"Bagi dunia, aku anak dari sahabatnya. Bagi hatiku, dia pria yang harus kumiliki."
Aluna (20 tahun) menyembunyikan cinta rahasia pada Marko Janitra (45 tahun), sahabat karib ayahnya sekaligus CEO dingin Janitra Group. Demi mendekat, Aluna nekat magang di kantor Marko.
Marko membentengi diri rapat-rapat demi etika dan persahabatan. Namun di antara perbedaan usia 25 tahun dan godaan manis sang anak sahabat, sanggupkah benteng dingin sang CEO bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.J Lim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Langkah Baru
"Lun, dengerin gue," Rania menepuk-nepuk bahu Luna yang bersandar
kaku di dinding tangga darurat. "Lu nggak bisa terus-terusan mengurung
diri dan ngarepin pria matang yang temboknya setinggi langit itu. Lu pantes
bahagia, Lun."
Luna mengusap sisa air mata di sudut matanya dengan kasar, menarik napas
panjang yang terasa menyiksa dadanya. Bayangan Jessi yang menggandeng mesra
lengan Marko di lobi tadi masih berputar jelas di ingatan, bagai sembilu yang
terus menggores hatinya.
"Gue capek, Ran," bisik Luna parau. "Gue capek ngerasa sakit
sendirian."
"Makanya, coba buka hati lu buat cowok lain," Rania menatap
sahabatnya lekat-lekat. "Gimana kalau lu coba respons Kenan? Kenan itu
kurang apa coba? Dia ganteng, seumuran sama kita, perhatian, dan yang paling
penting... dia beneran suka sama lu tanpa harus sembunyi di balik alasan
sahabat ayah."
Luna terdiam, merenungkan ucapan Rania. Kenan memang selalu ada dan
memperlakukannya dengan sangat baik. Mungkin Rania benar, satu-satunya cara
untuk membunuh perasaannya pada Marko adalah dengan membiarkan orang lain
mengisi harinya.
"Oke," desah Luna akhirnya dengan tekad bulat. "Gue bakal
coba buka hati buat Kenan."
Keesokan harinya, Luna membuktikan ucapannya. Di koridor kantor, saat ia
berjalan membawa berkas dan berpapasan langsung dengan Marko, Luna tidak lagi
menunduk ragu atau menunjukkan raut wajah terluka.
"Selamat pagi, Pak Marko," sapa Luna anggun dengan senyum tipis
yang teramat formal dan tenang.
Marko menghentikan langkahnya, menatap gadis di depannya. Pria matang itu
merasa heran dengan perubahan sikap Luna yang mendadak kembali normal, seolah
kejadian pingsan dan drama gosip beberapa hari lalu tak pernah berbekas. Namun,
di balik ketenangan itu, ada jarak dingin yang sengaja Luna bentangkan
rapat-rapat.
"Pagi, Aluna," balas Marko rendah, matanya mencari-cari raut emosi
di wajah Luna, namun ia tak menemukan apa pun.
Saat jam istirahat siang tiba, Marko yang baru keluar dari ruangannya
melangkah di area balkon lantai atas yang menghadap ke kantin utama.
Pandangannya refleks menyapu area makan, hingga matanya mengunci satu meja di
sudut ruangan.
Di sana, Luna sedang makan bertiga bersama Rania dan Kenan. Namun,
pemandangan hari ini terasa sangat berbeda. Luna dan Kenan tampak jauh lebih
dekat dari biasanya. Kenan menyerahkan segelas minuman dingin sambil tersenyum
hangat, dan Luna membalasnya dengan tawa lepas—hal yang sudah lama tak Marko
lihat dari gadis itu.
Rasa panas yang asing mendadak membakar dada Marko. Tangan pria itu yang
bertengger di pembatas kaca mengepal kuat tanpa sadar.
Cemburu itu makin menjadi saat jam istirahat usai. Marko memperhatikan dari
kejauhan bagaimana Kenan dengan telaten mengantarkan Luna berjalan kembali
sampai ke depan pintu divisi analisis data, bahkan sempat mengacak pelan rambut
Luna sebelum berpisah.
Marko membuang pandangannya ke samping, menetralkan napasnya yang memburu. Bagus,
Marko. Ini kan yang kamu mau? Dia pantas sama pria seumuran kayak Kenan,
tekan batinnya kasar, mencoba bersikap biasa saja meski dadanya terasa teramat
sesak.
Malam harinya, suasana di ruang tamu rumah keluarga Raharja terasa hangat.
Marko duduk berhadapan dengan Ardi, membahas beberapa dokumen kerja sama bisnis
dan ekspansi anak perusahaan Janitra Group.
"Jadi untuk proyek Semarang, kita tinggal nunggu persetujuan dewan
komisaris minggu depan, Ko," ujar Ardi seraya menyerahkan cangkir teh
hangat.
"Iya, Di. Semua drafnya sudah siap," jawab Marko, mencoba fokus
meski pikirannya sesekali melayang. Pandangannya beberapa kali mencuri lirih ke
arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul delapan malam lewat.
Tiba-tiba, suara pintu depan terbuka. Luna melangkah masuk dengan wajah
berbinar hangat dan sedikit merona.
"Pagi... eh, malam Papa, Om Marko," sapa Luna ramah.
"Ya ampun, Aluna! Dari mana saja kamu jam segini baru pulang?"
tanya Ardi heran namun santai.
"Tadi Luna jalan-jalan dulu sama Kenan sebentar habis ngantor, Pa. Cari
makan malam di luar," jawab Luna jujur seraya tersenyum manis, sama sekali
tidak berusaha menyembunyikan kebersamaannya dengan Kenan.
Marko yang sedang memegang cangkir teh mendadak menghentikan gerakannya.
Matanya menajam menatap Luna, namun ia berusaha keras mempertahankan raut wajah
kakunya.
Ardi yang mendengar jawaban putrinya justru tersenyum lebar dan terkekeh
lega. "Oh, sama Kenan? Wah, bagus dong kalau gitu! Papa malah bersyukur
banget kalau kamu mulai mau jalan dan dekat sama cowok."
Ardi lalu menoleh ke arah Marko dengan wajah berbinar. "Lu tahu nggak,
Ko? Selama ini gue tuh khawatir banget sama Luna. Dia gak pernah kelihatan
dekat atau tertarik sama cowok mana pun dari zaman sekolah sampai kuliah. Baru
kali ini gue denger dia mau diajak jalan berdua sama temen cowoknya. Lega
rasanya hati gue."
Ucapan Ardi yang dipenuhi rasa syukur itu menghantam dada Marko bagai
pukulan telak. Marko hanya bisa tersenyum kaku yang sangat dipaksakan,
sementara dadanya terasa kian bergemuruh menahan cemburu yang tak berhak ia
utarakan.