Menjadi korban perundungan dan anak broken home membuat Ardelia Aira Safira berharap kehidupan barunya di SMA Bangsa Indonesia berjalan tenang. Namun, segalanya berubah saat ia bertemu kembali dengan dr. Arkanza Dirgantara dokter muda dingin, tampan, sekaligus sahabat dari kakak iparnya.
Berawal dari insiden yang menyelamatkan harga dirinya, Aira perlahan melihat luka masa lalu di balik sikap kaku sang dokter. Dengan kepolosan dan keberaniannya, Aira nekat mengejar Arkan. Namun bagi Arkan, perbedaan usia dan status Aira sebagai adik ipar sahabatnya adalah batas yang tak boleh dilanggar. Puncaknya, Arkan secara tegas menolak Aira serta menghancurkan hati gadis itu seketika.
Namun, ketika Aira benar-benar memilih mundur dan menghilang, keheningan justru menyadarkan Arkan bahwa hidupnya yang monoton terasa hampa. Di antara dinding kaku rumah sakit dan riuhnya masa SMA, akankah Arkan tetap berpegang pada logika, atau menyerah pada hatinya yang mendadak kacau?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia Sky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perhatian Terselubung
Suasana kantin SMA Bangsa Indonesia siang itu riuh oleh deret antrean siswa siswi yang mendambakan semangkuk mie ayam atau bakso legendaris. Aira dan Zara sudah berdiri kaku selama lebih dari sepuluh menit di barisan pertengahan, namun pergerakan antrean masih teramat lambat.
Aira menyenggol lengan Zara, wajahnya meringis menahan sesuatu. "Zara, tolong jagakan antreanku sebentar, ya. Aku mau ke toilet, sudah sangat kebelet."
Zara yang berdiri rapat di sebelahnya menoleh cepat. "Ih, tidak mau! Aku malas berdiri sendirian di sini seperti patung!"
"Ya ampun, Zara... Kamu mau sahabatmu ini kena infeksi saluran kemih gara-gara menahan kencing?" keluh Aira, menyodorkan selembar uang dua puluh ribuan.
"Lah, yang berniat beli mi ayam kan kamu, bukan aku! Kamu sendiri yang menarik tanganku ke sini. Sekarang malah menyuruhku menunggu sendirian. Pemali, tahu! Mana aku sedang puasa lagi," omel Zara.
Sudah menjadi rutinitas Zara untuk menjalankan ibadah puasa sunah Senin-Kamis. Dan sudah menjadi tradisi pula bagi Aira untuk tetap menyeret sahabatnya itu menemaninya ke kantin. Untungnya, tingkat ketahanan iman Zara sudah teruji menghadapi kepulan asap bakso dan aroma mie ayam.
Aira mengedarkan pandangan ke sekeliling area kantin, mencari sosok yang bisa dieksploitasi untuk membantunya. Ia jelas tidak tega memaksa Zara yang sedang berpuasa untuk memesankan makanannya.
Tepat saat itu, bagaikan takdir yang direkayasa, sesosok dewa penolong melintas bersama kompatriotnya. Mata Aira berbinar. Ia melambaikan tangan penuh antusias.
"Bayu! Bayu Huyu!" panggil Aira dengan senyum paling manis yang bisa ia produksi.
Bayu menghentikan langkahnya, menunjuk dirinya sendiri dengan dahi berkerut. "Aku?"
Aira mengangguk mantap. Tanpa prasangka buruk, Bayu melangkah menghampiri meja antrean dengan gaya santainya.
"Bayu... ya ampun aku baru sadar lho, kalau dilihat-lihat dari jarak jauh begini, kamu itu ternyata ganteng juga ya," puji Aira tanpa kedip.
Bayu menatap Aira dengan raut tidak percaya. "Kamu masih waras, kan? Memanggilku ke sini cuma mau memuji ketampananku?"
"Aku serius! Malah kalau diperhatikan lebih dekat, struktur wajahmu itu mirip dewa-dewa Yunani," tambah Aira, melebih-lebihkan dengan ekspresi paling meyakinkan.
Mendengar sanjungan setinggi langit itu, naluri keangkuhan Bayu mendadak bangkit. Cowok itu menyunggingkan senyum smirk, melipat kedua tangannya di dada, lalu mengangkat sebelah alisnya dengan gaya cool.
Panji yang mengekor di belakang Bayu ikut mendekat. Biasanya, jika Aira dan Bayu bertemu, bentrokan adu mulut selalu pecah dalam waktu lima detik. Namun siang ini, atmosfernya justru dipenuhi pujian ganjil.
"Ada apa ini, Bay?" tanya Panji heran.
"Si Aira sepertinya baru mendapat hidayah, Nji. Dia baru sadar kalau ketampananku ini memang sudah bawaan lahir," sahut Bayu dengan kepala yang kian membesar.
Panji menatap Aira dengan pandangan sanksi. "Serius? Aira, ini bukan tanda-tanda kalau umurmu sudah tidak lama lagi, kan?"
Mengabaikan ejekan Panji, Aira tetap mengunci pandangannya pada Bayu, mengedipkan matanya berkali-kali secara dramatis.
"Kenapa mata kamu? Cacingan?" tebak Bayu ragu.
"Jadi begini, Bayu yang baik hati..." Aira maju satu langkah, memperpendek jarak di antara mereka. "Berhubung aku melihatmu bagaikan malaikat penolong, aku sebagai manusia biasa yang penuh dosa ini ingin meminta sedikit bantuanmu."
Zara di sampingnya hanya mampu memutar bola mata malas. Untuk meminta tolong memesankan makanan saja, Aira harus menggelar drama kolosal terlebih dahulu.
"Karena mood-ku sedang bagus setelah kamu puji, memangnya bantuan apa yang diinginkan manusia biasa ini dari dewa tampan seperti aku?" balas Bayu jumawa, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
Aira menatap langsung iris mata Bayu. Dalam jarak sedekat itu, Bayu mendadak terpaku. Wajah polos Aira yang tersenyum riang berada tepat di depan matanya. Selama ini mereka hanya saling lempar makian, namun hari ini, untuk pertama kalinya, Bayu menyadari betapa manisnya senyuman gadis di hadapannya ini. Sepersekian detik kemudian, ada ketukan tak beratur di dalam dada Bayu.
"Bayu, tolong pesankan aku semangkuk bakso ya! Jangan pakai tahu, perbanyak siomay dan gorengan. Sambalnya yang banyak tapi saosnya sedikit saja, lalu minumnya es jeruk. Tolong ya, Bayu yang tampan dan tidak sombong! Aku sudah sangat kebelet!" cerocos Aira cepat.
Sebelum Bayu sempat mencerna seluruh kalimat itu, Aira sudah menjejalkan uang dua puluh ribu ke telapak tangan Bayu, lalu menarik lengan Zara dan berlari kencang menuju toilet.
Bayu membeku di tempatnya. Ia menatap lekat lembaran uang kertas di tangannya, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling kantin. Suara gelak tawa teman-temannya langsung pecah menyelimuti ruangan.
"Hahaha! Astaga, Bayu! Kemarin kamu dipaksa pakai sarung sama Aira, sekarang kamu resmi jadi babunya! Cocok sekali kalian!" seru seorang siswa dari meja ujung.
Bayu meremas uang kertas itu, napasnya berembus gusar. Harusnya ia sadar sejak awal bahwa pujian setinggi langit dari Aira adalah perangkap mematikan.
Panji menepuk bahu Bayu seraya tertawa terpingkal-pingkal. "Sudah, uangnya kita pakai buat beli tahu isi saja!"
"Aku tidak sudi makan dari uang yang bukan hakku. Ini amanah dari Aira," ketus Bayu. Ia membalikkan badan, berjalan tegas menuju gerobak bakso untuk menunaikan pesanan Aira.
Panji melongo menatap punggung sahabatnya. Biasanya Bayu akan mengamuk jika dikerjai seperti ini. "Wah, si Bayu sepertinya benar-benar kemasukan arwah dewa Yunani," gumam Panji heran, lalu mengekor dari belakang.
Beberapa menit kemudian, Aira dan Zara kembali ke area kantin. Zara sebenarnya enggan kembali ke area makanan, namun karena tidak tega membiarkan Aira sendirian, ia memilih mengalah.
"Pesananku sudah jadi, kan?" sapa Aira menghampiri meja Bayu.
"Sudah. Ini sesuai permintaanmu saos sedikit, sambal melimpah, dan es jeruk," jawab Bayu datar, menggeser mangkuk bakso bernuansa merah membara itu ke hadapan Aira.
"Terima kasih banyak, Bayu! Kau memang penyelamatku hari ini!" seru Aira gembira. Ia langsung duduk dan menyantap bakso tersebut dengan lahap.
Namun, baru tiga suapan pertama, efek cabai yang melimpah mulai bereaksi. Aira mengibas-ngibaskan tangannya di depan mulut, wajahnya memerah menahan pedas. Dengan sigap, Bayu yang duduk di sebelahnya menggeser gelas es jeruk tepat ke dekat tangan Aira.
"Tanda-tanda benci jadi cinta, nih!" goda Panji yang duduk di seberang mereka.
Aira tidak memedulikan godaan Panji karena lidahnya masih terbakar. Zara sibuk menatap layar ponselnya, sementara Bayu mendadak bersikap kaku, serba salah akibat respons refleksnya yang terlalu perhatian pada Aira.
Merasa gerah dengan godaan teman-temannya, Bayu mencoba mengalihkan perhatian. Ia melirik Zara yang tampak tenang mengusap layar ponsel di sebelahnya. Tanpa permisi, Bayu merebut ponsel Zara dari genggaman gadis itu dan melanjutkannya bermain game.
"Bayu! Dosa merebut barang orang lain tanpa izin!" omel Zara dengan tatapan tajam.
"Hehehe, cuma iseng. Nih, aku kembalikan. Jangan marah-marah, nanti puasamu batal," ujar Bayu menyeringai, mengembalikan ponsel itu ke pemiliknya.
Zara menyambar ponselnya ketus. "Sudah telat. Catatan malaikat sudah berjalan dari tadi gara-gara kamu mengganggu orang puasa."
"Skakmat kau, Bayu!" tawa Panji makin menjadi.
"Ayo, Zara, kita kembali ke kelas," ajak Aira yang sudah menuntaskan bakso pedasnya. Kedua gadis itu bangkit, meninggalkan area kantin dengan gaya penuh kemenangan.
〰️〰️〰️〰️〰️〰️ 𓆩♡𓆪 〰️〰️〰️〰️〰️〰️
Bel pulang sekolah tinggal menghitung menit. Namun, selepas jam istirahat tadi, kondisi fisik Aira merosot tajam. Perutnya mendadak melilit hebat, rasa mulas yang menyiksa membuat peluh dingin membasahi dahi dan pelipisnya.
"Kamu kenapa, Aira? Kok keringat dingin begitu?" tanya Zara cemas, menghentikan aktivitas menulisnya.
"Perutku mulas sekali, Za... tapi tidak bisa dibuang ke toilet," rintih Aira, menopang kepalanya di atas meja dengan telapak tangan memegangi perut.
"Itu pasti gara-gara makan bakso super pedas tadi siang! Maag kamu kan gampang kambuh," omel Zara khawatir.
Aira hanya meringis pelan. Tak lama kemudian, bel pulang sekolah berbunyi nyaring. Seisi kelas mulai berkemas, namun Aira tetap bergeming dalam posisinya yang menahan nyeri.
"Aku telepon Bang Reyhan saja, ya? Supaya dijemput dan dibawa ke dokter," tawar Zara seraya memasukkan buku-buku Aira ke dalam tas.
Aira menggeleng lemah. "Jangan... Bang Reyhan sedang sibuk mengurus pekerjaan dan si kembar. Aku tidak mau merepotkan."
"Tapi kondisi kamu tidak memungkinkan untuk pulang sendiri, Aira. Nanti kalau kamu pingsan di jalan bagaimana?"
Saat Zara sibuk membujuk, Bayu melangkah mendekati meja mereka. "Aira kenapa?"
"Maag-nya kambuh. Tadi siang makan sambal terlalu banyak," terang Zara.
"Ya sudah, biar aku antar pulang pakai motor," tawar Bayu spontan.
Belum sempat tawaran itu direspons, Aira mendadak bangkit dan berlari kencang menuju toilet. Zara dan Bayu yang terkejut segera menyusul dari belakang sembari membawa tas sekolah Aira.
Di depan wastafel toilet, Aira sudah muntah-muntah hebat. Wajahnya pucat pasi. Penyakit lambungnya selalu bereaksi ekstrem jika terkontaminasi asam dan pedas secara berlebihan.
"Kamu berobat saja dulu, ya. Pulang bersama Bayu, dia bisa mengantarmu ke rumah sakit," tutur Zara pelan seraya mengelus punggung Aira.
Atas saran Zara, Bayu menyetujui untuk membawa Aira ke Rumah Sakit Medika Sentra Surya tempat yang sudah sangat familier bagi Aira.
〰️〰️〰️〰️〰️〰️ 𓆩♡𓆪 〰️〰️〰️〰️〰️〰️
Setibanya di rumah sakit, Bayu membantu Aira mendaftar di meja informasi. Mengenakan seragam SMA yang masih melekat, kehadiran mereka sempat memancing pandangan bertanya-tanya dari beberapa pengunjung di ruang tunggu.
Tak lama, pintu salah satu ruang pemeriksaan terbuka. Manik mata Bayu seketika membelalak saat beradu pandang dengan sosok dokter muda yang melangkah keluar. Pria itu adalah Arkan.
Arkan menghentikan langkahnya sejenak, menatap Aira yang berdiri lemas dengan wajah sepucat kapas. Tanpa menyapa seperti biasa, Aira hanya bisa melangkah perlahan menuju brankar pemeriksaan.
"Ada apa dengannya?" tanya Arkan, beralih menatap Bayu.
"Dia habis muntah-muntah di sekolah, Dok. Sepertinya maag-nya kambuh," jelas Bayu jujur.
"Saya akan memeriksanya. Kamu bisa menunggu di luar," ujar Arkan singkat namun tegas pada Bayu.
Bayu sempat menatap Aira ragu sebelum akhirnya mengangguk dan melangkah keluar ruangan. Arkan mengambil stetoskop dari saku jas laboratoriumnya, lalu mendekati brankar.
"Kenapa bisa sampai muntah? Sudah berapa kali?" tanya Arkan dengan nada suara datar namun fokusnya tertuju penuh pada pasiennya.
"Dua kali di sekolah... perut Aira rasanya melilit sekali, Dok," rintih Aira lirih.
Arkan menempelkan stetoskopnya di dada Aira, lalu menekan lembut beberapa titik di area perut atas gadis itu. "Sakit di sini?"
Aira meringis sambil mengangguk pelan. Arkan kemudian mengambil tensimeter untuk mengukur tekanan darah Aira.
"Makan apa di sekolah tadi?"
"Bakso..."
"Pedas?"
"Sangat pedas..."
Arkan mengembuskan napas pendek, lalu mencatat beberapa resep di kertas rekaman medis. Ketika Aira berusaha duduk dari brankar, tangan Arkan refleks tertahan di punggung gadis itu untuk membantunya tegak.
"Kenapa kamu bisa ke sini bersama anak laki-laki itu?" tanya Arkan tiba-tiba, matanya menatap lurus ke arah Aira.
"Bayu yang menawarkan tumpangan. Kalau minta jemput Bang Reyhan, kasihan dia sedang sibuk," jawab Aira jujur.
"Setelah ini kamu berniat pulang bersama dia lagi?" cecar Arkan.
Aira menatap Arkan dengan dahi berkerut. Di tengah pusing yang melanda kepalanya, pertanyaan Arkan terasa agak ganjil. "Tentu saja. Kan Bayu yang mengantar Aira ke sini."
Arkan meletakkan penanya di atas meja dengan ketukan pelan. Ia kemudian melepas jas dokternya dan menyampirkannya di kursi. "Tekanan darahmu sangat rendah. Dalam kondisi seperti ini, berisiko besar jika kamu naik sepeda motor. Jam praktik saya sudah selesai. Saya yang akan mengantarmu pulang."
Aira tertegun. "Eh? Tapi bagaimana dengan Bayu? Kasihan dia sudah menunggu di luar. Tahu begitu dia bisa langsung pulang dari tadi."
Arkan menatap Aira dengan kilat mata yang sulit diartikan. "Suruh dia pulang lebih dulu. Saya akan mengambil resep obatmu di apotek," ujarnya dingin, lalu melangkah keluar ruangan.
Aira memandangi pintu yang tertutup dengan benak penuh tanda tanya. Sikap Arkan hari ini terasa sangat berbanding terbalik dari biasanya.
Sembari menunggu obat, Aira berjalan keluar ruangan dan menghampiri Bayu untuk mengembalikan jaket yang sempat dipinjamkannya.
"Bagaimana kata dokter?" tanya Bayu cemas begitu melihat Aira keluar.
"Cuma sakit maag biasa, kok. Ini obatnya sedang disiapkan," sahut Aira mencoba tersenyum.
"Ya sudah, aku tunggu di sini sampai obatnya selesai, baru kita pulang," kata Bayu.
"Eh, tidak usah, Bayu. Kamu pulang duluan saja," tolak Aira pelan. "Dokter Arkan yang akan mengantarku pulang. Dia juga yang mengambil obatku."
Bayu mengerutkan kening, tampak tidak terima. "Lho? Kok malah sama dia? Kan aku yang membawamu ke sini, harusnya aku juga yang mengantarmu pulang."
Belum sempat Aira memberi penjelasan tambahan, Arkan sudah kembali dengan menenteng kantong plastik berisi obat-obatan.
"Aira akan pulang bersama saya. Kamu bisa pulang lebih dulu," potong Arkan dengan intonasi yang tak menerima bantahan.
Bayu menatap Arkan dengan tatapan gusar. Ada rasa tidak puas yang mengganjal di dadanya karena merasa diusir secara halus, padahal ia yang sejak awal mengkhawatirkan kondisi Aira. Namun, melihat situasi di rumah sakit, Bayu memilih mengalah demi menghindari konfrontasi.
"Ya sudah, aku pulang duluan. Cepat sembuh, Aira," pamit Bayu.
"Terima kasih banyak ya, Bayu!" seru Aira melepas kepergian teman sekelasnya itu.
Setelah bayangan Bayu menghilang di belokan koridor, Aira beralih menatap Arkan yang sedang merapikan kunci mobilnya.
"Kak Arkan... tumben sekali mau mengantar Aira pulang?" selidik Aira dengan senyum menggoda yang mulai kembali ke wajahnya.
Arkan mengunci pintu ruangannya dari luar. "Saya hanya tidak mau temanmu itu kecelakaan di jalan karena mengantarkan pasien yang mendadak pingsan di atas motor. Itu saja."
"Masa, sih? Bilang saja kalau Kak Arkan sebenarnya cemburu dan khawatir padaku, kan?" goda Aira lagi.
"Cemburu? Untuk alasan apa?" balas Arkan datar, mulai melangkah menyusuri koridor.
Aira mempercepat langkah kecilnya agar bisa sejajar dengan Arkan. "Kakak pasti takut kalau Aira berpaling dan jatuh cinta pada cowok lain, kan? Aira tahu kok, tipe cowok seperti Kak Arkan ini memang suka jual mahal di awal. Tapi nanti kalau ceweknya sudah menyerah, malah dokternya yang panik mengejar-ngejar!"
Arkan menghentikan langkahnya mendadak, membuat Aira ikut menahan napas. Pria berkacamata itu membalikkan badan, menatap Aira dari ketinggian posturnya.
"Terserah apa pun fantasi yang ada di dalam kepalamu, Aira. Dan satu hal lagi... jangan lupa bayar biaya pemeriksaan medis dan ongkos bensin pulang hari ini," cetus Arkan dengan nada dingin sebelum kembali melangkah pergi.
Aira melotot tak percaya, memegangi dadanya yang mendadak dramatis. "Astagfirullah! Kak Arkan perhitungan sekali!" serunya kesal, namun kakinya tetap melangkah cepat mengekor di belakang pria itu.
Bersambung__
_____