NovelToon NovelToon
Pembalasan Raden Roro: Kubuat Suamiku Jadi Gembel

Pembalasan Raden Roro: Kubuat Suamiku Jadi Gembel

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami / Romansa pedesaan
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

Raras hanya ingin pernikahannya berjalan tenang. Ia menutupi nama besar keluarganya, meninggalkan kemewahan di Yogyakarta, lalu memilih hidup sederhana bersama Danang, pedagang yang sedang naik daun.

Hingga suatu malam, Raras melihat pesan mesra di ponsel suaminya. Danang berselingkuh.

Yang lebih menyakitkan, keluarga Danang merendahkannya. Mereka menganggap Raras perempuan tanpa masa depan. Bagi mereka, Danang pantas mendapatkan wanita yang lebih cantik, lebih bergengsi, dan lebih menguntungkan.

Raras tidak menangis. Ia hanya berkemas, lalu pulang ke Yogyakarta.

Di balik pintu dalem keluarganya, kehidupan yang selama ini disembunyikan akhirnya terbuka. Ternyata tanah, sawah, kebun, gudang, hingga jaringan dagang milik keluarga Raras selama ini diam-diam menopang kesuksesan bisnis Danang dari belakang.

Raras tidak menghancurkan mantan suaminya. Ia hanya berhenti menopang. Satu per satu bisnis Danang runtuh. Ketika penyesalan itu datang terlambat, Danang sudah kehilangan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21 — Siapa Istrimu Sebenarnya (Revisi)

“‘Siapa istrimu sebenarnya, Nang?’ Itu yang Bapak tanyakan, Mbak. Persis begitu, dengan cangkir kopi masih di tangan.”

Suara Dimas terdengar rendah di ponsel, hampir berbisik. Di belakangnya, terdengar pintu mobil ditutup. Raras duduk di dipan pendapa belakang dalem, kaki ditarik ke atas. Secangkir wedang yang belum disentuh mengepul di sampingnya. Selasa, pukul delapan lewat empat puluh, dan sinar matahari baru menyentuh daun kamboja.

“Lalu Mas Danang menjawab apa?”

“Dia berdiri. Aku kira dia akan menunduk seperti biasa.” Dimas menarik napas. “Dia bilang, ‘Raden Roro Raras Pramesti, Pak. Cucu Raden Mas Jayeng Kusuma. Keluarga Pramesti yang selama ini memasok barang-barang kita.’”

Raras memejamkan mata. Di dadanya, sesuatu bergeser. Bukan lega, bukan pula takut.

“Bagaimana reaksi Bapak?”

“Diam. Ibu menjatuhkan cangkirnya, Mbak. Pecah di lantai marmer. Tidak ada yang bergerak untuk memungutnya.”

“Pak Surya?”

“Bapak lebih parah. Bapak yang tadinya bilang Mbak anak petani yang beruntung bisa masuk keluarga kami, mendadak tidak bisa bicara. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada suara.” Dimas berdeham. “Lalu Bapak bilang, ‘Saya tidak tahu.’ Itu pertama kalinya aku dengar Bapak mengakui tidak tahu.”

“Bapak punya laporan tentang Pak Hadi, kan?”

“Punya, sejak kemarin. Orang itu cuma menulis bahwa Pak Hadi bekerja untuk Pramesti. Bapak tidak pernah bertanya Pramesti yang mana.” Dimas tertawa getir. “Danang yang bertanya. Dia langsung mencari tahu ke pasar.”

“Ibu tidak apa-apa?”

“Ibu duduk sambil memegang dada, lalu bilang, ‘Dia tidak pernah bilang.’”

“Itu benar.”

“Aku tahu. Karena itu aku bilang ke Ibu, ‘Dia tidak pernah bilang karena Ibu tidak pernah bertanya.’ Maaf kalau aku lancang.”

“Tidak lancang, Mas.”

“Memang tidak.”

“Itu juga yang Danang jawab. ‘Saya tidak pernah bertanya, Bu.’” Dimas berhenti sejenak. “Mbak, aku mau cerita sampai habis. Boleh?”

“Silakan, Mas.”

“Bapak bertanya kenapa dia baru bilang sekarang. Danang menjawab bahwa dia baru tahu pagi ini, dari kuli pasar dan para pedagang. Lalu Bapak bertanya, ‘Jadi kamu menceraikan perempuan sekelas itu?’ Danang menjawab sesuatu yang bikin aku tidak bisa makan sampai sekarang.”

“Apa?”

“‘Saya meminta cerai dari istri yang tidak pernah menuntut apa-apa, Pak. Itu salah saya. Bukan karena dia Raden Roro. Kalau dia petani biasa pun, saya tetap salah.’”

Raras menekan telapak tangannya ke bibir. Matanya panas, dan ia membiarkannya. Dari dapur, Mbok Jinem menjenguk sebentar. Melihat wajah Raras, ia lalu mundur tanpa suara.

“Mbak masih di sana?”

“Masih, Mas.”

“Bapak bilang Danang masih bisa menarik surat itu. Membatalkan perceraian, minta maaf, lalu meminta Mbak mengembalikan semua kemudahan yang dulu dia dapat.” Suara Dimas mengeras. “Danang menolak.”

“Menolak?”

“Dia bilang itu pilihan Mbak, bukan haknya untuk meminta. ‘Kalau Raras mau menerima saya, itu hadiah. Kalau tidak, saya yang harus belajar menerima.’ Bapak langsung berdiri dan bilang semua akses ke kas serta kontrak akan ditarik dari Danang. Mulai hari ini, Bapak sendiri yang akan memegangnya.”

“Lalu Mas Danang?”

“Dia mengangguk. Tidak membantah satu kata pun.” Dimas tertawa pendek. “Mbak tahu tidak, itu pertama kalinya aku melihat dia tidak membantah karena sadar bahwa dia salah, bukan karena takut.”

“Itu bedanya, Mas.”

“Bedanya besar.” Dimas berhenti sebentar. “Ada satu lagi, Mbak. Ini yang dari tadi bikin aku ingin menelepon.”

“Apa?”

“Danang membantah Bapak.”

Raras menegakkan punggung. “Membantah?”

“Waktu Bapak mengulang soal ‘orang kampung’, Danang bilang, ‘Bapak menyebut ayah Raras orang kampung di meja makan, dan saya diam. Itu salah saya. Tapi sekarang saya tidak akan diam lagi. Raden Mas Jayeng Kusuma tidak pernah menagih satu rupiah pun atas semua yang beliau berikan kepada kita.’”

“Mas Danang bilang begitu di depan Bapak?”

“Di depan semua orang. Aku sudah menunggu dia membantah sejak Kamis, Mbak. Akhirnya dia bicara.” Dimas tertawa pendek. “Terlambat enam hari, tapi setidaknya dia bicara.”

“Terlambat tetap lebih baik daripada tidak sama sekali.”

“Aku juga bilang begitu kepadanya.”

“Lalu Mbak Niken? Dia ada di rapat itu?”

“Tidak, Mbak. Dia di kamar tamu. Ibu mengantarkan nasi sendiri tadi pagi. Itu pertama kalinya Ibu mengurus orang yang bukan keluarganya.”

“Itu langkah kecil.”

“Mungkin, Mbak.”

Raras menyeka sudut matanya dengan punggung tangan. “Mas Danang sekarang di mana?”

“Sudah pergi. Setelah Bapak selesai bicara, dia bilang mau makan nasi jagung dulu. Aku tidak tahu kenapa dia harus makan itu, tapi katanya dia sudah janji kepada seseorang.”

Raras tertawa, serak dan basah. “Bu Warsih.”

“Siapa?”

“Tidak penting, Mas. Terima kasih.”

“Mbak.” Suara Dimas merendah. “Ada satu hal lagi yang harus kusampaikan. Ini yang paling berat.”

“Katakan.”

“Ibu minta nomor Mbak. Aku tidak memberikannya karena belum minta izin.”

“Berikan, Mas.”

“Mbak yakin?”

“Saya tidak mau Ibu mencari nomor saya dari orang lain.” Raras menarik napas. “Saya juga ingin tahu apa yang Ibu katakan setelah mendengar nama itu.”

“Baik. Hati-hati, Mbak.”

“Mas, Bapak sudah minta maaf soal ucapannya?”

“Belum. Mungkin juga tidak akan.” Dimas menghela napas. “Tapi dia tidak mengulangi kata itu lagi. Mungkin itu caranya meminta maaf.”

“Saya tidak butuh Bapak minta maaf, Mas. Saya cuma butuh Bapak berhenti mengucapkannya.”

“Mas Dimas.”

“Ya?”

“Terima kasih sudah menceritakan semuanya. Tidak lebih, tidak kurang.”

Sambungan ditutup. Raras meletakkan ponsel di dipan, lalu mengambil cangkir wedang dengan kedua tangan. Uap jahe membasahi wajahnya. Baru saat itu ia sadar bahwa sejak tadi ia belum mengatur napas dengan benar. Mbok Jinem muncul membawa sepiring singkong rebus.

“Ndoro, mangan dhisik (makan dulu).”

“Matur nuwun, Mbok.”

“Ndoro mboten nangis (Ndoro tidak menangis)?”

“Sedikit, Mbok.”

“Nangis iku ora aib, Ndoro (menangis itu bukan aib).”

“Mbok, Mas Danang berani membantah bapaknya tadi pagi.”

“Alhamdulillah, Ndoro.” Mbok Jinem menyentuh dadanya. “Wong lanang kuwi, nek wis wani ngomong, biasane wis ngerti salahe (laki-laki itu, kalau sudah berani bicara, biasanya sudah tahu salahnya).”

“Mbok yakin?”

“Mboten yakin, Ndoro. Tapi Mbok ngarep-arep (tidak yakin, Ndoro. Tapi Mbok berharap).”

Ponselnya bergetar sebelum Raras sempat menjawab. Di layar muncul satu nama yang selama tiga tahun ia simpan dengan hormat: Ibu Marlina.

Raras menarik napas panjang, lalu menekan tombol hijau.

“Selamat pagi, Bu.”

“Raras.” Suara Marlina serak, jauh dari nada angkuh yang selama ini Raras kenal. “Ini Ibu.”

“Inggih, Bu.”

“Benarkah, Nduk? Apa yang Danang katakan di rumah tadi?”

“Benar, Bu.” Raras memandang daun kamboja di halaman. “Saya cucu Eyang Jayeng Kusuma. Saya bagian dari keluarga Pramesti.”

“Kenapa kamu tidak pernah bilang?”

“Karena Raras tidak mau Ibu menyayangi Raras karena nama itu.” Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara lebih tegas. “Raras ingin disayangi sebagai Raras, Bu. Tiga tahun saya menunggu, tapi itu tidak pernah terjadi.”

Hening. Dari ujung sana terdengar napas yang tertarik tersendat, disusul bunyi kursi bergeser.

“Ibu memanggil Niken ‘Nduk’ di depanmu.”

“Ya, Bu. Saya dengar.”

“Ibu salah, Nduk?”

“Ibu tahu jawabannya.”

“Ibu tahu.” Suara Marlina pecah, terdengar kecil, jauh dari suara yang pernah Raras kenal. “Ibu tidak pernah memanggilmu begitu, ya? Tiga tahun, dan Ibu tidak pernah.”

“Tidak pernah, Bu.”

“Ibu...” Marlina terdiam. “Ibu minta maaf.”

“Terima kasih, Bu.” Raras memejamkan mata. Air matanya jatuh ke pangkuan. “Raras menerima maaf Ibu. Tapi maaf itu belum mengubah apa pun, Bu. Surat itu masih ada, kalimat itu masih ada, dan Mbak Niken masih tinggal di rumah Ibu.”

“Ibu tahu.”

“Raras tidak menuntut Ibu memilih Raras. Raras hanya minta Ibu jujur kepada diri sendiri.”

“Niken menangis dua hari, Nduk. Dia tidak mau makan.”

“Jangan buang dia, Bu. Dia juga korban.” Raras berusaha menahan suaranya agar tidak bergetar. “Dia dibawa masuk tanpa tahu apa yang menunggunya. Itu bukan salah dia.”

“Ibu bisa mengganti kerugianmu. Ibu bisa...”

“Bukan uang, Bu.”

“Lalu apa?”

“Kejujuran. Itu yang Raras minta. Hanya itu.”

“Ibu sudah sarapan?” tanya Raras tiba-tiba, bahkan sebelum ia sadar telah mengucapkannya.

“Belum.” Marlina tertawa pendek, suaranya goyah. “Kamu masih menanyakan itu kepada Ibu?”

“Saya tidak bisa berhenti, Bu. Makanlah dulu.”

“Ibu akan jujur.” Napas Marlina bergetar. “Tapi Ibu tidak mau membicarakannya lewat telepon. Ibu mau bicara langsung. Besok pagi, Ibu ke sana.”

“Ke Yogya, Bu?”

“Ke rumah tempat kamu tinggal sekarang. Ibu tidak akan membawa apa-apa, Nduk. Hanya Ibu.” Marlina menelan ludah. “Tolong, bukakan pintu.”

Raras memandang pagar teras, daun kamboja yang bergoyang, dan pintu pendapa yang sejak kecil tidak pernah ia lihat terkunci. Ia menelan ludah.

“Pintu dalem tidak pernah dikunci, Bu.”

1
Muft Smoker
lanjuuut kak
Nurlaila Hidayah
Dia lah yg telah membersihkan jalan untuk ku mempermudah usahaku tnpa adanya hambatan, tapi dengan tidak tahu malu dan tidak tahu diri nya, diri ini berani untuk menduakan dan menceraikan demi wanita lain. padahal dia yg telah membantu usahaku
Sri Widiyarti
lanjut thor semangat up-nya
Erchapram: Mohon sabar menunggu ya Kak, karena aku sedang revisi mulai bab 1. Terima kasih supportnya 🙏
total 1 replies
Sri Widiyarti
Danang kesuksesanmu ternyata bantuan istri yang kau ceraikan demi perempuan lain..
Erchapram
Yang sudah baca sampai bab ini, boleh gak sih aku minta bintang limanya 🙏 Makasih banyak sebelumnya.
Sri Widiyarti
lanjut thor jangan lama2 🙏
Erchapram: Iya, Kak. Terima kasih supportnya 🙏
total 1 replies
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
Raras udh mulai bergerak ,,
Baek chanhun
next thort 💪💪
Muft Smoker
baruuu ini ad cerita byk pake bahasa daerah ,, cerita ny bagus kak ,,
lanjuut
Muft Smoker
hai kak ,, mampir aq ,,
Baek chanhun
thank, saran nya di terimah, yg bab tarakhir itu flasback ya.
🙏💪
Erchapram: Terima kasih kembali Kak dan iya, itu flashback.
total 1 replies
Baek chanhun
senang banget ada bahasa daerah, tapi, kalo ada artinya lebih bagus lagi, gua orang luar jawa ng ngerti apa.yg.di omongin, 🙏🙏
Erchapram: Sudah aku revisi Kak, bisa dibaca ulang. Terima kasih.😍
total 2 replies
Soraya
lanjut thor
Soraya
hadir thor lanjut
Baek chanhun
lanjutkan thort. 💪💪
Erchapram: Baik... terima kasih supportnya.
total 1 replies
Ma Em
mampir Thor , buat Danang menyesal karena sdh menduakan Raras .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!