"Kamu menghancurkan mimpiku demi ambisimu, dr. Naya. Sekarang, giliran aku yang akan menghancurkan segalanya darimu."
Tujuh tahun lalu, Aksa Dirgantara dibuang secara tak hormat dari fakultas kedokteran akibat sebuah skandal kelam. Ia kehilangan masa depan, harga diri, dan wanita yang paling dicintainya, Naya—yang ia yakini telah memfitnahnya demi merebut satu-satunya kuota beasiswa spesialis bedah ke luar negeri.
Kini, Aksa kembali. Bukan lagi sebagai pria yang bermimpi memakai jas putih, melainkan sebagai CEO miliarder dingin dan tak kenal ampun yang baru saja mengakuisisi rumah sakit tempat Naya bekerja. Niat Aksa hanya satu: menghancurkan karir gemilang Naya yang kini telah sukses menjabat sebagai Kepala Bedah, dan memaksanya berlutut di bawah kakinya.
Siksaan demi siksaan diberikan. Aksa mencekiknya dengan jadwal operasi yang mustahil, tekanan dari para direksi, dan hinaan yang menggores harga diri. Namun, betapapun kerasnya Aksa menyiksa, Naya tetap berdiri tegak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3.Pisau yang Tumpul
"Minggir," usir Aksa dengan nada suara datar nan mematikan, tepat setelah ia membisikkan ancaman kejam itu di telinga Naya.
Pria itu melepaskan tangannya dari pintu kayu dan melangkah pergi begitu saja, membiarkan aroma parfumnya tertinggal di udara. Ia meninggalkan Naya yang masih berdiri kaku, gemetar menahan napas di dalam ruangan kosong itu.
Dada Naya naik-turun dengan cepat. Ancaman Aksa bukan sekadar gertakan sambal, pria itu benar-benar kembali untuk mencabut nyawanya pelan-pelan.
Baru saja Naya memutar kenop pintu untuk lari dari sana, ponsel di saku jas putihnya berdering nyaring memecah kesunyian. Panggilan darurat dari IGD.
"Naya, pasien korban kecelakaan tol masuk lagi! Pendarahan dalam, limpa pecah. Kami butuh kamu di ruang bedah sekarang juga!" seru Dokter Hendra panik dari seberang panggilan.
"Aku turun sekarang. Siapkan ruang operasi nomor dua," jawab Naya tegas. Insting dokternya seketika menendang semua ketakutannya pada Aksa. Tidak ada waktu untuk menangisi nasib saat ada nyawa yang sedang sekarat di atas meja.
Tujuh jam berlalu tanpa ampun di bawah sorot lampu yang menyilaukan. Naya berdiri tanpa henti, menjahit dan menghentikan pendarahan.
Setelah berhasil menjahit robekan limpa pasien pertama dan memastikan kondisinya stabil, Naya bahkan belum sempat melepas masker bedahnya saat Suster Rina berlari-lari masuk membawa kabar buruk.
"Dokter Naya, pasien dari ruang resusitasi dengan usus buntu pecah sudah siap di meja operasi tiga. Tekanan darahnya terus turun drastis!" lapor perawat itu dengan wajah tegang.
"Cuci ulang tanganku, siapkan gaun steril baru!" perintah Naya keras.
Tiga jam berlalu lagi untuk operasi kedua. Naya menyandarkan punggungnya yang terasa mau remuk di wastafel ruang transisi.
Matanya memerah pedih, napasnya terasa berat dan putus-putus. Perutnya berbunyi perih karena belum terisi makanan satu suap pun sejak awal pergantian sif. Air dingin yang mengalir dari keran terasa menusuk tulang saat ia mencuci wajahnya.
"Ini benar-benar gila, Naya!" Dokter Hendra melempar sarung tangan karetnya ke tempat sampah medis dengan kasar. "Kamu sudah menangani dua operasi besar berturut-turut sendirian tanpa jeda. Aksa benar-benar mau membunuhmu! Aku tidak bisa diam saja melihat pimpinan bertingkah semena-mena, aku akan menelepon manajemen dan protes sekarang juga."
Naya bergerak cepat menahan lengan rekan sejawatnya itu. "Jangan bertindak bodoh, Hendra. Kamu mau dipecat detik ini juga? Aksa sedang mencari celah sekecil apa pun untuk menghancurkan departemen kita. Jangan beri dia jalan mudah untuk merusak karir kalian."
"Tapi fisikmu ada batasnya, Naya! Kamu manusia biasa! Kamu bisa kolaps kalau dipaksa begini terus!" bantah Dokter Hendra dengan suara tinggi karena frustrasi.
"Aku masih bertahan," potong Naya keras kepala, menatap tajam kedua mata temannya. "Dengar aku baik-baik. Jangan ada satu pun dari kalian yang berani melawan aturan Aksa atau kalian semua akan kehilangan pekerjaan. Biar aku saja yang menanggung hukuman gilanya ini."
Belum sempat Dokter Hendra membalas, pintu otomatis ruang transisi terbuka lebar. Suster Rina kembali muncul dengan wajah jauh lebih pucat dari sebelumnya, napasnya tersengal-sengal.
"Dokter Naya, maafkan aku. Ada pasien trauma dada akibat tusukan benda tajam baru masuk. Kondisinya sangat kritis. Semua dokter bedah lain sedang sibuk menangani sisa korban kecelakaan. Hanya Dokter yang tersisa di jadwal."
Naya memejamkan mata rapat-rapat, mengumpulkan sisa-sisa kewarasannya yang nyaris habis tak bersisa. "Siapkan pisau bedahku, Rina. Aku segera masuk."
Lampu operasi kembali menyorot tajam. Naya berdiri tegak di depan pasien ketiga. Keringat dingin sebesar biji jagung mengucur deras dari pelipisnya. Saat asisten bedah menyerahkan alat medis ke tangannya, Naya terkesiap pelan di balik maskernya.
Ujung pisau bedah itu bergetar hebat di udara.
Jari-jemarinya kram dan mati rasa karena terus-menerus membedah jaringan tubuh belasan jam tanpa henti.
Otot tangannya menolak diajak bekerja sama, seolah urat-uratnya sudah kaku menjadi batu.
"Dokter, tanganmu gemetar parah," tegur Suster Rina cemas saat melihat ujung pisau itu nyaris meleset dari titik bedah. "Biar Dokter Hendra yang ambil alih sebagian tugas ini secara diam-diam. Dokter harus istirahat."
"Tidak boleh," desis Naya tajam. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga terasa asin darah. Aksa melarang keras adanya asisten tambahan untuk kasus berat. Ia tidak akan membiarkan pria arogan itu menang dan memecat anggota timnya hanya karena laporan pelanggaran aturan.
Naya mencengkeram gagang pisau bedah itu kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih pasi, memaksa ototnya yang memberontak untuk tunduk. "Fokus pada monitor tekanan darah pasien. Aku yang akan menyelesaikannya sendiri."
Dengan sisa tenaga terakhir yang dimilikinya, Naya menahan napas dan memfokuskan pandangannya yang mulai berkunang-kunang. Ia menyelesaikan sayatan dan menjahit luka fatal pasien dengan rapi meski seluruh saraf di tubuhnya berteriak kesakitan menuntut istirahat.
Saat monitor jantung kembali berdetak dengan ritme teratur dan operasi dinyatakan selesai, pertahanan fisik Naya benar-benar runtuh seketika.
Naya berjalan gontai keluar dari ruang operasi, melepas maskernya dengan tangan bergetar hebat. Lorong rumah sakit yang sepi mendadak terasa berputar sangat kencang. Matanya mengabur. Lantai putih mengilap di bawahnya seakan bergelombang memusingkan.
Lutut Naya lemas tak bertulang. Ia kehilangan keseimbangan sepenuhnya dan tubuhnya limbung jatuh ke depan.
Namun, sebelum wajah pucatnya menghantam lantai keras, sepasang tangan kekar terulur sangat cepat dan menangkap pinggangnya dengan gerakan kasar.
Tubuh Naya menabrak dada bidang yang terasa sekeras batu.
Aroma parfum maskulin yang sangat tajam dan familiar langsung menusuk penciumannya, memicu panik dan membuat jantung Naya kembali berdetak kencang dipenuhi rasa takut.
semoga km bisa sembuh kembali ,, rasa sakit ini akan terbayar dg kembali ny tangan mu yg berfungsi dg normal
si bima jgn sampe kluar lagi dr penjara ,, biarin bocah tantrum tu duduk manis di penjara selama-lamanya 😏
koq gx ngundang2🤔
pijat aja semua...obatin aja...kalo perlu operasi jg sendiri...dokter lain mah cm remahan peyek...serah lu dah...gw yg cm baca tapi pengen nyakar lu Aksa 😤
mau liat Naya cepat sembuh gx ,, cemburu ny simpan dlu di kantong celana pak bos ,,
..yg bikin kek gini sapa cobak??? trus skrg butuh tenaga fisioterapi msh jg dicemburuin??? mau kau apa Bambang???😤😤😤
cerita ny seruuu ,,
semoga Naya bisa sembuh lgi tangan ny ,,
lanjuuut kak