NovelToon NovelToon
My Husband The Mafia

My Husband The Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nabilah Tisyana

Takdir adalah kuasa Tuhan yang kerap membawa manusia menyusuri jalan berliku. Bagi Ruby Anastasya, rumah yang seharusnya menjadi tempat terhangat untuk pulang justru terasa begitu sesak dan menyiksa. Ironi menyelimuti hidupnya ketika orang tua yang mestinya menjadi pelindung utama, tega mengorbankan masa depannya demi tumpukan uang—melemparnya tanpa belas kasihan ke dalam neraka dunia. Di tengah luka dan impian yang dihancurkan, sanggupkah Ruby bertahan dan menemukan secercah kebahagiaan yang layak ia dapatkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nabilah Tisyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11.

‎Di dalam keheningan komanya, Ruby terbangun di sebuah padang rumput yang luas dan hijau. Angin berembus lembut, menerbangkan helai rambutnya yang tak lagi kusam. Di bawah naungan pohon rindang, seorang wanita bermata hangat tersenyum menatapnya.

‎"Ibu..." bisik Ruby dengan suara bergetar.

‎Ia berlari dan langsung menghambur ke dalam pelukan hangat yang sudah bertahun-tahun sangat ia rindukan. Bau harum tubuh ibunya terasa begitu nyata, membalut seluruh rasa sakit yang menumpuk di dadanya.

‎"Ruby anak Ibu yang kuat..." ujar ibunya lembut, mengusap kepala Ruby penuh kasih sayang. "Maafkan Ibu ya, Sayang. Ibu meninggalkan Ruby terlalu cepat."

‎"Enggak, Bu. Ruby yang minta maaf..." tangis Ruby pecah di pangkuan ibunya. "Ruby kangen banget sama Ibu. Ruby mau ikut Ibu aja... di sini tenang banget, enggak ada orang jahat, enggak ada rasa sakit..."

‎"Belum waktunya, Nak," bisik sang ibu penuh kehangatan. "Langkahmu masih panjang. Luka-lukamu harus sembuh dulu."

‎Tiba-tiba, bayangan lembut di padang rumput itu perlahan meremang. Dari balik kabut tipis yang muncul berarak, berdiri seorang pria bersetelan jas hitam. Pria itu berdiri agak jauh dari mereka, menjulang tebal dengan aura dingin yang amat pekat, namun anehnya sama sekali tidak mengancam. Pria itu menatap Ruby diam-diam tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

‎Ruby menautkan alisnya, rasa bingung mendadak merayapi hatinya. Ia mengusap air matanya dan menunjuk pria asing itu.

‎"Bu... pria itu siapa?" tanya Ruby lirih, menoleh pada ibunya. "Ruby belum pernah lihat dia seumur hidup Ruby. Kenapa dia ada di sini?"

‎Ibunya menoleh ke arah pria berdiri, lalu tersenyum tipis sebuah senyuman misterius yang sulit diartikan.

‎"Dia adalah sosok yang membawamu keluar dari kegelapan, Ruby," sahut ibunya lembut.

‎"Maksud Ibu apa? Siapa dia sebenarnya, Bu? Apakah dia orang jahat juga kayak Kavano?" cecar Ruby dengan deru napas yang mulai panik. Rasa trauma dalam dirinya membuat dadanya mendadak sesak.

‎"Jangan takut, Nak," panggil sang ibu, memegang kedua bahu Ruby untuk menenangkannya. "Tatap matanya. Apakah ada nada ancaman di sana?"

‎Ruby memberanikan diri menatap ke arah pria bertubuh tegap itu. Meskipun parasnya samar tertutup bias cahaya, Ruby bisa merasakan tatapan mata pria itu terasa amat tajam, kaku, dan dingin bagai es—namun sama sekali tidak ada hawa kejam atau niat melecehkan seperti yang selalu dipancarkan oleh Kavano.

‎"Siapa kamu...?" panggil Ruby pelan ke arah pria asing itu. "Kenapa kamu ada di mimpi aku?"

‎Pria asing di dalam kabut itu tetap bungkam. Ia hanya melangkah satu kali mendekat, lalu mengulurkan tangannya yang tegap ke udara terbuka, seolah-olah menawarkan perlindungan di tengah badai yang siap menerjang.

‎"Bangunlah..." suara berat dan dalam milik pria itu mendadak bergaung hebat di seluruh padang rumput, memecah kesunyian mimpi tersebut. "Dunia luar masih menunggumu."

‎"Ibu! Jangan tinggalkan Ruby!" teriak Ruby histeris saat bayangan ibunya dan padang hijau itu mulai memudar secara perlahan, tergantikan oleh suara bising denyut mesin medis yang berdetak teratur.

...****************...

‎Denting halus instrumen medis dan bunyi *bip* teratur dari layar monitor menjadi hal pertama yang menyapa indra pendengaran Ruby. Perlahan, kelopak matanya yang terasa amat berat terbuka sedikit demi sedikit. Pandangannya buram, berbayang, sebelum akhirnya menyesuaikan dengan pendar lampu putih netral di langit-langit ruangan.

‎Empat bulan terlelap dalam koma, tubuhnya terasa bagaikan batangan timah yang kaku dan tak bertenaga. Kepala Ruby berdenyut hebat, menyengat hingga ke pelipisnya.

‎"a... air..." rintih Ruby lirih.

‎Suaranya hampir tak berbunyi, begitu parau dan tercekat. Tenggorokannya terasa sangat kering dan perih bagaikan padang pasir karena selama berbulan-bulan hanya bergantung pada selang makanan dan cairan infus.

‎Ruby mencoba memutar kepalanya yang berat, menatap sekeliling ruangan asing yang sangat luas, bersih, dan mewah—sama sekali tak menyerupai kamar rumah sakit biasa maupun kamar penyiksaan Kavano. Di dekat meja medis beroda, berdiri seseorang membelakanginya, mengenakan pakaian perawat serba putih yang sedang merapikan beberapa botol obat.

‎"T-tolong..." cicit Ruby lagi, berusaha menggerakkan ujung jemari tangannya yang gemetar.

‎Perawat itu mendadak menghentikan aktivitasnya. Ia memutar badan dengan terkejut saat mendapati kelopak mata pasiennya telah terbuka penuh.

‎"Astaga! Anda sudah sadar, Miss?!" pekik perawat itu tertahan. Ia buru-buru meletakkan alat medis di tangannya dan menghampiri sisi ranjang Ruby. "Jangan bergerak dulu, Miss. Tubuh Anda masih sangat lemah."

‎"H-haus... air..." panggil Ruby dengan sorot mata sayu yang meminta bantuan.

‎"Iya, sebentar. Saya ambilkan air hangat dan basahi bibir Anda dulu," sahut perawat itu sigap, meraih gelas bergelombang dan sendok kecil. Dengan sangat hati-hati, ia meneteskan sedikit air hangat ke bibir Ruby yang pecah-pecah. "Pelan-pelan ya, Miss. Jangan langsung diteguk keras-keras, tenggorokan Anda belum siap."

‎Sensasi dingin air yang membasahi lidahnya membuat dada Ruby sedikit lebih tenang. Namun, rasa bingung dan ketakutan mendadak menyergap otaknya yang mulai bekerja.

‎"S-saya... ada di mana?" tanya Ruby terbata-bata, matanya bergerilya menatap sudut-sudut ruangan yang megah itu. "Siapa... siapa yang bawa saya ke sini? Kavano... di mana Kavano?"

‎"Tenang, Miss. Anda aman di sini. Ini bukan tempat Tuan Kavano," bujuk perawat itu lembut sambil menekan tombol darurat di samping tempat tidur untuk memanggil dokter dan asisten pemilik mansion. "Saya panggilkan dokter dan tuan rumah dulu. Mohon jangan panik."

‎Mendengar kata 'tuan rumah', jantung Ruby mendadak berdegup kencang secara tidak teratur. Layar monitor jantung di sampingnya mulai membunyikan nada peringatan yang lebih cepat. Rasa trauma yang mendalam membuat Ruby dilingkupi ketakutan baru: *Apakah ia baru saja keluar dari sangkar iblis yang satu, hanya untuk masuk ke dalam kurungan iblis yang lain?

‎Suara langkah kaki yang sibuk di luar koridor membuat kepanikan di dada Ruby membuncah hebat. Trauma atas penyiksaan Kavano membuat otaknya hanya memikirkan satu kata: *Lari*.

‎Dengan mengumpulkan sisa-sisa tenaga yang amat terbatas, Ruby mencabut selang infus di punggung tangannya dengan kasar. Rasa nyeri menusuk tajam, namun ia tak peduli. Tubuhnya yang kurus dan kaku dipaksa turun dari sisi tempat tidur.

‎*Brak!*

‎Kaki Ruby menyerah seketika. Ia tersungkur di lantai dingin yang licin. Dengan napas terengah-engah dan pandangan berbayang, gadis itu merangkak dengan sangat kepayahan, memapah tubuhnya menggunakan siku untuk menggapai pintu keluar.

‎"Aku harus pergi... Aku nggak mau dikurung lagi..." bisik Ruby terbata-bata, air mata ketakutan mulai menjejaki pipinya yang pucat.

‎Baru saja jemarinya yang gemetar terulur dan hampir menyentuh gagang pintu, mekanisme kunci mendadak berbunyi.

‎*Klek.*

‎Pintu terdorong ke dalam. Ruby membeku di lantai.

‎Di ambang pintu, berdiri perawat tadi bersama seorang dokter bersetelan jas putih. Namun, perhatian Ruby seketika terkunci pada sosok pria bertubuh tegap yang berdiri tepat di antara mereka. Pria berjas hitam elegan dengan paras yang sangat tampan, namun memancarkan aura dingin yang amat pekat dan mengintimidasi.

‎Iris mata elangnya yang tajam menatap lurus ke arah Ruby yang tergeletak mengenaskan di bawah kakinya.

‎*Deg.*

‎Jantung Ruby serasa berhenti berdetak. Pria itu... adalah sosok asing yang ada di dalam mimpinya selama koma.

‎"Miss Ruby! Astaga, jangan nekat!" seru sang dokter buru-buru berlutut untuk menahan tubuhnya.

‎Pria tampan itu tidak bersuara. Ia melangkah maju satu kali, bayangannya menjulang tinggi menutupi tubuh Ruby. Sorot matanya datar tanpa ekspresi, namun tatapannya meneliti dari ujung kepala hingga ujung kaki gadis yang menumpang di bagasi mobilnya empat bulan lalu.

‎"Periksa dia," suara pria itu mengalun rendah, sangat berat dan dingin, memecah keheningan ruangan. "Setelah itu, pindahkan dia ke kamar pribadi di lantai atas. Ruangan medis ini terlalu membuat dia panik."

‎"Baik, Tuan," sahut dokter itu sigap.

‎Dua perawat dengan hati-hati mengangkat tubuh Ruby yang gemetar dan meletakkannya kembali ke atas brankar beroda. Ruby hanya bisa memejamkan mata erat-erat, menahan napas saat brankar tersebut didorong melewati pria asing itu. Untuk sekilas, aroma kayu cendana yang mahal dan dingin dari tubuh pria itu terhirup olehnya memberikan ketenangan aneh yang sangat kontras dengan rasa takutnya.

‎Beberapa saat kemudian, Ruby telah dipindahkan ke sebuah kamar pribadi yang amat luas dan hangat. Tak ada kesan kamar rumah sakit yang mencekam di sana; tempat tidur king size-nya sangat empuk, berselimut sutra hangat, dan memiliki jendela kaca besar yang menghadap langsung ke area taman hijau yang asri.

‎Cairan infus kembali terpasang rapi di tangannya, dan tubuhnya yang ringkuh perlahan mulai beristirahat dalam proses pemulihan yang jauh lebih tenang dan aman.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!