NovelToon NovelToon
Jadi Ibu Tiri Itu Gak Mudah

Jadi Ibu Tiri Itu Gak Mudah

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Duda / Mengubah Takdir
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Menikahi seorang duda beranak tiga dipikirnya akan membawa kebahagiaan baru, namun kenyataan menjadi ibu tiri ternyata jauh lebih rumit dari yang dibayangkan. Di balik pintu rumah yang tampak sempurna, ia harus berhadapan dengan penolakan halus, bahkan kasar, serta dinamika tiga anak dengan karakter yang bertolak belakang.
Mampukah Ayu meluluhkan hati anak-anak tirinya dan mempertahankan rumah tangganya, atau justru menyadari bahwa ketulusan saja tidak pernah cukup?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19: Kecelakaan

Kalimat-kalimat jujur dari mulut sang ayah menghantam dada Kenzo dan Lea dengan sangat telak. Kebenaran yang disampaikan Yoga begitu telanjang dan menyentuh ulu hati terdalam mereka. Untuk sejenak, baik Kenzo maupun Lea membisu, dan tak mampu menemukan kata-kata untuk membantah.

"Ayu itu wanita yang baik, Nak," lanjut Yoga, matanya menerawang ke arah taman bunga tempat Ayu dan Moana berada. "Dia datang bukan untuk merusak kenangan kalian tentang Mama. Dia datang dengan ketulusan untuk merawat kalian, membantu Papa menjaga keluarga ini. Kalian bisa lihat sendiri bagaimana dia menyayangi Moana... bagaimana dia tetap tersenyum dan melayani kita walau kalian berkali-kali menyakiti hatinya dengan kata-kata kasar."

Lea menundukkan kepalanya dalam-dalam. Setetes air mata pun menetes membasahi celana kargonya. Ada gejolak hebat di dalam hatinya, antara ego yang menolak dan kebenaran yang disampaikan sang ayah.

"Papa tidak minta kalian langsung mencintai Ayu seperti ibu kandung kalian sendiri," tegas Yoga selembut mungkin. "Tapi Papa mohon... bukalah mata dan hati kalian. Berikan dia kesempatan. Belajarlah menghargai ketulusannya. Jangan jadikan rumah kita sebagai medan perang."

Suasana di bawah pohon pinus itu mendadak hening. Kata-kata Yoga seakan memberi pencerahan yang menghujam benak kedua remaja itu. Kenzo meremas jemarinya di dalam saku jaket, matanya menatap tanah dengan tatapan rumit yang sulit diartikan.

Namun, sebelum pencerahan dan momen emosional dari hati ke hati itu sempat berlanjut lebih dalam...

PRRRIIIITTTT!

“TOLONG! ADA ANAK KECIL JATUH! TOLONG!”

Jeritan histeris dari arah area wahana permainan anak di lereng bukit seketika memecah ketenangan sore itu. Suara teriakan pengunjung yang panik bersahut-sahutan, memotong keheningan di bawah pohon pinus bagaikan petir di siang bolong.

Yoga, Kenzo, dan Lea seketika terperanjat dan berdiri dari atas karpet.

"Ada apa itu?" gumam Kenzo panik.

Pandangan Yoga menyapu cepat ke arah area wahana bermain, sebuah arena jembatan gantung kayu sederhana dan perosotan tinggi yang berada tepat di samping taman bunga. Di sana, kerumunan orang mulai memadati dasar wahana.

Dan di tengah kerumunan itu, suara histeris yang sangat dikenal Yoga membumbung tinggi, dan sarat akan ketakutan yang luar biasa.

"MOANA! MOANA! YA ALLAH, MOANA!"

Itu suara Ayu.

Jantung Yoga serasa berhenti berdetak seketika. Muka pria empat puluh tahun itu mendadak pucat pasi. Tanpa memikirkan apa pun lagi, Yoga langsung berlari sekencang-kencangnya menuju area wahana, disusul oleh Kenzo dan Lea yang panik setengah mati.

Suasana di dasar wahana permainan kayu itu benar-benar kacau. Kerumunan pengunjung melingkar rapat.

Ayu berlutut di atas tanah berumput di bawah struktur jembatan gantung kayu setinggi dua meter. Wajahnya yang biasa tenang kini memucat hebat, air mata menetas deras membasahi pipinya. Tangannya yang gemetar hebat mencoba memangku tubuh mungil Moana yang terbaring lemas.

Gadis kecil itu menangis histeris dengan suara yang mulai melemah. Dari pelipis kanannya, darah segar mengalir tipis membasahi rambut dan pakaian pastelnya akibat terbentur tiang kayu saat jatuh dari celah pagar pembatas wahana yang agak renggang.

"Moana! Sayang, bangun! Maafkan Ibu, Sayang! Maafkan Ibu!" histeris Ayu, sambil menahan kepala Moana, karena takut jika ada cedera yang lebih parah.

"Moana!" Yoga menerobos kerumunan pengunjung dengan napas yang memburu, dan langsung berlutut di samping Ayu. Matanya membelalak tak percaya melihat darah di kepala putri bungsunya. "Ya Allah! Apa yang terjadi?!"

"Mas... Mas... Moana tadi panjat tangga wahana... Saya cuma melangkah dua detik buat ambil tas bekal yang jatuh, tiba-tiba Moana terpeleset dari celah pagar..." tangis Ayu pecah, badannya berguncang hebat oleh rasa bersalah dan ketakutan yang sangat besar.

Belum sempat Yoga merangkul Moana untuk diperiksa, Lea dan Kenzo yang baru tiba di lokasi langsung melihat pemandangan mengerikan itu.

Melihat adiknya terbaring berdarah dan menangis melemah di pangkuan Ayu, seluruh pencerahan dan rasa paham yang baru saja ditanamkan Yoga beberapa menit lalu mendadak hangus terbakar oleh emosi dan kecemburuan yang meledak liar.

"MOANA!" jerit Lea histeris.

Gadis remaja itu mendorong tubuh Ayu dengan sangat kasar hingga Ayu yang masih gemetar terdorong ke belakang dan jatuh terduduk di rumput. Lea menyambar tubuh Moana dengan air mata yang merebak hebat.

"Apa yang Tante lakukan sama adik aku?!" bentak Lea histeris dengan mata merah padam, dan menatap Ayu dengan pandangan kebencian. "Tante sengaja kan?! Tante celakain Moana karena Tante gak mau repot ngurusin dia?!"

Ayu tertegun, seraya menggelengkan kepalanya rapat-rapat dalam tangisan yang makin pecah. "Enggak, Lea! Demi Allah, Ibu tidak sengaja! Ibu cuma—"

"DIAM!" bentak Kenzo dengan suara membahana yang sangat keras. Remaja laki-laki itu berdiri pasang badan, dan menatap Ayu dengan raut wajah paling dingin dan penuh kemarahan yang pernah ada.

"Ini semua karena kelalaian Tante!" tuduh Kenzo tajam. "Tante cuma sibuk gaya-gayaan di tempat wisata ini dan gak becus menjaga anak kecil! Kalau sampai terjadi apa-apa sama Moana, aku gak akan pernah maafkan Tante!"

"Kenzo! Lea! Cukup!" bentak Yoga, berusaha menguasai situasi meski hatinya sendiri hancur dan panik melihat kondisi Moana. Yoga dengan cepat menggendong tubuh Moana ke dalam pelukannya. "KITA HARUS KE RUMAH SAKIT SEKARANG!"

Yoga berlari membawa Moana menuju pelataran parkir mobil, disusul oleh Kenzo dan Lea yang terus menangis meratapi adiknya.

Ayu pun berdiri perlahan dari rumput. Tangannya yang tergetar hebat meremas dadanya yang terasa begitu sesak dan hancur.

Di tengah kepulan angin pegunungan yang dingin dan tatapan kasihan dari kerumunan pengunjung, Ayu melangkah pincang menyusul keluarganya dengan air mata yang tak berhenti mengalir.

Tragedi sore itu tidak hanya melukai fisik Moana yang mungil, tetapi juga meruntuhkan seluruh harapan tipis yang baru saja dibangun dan mengembalikan tembok kebencian juga penolakan di antara mereka ke tingkat yang paling menghancurkan.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!