Ogah jadi istri kedua aki-aki tapi tak mau rugi, Elara (22) memutar otak saat hendak dijadikan istri muda oleh Pak Broto (65). Di tengah acara lamaran yang tegang, dengan nekat dia menunjuk pria berjas hitam di seberang meja.
"Maaf Pak, saya nolak jadi istri kedua Bapak. Tapi kalau nikah sama anak Bapak yang itu... saya mau."
Arka (30), CEO sekaligus anak tunggal Pak Broto, mendadak tersedak dan langsung mengiyakan tawaran gila itu, demi menyelamatkan perasaan ibunya. Namun, niat Arka menyelamatkan rumah tangga orang tuanya justru menjadi awal dari bencana di rumah mewahnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gadis bucin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari H dan Kerusuhan Pertama
Lima hari berlalu secepat kepakan sayap burung kutilang. Elara berdiri di depan cermin rias berukiran emas, mengenakan kebaya putih simpel, namun elegan yang membalut tubuhnya dengan pas. Tidak ada gaun heboh bertabur kristal swarovski, tidak ada panggung katering megah. Dan, yang paling penting, tidak ada penderitaan, karena harus dipajang berdampingan dengan Pak Broto.
Namun, ketenangan itu terusik saat pintu kamar rias didobrak pelan oleh ibunya yang masuk dengan wajah cemas bercampur panik.
"Elara! Kamu beneran mantap mau nikah sama Arka?" bisik ibunya setengah histeris. Dia menghampiri Elara sambil merapikan sanggulnya sendiri. "Ibu masih nggak nyangka kamu nekat banget. Kemarin Pak Broto ngamuk-ngamuk di rumah, untung Nak Arka langsung ngirim pengawal buat beresin situasi!"
Elara mengoleskan lip gloss merah muda di bibirnya, lalu menatap sang ibu lewat pantulan cermin. "Lho, Bu, harusnya Ibu syukuran tujuh hari tujuh malam. Anak Ibu ini berhasil menyelamatkan Ibu dari dosa jadi saksi Pak Broto ngeduain istrinya, sekaligus ngangkat derajat keluarga kita, dapet menantu CEO Valora Group. Kurang berbakti apa lagi Ara?"
"Tapi Arka itu kaku banget, Nak. Mana umurnya beda delapan tahun lagi," cetus ibunya gusar.
Elara memutar badannya menghadap sang ibu, lalu bersedekah tangan di dada. "Ya masih mending beda delapan tahun daripada sama aki-aki bau tanah umur enam puluh lima tahun! Ibu gimana, sih? Milih yang masih fresh dan kaku kayak kanebo kering, atau milih yang bau minyak angin terus siap-siap kita urus encoknya tiap malam?"
Ibunya terdiam seketika. Matanya mengerjap-ngerjap, otaknya mendadak mencerna ucapan logis Elara. "Bener juga ya," batin ibunya yang mendadak tidak bisa membantah lagi.
"Lagian ya, Bu," tambah Elara santai sambil menepuk-nepuk bahu ibunya. "Yang penting uang jajan Ara aman, akun thrifting Ara dilindungi hukum, dan Ibu nggak usah pusing mikirin biaya kontrakan lagi."
Sebelum ibunya sempat membalas, Doni, sekretaris Arka yang hari ini merangkap jadi Wedding Organizer darurat, mengetuk pintu.
"Mbak Elara, penghulu dan saksi sudah siap di ruang utama. Pak Arka juga sudah menunggu," ujar Doni sopan.
Elara menghela napas panjang, merapikan bagian bawah kebayanya, lalu berdiri tegak. "Oke, mari kita selesaikan transaksi gila ini."
Ruang tamu utama di kediaman besar keluarga Broto disulap menjadi tempat akad nikah yang sangat privat. Dekorasinya didominasi warna putih dan dedaunan hijau segar. Suasana terasa sangat hening dan tegang.
Di sudut ruangan, Pak Broto duduk bersedekap tangan dengan wajah cemberut maksimal, seraya menatap tajam ke arah anak tunggalnya. Sementara itu, di sebelah Pak Broto, duduk seorang wanita paruh baya bermuka anggun yang memancarkan aura lembut, Ibu kandung Arka. Wanita itu menatap Elara yang berjalan mendekat dengan binar mata yang hangat dan lega. Tampaknya, kehadiran Elara benar-benar membatalkan niat Pak Broto untuk menduakan cintanya.
Arka sudah duduk kaku di depan meja akad. Pria itu tampak sangat tampan dan gagah mengenakan beskap putih bersih, meski garis wajahnya tetap tertekuk datar tanpa senyum sedikit pun. Matanya mengunci pergerakan Elara yang kini duduk di sampingnya.
"Bisa kita mulai?" tanya Pak Penghulu menatap kedua calon mempelai.
Arka mengangguk singkat. "Silakan, Pak."
Prosesi ijab kabul berlangsung amat cepat dan efisien, khas gaya Arka yang anti berbelit-belit. Saat Arka menjabat tangan penghulu, suaranya terdengar begitu mantap, lantang, dan tanpa ragu sedikit pun.
"Saya terima nikahnya Elara Paramita binti Suherman dengan mas maskawin tersebut, dibayar tunai!"
"Bagaimana para saksi? Sah?"
"SAH!"
Dalam satu tarikan napas, status Elara resmi berubah dari gadis lajang menjadi istri dari CEO Valora Group. Elara mencium tangan Arka yang terasa hangat dan kokoh, sementara Arka hanya menyentuh dahi Elara sebentar dengan ujung jarinya. Sangat formal dan kaku, sampai-sampai Pak Penghulu harus terkekeh canggung.
"Selamat ya, Nak Arka, Mbak Elara. Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah," doa Pak Penghulu.
Begitu acara penyematan cincin selesai dan para tamu inti menikmati hidangan, Ibu Arka langsung memeluk Elara erat-erat.
"Terima kasih ya, Elara," bisik Ibu Arka lembut di telinga Elara, matanya berkaca-kaca. "Kamu tidak tahu seberapa besar arti tindakan kamu buat Ibu. Arka cerita semuanya. Kamu anak yang sangat baik dan berani."
Elara sedikit tertegun. Dia menyunggingkan senyum tulus. "Sama-sama, Ibu. Elara juga seneng, kok."
Sementara itu, Pak Broto menghampiri Arka dengan wajah masih dongkol. "Kamu ini bener-bener anak durhaka, Arka. Main nyerobot calon istri Papa!"
Arka menyesap air putihnya dengan tenang. "Saya tidak menyerobot, Pa. Saya cuma menyelamatkan Papa dari kelakuan yang bikin malu keluarga. Dan yang paling penting, Ibu bahagia."
Pak Broto melengos kasar lalu berjalan pergi meninggalkan acara, membuat Elara yang memperhatikan dari jauh cuma bisa menahan tawa.
Malam harinya, kerusuhan sejati baru saja dimulai.
Pukul delapan malam, mobil sedan hitam Arka berhenti di depan sebuah rumah mewah dua lantai berarsitektur minimalis modern di kawasan perumahan elit Jakarta Selatan. Ini adalah rumah pribadi Arka. Tempat yang selama ini dikenal sebagai zona steril, tenang, dan tanpa celah.
Arka membukakan pintu rumah, menyalakan lampu utama, lalu menggeser koper besar milik Elara ke dalam hall depan.
"Ini rumah saya," ujar Arka dingin, membalikkan badan menghadap Elara. "Mulai malam ini, kamu tinggal di sini. Tolong ingat empat poin perjanjian yang sudah kamu tanda tangani."
Elara mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah Arka. Ruang tamunya luar biasa bersih. Nuansa warna dominan abu-abu, hitam, dan putih. Tidak ada satu pun barang yang letaknya melenceng, tidak ada hiasan warna-warni, bahkan tidak ada satu helai debu pun yang melayang. Rumah ini lebih mirip ruang pameran furnitur daripada tempat tinggal manusia.
"Mas Arka... ini rumah apa museum nasional?" tanya Elara heran sambil menyentuh meja kaca yang kinclong tanpa noda. "Sepi banget, mana warnanya monokrom semua. Nggak ada warna cerianya gitu?"
"Ini desain minimalist-modern," potong Arka tegas. "Kamar kamu ada di lantai dua, sebelah kiri. Kamar saya di sebelah kanan. Kita tidur pisah kamar."
"Oh, aman! Saya juga belum siap tidur bareng pria kaku kayak Mas," sahut Elara tanpa beban.
Arka menarik napas panjang, menahan rasa gatal di telinganya. "Satu hal lagi. Saya bekerja dari rumah kalau malam. Saya butuh ketenangan. Dilarang menyetel musik kencang-kencang, dilarang makan makanan berbau menyengat di ruang tengah, dan dilarang—"
Belum selesai Arka bicara, Elara sudah mengangkat kopernya sendiri dengan perkasa naik ke tangga lantai dua. "Iya, siap Mas CEO! Saya paham aturan mainnya. Saya mau beres-beres kamar dulu."
Arka menggelengkan kepala. Pria itu berjalan ke dapur, menyeduh secangkir kopi hitam tanpa gula untuk menenangkan pikirannya, lalu membawa laptopnya ke ruang kerja lantai bawah.
Namun, ketenangan Arka hanya bertahan tepat tiga puluh menit.
Saat Arka sedang fokus meneliti laporan keuangan bulanan anak perusahaan Valora Group, tiba-tiba terdengar suara dentuman bas kencang dari lantai atas.
Suara musik dangdut koplo berlirik heboh bergema menembus langit-langit rumah mewahnya. Tak lama kemudian, terdengar suara nyanyian Elara yang melengking menggunakan botol parfum sebagai mik dadakan.
"Tarik Sis! Semongko! Mengapa semua ini harus terjadi~"
Kopi hitam di dalam cangkir Arka sampai bergetar pelan. Pennya yang sedang memaraf dokumen terhenti seketika di udara. Matanya membelalak tak percaya.
Arka berdiri dari kursinya dengan wajah yang mulai menggelap. Pria itu melangkah lebar menaiki tangga menuju lantai dua, memancarkan aura intimidasinya yang paling mengerikan.
Arka mengetuk, lebih tepatnya menggedor pintu kamar Elara dengan keras. "Elara! Buka pintunya!"
Pintu terbuka. Elara berdiri di ambang pintu mengenakan daster motif batik warna merah menyala. Rambutnya diikat asal-asalan ke atas, dan ponselnya ditaruh di atas meja rias, sambil memutar musik lewat speaker bluetooth portable berbentuk karakter kartun.
"Eh, Mas Arka! Ada apa? Mau ikut joget?" tanya Elara dengan polosnya, menyodorkan botol parfum ke depan muka Arka.
Arka menatap Elara dengan napas naik-turun. "Kamu tahu jam berapa sekarang?! Dan suara apa yang kamu putar ini?!"
"Lho, ini kan musik penyemangat pas lagi unpacking koper, Mas," balas Elara tanpa rasa bersalah. "Kalau nggak pake musik, ngerapihin bajunya lambat. Lagian ini di dalam kamar saya, kok!"
"Suaranya nembus sampai ke ruangan kerja saya di lantai bawah!" desis Arka. Matanya menatap speaker bluetooth di meja Elara seperti ingin meremukkannya jadi debu. "Ingat pasal empat? Dilarang membuat kerusuhan!"
Elara mengerutkan keningnya, lalu berkacak pinggang. "Eits, Mas Arka lupa pasal tambahan tulisan tangan saya? Mas Arka dilarang galak dan ngomel tanpa alasan! Ini saya cuma lagi beberes baju, bukan lagi bikin demo buruh di depan rumah!"
"Memutar musik dangdut koplo jam sembilan malam dengan volume maksimal di rumah saya BUKAN tanpa alasan?" amuk Arka, suaranya sedikit meninggi.
Elara menatap Arka lekat-lekat, bukannya takut, bibirnya justru mengukir senyum jahil yang sangat memancing emosi. Dia memangkas jarak, melangkah mendekati Arka yang berdiri menjulang.
"Oh... jadi Mas CEO risih, ya?" goda Elara dengan suara yang dibuat-buat manis. "Yaudah deh, suaranya saya kecilin sedikit. Tapi sebagai gantinya, Mas Arka bantuin saya ngangkat kardus stok baju thrifting saya dari bawah, gimana?"
Arka terdiam mematung. Matanya menatap Elara dengan tatapan tak percaya. Pria yang ditakuti oleh ratusan direktur di Valora Group, baru saja ditawar dan diperintah oleh seorang gadis 22 tahun berdaster merah di malam pertama pernikahan mereka.
Dan di dalam hatinya yang paling dalam, Arka mulai menyadari satu hal pahit: aturan-aturan hukum yang disusunnya rapi sama sekali tidak berguna di hadapan Elara.