NovelToon NovelToon
Cinta Tanpa Syarat.

Cinta Tanpa Syarat.

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: atikah@72

sejak lahir, dia tak sempurna.
ibunya ditinggalkan pergi oleh sang ayah, saat ia masih dalam kandungan.

sang ibu mengandung seorang diri, karena bapaknya pergi mencari nafkah dan biaya persalinan sang ibu.

sampai ia lahir ayahnya tak menghendakinya dan datang membawa madu untuk ibunya.
sejak lahir penduduk desa mengatakannya pembawa petaka, karena ia lahir tak sempurna. kini ia hidup berdua bersama sang ibu.

sementara sang ayah pergi dengan wanita lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon atikah@72, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Detak Terakhir Diruang Operasi

Koridor lantai dua RSUD Waingapu jam 23:00 malam itu sunyi seperti kuburan, padahal di dalamnya ada dua nyawa yang baru saja selesai berperang melawan maut.

Dokter bedah saraf itu masih berdiri di depan pintu Ruang Operasi 1. Wajahnya pucat, maskernya berlumuran darah, tangannya masih memegang kain kasa berdarah.

"Bu Sari, kami sudah berusaha... tapi..."

Sari yang sedang memeluk Bintang yang baru selesai di-gips, yang kaki bengkoknya kini sudah lurus dibalut gips putih kecil, langsung membeku. Gips putih Bintang yang baru 2 menit ia peluk, terasa dingin.

Mama Leni yang memegang sertifikat tanah Sari langsung berlutut dan berdoa lebih keras.

"Pak Johan... pendarahan ketiga ini terlalu banyak... kami kehabisan darah O di bank darah RSUD... stok habis karena tadi siang ada kecelakaan bus... kami sudah pakai darah Ibu Sari tadi 250 cc, tapi butuh 500 cc lagi... tanpa darah, jantungnya tidak kuat..."

Sari menatap dokter itu dengan mata kosong.

"Jadi... Johan... Johan mati, Dok?"

Dokter itu menggelengkan kepala dengan cepat.

"Bukan mati, Bu! Belum! Tapi kalau dalam 15 menit tidak ada donor darah O 500 cc, dia akan mati! Kami sudah hubungi PMI, PMI tutup malam! Kami sudah hubungi keluarga, tidak ada yang golongan O!"

Dokter itu menatap Sari dari atas sampai bawah. Sari yang pucat, dasternya penuh darah kering, lututnya berdarah karena jatuh di terminal.

"Bu Sari, Ibu golongan O, kan? Tadi Ibu sudah donor 250 cc. Secara medis, Ibu baru melahirkan, Ibu tidak boleh donor lagi. Ibu bisa mati. Tapi... kalau Ibu mau... Ibu satu-satunya harapan suami Ibu malam ini."

PLOT TWIST PERTAMA YANG MENANTANG.

Baru 6 jam yang lalu, Sari memberikan 250 cc darahnya untuk Johan, suami yang mau menjual tanahnya. Sekarang, untuk kedua kalinya dalam satu malam, ia harus memberikan darahnya lagi, 500 cc, untuk suami yang sama, padahal tubuhnya sendiri sudah kehabisan darah karena melahirkan dan pendarahan.

Jika ia donor lagi, ia bisa mati kehabisan darah di koridor RSUD itu juga.

Jika ia tidak donor, Johan mati di meja operasi malam ini juga, dan Bintang akan tumbuh tanpa pernah tahu wajah bapaknya yang sudah minta maaf.

Mama Leni langsung memeluk Sari. "Jangan, Sari! Jangan! Kamu akan mati! Bintang butuh kamu! Biarin Johan!"

Dokter Anya yang menggendong Bintang juga menangis. "Sari, kamu sudah cukup berkorban! Kamu sudah kasih segalanya!"

Tapi Sari menatap Bintang yang ada di gendongan Dokter Anya. Bintang yang baru selesai operasi, yang kaki bengkoknya kini sudah lurus di-gips, yang napasnya sudah normal, yang matanya terbuka menatap ibunya.

Lalu Sari menatap pintu Ruang Operasi 1, tempat Johan terbaring dengan tempurung kepala terbuka, sekarat.

Sari ingat ucapan Johan 30 menit yang lalu sebelum kejang: "Sari adalah perempuan paling berani yang pernah aku kenal."

Sari menarik napas panjang, dan dengan suara tegas yang membuat semua dokter dan perawat di koridor itu merinding, Sari berkata:

"Ambil darah saya, Dok. 500 cc. Sekarang."

"IBU BISA MATI!" teriak dokter bedah.

"Kalau saya mati, tolong titip Bintang ke Mama Leni dan tanah saya," jawab Sari, sambil berbaring di brankar kosong di koridor. "Tapi kalau Johan mati malam ini, Bintang akan tanya seumur hidupnya, di mana bapaknya? Dan saya tidak mau anak saya hidup dengan dendam seperti saya. Saya mau anak saya hidup dengan cinta tanpa syarat."

Selang transfusi kedua malam itu dipasang di lengan Sari yang sudah biru-biru bekas jarum.

Darah merah segar Sari, 500 cc, mengalir deras masuk ke tubuh Johan di ruang operasi sebelah melalui selang panjang yang melintasi koridor. Dua tubuh, suami istri, terhubung oleh selang darah di koridor RSUD Waingapu jam 11 malam.

750 cc total darah Sari dalam satu malam untuk suami pengkhianatnya.

Di tengah transfusi itu, Sari pucat pasi. Matanya berkunang-kunang. Ia hampir pingsan.

Tiba-tiba, monitor jantung dari Ruang Operasi 1 yang tadinya berbunyi pelan...

*Tut... tut... tut...*

...berubah menjadi...

*Tut-tut-tut-tut! Cepat! Stabil!*

"Tekanan darah naik! Jantung stabil! Pendarahan berhenti! Kita berhasil!" teriak dokter bedah dari dalam ruang operasi.

Johan selamat. Untuk kedua kalinya malam itu, diselamatkan oleh darah istrinya sendiri.

Sari tersenyum lemah di brankar, sebelum akhirnya pingsan kehabisan darah, dengan Bintang yang sudah di-gips di pelukannya.

Dua jam kemudian, jam 1 dini hari, Sari terbangun di ruang perawatan. Infus terpasang di tangannya. Di sampingnya, di box bayi kecil, Bintang tidur pulas dengan gips putih kecil di kakinya. Di samping box bayi, di brankar lain, Johan juga tidur, kepala diperban tebal, tapi napasnya sudah normal.

Untuk pertama kalinya dalam 24 jam, Sari, Johan, dan Bintang ada di satu ruangan yang sama. Sebagai sebuah keluarga, meskipun berantakan, berdarah-darah, dan hampir mati semua.

Sari mengulurkan tangan, menyentuh gips putih Bintang, dan menyentuh tangan Johan yang terinfus.

Ia pikir badai sudah selesai.

Ia salah.

Pintu ruang perawatan diketuk keras jam 1 dini hari.

Polisi tua dan polisi muda masuk, membawa seorang perempuan yang diborgol.

Lina.

Lina sudah ditangkap di terminal bus kedua, saat mau naik bus ekonomi ke Kupang. Polisi menemukan sertifikat tanah Sari di tasnya, dan juga menemukan sesuatu yang lain.

Polisi tua itu menatap Johan yang masih tidur, lalu menatap Sari, dan berkata dengan suara berat...

"Bu Sari, maaf ganggu malam-malam. Kami tangkap Lina karena pencurian sertifikat dan laporan palsu. Tapi saat kami geledah tas Lina, kami menemukan ini..."

Polisi itu mengeluarkan sebuah buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) berwarna pink.

Buku KIA milik Lina.

"Kami lihat buku ini, dan kami kaget, Bu. Ternyata..."

Polisi itu membuka halaman tengah buku KIA itu dan menunjukkan pada Sari.

"Anak Lina, Kevin, yang katanya anak Johan dan lahir sempurna 3 hari yang lalu... ternyata di buku ini tertulis... Kevin lahir 2 bulan yang lalu, prematur, dengan kelainan jantung bawaan yang butuh operasi 100 juta! Dan golongan darah Kevin B, sedangkan Johan O, Lina O! Secara medis tidak mungkin Kevin anak Johan!"

Sari membeku, menatap buku KIA itu.

Lina yang diborgol langsung berteriak histeris, "TIDAK! ITU BUKAN BUKU SAYA! ITU FITNAH!"

Johan yang baru saja sadar dari tidurnya karena mendengar teriakan Lina, membuka matanya perlahan, melihat Lina diborgol, melihat Sari memegang buku KIA pink itu.

Johan dengan suara serak dan masih bingung karena efek obat bius berkata...

"Sari... Lina... siapa... siapa kalian...? Kenapa... kenapa saya di sini...?"

Dan PLOT TWIST TERBESAR MALAM ITU TERJADI.

Johan menatap Sari dan Bintang dengan tatapan kosong, tidak kenal, lalu menatap Lina dan berkata...

"Mama... Mama Lina... kapan Kevin operasi jantungnya? Aku sudah siapkan uang 50 juta dari jual tanah istriku..."

Johan amnesia. Ia lupa Sari. Ia lupa Bintang. Ia hanya ingat Lina dan Kevin.

 

1
Saint, SN
👋🏻👋🏻
atikah@72: makasih kak, sudah mampir di kolorai🙏🙏
total 1 replies
Paulus Waruwu
kak jnagan lupa mampir di akun aku juga ya
atikah@72: iya kak, salam kenal ya, moga kakak sukses selalu🫰
total 1 replies
oding's
haii ka aku mampir nih semangat yaa😍 yuk mampir jga di karya ku xixi
oding's: semangat trs yaa✨
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!