Reno selalu percaya bahwa tugas terbesarnya di dunia adalah bertahan hidup dan melindungi adiknya, meski harus mengubur luka masa kecilnya rapat-rapat.
Namun, ketika usahanya runtuh dan wanita yang dicintainya, Kareen, menuntut kepastian di tengah kegagalan, Reno dihadapkan pada pilihan terberat: memaksakan diri bertahan meski hancur, atau melepaskan demi menyembuhkan lukanya sendiri.
"Tunggu aku. Tapi kalau aku terlalu lama... menikahlah dengan orang yang bisa membuatmu bahagia."
Ketika masa lalu melukainya dan masa depan tak memberi kepastian, mampukah Reno menemukan kembali potongan dirinya yang hilang sebelum waktu benar-benar memisahkan mereka?
Sebuah kisah tentang luka masa kecil, impian yang patah, dan keberanian untuk memulihkan diri sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosemeera_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Lembaran Baru dan Ucapan Terima Kasih
Suara gemericik hujan di luar lorong belakang gedung pelatihan perlahan-lahan mereda, menyisakan rintik gerimis tipis yang memantulkan pendar lampu jalan. Udara dingin khas pegunungan Ciumbuleuit masih terasa menyengat di kulit, namun dada yang tadinya terasa sesak dan bergemuruh kini berganti menjadi begitu lapang. Aku mengambil napas panjang, merapikan kemeja kerjaku yang sedikit kusut di bagian dada, lalu mengusap sisa-sisa air mata di pipiku menggunakan ujung lengan baju.
Aku mendongak, menatap Kareen yang masih berdiri setia di hadapanku. Wajahnya tetap memancarkan ketenangan yang hangat, sama sekali tidak ada raut menghakimi atau risih atas ledakan emosi dan tangis sesenggukan yang baru saja aku tumpahkan di hadapannya.
"Kareen ..." suaraku terdengar agak serak dan parau, namun jauh lebih tenang dan stabil dibandingkan beberapa menit yang lalu.
Ia menyambut tatapanku dengan ukiran senyum tipis yang begitu tulus. "Iya, Reno?"
Aku menundukkan kepala sedikit, mendadak merasa canggung dan diselimuti rasa malu mengingat betapa kasarnya aku menuduh dan membentaknya tadi. "Aku mau meminta maaf. Soal ucapan kasar tadi ... soal tuduhan sembarangan yang aku ucapkan padamu. Aku sungguh tidak seharusnya meluapkan amarah dan prasangka buruk ke orang yang hanya berniat baik sepertimu."
Kareen terkekeh pelan, sebuah tawa renyah yang seketika meluluhkan sisa-sisa canggung di antara kami. Ia menggelengkan kepalanya dengan santai, seolah prasangka kasar tadi hanyalah angin lalu.
"Tidak perlu minta maaf, Reno. Aku paham betul kok, kamu cuma sedang sangat lelah membendung dan memikul semuanya sendirian selama belasan tahun. Lagi pula, aku juga yang duluan memancing emosimu, kan?" ujarnya jenaka, berusaha keras agar aku tidak terus-terusan disiksa oleh rasa bersalah.
Mendengar gurauannya, sebuah senyuman tipis terukir di bibirku—sebuah senyuman tulus yang rasanya sudah bertahun-tahun tak pernah mampir di wajah yang kaku ini.
"Dan ... terima kasih banyak," lanjut ku pelan tapi penuh penekanan, menatap lurus ke matanya. "Terima kasih sudah mau mendengarkan seluruh kisah masa laluku yang berantakan. Terima kasih sudah mengingatkan aku soal Ibu dan Rayan. Jujur, baru malam ini setelah sekian lama, aku merasa benar-benar bisa bernapas dengan lega."
Kareen mengangguk pelan, matanya berbinar lembut memantulkan kehangatan di bawah temaram pendar lampu teras. Rasa haru mengalir hangat di ceruk dadaku saat mendengar tuturnya yang amat menenangkan.
"Sama-sama, Reno. Kamu sangat berhak untuk merasa lega dan bahagia. Mulai sekarang, jangan pernah simpan dan tanggung semuanya sendirian lagi, ya? Kamu sudah melakukan pekerjaan yang sangat luar biasa hebat sebagai seorang kakak."
Malam itu menutup rangkaian sesi pelatihan kami di Bandung dengan cara yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Angin malam bertiup lembut mengusap wajahku, seolah ikut membasuh sisa luka lama. Aku datang ke kota ini dengan membawa tembok pertahanan yang tinggi, kokoh, dan dingin, namun aku pulang dengan membawa serpihan harapan serta kedamaian baru di dalam dada.
Tembok isolasi pertahanan di dalam diriku mungkin belum sepenuhnya runtuh secara instan, tetapi kini, sebuah celah cahaya telah terbuka. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak lagi merasa takut atau ragu untuk melangkah menghadapi hari esok. Aku siap dengan hal apapun yang akan menanti di Jakarta setelah ini.