Demi memenuhi permintaan terakhir Dewi—sahabatnya yang berjuang melawan kanker—Gladys rela menikahi Raka, suami Dewi. Namun, pernikahan tanpa cinta itu membawanya pada kesepian mendalam, sebab hati Raka tetap tertambat sepenuhnya pada almarhumah istrinya.
Mencari pelarian dari rumah tangga yang hampa, Gladys membuka sebuah kafe. Di sana, ia bertemu dengan Praduta, seorang pria berparas tampan yang mengagumi kopi buatannya. Di balik kesan pertama yang sekilas penuh godaan, Gladys melihat ketulusan dalam diri Praduta. Kedekatan yang hangat itu perlahan berubah menjadi benih-benih cinta—sebuah perasaan yang tak seharusnya hadir di tengah ikatan pernikahannya.
Namun, Gladys tidak menyadari bahwa Praduta menyimpan rahasia kelam: kehadiran pria itu bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari dendam masa lalu terhadap keluarga Raka. Kini, Gladys terjebak di persimpangan jalan yang menyiksa—harus memilih antara kesetiaan pada janji pernikahan atau cinta terlarang yang memberi kebahagiaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Gladys melangkah maju, napasnya memburu dan tersengal di udara malam yang dingin.
Sepatunya berdecit kaku menapak aspal jembatan yang masih basah sisa gerimis.
"Pra! Hentikan, Pra!" jerit Gladys dengan suara bergetar hebat, air matanya pecah seketika saat melihat kilatan tajam mata pisau yang menempel ketat di kulit leher Praduta.
"Aku sudah di sini! Tolong turunkan pisaumu!"
Praduta perlahan memutar tubuhnya. Cahaya temaram dari lampu jalanan yang berkedip di atas jembatan menyorot wajahnya yang separuh membiru akibat luka bertarung.
Seringai tipis dan mengerikan terukir di bibirnya yang robek, menciptakan pemandangan yang begitu mengintimidasi.
"Kamu datang, Gladys." bisik Praduta dengan nada rendah yang menusuk, sama sekali tak menurunkan pisaunya.
"Aku tahu kamu tidak akan biarkan aku mati. Karena kamu tidak sanggup hidup dengan rasa bersalah itu seumur hidupmu."
"Kamu gila, Pra! Kamu cuma gila!" teriak Gladys memelas, memotong jarak sedikit demi sedikit dengan jemari yang terulur gemetar.
"Kenapa kamu terus melakukan ini padaku?! Aku ini istri Raka, Pra! Bisakah kamu biarkan aku tenang?!"
Mendengar nama Raka keluar dari bibir Gladys, mata Praduta mendadak membara oleh amarah yang destruktif.
Ia memajukan langkahnya secara tiba-tiba, membuat Gladys tersentak mundur karena kaget.
"Istri Raka?!" bentak Praduta, suaranya menggelegar menembus keheningan malam.
"Kamu tidur di sampingnya, menerima dekapannya, tapi hatimu milikku, Gladys! Kamu berbohong pada dirimu sendiri! Kamu membohonginya, dan kamu membohongiku!"
"Bukan begitu—"
"Lalu kenapa kamu ada di sini jam sebelas malam?!" potong Praduta tajam, mencengkeram lengan Gladys dengan tangan kirinya yang bebas, sementara tangan kanannya masih menggenggam pisau.
"Kalau kamu benar-benar memilihnya, kenapa kamu tinggalkan ranjang hangat suamimu cuma untuk lari mengejarku ke jembatan ini?!"
Napas Gladys tercekat. Pertanyaan itu menghantamnya bagai batu besar yang meremukkan pertahanan batinnya.
Ia terpaku kaku dalam cengkeraman Praduta, menatap lekat-lekat mata pria itu yang sarat akan kepedihan, kebencian, dan obsesi yang nyaris membunuhnya secara perlahan.
"Jawab aku, Gladys!" desis Praduta tepat di depan wajahnya, matanya menuntut pengakuan yang bisa menghancurkan segalanya.
Pertahanan terakhir di dalam diri Gladys runtuh seketika.
Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah begitu deras, membasahi pipinya yang pucat.
Rasa lelah, rasa bersalah, tekanan batin, dan ketakutan yang mencekik selama berhari-hari melebur menjadi satu ledakan emosi yang luar biasa.
"Iya! Aku gila, Praduta!" teriak Gladys histeris di hadapan pria itu, suaranya parau dan bergetar hebat.
"Kamu puas?! Ya, aku memang memikirkanmu! Aku tersiksa setiap kali aku mencoba menjadi istri yang baik untuk Raka, sementara bayang-bayangmu tidak pernah mau pergi dari kepalaku! Aku benci diriku sendiri karena tidak bisa melupakanmu, Pra!"
Praduta tertegun. Cengkeraman di lengan Gladys mengendur seketika mendengar pengakuan jujur dan kepedihan yang tumpah dari bibir wanita itu.
Seringai kemenangan yang kelam perlahan merekah di bibirnya.
Kilatan liar di matanya mereda sesaat, digantikan oleh rasa kemenangan yang kelam namun membuncah di dadanya.
Tanpa diduga, Praduta melempar pisau di genggamannya hingga benda tajam itu terpental jauh dan jatuh membentur aspal jembatan.
Dalam satu gerakan cepat, ia menarik tubuh Gladys ke dalam dekapannya, merengkuhnya begitu erat seolah ingin menyatu dengan jiwa wanita itu.
"Ayo kita pergi dari sini, Gladys," bisik Praduta penuh desakan tepat di dekat telinga wanita itu, suaranya sarat akan obsesi yang mendalam.
"Tinggalkan semuanya. Tinggalkan Raka, tinggalkan keluarga Devandra. Kita mulai hidup baru berdua, jauh dari sini."
Mendengar ajakan gila itu, Gladys tersentak. Ia meronta kecil dari pelukan Praduta, mendongakkan wajahnya dengan mata yang sembab dan penuh keputusasaan.
"A-aku tidak bisa, Pra." Gladys menggelengkan kepalanya dengan liar, menolak bayangan kehancuran yang terpampang di depan matanya.
"A-aku sudah menikah. Aku tidak mungkin meninggalkan semuanya begitu saja."
Praduta mengeratkan dekapannya, enggan melepaskan wanita itu walau sedetik pun.
Jemarinya mencengkeram pundak Gladys, memaksa wanita itu untuk menatap lurus ke dalam matanya yang memohon.
"Gladys, aku mohon." ucap Praduta dengan suara berubah melembut, namun justru terdengar semakin menakutkan karena begitu sarat akan keputusasaan.
"Jangan pedulikan mereka. Aku mencintaimu, Gladys. Hanya kamu yang aku punya di dunia ini."
Gladys memalingkan wajahnya, menolak menatap mata Praduta yang memancarkan intensitas berlebihan.
Tangannya yang gemetar mendorong dada Praduta dengan sisa tenaga yang ia miliki, berusaha menciptakan jarak di antara mereka.
"Pra, dengar," bisik Gladys dengan suara parau, menahan napas agar isakannya tak kembali pecah.
"Kita baru beberapa hari mengenal. Dan seharusnya pagi tadi aku tidak membalas ciuman kamu. Itu kesalahan besar. Aku hanyut, Pra, tapi itu tidak benar!"
Bukannya marah atau mundur, Praduta justru menipiskan bibirnya.
Sebuah senyum kecil terukir di wajahnya yang dihiasi lebam—senyuman tipis yang terasa begitu samar, penuh misteri, namun sarat akan keyakinan gila.
"Beberapa hari?" keluh Praduta pelan, suaranya seperti bisikan angin malam yang dingin.
Ia melangkah maju menyempitkan kembali jarak yang coba diciptakan Gladys.
Jemari Praduta bergerak lembut menyentuh dagu Gladys, memaksa wanita itu kembali menatapnya.
"Lalu kenapa kalau baru beberapa hari, Gladys?" tanya Praduta dengan nada halus namun menuntut, seolah rentang waktu sama sekali tak berarti baginya.
"Rasa ini tidak butuh waktu bertahun-tahun untuk tumbuh. Aku mencintaimu sejak awal, sejak detik pertama aku melihatmu."
Gladys membeku. Sorot mata Praduta yang begitu pekat dan penuh obsession membuat bulu kuduknya berdiri.
Di tengah kesunyian jembatan tua itu, Gladys merasa seolah sedang berdiri di tepi jurang yang siap menelannya bulat-bulat, tanpa ia menyadari alasan sebenarnya di balik badai yang dibawa oleh pria di hadapannya ini.
Sentuhan jemari Praduta di dagunya terasa membakar kulit Gladys.
Wanita itu menelan salivanya dengan susah payah, tenggorokannya tercekat oleh rasa takut dan kebingungan yang bercampur aduk.
Pengakuan itu terasa begitu nyata, terlalu intens, hingga membuat akal sehat Gladys seakan lumpuh.
"Kamu, gila, Pra," cicit Gladys gemetar, suaranya nyaris tak terdengar tertelan oleh suara angin malam di atas jembatan.
Praduta tidak menampik. Ia justru mendekatkan wajahnya, membiarkan dahi mereka nyaris bersentuhan.
Napas hangat Praduta bergesekan dengan kulit Gladys, membawa aroma maskulin yang bercampur dengan bau malam yang basah.
"Ya, aku gila," bisik Praduta serak, tatapannya menembus manik mata Gladys tanpa berkedip.
"Dan, kewarasanku satu-satunya cuma kamu, Gladys. Jadi, jangan pernah minta aku untuk melepaskanmu."
Mendengar bisikan mutlak itu, alarm bahaya berteriak kencang di kepala Gladys.
Sentuhan tangan Praduta di dagunya tiba-tiba terasa seperti jeratan tali yang siap mencekiknya mati.
Sekelebat kesadaran menyentak batinnya: pria di hadapannya ini sudah melewati batas kewarasan, dan ia tidak boleh tinggal di sana sedetik pun lagi.
Seketika, tatapan mata Gladys berubah panik. Di ujung jalan dekat jembatan, sorot lampu kuning sebuah taksi yang kebetulan melintas tampak membelah kegelapan malam.
Tanpa membuang waktu, Gladys menepis kasar tangan Praduta dari dagunya.
Ia melompat mundur, lalu berlari sekencang-kencangnya menuju tepi jalan sambil melambaikan tangan dengan liar.
"Taksi, berhenti!" teriak Gladys parau, napasnya tersengal-sengal.
Begitu taksi itu menepi dan membuka pintu, Gladys langsung melompat masuk ke kursi belakang tanpa menoleh ke belakang lagi.
"Jalan, Pak! Cepat jalan ke perumahan." titah Gladys dengan suara bergetar hebat, air matanya tumpah begitu saja saat melihat dari kaca spion belakang bahwa Praduta hanya berdiri terpaku di tengah jembatan, menatap tajam kepergiannya dalam senyap.
Di bawah sorot lampu jalan jembatan yang temaram, Praduta tidak mengejar. Ia tidak berteriak ataupun marah.
Pria itu hanya berdiri terpaku di tepi aspal yang basah, menatap bayangan mobil taksi yang membawa Gladys melesat menjauh hingga akhirnya menghilang di balik tikungan jalan.
Alih-alih putus asa, bibir Praduta perlahan tertarik ke atas, membentuk sebuah senyuman mengerikan yang menyayat malam.
"Pergilah kembali ke pelukannya malam ini, Gladys." bisik Praduta pelan pada angin kosong, suaranya sarat akan ancaman dingin yang mematikan.
"Aku tidak akan membiarkanmu hidup tenang bersama Raka, sayang."
Taksi yang membawa Gladys melaju kencang, membelah jalanan kota yang lengang di tengah kepekatan malam.
Di dalam kabin yang temaram, Gladys meringkuk di sudut kursi belakang.
Napasnya masih memburu, dadanya naik-turun menahan sisa-sisa kepanikan, sementara air matanya terus menetes tanpa bisa dicegah.
Apa yang sebenarnya sedang aku lakukan? batinnya menjerit penuh penyesalan.
Ia tahu ia baru saja bermain api dengan seseorang yang jiwanya sudah retak.
Ancaman Praduta sebelum ia tadi berlari masih menggema di kepalanya, menciptakan rasa teror yang membekukan darah.
Tak lama kemudian, taksi tersebut tiba di depan gerbang besar perumahan kediaman Devandra.
Gladys segera membayar ongkosnya dengan tangan gemetar, lalu turun tepat di seberang gerbang utama.
Beruntung, pos satpam tampak lengang dan penjaga malam sedang tertidur pulas di dalam.
Dengan langkah hati-hati dan jantung yang berdegup kencang, Gladys menyelinap masuk melewati pintu samping rumah yang memang tidak dikunci rapat.
Ia berjalan berjinjit menaiki tangga menuju kamar utamanya, berdoa dalam hati agar Raka masih terlelap dalam tidurnya.
Pintu kamar terdorong pelan. Ruangan itu masih gelap gulita.
Gladys menghela napas panjang penuh kelegaan saat melihat gundukan selimut di atas ranjang masih menunjukkan posisi yang sama seperti saat ia tinggalkan.
Raka masih tidur membelakangi posisinya, napasnya terdengar teratur.
Tanpa bersuara, Gladys melepas mantelnya, merayap naik kembali ke atas ranjang, dan membaringkan tubuhnya yang lemas di sisi Raka.
Ia menarik selimut hingga menutupi dagunya, mencoba memejamkan mata dan mengatur napasnya agar terlihat senatural mungkin jika suaminya sewaktu-waktu terbangun.
Namun, Gladys tidak tahu jika bahwa di kamar terpisah di ujung koridor lantai dua, mata Papa Devandra terbuka lebar dalam kegelapan.
Pria paruh baya itu sama sekali tidak tidur setelah melihat menantunya pergi tengah malam tadi. Dan kini, pikirannya dipenuhi oleh satu pertanyaan besar yang siap meledak kapan saja.