NovelToon NovelToon
Cuma Kamu

Cuma Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:751
Nilai: 5
Nama Author: Fazry Fazriyah

"Cinta tidak pernah tentang siapa yang datang paling awal, melainkan tentang siapa yang bertahan hingga akhir. Dan untuk semua rasa nyaman serta bahagia yang ia cari selama ini, jawabannya cuma kamu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11. Si Metik Merah

Pagi masih merangkak pelan ketika matahari menyembulkan sinar keemasannya di ufuk timur, membiaskan cahaya tipis yang menembus sisa-sisa embun di dedaunan.

Di dalam kamar berukuran tiga kali empat meter yang sederhana namun selalu tertata rapi, Zahira sudah berdiri di depan cermin berbingkai kayu. Tangannya dengan cekatan merapikan lipatan kerudung bergo berwarna abu-abu netral yang membalut kepalanya.

Hari ini adalah hari yang penting, sama seperti hari-hari biasanya, namun membawa desakan tanggung jawab yang tak pernah berkurang. Zahira menyapukan pandangannya ke sekeliling kamar.

Sebuah meja belajar kecil di sudut ruangan dipenuhi oleh tumpukan buku referensi, bundel draf skripsi yang sudah penuh dengan coretan tinta merah dari dosen pembimbing, serta sebuah laptop yang bodinya sudah tergores di sana-sini.

Dua hari lagi adalah puncak dari perjuangan akademisnya, sidang skripsi. Namun sebelum hari penentuan itu tiba, Zahira tetaplah seorang gadis mandiri yang harus menopang hidupnya sendiri.

Ia mengambil tas selempang bahan kain berwarna cokelat yang tergantung di balik pintu, memasukkan dompet tipis, ponsel, dan sebuah botol air minum yang belum sempat terisi penuh.

Dengan langkah pelan Zahira berjalan menuju pintu belakang, tidak melewati rumah utama milik orang tua Gisel.

Di halaman samping, terparkir sebuah sepeda motor matik berwarna merah. Bodinya tidak lagi mengkilap, ada beberapa goresan halus di sisi kanan akibat tersenggol rak besi beberapa bulan lalu, namun motor itulah pahlawan tanpa tanda jas dalam hidup Zahira.

Motor matik merah yang telah setia menemaninya selama tiga tahun terakhir, melintasi terik matahari, gemericik hujan, hingga dinginnya angin malam kota.

Zahira mengelus stang motor itu pelan, seolah menyapa kawan lamanya. "Pagi, Merah. Tolong bantu aku lagi ya hari ini," bisiknya pelan, diiringi senyum tipis yang tulus dari bibirnya.

Dari hasil memeras keringat menjadi kasir sekaligus pelayan serba bisa di Kafe 55 itulah, Zahira mampu membeli keperluannya sehari-hari, untuk membayar biaya cetak draf skripsi, hingga membeli keperluan pribadi sehari-hari. Walau terkadang papinya selalu mentransfer uang saku untuk dirinya. Namun saat ia memutuskan untuk pindah ke papiliun keluarga Lazuardi. ATM pemberian Damian direbut oleh Karlina secara paksa.

Zahira memasang helm standarnya, menekan tombol starter elektrik. Mesin motor meraung halus, siap membelah jalanan. Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 06.45 WIB.

Zahira menarik gas perlahan, meninggalkan pelataran rumah megah yang terasa hangat baginya saat ini karena Tante Heni dan Gisel sangat memperlakukannya seperti keluarga sendiri.

Jalanan kota di pagi hari mulai menggeliat. Para penjual sarapan sibuk menata dagangan, anak-anak sekolah berjalan bergerombol dengan seragam putih-biru, dan lalu lintas perlahan mulai padat oleh kepulan asap knalpot para pekerja kantor.

Zahira mengendarai motornya dengan kecepatan sedang, mengambil jalur kiri dengan tertib. Windshield helmnya sedikit dibiarkan terbuka agar udara pagi yang menyegarkan bisa menerpa wajahnya yang polos tanpa polesan make-up berlebih.

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.

Saat melintasi jalanan yang agak menanjak dekat kawasan pemukiman warga, tiba-tiba suara mesin motornya berubah menjadi kasar.

Batuk-batuk kecil terdengar dari arah knalpot, disusul tarikan gas yang mendadak kosong. Zahira terkejut, refleks memutar tuas gas lebih dalam, namun mesin justru meraung lemah sebelum akhirnya meredup dan mati total.

"Lho... lho? Kenapa ini?" gumam Zahira panik.

Ia menepi ke pinggir jalan, mematikan kunci kontak lalu menyalakannya kembali. Tangannya mencoba memencet tombol starter elektrik berulang kali.

Ctek... ctek... ctek...

Tidak ada raungan mesin. Hanya suara tiupan angin dan bisingnya kendaraan lain yang melintas di sampingnya. Zahira mencoba menggunakan kick starter atau engkol manual. Ia mendirikan standar dua motornya, berdiri di sisi kiri, dan menggenjot tuas engkol dengan kakinya berulang kali.

Sreeek... ctek.

Tetap nihil. Mesin matik merah itu seolah menolak untuk bangun dari tidurnya.

Zahira mengusap dadanya yang mulai berdebar keras. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya di dalam sarung tangan kain. Perasaan heran dan bingung membuncah di dalam dadanya.

Bagaimana mungkin motor ini mogok tiba-tiba? Padahal, Zahira adalah orang yang sangat disiplin. Setiap bulan, tanpa pernah absen, ia selalu membawa motor kesayangannya itu ke bengkel langganannya untuk berganti oli dan melakukan servis rutin.

Ia sangat paham, motor ini adalah satu-satunya kendaraan vital untuk mobilitas hidupnya, jadi ia tak pernah bersikap ceroboh terkait perawatannya.

"Atau bensinnya habis?" batiknya ragu.

Ia membuka jok motor dan mengecek tangki BBM. Jarum penunjuk di panel instrumen memang masih menunjukkan posisi separuh, dan saat dipandang langsung, cairan bensin berwarna biru jernih itu masih tergenang cukup banyak. Bukan bensin masalahnya.

Zahira menghela napas panjang. Wajahnya yang semula tenang kini diliputi rasa cemas yang amat sangat. Pagi masih sangat pagi, belum ada jam tujuh.

Kebanyakan toko dan fasilitas umum di pinggir jalan ini masih terkunci rapat dengan pintu harmonika besi yang tertutup dingin.

Tidak ada pilihan lain. Zahira menurunkan standar dua motornya, memegang kedua stang dengan erat, lalu mulai mendorong sepeda motor matik merah itu menyusuri trotoar.

Mendorong motor matik mungkin terdengar sepele bagi pria dewasa, namun bagi Zahira yang bertubuh jangkung tetapi langsing dan cenderung kurus, beban motor berbobot nyaris seratus kilogram itu sangatlah berat.

Setiap langkah kaki terasa begitu menyiksa. Otot-otot lengannya menegang, sementara kakinya yang terbalut sepatu flat harus menahan tumpuan beban di jalanan yang tidak rata.

Satu meter... sepuluh meter... lima puluh meter...

Belum ada satu pun tanda-tanda keberadaan bengkel sepeda motor yang buka. Kebanyakan bengkel umum baru beroperasi sekitar pukul delapan atau sembilan pagi.

Zahira terus berjalan pelan, napasnya mulai tersengal-sengal. Peluh hangat mulai menetes dari pelipisnya, meresap ke dalam kain kerudung abu-abunya

Ia menghentikan langkahnya sejenak, mengangkat lengan kirinya untuk melihat jam tangan.

07.30 WIB.

Jantung Zahira seakan berhenti berdetak sesaat. Pukul tujuh tiga puluh! Seharusnya, tepat pada menit ini, ia sudah berdiri di belakang mesin kasir Kafe 55, menyalakan komputer, menyiapkan struk pembayaran, dan menyeduh kopi pertama untuk para pelanggan pagi.

Shift kerjanya dimulai pukul 07.30, dan tempat kerja itu berjarak setidaknya lima belas menit lagi jika menggunakan kendaraan bermotor. Jika berjalan kaki sambil mendorong motor mogok seperti ini, entah jam berapa ia baru akan sampai.

"Aduh, bagaimana ini..." bisik Zahira dengan nada panik yang tak bisa disembunyikan.

Tepat di sebelah kanannya, sebuah toko sembako sederhana baru saja membuka pintunya. Suara gemeretak rolling door besi yang terangkat ke atas terdengar nyaring.

Seorang ibu paruh baya berkulit sawo matang, mengenakan daster batik motif bunga-bunga pudar, tampak sibuk meletakkan sapu dan merapikan beberapa kardus mi instan di depan toko.

1
sunaryati jarum
Semoga lulus dengan nilai sempurna dengan predikat Cumlaude, Zahira
fazry_fazriyah: aamiin....

terima kasih doakan selalu Zahira ya
total 1 replies
Best
apa sih si Imelda ini, jahat
Best
Mampir lagi Thor. semangat up ceritanya...✨
Best
lanjut Thor... semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!