Jangankan barang, bahkan suami pun bisa dibayar kredit!
Ya, itulah yang dialami Tia. Dia nekat membayar seorang lelaki tampan bernama Sam untuk dijadikan suaminya. Namun karena uang Tia belum cukup, dia terpaksa meminta pembayaran sistem kredit. Bagaimana kocaknya kisah cinta mereka?
"Gaji saya cuma staf admin biasa, Mas. Jadi... tiga juta itu mau saya bayar secara kredit. Cicilan sepuluh kali, tiga ratus ribu per bulan, bunga nol persen. Bagaimana?" - Tiana Anjani.
"Hah?! Mbak bercanda ya?!" - Sam alias Samsudin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11 - Mencari Solusi
Tangan Sam gemetaran saat menerima kartu akses perak dari Hendra. Rasa dendam yang selama sepuluh tahun ini ia genggam erat-erat mendadak melunak, terkikis oleh rasa kemanusiaan dan kepasrahan seorang anak. Bagaimanapun buruknya masa lalu mereka, Norman adalah pria yang darahnya mengalir di dalam nadinya.
"Baik. Saya ikut," cetus Sam pendek, suaranya parau dan berat.
Hendra tersenyum tipis, mengangguk penuh rasa terima kasih. "Terima kasih, Mas Sam. Mobil sudah menunggu di depan gang."
Sam melangkah mengikuti Hendra masuk ke dalam sebuah mobil sedan hitam mewah yang terparkir anggun di mulut gang sempit. Kehadiran sedan mengilap itu sukses membuat emak-emak kompleks dan Mbak Nani melongo dari kejauhan. Nani bahkan hampir menjatuhkan gayung mandinya, tak percaya melihat sang pawang buaya idaman dijemput mobil seharga miliaran rupiah.
Di dalam mobil yang melaju tenang membelah kemacetan kota, Hendra akhirnya membuka suara, menceritakan kebenaran yang selama ini tersembunyi rapat.
"Mas Sam... sebenarnya Bapak sudah sakit kanker paru-paru stadium akhir sejak dua tahun lalu," buka Hendra pelan, matanya menatap lurus ke depan.
Sam menoleh kaget. "Kanker?"
"Iya," Hendra menghela napas panjang. "Wanita selingkuhan yang dulu membuat Bapak meninggalkan Ibu dan Mas Sam... sudah lama meninggal. Mereka juga tidak pernah dikaruniai anak. Selama bertahun-tahun ini, Bapak hidup sendirian di rumah besarnya, digerogoti rasa bersalah yang amat sangat."
Hendra melirik Sam melalui kaca spion dalam. "Bapak tahu Mas Sam sangat membencinya. Tapi setiap bulan, Bapak diam-diam mengirimkan bantuan anonim ke sekolah adik-adik Mas Sam di kampung. Beliau hanya ingin memastikan darah dagingnya tidak terlunta-lunta, meski beliau tahu Mas Sam tidak akan pernah mau menerima uangnya secara langsung."
Dada Sam terasa bergemuruh hebat. Otot-otot di lehernya menegang. Kenyataan bahwa ayah kandungnya menderita sendirian dalam kesepian dan penyesalan membuat kebencian di hati Sam runtuh perlahan-lahan.
Mobil mewah itu akhirnya melaju memasuki pelataran Rumah Sakit Medika, rumah sakit swasta paling eksklusif di pusat kota. Sedan hitam itu berhenti tepat di depan lobi gedung VIP. Hendra bergegas turun dan membukakan pintu untuk Sam.
Sam melangkah keluar dari mobil dengan dada berdebar kencang. Ia menuntun langkahnya melewati lorong-lorong rumah sakit yang sangat luas, dingin, dan sepi. Tidak ada bau karbol menyengat seperti di puskesmas, hanya aroma steril dan suara dengung halus pendingin udara.
Hendra menuntun Sam menuju lantai paling atas, berhenti di depan ruang ICU VVIP dengan pintu kaca tebal. Dua orang perawat dan seorang dokter spesialis menyapa Hendra dengan anggukan hormat. Hendra menggeser kartu akses perak di sensor pintu, membukakan jalan bagi Sam.
"Silakan masuk, Mas Sam. Bapak ada di dalam," bisik Hendra pelan.
Sam melangkah masuk dengan napas tertahan. Di tengah ruangan yang hening, terbaring sosok pria tua di atas ranjang medis canggih. Berbagai selang infus, alat bantu napas, dan monitor detak jantung yang berbunyi bip... bip... bip... melingkari tubuhnya yang dulu kekar kini tampak sangat kurus dan ringkih.
Sam mendekat perlahan. Matanya berkaca-kaca saat melihat Norman.
"Papa..." bisik Sam tanpa sadar, panggilan masa kecil yang puluhan tahun tak pernah ia ucapkan.
Mendengar suara itu, kelopak mata Norman bergerak perlahan. Pria tua itu membuka matanya yang kuyu, menatap sosok putra sulungnya yang berdiri tegap di samping ranjang medis. Senyum tipis yang sangat lemah terukir di balik masker oksigennya.
"S-Samsudin..." panggil Norman dengan suara parau dan sangat pelan. "T-terima kasih... kamu... mau datang..."
Sam berlutut di samping ranjang tinggi itu, menggenggam jemari ayahnya yang terasa dingin, kurus, dan penuh bekas jarum infus. Rasa tegang dan dendam di dada Sam luluh sepenuhnya, berganti dengan lelehan air mata yang menetes di atas sprei putih rumah sakit.
Sementara itu, di tempat lain, situasi di kontrakan tipe 21 milik Tia tidak kalah mencekam, tentu saja dalam konteks yang berbeda.
Tia duduk di depan laptopnya yang berbunyi ngung-ngung kepanasan. Di meja sampingnya, terdapat segelas kopi hitam pekat, tiga lembar kertas kalkulasi keuangan, dan ponsel yang terus-menerus berdering menampilkan notifikasi pesan dari grup WhatsApp keluarga besar.
Grup WA: "Keluarga Besar Sastro - Harap Tenang"
Bu Heni: Tia! Tante Lies baru saja carikan gedung pernikahan murah buat bulan depan! Katanya ada diskon gedung kelurahan! Tante Mirna: Iya Tia, bajunya seragaman ya! Biar ga kalah sama mimik mukanya si Aris pas lamaran Nia nanti! Nia: Mbak Tia beneran mau nikah barengan? Wah, jangan-jangan Mas Sam cuma modal tampan tapi gak ada modal nikah?
Tia menepuk jidatnya keras-keras. "Argh! Nia sialan! Awas kamu ya!"
Tia langsung mengabaikan obrolan grup dan kembali menatap layar kalkulasi keuangannya. Masalah utama pernikahan sewaan ini adalah BIAYA.
Sebagai staf administrasi senior dengan gaji pas-pasan yang sudah habis terpotong cicilan paylater dan tagihan kartu kredit, Tia harus memutar otak sekelas menteri keuangan negara.
"Oke, mari kita hitung..." gumam Tia sambil menekan tombol kalkulator dengan ganas.
Mahar Sewaan: "Aku butuh sewa perhiasan emas lima gram buat pajangan pas akad. Estimasi sewa atau pinjam teman: Rp500.000."
Katering Sederhana: "Nasi kotak 100 porsi... pesan di Warteg Pak Ujang saja! Minta diskon khusus pawang buaya: Rp1.500.000."
Baju Pengantin: "Sewa baju bekas di salon Mas Riki: Rp800.000."
Penghulu & KUA: "Rp600.000."
Fee Tambahan Suami Kredit (Samsudin): "DP pernikahan sewaan plus cicilan dinaikkan jadi Rp500.000 per bulan selama dua tahun."
Tia menyandarkan punggungnya di kursi dengan napas terengah-engah. Total biaya operasional pernikahan pameran ini mencapai hampir sepuluh juta rupiah!
"Sepuluh juta rupiah..." ringis Tia, meremas rambutnya yang acak-acakan. "Sisa limit kartu kreditku tinggal tiga ratus ribu! Gimana caranya dapat uang sepuluh juta dalam waktu dua minggu?!"
Tia memandangi kamar kontrakannya yang sempit. Ia mulai mendaftar barang-barang berharga yang bisa ia gadaikan atau jual demi menutupi biaya operasional "Pernikahan Suami Kredit":
Televisi LED 32 inci (bisa laku Rp1,2 juta)
Laptop sekunder bekas kuliah (bisa laku Rp800 ribu)
Kulkas satu pintu (bisa laku Rp700 ribu)
Sisa tabungan di celengan ayam (ada Rp1,5 juta)
"Masih kurang lima juta..." desah Tia panik.
Tiba-tiba, mata Tia tertuju pada aplikasi pinjaman online legal yang ada di ponselnya. Jari-jemarinya bergetar. Selama ini Tia selalu menghindari pinjol karena takut terjerat bunga, namun desakan tenggat waktu arisan dan martabatnya di depan Tante Lies membuatnya tak punya pilihan lain.
"Demi menyelamatkan muka dari Aris si Branch Manager belagu... demi membahagiakan Ibu... dan demi memperpanjang kontrak sama Pawang Buaya Ganteng itu... BISMILLAH, PINJOL CAIRKAN UANGKU!" jerit Tia histeris sambil menekan tombol konfirmasi pinjaman di aplikasi ponselnya.
Bip!
Notifikasi berhasil muncul di layar ponsel Tia: [PINJAMAN DISETUJUII] Uang sebesar Rp5.000.000,00 telah ditransfer ke rekening Anda.
Tia menghembuskan napas lega luar biasa, walau dalam hatinya ia tahu telah menambah daftar panjang utangnya untuk dua tahun ke depan.
"Uang operasional aman!" seru Tia dengan mata menyala-nyala.
Tia sama sekali tidak tahu bahwa saat ia sibuk mengajukan pinjaman online demi merancang pernikahan sewaan yang serba hemat, Samsudin di sudut lain kota sedang memegang tangan seorang pria kaya raya di ruang ICU VIP yang siap mengubah seluruh peta kehidupan sang pawang buaya secara dramatis.
sampai ikut nangis er baca tadi malam kasihan tia diposisinya nyesek banget gitu
udah dipecat, hutang banyak, barang² dirumah habis, suami kreditnya kalau g mau menerima keadaan lalu kabur apa gak tambah nelangsa Tia
bayangin aja melasssssss bener
dan selain membuka hati, juga sampaikan juga bahwa kamu sekarang yang akan menafkahi,
tapi jangan dulu terbuka Sam yang Miliuner, bisa² Mba Tia pingsan sambil melotot, wkwkwk 🤣
turunin gengsi nya dong Tia agar sam gercep,
tidak sabar liat mereka bucin akut thor... 😄
ini baru sehari lohhh kalau tiap hari apa gak tambah bingung ularnya.
er yakin kalau sering ada godaan gini gak akan lama mereka udah praktek malam pertama beneran