"Kamu yang menginginkan pernikahan ini. Jadi jangan salahkan aku setelah aku tidur denganmu. Besok aku akan menikah dengan wanita yang aku cintai!"
Kalimat itu bagaikan petir yang menyambar hatiku. Ijab kabul baru saja dilontarkan oleh lelaki yang kucintai sejak dulu, Danu Saliyo.
Aku tidak pernah menyangka, menjadi istrinya justru membuatku harus berbagi suami dengan wanita yang dicintainya.
Hingga akhirnya aku memilih berhenti mencintai Danu.
Namun, semua tak berjalan sesuai keinginanku, sekarang waktunya ia mengejarku.
Bagaimana cerita selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Permintaan Talak
Pada akhirnya, apa yang aku inginkan bisa kudapatkan. Belinda memohon restu dariku untuk menjadi istri kedua Danu. Sungguh, takdir benar-benar membawaku ke dalam jurang kesengsaraan. Belum genap dua puluh empat jam aku menyandang status sebagai seorang istri, kini aku sudah resmi dimadu.
Binar mataku yang sejernih embun menatap sepasang pengantin yang kini berdiri di atas panggung. Senyum terus terpancar dari bibir mereka saat para tamu undangan memberikan ucapan selamat atas pernikahan itu. Pemandangan tersebut justru membuat hatiku semakin miris.
"Kakak baik-baik saja?" tanya Ghina dengan ekspresi sedih di wajahnya.
Aku bukan tipe wanita yang suka mengumbar kesedihan dan menceritakannya kepada semua orang. Aku lebih suka menelan sendiri masalahku.
"Tentu saja. Aku cukup puas dengan keadaan seperti ini."
Ghina tahu jawabanku tentu tidak sesuai dengan keadaan hatiku saat ini. Namun, dia tidak mengorek informasi lebih jauh.
"Kalau begitu kita rayakan pesta pernikahan ini. Anggap saja Kakak yang menjadi pengantin di sini."
"Kamu bisa saja. Baiklah, adikku tersayang," ucapku disertai tawa yang sengaja kubuat semanis mungkin.
Aku terus tertawa dan sesekali ikut menyapa para tamu yang datang. Entah berapa kali aku harus memaksakan senyum agar tidak ada seorang pun yang melihat kesedihan di balik wajahku.
Dari atas panggung, aku sempat menangkap tatapan Danu yang mengarah padaku. Tatapannya terlihat semakin tajam setiap kali aku tertawa bersama Ghina.
Aku tidak tahu apa yang ada di pikirannya. Yang jelas, beberapa kali rahangnya tampak mengeras sebelum akhirnya dia kembali mengalihkan pandangan.
Waktu berlalu begitu cepat. Pesta pernikahan itu berakhir tepat saat matahari tenggelam. Setelah selesai membersihkan makeup dan berganti pakaian kasual, aku berniat segera meninggalkan hotel bintang lima ini. Aku tidak ingin mengganggu malam pertama Danu dan Belinda. Namun, baru beberapa langkah aku meninggalkan ruangan, sebuah suara terdengar dari belakang.
"Tunggu!"
Aku menoleh mataku langsung menangkap sosok Belinda berdiri menjulang di hadapanku dengan kedua tangan terlipat di dada. Tatapannya penuh kebencian. Aku bisa menebak, maduku ini ingin melabrakku.
Suasana hatiku sedang buruk. Karena itu, setelah menatapnya sebentar, aku kembali melanjutkan langkah tanpa menghiraukannya.
Tentu saja Belinda tidak tinggal diam. Wanita yang masih mengenakan gaun pengantin lengkap itu mengejarku, lalu memegang pundakku.
"Aku bilang tunggu! Selain perebut calon suami orang, kamu juga tidak punya sopan santun. Aku heran kenapa keluarga Saliyo membesarkan benalu seperti dirimu!"
"Ada lagi yang ingin kamu katakan?" tanyaku datar. Aku sama sekali tidak berniat membalas penghinaannya.
Belinda terdiam. Sepertinya ucapannya tidak berhasil memancing emosiku. Namun, beberapa detik kemudian, dia kembali membuka mulut.
"Jalang murahan!"
"Jalang?"
Aku pura-pura berpikir sebentar sebelum menatapnya kembali. "Dengar baik-baik. Jalang ini adalah orang pertama yang berkenalan dengan Danu. Jalang ini juga orang pertama yang menjadi sahabat Danu. Apa kamu tahu, jalang ini juga orang pertama yang memakai gaun pengantin di mata Danu? Ah... ada lagi. Jalang ini juga orang pertama yang dihalalkan Danu. Yang terpenting, jalang ini orang pertama yang berada di atas ranjang Danu."
Aku sengaja memberikan jeda sebelum menyelesaikan kalimatku. "Dan kamu, wanita baik-baik... kamu hanya mendapatkan sisa."
Tangan Belinda langsung terkepal kuat. Wajahnya semakin memerah. "Ya, kamu memang orang pertama. Dan satu lagi, jalang pertama yang dimadu sebelum dua puluh empat jam!"
Sesak langsung menyelimuti rongga dadaku. Kalimat itu tepat mengenai bagian yang paling ingin kusembunyikan. Namun, aku tetap mengontrol diri. Tidak mungkin aku membiarkan Belinda melihat betapa dalam perkataannya melukaiku.
"Wah, haruskah aku mendapatkan penghargaan?"
"Dasar wanita murahan, nggak tahu diri!" pekik Belinda yang akhirnya tidak mampu lagi menahan kekesalannya.
Aku tersenyum mengejek. Tanpa banyak bicara, aku melangkah pergi meninggalkannya yang masih tersulut emosi.
"Yakk! Dinda, berhenti!"
Belinda terus berteriak memanggil namaku, tetapi tidak sekali pun aku menoleh.
***
Aku melangkahkan kaki kembali ke apartemen tempat tinggalku selama ini. Jalanan begitu ramai, tetapi entah kenapa aku merasa sangat sepi.
Sebenarnya aku bisa saja naik kendaraan untuk mencapai tempat tujuan. Namun, karena terburu-buru pergi agar tidak bertemu dengan Ghina, Saras, atau yang lainnya, aku sampai lupa membawa tas. Kini aku hanya berjalan seorang diri dengan pakaian kasual yang kukenakan setelah mengganti gaun tadi.
"Kenapa hidupku seperti ini? Aku hanya ingin meminta satu kebaikan saja dari-Mu untuk datang di hidupku. Apa aku memiliki hak itu?"
Aku menatap langit yang mulai menghitam. Tidak ada cahaya yang terlihat di sana. Mendung tengah melingkupi malam ini, mungkin sebentar lagi hujan akan turun. Dan benar saja. Tidak lama kemudian, hujan mengguyur bumi.
Aku buru-buru berteduh di halte bus sembari mengibas-ngibaskan bajuku yang mulai terkena air. Aku tersenyum kecut. Bukankah beberapa bulan ini terjadi kemarau panjang? Tapi kenapa malam ini hujan tiba-tiba datang?
"Entah aku harus bersyukur atau justru membenci hari ini," gumamku sembari menatap rintik hujan.
Cukup lama hujan mengguyur hingga perlahan mulai mereda. Setelah memastikan air yang turun tidak lagi terlalu deras, aku kembali melanjutkan perjalanan.
Tutt...
Suara klakson terdengar begitu menggema dan menyita perhatianku. Aku menghentikan langkah, lalu menoleh ke arah mobil yang berhenti tidak jauh dariku. Aku sangat mengenal plat nomornya, Danu.
Tak lama Kaca jendela mobil turun. Danu memberikan perintah dari dalam mobil.
"Masuk!"
"Tidak. Lebih baik kamu pergi dan nikmati malam pertamamu."
Rahang Danu terlihat mengeras. Dia menatapku cukup lama sebelum kembali berkata dengan nada dingin.
"Kadang aku berpikir, apa kamu sengaja melakukan ini?"
Aku sama sekali tidak paham dengan kalimatnya barusan. Meskipun Danu berkata dengan dingin, hal itu tidak membuatku takut.
"Apa kamu masih ingin diam di situ? Aku bilang masuk!"
"Aku tidak mau!" Sekali lagi aku menolak perintahnya.
Danu mengembuskan napas kasar. Entah apa yang sedang dipikirkannya, tetapi dia tampak semakin tidak sabar.
"Jadi kamu mau menolak permintaan suamimu? Ingat, surgamu ada padaku."
Aku langsung terdiam. Kalimat itu membuatku tidak punya alasan untuk terus berdiri di luar. Bagaimanapun, dia adalah suamiku. Tanpa banyak bicara, aku buru-buru masuk ke dalam mobil.
Danu terlihat tercengang. Entah apa yang membuat ekspresinya seperti itu.
"Sepertinya kamu sangat suka dengan statusmu saat ini," celetuknya.
Aku tidak menjawab.
Danu langsung menginjak pedal gas dan membawa mobil menelusuri jalanan. Namun, beberapa saat kemudian aku menyadari arah mobil ini bukan menuju apartemenku.
"Antar aku ke apartemen saja. Aku ingin sendiri di sana."
"Apa kamu pikir aku akan mengikuti apa yang kamu mau?"
"Kalau itu terjadi, mungkin hujan akan turun lagi," sahutku tanpa melihat ke arahnya.
Danu meminggirkan mobil, lalu berhenti. Saat ini, sepasang matanya memperhatikan tubuhku yang duduk di sampingnya.
"Apa ini permainan yang sudah kamu rencanakan? Kamu bertingkah marah seolah tidak pernah melakukan kesalahan," ucap Danu yang mulai terdengar geram.
"Apa kamu masih menyalahkanku karena membuatmu menikahiku? Jika iya, detik ini juga kamu bisa memberikan aku talak."
Aku berharap Danu dengan mudah memberikan satu kata itu dan melepaskanku. Entah mengapa, aku yang tadinya siap untuk bertempur justru merasa sudah kalah lebih dulu.
Dimenit berikutnya Danu menatapku tajam lalu bertanya,
"Kamu berharap kata itu?"
ap km g makin nyesel tuh.... sdh brp ratus kata mnyakitkn yg km tancapkn ke hati dinda...
Dinda ingin tetap waras.... & tak prlu km sibuk mncarinya.... krna itu tak perlu...
smoga sja... dimasa mndatang dinda mndpt jodoh lelaki yg terbaik...
sesuai yg km ktakn.... klo Dinda prgi berrti km sdh mnceraiknnya....
tak prlu kepengadilan agama.... toh km cm nikah siri sm Dinda....
up bnyak bnyak😘😘
km.g tau kejamnya danu mmprlakikn dinda.... bhkn mulut danu tak segan mngatakn hal yg keji trhdp dinda...🙄🙄
seenteng... dan segmpang itu kta keramat km ucpkn kedinda....
jgn prnh lgi km mngusik hidup dinda.... krna dinda bukan lgi bagian dri hidupmu..... krna dinda sdh km jandakn🙄🙄
untuk dinjadikn senjata.... saat si belinda mnindasnya...
mulutmu sll mnghina dinda tidak berharga..... tpi nyatanya km yg prtama mnikmatinya.....
justru belinda yg tak ada harganya.... krna sdh dinikmati laki" lain.... ntah sdh berapa ratus kali di pake...