Melisa Monaco memalsukan tahun lahirnya demi mendaftar pekerjaan dengan gaji lebih tinggi, tapi tidak sepenuhnya membaca kontrak. Ternyata isi kontrak adalah persetujuan pernikahan. Ia terpaksa tetap menjalaninya sebab jika mundur sepihak maka harus membayar denda yang jumlahnya sangat besar.
Sejak pernikahan digelar, hidupnya berubah tiga ratus enam puluh derajat. Ia yang muak direndahkan, nekat berusaha merebut hati Dharma Panjalu dan membuktikan pada seluruh keluarga bahwa ia bukan perempuan yang layak direndahkan.
Dalam perjalanan membuktikan diri, ia mengalami banyak kejadian buruk. Tanpa disangka kejadian buruk yang dialaminya justru membantu keluarga itu menguak penyebab kematian istri Dharma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosella Nona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mari Berteman Saja
“Kamu yang minta mereka semua ke sini?” tanya Dharma begitu melihat keluarganya berkumpul.
“Tidaklah, mereka khawatir padamu karena mendengar kabar kebakaran resto itu.”
Dharma mengangguk. Ia melihat Bu Inggit pergi bersama Dayu dan Maya tadi. Tersisa Sheila di sana, ia coba menyapa sebentar.
“Sheila, apa kabar itu juga didengar oleh ayah dan ibumu?” tanya Dharma.
“Iya, makanya mereka minta aku kemari untuk memberi dukungan padamu, mereka tidak bisa ke sini sendiri karena di rumah sedang heboh persiapan acara anniv nanti malam.” Sheila menjelaskan alasan kedatangannya.
“Nah, kebetulan kamu di sini. Aku sekalian mau bilang kalau nanti malam tidak bisa hadir di sana berarti aku belum sembuh. Sampaikan pada ayah ibumu agar tidak terjadi salah paham.”
Sheila sebenarnya kecewa, tapi ia pura-pura tegar. “Tidak masalah. Apa kamu sudah minum obat?”
“Sudah.” Dharma mengangguk.
“Kalau saja aku yang merawatmu, pasti sakitnya langsung sembuh seperti dulu. Sop daging buatanku kan nomor satu katamu. Kalau Melisa entah bisa memasak makanan bergizi apa untukmu agar cepat sehat lagi.” Sheila mengatakannya sambil melirik-lirik Melisa.
Dharma tertawa. “Tidak perlu repot-repot, di sini sudah banyak yang merawatku.”
Melisa malas mendengarkan kelanjutan obrolan mereka. Ia segera masuk kamar.
...
Sheila sudah pulang dan Dharma melanjutkan istirahatnya. Melisa bosan sendirian mondar mandir di dalam kamar. Ia coba jalan-jalan ke taman bunga dekat kolam.
“Jenis mawarnya ada banyak sekali. Apa mendiang istri Pak Dharma yang menanam semua ini?”
Ia memetik salah satu bunga yang ronanya paling menggoda. Aromanya harum. Melisa memperhatikan sekitar. Menurutnya, masih ada ruang untuk menanam bunga baru di taman itu.
Diantar supir, ia pergi ke toko tanaman bunga langganan keluarga Dharma.
“Tolong bungkus yang ini, Bu. Masing-masig dua pot.” Setelah melihat-lihat ia memutuskan untuk membeli tanaman bunga kosmos ungu dan bunga susan, kelopak kuning dengan mata hitam. Ibu penjual bunga tadi bilang dua bunga ini perawatannya termasuk mudah.
Sebagai pemula dan untuk mengisi waktu senggang, Melisa akan mulai belajar menanam bunga yang perawatannya mudah dulu. Agar tidak dikecewakan oleh ekspektasi.
“Berapa totalnya?” begitu harganya disebutkan melisa sedikit terkejut. Ia jadi berpikir apa semudah ini orang-orang kaya menghabiskan uangnya, padahal dulu ia mati-matian menjaga saldonya tetap aman sampai tanggal gajian selanjutnya. Lah ini, hanya untuk beli bunga saja harganya sampai jutaan.
Karena pak supir bilang ini toko langganan keluarga, Melisa jadi malu untuk membatalkan pembelian. Jadi, ia bawa saja.
“Latihan jadi orang kaya beneran, Mel. Jangan takut ngabisin duit cuma seupil gini. Nanti setelah dibelanjakan katanya bakalan makin banyak uang yang datang.” Ia coba menenangkan dirinya sendiri.
Sampai di rumah ia langsung bergerak untuk menanam bunga-bunga itu.
“Tumbuh subur ya, Cantikku. Nanti aku belikan pupuk-pupuk yang sama bagusnya dengan para mawar dan bunga lain di sekitarmu itu.”
“Hah, Akhirnya selesai.”
Ia membersihkan peralatan menanamnya, juga dirinya.
Setelah itu ia menikmati minuman dingi yang tadi dibelinya sepulang dari toko tanaman. Ia duduk santai di dekat jendela ruang tengah sambil menatap bunga-bunga itu penuh kekaguman, muncul satu ide lagi.
“Kenapa malah ditanam bunga, ya? Kan enak kalau sayur dan buah, lumayan uang dapur jadi bisa hemat sedikit. Besok-besok kalau tanaman bunga itu berhasil tumbuh dengan baik, aku coba cari tempat untuk tanam tomat dan lainnya deh.”
Tiba-tiba Dharma muncul dan duduk di sebelahnya.
Melisa salah tingkah, sebelumnya pria itu tidak pernah duduk sedekat itu dengannya.
“Apa sebenarnya tujuanmu datang ke rumah ini, Mel?”
Eh, kenapa tiba-tiba diajak ngobrol serius soal tujuan hidup begini, Melisa yang tidak terbiasa memikirkan hal rumit jadi kelimpungan sendiri. Ia harus memberi jawaban yang bagus agar tidak semakin dianggap kampungan.
“Apa ya? Ini kan bukan kemauanku sendiri. Aku hanya terjebak.” Ia coba memilih jawaban aman.
“Aku tidak berminat melanjutkan hidupku dengan mencintai pasangan baru atau hubungan apapun.”
“Iya, aku tahu cintamu habis untuk mendiang istrimu, Pak Dharma. Tidak masalah, kita hanya perlu tinggal dalam rumah yang sama sebagai teman, atau sebagai orang asing. Aku juga tidak tertarik pada pria tua sepertimu.”
Dharma memelototinya, tapi Melisa tidak takut.
“Kamu cukup menemani Dayu. Aku biar mengurus diriku sendiri.”
“Oke, tapi aku minta uang bulanan untuk jadi teman Dayu.”
Dharma mengulurkan tangannya sebagai tanda kesepakatan. Melisa menyambutnya dengan tertawa.
“Jadi, sekarang kita partner?”
“Iya.”
Melisa tidak menyangka Dharma yang kelihatannya kaku, ternyata memiliki sisi yang seperti itu. Kalau sebelum-sebelumnya ia hanya takut tergoda pada jambang di sekitar rahang Dharma dan perutnya yang kotak-kotak itu, sekarang ia juga harus menjaga hatinya agar tidak luluh oleh sikap lembut Dharma yang seperti ini.
“Oh ya, sekedar mengingatkan, aku berencana tinggal dan menjadi keluarga ini paling lama hanya lima tahun, sesuai kontrak kerja yang aku tandatangani.”
Dharma diam. Ia sama sekali tidak terganggu dan mulai terbiasa dengan adanya Melisa yang mondar-mandir di dalam kamarnya. Hanya saja ada yang menurutnya kurang menarik pada perempuan itu.
...
Dharma bosan di rumah. Pusing di kepalanya sudah berangsur hilang. Ia perlu segera menyelesaikan masalah resto yang terbakar setelah istirahat cukup lama.
Di dalam kamar, ia melihat Melisa sejak tadi mencoret-coret buku yang selalu dipeluknya. Sepertinya perempuan itu sedang menulis sesuatu sambil memperhatikan video dalam ponselnya. Ia penasaran tapi merasa tidak perlu bertanya.
“Aku mau pergi ke rumah Sheila,” pamitnya sambil berdiri di depan lemari pakaian. Ia mengambil satu setelan kemeja santai lalu memakainya.
Melisa yang melihat itu langsung berdiri dan menawarkan diri untuk ikut. Ia penasaran seperti apa pesta-pesta di rumah orang kaya, sebelumnya ia hanya melihat konten orang-orang di media sosial. Dia acara pernikahannya sendiri kemarin pun, ia tidak sempat menikmatinya dengan benar. “Aku ikut. Boleh, kan?”
“Oke. Pakai bajumu yang paling bagus.”
Melisa diam sebentar. Ia terlihat berpikir, baju apa miliknya yang paling cocok digunakan di pesta malam hari begini.