnya lagi, dia tadi senyum ngeledek banget pas tahu gue asistennya!" seru Sila dengan nada yang terdengar sangat begitu frustrasi, ia menutupi wajahnya dengan bantal
Bukannya ikut prihatin, tawa hana justru pecah menggelegar di telepon.
"HAHAHA! Demi apa?! Sumpah, semesta emang suka bercanda ya!" Maya tertawa sampai terbatuk-batuk. "Wah, Sila, ini sih namanya plot twist sinetron fiksi! Dari asisten pribadi, jangan-jangan nanti berubah jadi asisten hati?atau malah nanti jadi istri?"
"Hana!!!Gue serius, ini bencana buat kehidupan gue! Masa gue harus profesional tapi muka dia bikin gue pengen resign hari ini juga!" gerutu Sila dengan kesal
"Aduh Sila, dengerin gue," kata Hana, masih dengan sisa-sisa tawanya. "Gini aja, besok pas lo anterin kopi ke ruangannya, lo puter lagu 'Mantan Terindah'-nya Raisa lewat HP lo. Biar sekalian nostalgia di kantor kerjaannya. Siapa tahu gaji lo langsung dinaikin 10 kali lipat karena uang damai masa lalu!"
"Saran lo sama sekali enggak membantu rehana gabriella!!!" Sila mendengus, namun sudut bibirnya akhirnya ikut tersenyum mendengar candaan sahabatnya itu. Rasa tegangnya perlahan mulai mencair,emosi nya mulai hilang..mood nya juga perlahan kembali lagi.
"Udah ah jangan badmood begitu,Nanti hari sabtu lo libur kan?kita jalan jalan oke,gue traktir"ucap hana .
//////
Sila membuang tisu bekas air mata nya,sungguh
Hati mungil nya ini gampang sekali baper hanya dengan melihat adegan tersiksa sang pemeran
Utama di Drama yang ia tonton,tanpa sengaja
Air mata nya jatuh begitu saja.
Maklum sifat nya yang memang seperti bunglon,gampang berubah tergantung cuaca.
dering ponsel miliknya terdengar begitu nyaring.Silla melihat nya dari kasur tanpa niat mengambil ponsel nya yang saat ini ada di meja
Namun dering itu tak kunjung berhenti.Dengan
Ogah ogahan silla bangun dari kasur kemudian
ia langsung menekan tombol hijau panggilan dengan nama kontak "Ayah" dan melakukan panggilan suara. panggilan langsung tersambung.
"Halo, Sila? Kamu lagi di mana? Bisa ke rumah Ayah sekarang? Ada yang mau Ayah bicarakan, penting."Itulah suara yang langsung terdengar saat panggilan masuk
"Apalagi sih, Yah? Sila lagi sibuk! Gak bisa apa sehariiii aja gak nyuruh-nyuruh Sila? Emang ada urusan apa sih mendadak banget?"ia bicara dengan nada tinggi dan malas
Ayah: "Ini soal urusan keluarga kita, Sila. Kamu ke sini dulu, ya? Kita ngobrol baik-baik."
"Bentar, bentar. Suara Ayah kok kayak bisik-bisik gitu? Ah, Sila tahu nih. Pasti di sana lagi ada si Lampir sama anak kesayangannya itu kan?!"
Balas silla dengan nada penuh kesal.
"Sila, jaga bicaramu. Mereka itu Ibu dan adikmu sekarang. Mereka cuma mau—"
S "Gak sudi ya Sila anggap mereka keluarga! Ayah tuh yang matanya udah ketutup sama kepalsuan mereka! Pasti mereka lagi ngerencanain sesuatu kan buat nyari muka di depan Ayah? Tahu gak, denger nama mereka aja udah bikin Sila naik darah!"silla memotong sebelum ayah nya selesai bicara .
"Sila! Cukup! Pokoknya Ayah tunggu kamu di rumah sekarang. Jangan membantah."
"emang nya silla peduli!"
Bipp
Ia mematikan telpon secara sepihak,kemudian memencet layar bagian atas dengan tulisan blokir setelah itu ia mematikan ponsel nya.
∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆
Suara berisik dari tetangga kos membuat silla yang tertidur pulas terganggu,gadis berambut caramel itu membuka mata nya,ia meraih ponsel yang ada di dekat kasur kemudian membuka nya
Sila menatap layar ponselnya dengan horor. Jarum jam menunjuk angka 08.45 WIB.
Batas masuk kantor adalah jam 08.00 tepat. Sebagai asisten pribadi dari CEO PT DERIOS PRANANTA. keterlambatan adalah dosa besar. Sialnya lagi, CEO dari perusahaan itu adalah—mantan pacarnya yang super rese, perfeksionis, dan gemar mencari kesalahannya. Suasana hati (mood) Sila langsung anjlok ke titik nadir pagi ini.
Ia langsung bangun dan masuk ke kamar mandi Tanpa sempat mandi lama-lama ia langsung memakai pakaian nya di kamar mandi, ia langsung menyambar kemeja acak, memoles bedak seadanya, dan memesan ojek online dengan panik.
Sepanjang perjalanan, jantungnya berdegup kencang. Bukan hanya karena takut dipotong gaji, tetapi karena ia harus menghadapi CEO rese di kantornya. Sialnya dia adalah mantan pacar silla Hubungan mereka dulu berakhir dengan tidak baik, dan takdir dengan kejam mempertemukan mereka kembali setelah 6 tahun tidak bertemu dalam hubungan atasan dan bawahan.
Begitu melangkah masuk ke area kantor pada pukul 09.20 WIB,karena macet. suasana mendadak hening. Silla mencoba mengendap-endap ke ruangan nya yang tepat berada di sebelah ruangan ceo baru saja ia mau sampai di kursi nya....tiba tiba suara dehaman berat dari arah belakang langsung menghentikan langkahnya.
"Bagus sekali, Saudari silla! Jam kerja dimulai jam 8, dan kamu baru menampakkan cangkang kamu jam setengah sepuluh?" tanya sagara dengan nada dingin dan ketus, ia menatap silla dari belakang sambil bersedekap dada dengan setelan jasnya yang rapi tanpa cela sedikit pun.
Silla membalikkan badan, mencoba tersenyum profesional meski dalam hati ingin menghilang saat ini juga. "Maaf, Pak Sagara. Saya kesiangan karena tadi malam badan saya kurang sehat"
Arkan menaikkan satu alisnya, menatap Silla dengan tatapan meremehkan yang amat familier. "Alasan klasik. Karena kamu punya energi lebih untuk bangun siang, artinya kamu punya energi lebih untuk bekerja ekstra hari ini."
Silla menghela nafas berat.
Arkan kemudian mengisyaratkan asistennya-kevan yang berdiri di belakang. Sang asisten langsung membawa tiga tumpukan map tebal berisi berkas audit fisik dan laporan ekspor-impor tiga tahun terakhir, lalu meletakkannya di atas meja silla hingga menimbulkan suara dentuman keras.
"Ini semua tugas kamu hari ini. Saya minta rangkuman, analisis rasio, dan koreksi datanya selesai sebelum jam 5 sore. Jangan pulang sebelum ini rapi di meja saya," ujar sagara dengan senyum sinis yang sengaja dibuat-buat.
Siska menatap tumpukan kertas yang tingginya hampir menyamai layar komputer nya itu dengan pasrah. Mantannya itu benar-benar memanfaatkan posisinya sebagai CEO untuk mempersulit hidupnya.
Sial.
"Ada pertanyaan, sill? Atau kamu mau bernostalgia tentang betapa tidak disiplinnya kamu sejak dulu?" sindir sagara lagi sebelum berbalik menuju ruangannya yang mewah.
Silla menarik napas dalam-dalam, mengepalkan tangannya di bawah meja, dan berbisik ketir, "Dasar mantan rese!"
Mau tidak mau,ia langsung duduk di kursi lalu langsung menyalakan komputer ,mulai berkutat dengan gunungan tugas di hadapannya demi mempertahankan pekerjaannya.