NovelToon NovelToon
Jerat Sang Mafia

Jerat Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Duda / Pernikahan kedua / Selingkuh / Crazy Rich/Konglomerat / Menikah dengan Kerabat Mantan / Tamat
Popularitas:93
Nilai: 5
Nama Author: SilvinaTracy

Valentina Sierra punya segalanya: keluarga terpandang, kekasih idaman, dan kursi di Harvard yang menanti. Sampai satu malam mengubah segalanya. Ia terbangun di ranjang asing, pakaian robek, seprai bernoda darah—dan di sisinya berbaring Dorian Cervantes, pria paling ditakuti sekaligus paling dibencinya. Duda dingin berdarah dingin, seorang pengusaha yang menyimpan rahasia jauh lebih gelap dari yang bisa dibayangkan siapa pun.

Dijual oleh keluarganya sendiri atas nama "kehormatan", Valentina dipaksa menikahi sang iblis. Yang tak ia sadari: malam itu bukan kebetulan. Itu sebuah jebakan—dan ia hanyalah satu bidak dalam permainan yang jauh lebih besar, permainan yang berakar pada rahasia kelam tentang jati dirinya yang sebenarnya.

Terperangkap di dunia penuh topeng, senjata, dan pengkhianatan, Valentina harus belajar bertahan. Belajar menembak. Belajar membalas. Dan yang paling berbahaya dari semuanya—belajar bahwa benci dan cinta hanya dipisahkan satu garis tipis.

Dari kebencian menjadi hasrat, dari korban menjadi pemburu. Ketika seluruh kebenaran akhirnya terkuak, siapa yang akan berlutut, dan siapa yang akan menarik pelatuknya lebih dulu?

Sebuah kisah romansa gelap tentang pernikahan paksa, dendam yang membara, dan cinta yang tumbuh di tempat paling mustahil. Untuk pembaca dewasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SilvinaTracy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: AIB

VALENTINA SIERRA

Aku mendengar pintu kamar terbuka, gumaman, teriakan, bahkan tangisan histeris. Aku membuka mata, bingung oleh keributan itu, dan mendapati diriku di sebuah kamar asing, di ranjang yang bukan milikku, dengan pakaian robek dan seprai bernoda darah. Namun yang membuatku terkejut, pria yang berbaring di sampingku hanya mengenakan boxer, dan dia adalah Dorian Cervantes, paman dari kekasihku.

"BEGINI CARAMU MENCINTAIKU? KAMU TIDUR DENGAN PAMANKU SENDIRI, DASAR JALANG KEPARAT!" teriak Iván, menatapku dengan jijik yang tak terkira.

"INIKAH HASIL DIDIKAN YANG KAMI BERIKAN PADAMU?!" Mama menghampiri dan menamparku keras-keras.

"Kalau berani menyentuhku, kau akan menyesal seumur hidup," pria di sampingku memperingatkan ketika Papa mendekat dengan niat jelas untuk memukulnya.

"Kau harus bertanggung jawab atas perbuatanmu," Mama menuntutnya. Bertanggung jawab?

Oh, tidak, tidak, tidak. Ini tak mungkin seperti yang kupikirkan. Tidak, demi Tuhan, tidak. Hidupku seharusnya bersama Iván. Semua ini pasti ada penjelasan yang masuk akal.

Aku mulai menangis histeris, mencengkeram seprai seolah nyawaku bergantung padanya. Mereka tak mungkin memaksaku menikah dengannya. Demi Tuhan, apa mereka sudah gila? Aku tak sanggup, dan dia membenciku. Dia pasti akan membuat hidupku menderita. Aku lebih baik pergi hidup di ujung dunia daripada menerima nasib ini.

"Aku lebih suka berpakaian saat bicara. Kalau kalian ingin istri kalian melihatku telanjang, silakan tinggal. Kalau tidak, tutup pintunya saat keluar supaya aku dapat privasi," ujarnya sambil menatap mereka mengancam. Mereka pun mundur, menutup pintu, meninggalkanku di dalam bersama sang iblis.

Aku mencengkeram seprai makin erat, mencoba membungkus diri dan kalau bisa lenyap saja. Tatapan pria ini lebih kelam dari sebelumnya, matanya merah dipenuhi amarah.

"Sekarang katakan, kenapa sialnya kamu bisa ada di ranjangku," katanya sambil mencengkeram daguku keras.

"Aku tidak ingat. Semuanya kabur," aku mencoba mengingat, tapi kepalaku serasa mau pecah.

"Kabur? Keluarga tercintamu itu menuntut sejumlah besar uang atas dirimu, lalu memaksaku menikahimu." Apa yang dia bicarakan? Tidak, itu tak mungkin.

Orangtuaku benar-benar menjualku atas nama aib ini. Aku tak tahu lagi harus lebih kecewa pada siapa: pada mereka, pada diriku sendiri, atau pada pria ini.

Aku bangkit sambil menutupi tubuh, lalu hendak ke kamar mandi. Perut bagian bawahku terasa nyeri. Sesampainya di sana, saat duduk untuk buang air kecil, yang keluar berwarna merah. Menstruasiku datang. Demi Tuhan, apa lagi yang bisa menimpaku?

Aku mendengar pintu dibanting, lalu suara orang-orang di kamar.

"Ada yang bisa menolongku?" tanyaku, malu bukan main. Apa lagi yang bisa terjadi padaku?

"Nona, kami bawakan pakaian. Ada lagi yang Nona butuhkan?" tanya suara dari balik pintu, yang kuduga milik salah satu pelayan.

"Tolong bawakan pembalut," aku ingin ditelan bumi saja.

"Segera. Tuan bilang Nona harus menunggu di sini."

"Di kamar mandi? Dia gila, ya?"

"Di dalam kamar, Nona." Tamparan batin untuk kebodohanku sendiri.

"Tidak sudi." Aku membuka pintu, menerima pembalut, memasang satu, lalu mengenakan pakaian yang dibawakan wanita itu—yang tak kulihat lagi selain tangannya.

Aku turun tanpa tahu di mana pria itu berada. Tapi kalau mereka pikir aku akan sudi menikah, mereka semua sudah gila total. Aku rela menjual seluruh barangku asal bisa lolos dari nasib bodoh ini.

Lagi pula, aku tak merasakan yang berbeda di tubuhku, tak ada nyeri di area kewanitaanku. Kaki maupun pinggulku pun tak sakit, sama sekali tak ada, tak seperti yang kata teman-temanku terjadi setelah kali pertama.

Sialnya, aku melihat si idiot itu punya bekas di leher dan dadanya. Dengan bekas-bekas itu ditambah noda darah di tempatku berbaring, jelas semua orang akan mengira kami menghabiskan malam penuh gairah. Padahal aku tahu itu tak terjadi dan tak akan pernah terjadi. Apa mereka semua sudah gila? Pria itu dan aku, tidak akan pernah.

Aku mencoba keluar dari rumah, tapi seorang pria berjaga di pintu depan.

"Permisi," pintaku sopan, tapi dia malah berdiri menghadangku.

"Tidak." Aku mencoba menyingkirkannya, tapi dia bagai lemari besar yang terpaku ke lantai, bidang, kuat, dan tinggi seperti pintu, atau bahkan beberapa sentimeter lebih.

"Apa katamu?" aku menatapnya geram.

"Ini perintah Tuan."

"Aku tak peduli pada tuanmu, aku mau pergi dari sini." Pria menakutkan itu, begitu paham aku hendak kabur, langsung mencengkeramku paksa.

"Lepaskan aku! Memangnya kau pikir kau siapa?" aku memekik, tapi dia mengabaikanku dan mengurungku di sebuah kamar.

Aku berteriak, menunggu seseorang membebaskanku. Ini penyiksaan, mereka menahanku di sini, sungguh keterlaluan.

Ketika dia tiba di kamar, aku langsung menyerangnya. Dia tampak murka, tapi aku tetap ingin melampiaskan amarahku, meski dia tak membiarkannya karena menahan tanganku di udara.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!