Untuk keluar dari penjara keluarga, Charoen Torrer harus menerima pinangan dari seorang mafia ternama. Walau hanya jadi istri sementara, tetapi demi kebebasannya. Char menerima tawaran itu tanpa berpikir dua kali.
Tanpa ia tahu ke depannya, hidupnya jauh lebih rumit di banding rumah yang rasanya seperti penjara itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 11
Air mata Char mengalir saat mendengar kata-kata "dibuang". Entah sejak kapan, ayahnya sudah tidak begitu peduli dengan dirinya. Begitu juga ibunya. Perusahaan sebagai prioritas ayah biologisnya itu. Selain ia memanjakan tiga keponakannya, Grace, Don dan Tania.
Alexander mendekus kasar, ia berdiri dan menarik bahu sang gadis lalu membenamkan wajah Char di dadanya. Memeluknya erat menanamkan ketenangan padanya.
Mata Rudolph membelalak, bukan hanya dia Raph yang sangat tahu sifat tuannya juga tak percaya dengan apa yang ia lihat.
'Cepat sekali ...,' gumamnya berbisik sangat lirih.
Lalu entah kenapa, Char yang kuat langsung pecah tangisannya di dada Alexander.
"Kau sudah melampaui batas Grandpa ...," ujarnya dengan suara berat.
"Aku ...? Aku mengatakan yang sebenarnya, Alex!" ujar Rudolph tak merasa bersalah.
Dua puluh menit berlalu.
Rudolph menatap kendaraan mewah milik cucunya meninggalkan halaman. Ia menghela napas panjang.
"Maaf jika tadi terlalu kasar Char. Tapi aku jujur, Ayahmu sama sekali tak takut menyerahkan begitu saja dirimu ke tangan Alexander. Bahkan ia bertanya perihal hutang seratus juta dolarnya, tanpa bertanya apa kau masih bernapas di dekapan Alexander ...."
"Tuan ...."
Rudolph menyeka sudut matanya yang basah.
"Baru kali ini aku melihat seorang ayah membuang darah dagingnya!"
"Apa mungkin Tuan salah paham atas ini semua?" tanya Edward sang asisten pribadi pria tua itu.
"Usiaku mau seratus tahun, Edward!" sahut Rudolph tajam.
"Aku bisa tahu bagaimana orang itu bersikap, bahkan yang ia pikirkan tanpa dia mengatakan apapun!" lanjutnya lagi tegas.
"Tapi tadi ... dia ... Seorang ayah. Ketika Dominic menelponnya dan mengatakan jika aku ingin bicara. Pria itu langsung menanyakan bagaimana kelangsungan perusahaan dan hutangnya ...."
Rudolph mencengkram kuat-kuat tongkat kayu yang menopang bobot tubuhnya. Edward mendekat dan membawa tuannya ke kursi malas.
"Jangan dipikirkan lagi Tuan Besar. Nona Torrer sudah ada dalam genggaman anda. Tuan Torrer ... maksudku Ayah gadis itu sudah kehilangan haknya kecuali mengantarkannya lusa ke altar di depan Paus Fransiskus!" ujarnya tenang.
Rudolph duduk di kursi goyang, sebuah cangkir teh yang masih hangat disodorkan.
"Tehnya Tuan," Rudolph menerimanya, lalu menyeruput air berwarna kecoklatan itu.
"Ah ... Teh ini kenapa berbeda, Edward?" tanyanya.
"Lebih kuat dan aroma melatinya ...."
"Itu teh yang diekspor langsung dari perkebunan teh di Indonesia, Tuan," jawab Edward.
Rudolph mengangguk, lalu menandaskan tehnya. Walau sedikit tenang, tapi ia masih sangat kesal dengan ayah dari Char.
"Edward ... jika kau punya putri secantik dan sepintar Charoen. Apakah kau mau memberikannya padaku?" tanya Rudolph.
"Anda adalah pria terbaik di Negara Montana. Siapa yang tidak mau anak-anaknya dididik langsung di tangan Anda?" jawaban Edward membuat Rudolph membusungkan dada.
"Itu kalau aku. .. tapi kau tau kan Tuan mudamu?" sahutnya bertanya.
Edward diam dan tidak menjawab, bukan ia tidak tahu. Tetapi, ia sangat tahu apa yang bakal terjadi pada putrinya di tangan mafia ternama di dunia itu.
Sementara di mobil Alphard, Char tertidur karena kelelahan hati. Napasnya sedikit tersendat akibat Isak yang tersisa, wajahnya kemerahan, matanya yang menutup nampak basah dan sembab. Alexander mengelus pipi gadis itu perlahan. Raphael menatapnya via spion tengah.
"Jangan berpikir macam-macam, Raph!" tegur Alexander tak suka.
"Saya tidak berani Tuan ...."
"Kita bawa dia ke rumah ...."
"Rumah Nona Torrer?" tanya Raph.
Alexander menghela napas panjang, ia tidak mungkin membawa anak gadis orang ke rumahnya sendiri. Ia masih ingin menjaga batasan dan harga diri sang gadis.
"Iya, kita antar dia ke rumahnya dan langsung mengatakan untuk bersiap fitting juga foto prewed!"
"Baik, Tuan Muda," sahut Raphael singkat, dengan cekatan memutar kemudi menuju kediaman Keluarga Torrer.
Mobil meluncur membelah jalanan Seradam yang mulai lengang. Di kursi belakang, Alexander tidak melepaskan pandangannya dari wajah lelap Charoen. Jemari kokohnya mengusap lembut jejak air mata yang mengering di pipi gadis itu. Ada dorongan asing yang begitu kuat di dalam dada sang mafia—keinginan mutlak untuk melindungi dan membalaskan seluruh rasa sakit yang pernah digoreskan oleh keluarga biologis Charoen.
Tiga puluh menit kemudian, mobil Alphard dengan logo Romanov meluncur masuk ke halaman rumah Keluarga Torrer.
Kehadiran kendaraan mewah itu seketika memancing perhatian dari dalam rumah. Gorgio yang sedang duduk di ruang tamu bersama Gina dan istrinya langsung berdiri. Mata mereka membelalak melihat mobil eksklusif klan paling ditakuti itu kembali terparkir anggun di halaman mereka.
Gorgio langsung membuka pintu hendak menyambut kedatangan sang pemilik kota Seradam. Gina dan Lotta berdiri di belakangnya. Tak lama, Robert, Grace, Don dan Tania ikut bergabung.
Grace yang mengintip di sela-sela tubuh paman dan bibinya. Tak begitu melihat jelas. Ia pun bergeser ke jendela, membuka tirai. Lalu tak lama, matanya membola saat melihat sosok tubuh tinggi dan tampan membopong sepupunya layaknya putri tidur.
Gorgio dan lainnya langsung memberi jalan.
"Biar saya yang bawa dia ke kamarnya ...."
Mata Alexander menatap Gorgio tajam, pria paru baya itu menelan saliva pelan-pelan. Lalu tanpa disuruh, ia menuntun Alexander yang menggendong putrinya ke kamarnya. Ia sangat-sangat bersyukur telah mengembalikan kamar sang putri.
'Jika Tuan Muda Romanov tahu dulu Char tidur di loteng ...,' ia langsung bergidik.
Grace tiba-tiba punya pikiran lain, ia langsung berlari ke dapur. Menjelang air dan membuatkan teh. Sungguh ia sangat yakin dengan perbuatannya akan memberi kesan pada sang Romanov.
Alexander keluar dari kamar dan berjalan tegap. Lalu ....
"Tuan Muda ... Saya selaku sepupu dari Char memohon maaf atas kelancangan sepupu saya yang menyulitkan anda!" seru Grace menghentakkan langkah Alexander.
Sungguh Grace bersorak riang dalam hati. Ia sangat yakin jika Romanov tak menyukai Char.
Tadinya Grace menundukkan kepalanya, lalu perlahan ia mendongak berharap wajah sang mafia menatap langsung wajahnya. Akan tetapi ...
Punggung Alexander masih berdiri membelakanginya. Grace menelan ludahnya.
"Tuan Muda, saya harap kelakuan Char hari ini tidak membuat hati anda kacau dan marah ...."
"Torrer!" suara Alexander begitu berat menekan suasana.
Gina langsung mendekati putrinya agar tidak lagi berbicara.
"Tu-Tuan...."
"Siapkan diri, besok kami akan fitting dan prewedding. Lusa pemberkatan pernikahan di Katedral Montenare!"
Grace terkejut bukan main, nampan berisi cangkir teh langsung terlepas dari pegangannya.
Prang!
Bunyi pecahan kaca terdengar keras dan membuat semua orang ketakutan.
"Kami pergi, besok aku sendiri yang menjemput Char!" sahut Alexander abai dengan kegaduhan tadi.
Pria berambut perak itu melangkah keluar tanpa memalingkan wajah sedikit pun, meninggalkan kepingan porselen yang hancur berantakan di lantai marmer—sama seperti hancurnya harga diri dan keangkuhan Grace dalam sekejap.
Wajah Grace memerah padam sebelum akhirnya berubah pucat pasi. Lututnya bergetar hebat saat menyadari bahwa usahanya untuk memojokkan Charoen justru dibalas dengan pengumuman pernikahan paling agung di seluruh negeri.
"Lusa? Pernikahan?" Grace tak percaya.
"Diam!" bentak Gorgio.
"Tadi Tuan Besar juga sudah mengumumkan pernikahan Char akan diadakan lusa," lanjutnya tenang.
"Sebaiknya kita berisitirahat ...."
Gina hendak membawa putrinya ke kamar tamu.
"Bersihkan itu dulu Gina!" sentak Gorgio.
"Kakak ...!" Gina tentu protes.
"Bersihkan ... Atau kalian tak usah ikut besok!" ancaman Gorgio memaksa Gina membersihkan kekacauan yang dibuat putrinya.
Sementara di kendaraannya. Alexander mencengkram jok mobil kuat-kuat.
"Raph...."
"Saya Tuan!"
"Kita ke club tembak. Aku sedang kesal!"
"Baik Tuan!"
Kendaraan itu pun meluncur ke sebuah tempat di mana Alexander bisa melampiaskan emosinya.
Bersambung.
Dih.... Grace ...
Next?
semakin seru nh,gak sabar nunggu reaksi keluar char terutama ayahnya n si grace
si Grace carmuk.banget
gengsi Segede gunung
bau bau akan keromantisan n kebucinan sang mafia akan segera menguar nh