Cerita terinspirasi kisah nyata!
Karena tak tahan dengan kerasnya didikan sang ayah, Galih nekat pergi dari rumah. Dia meninggalkan kampung halamannya hanya dengan selembar uang seratus ribu.
Galih memilih pergi ke ibukota. Di sanalah dia menemukan tempat tinggal baru yaitu sebuah kost campuran. Di sana Galih bertemu wanita cantik yang ternyata istri orang, lalu gadis pendiam misterius, serta lelaki mencurigakan yang terus menatapnya. Saat satu per satu misteri terkuak, Galih sadar, tempat yang ditinggalinya punya sisi gelap tak terduga.
Di antara sisi gelap itu, Galih berusaha keras mengejar mimpi dan memperbaiki kehidupannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14 - Ketemu Mantan
Matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah sekat papan kamar. Galih terbangun dengan sisa-sisa pegal yang masih menempel di sekujur tubuhnya, namun hatinya merasa jauh lebih tenang setelah peristiwa mencekam semalam. Ia membasuh muka di kamar mandi umum yang sepi, berganti pakaian kemeja polos yang sudah agak lecek, lalu melangkah keluar meninggalkan kosan menuju Warung Makan Bu Asih.
Sesampainya di warung, suasana masih terasa amat lengang. Pak Susilo sedang merapikan etalase kaca seraya sesekali membetulkan posisi wadah lauk, sementara Bu Asih sibuk menata sendok di meja kasir.
"Pagi, Pak, Bu," sapa Galih sopan.
Pak Susilo hanya mendengus pelan tanpa menoleh, namun Bu Asih menyambutnya dengan senyuman hangat. "Pagi, Galih. Langsung ke belakang ya, Koni sudah mulai menyiapkan bumbu di dapur."
Galih mengangguk dan langsung menyingsingkan lengan kemejanya. Sepanjang pagi hingga menjelang siang, Galih bekerja ekstra keras. Ia menyapu pelataran depan, membersihkan sisa piring kotor, serta membantu Koni mengulek cabai dan memotong sayuran. Rasa lelah tak dirasakannya karena pikirannya fokus pada satu hal: mengumpulkan uang untuk menyambung hidup dan mandiri.
Sekitar pukul satu siang, hawa terik matahari kota mencapai puncaknya. Jam makan siang membuat warung yang biasanya sepi mulai kedatangan beberapa pengunjung. Suara gemerincing es di dalam gelas dan aroma tumisan masakan memenuhi ruangan sederhana itu.
Saat Galih sedang sibuk mengelap salah satu meja kayu di dekat pintu masuk, sebuah mobil sedan putih buatan luar negeri berhenti tepat di depan warung. Pintu mobil terbuka, dan turunlah sejoli muda-mudi berpakaian rapi dan sangat modis.
Galih yang baru saja mengangkat lap basahnya mendadak mematung. Matanya membelalak lebar, dan dadanya bergemuruh hebat seolah dihantam benda tumpul.
Gadis yang baru saja melangkah masuk sambil merapikan gaun cantiknya itu adalah Mila.
Mila... cinta pertama Galih sewaktu di SMA. Gadis yang pernah mengisi hari-hari indahnya sebelum takdir memisahkan mereka. Dulu mereka terpaksa mengakhiri hubungan secara baik-baik karena Mila harus pindah ke kota untuk berkuliah, sementara Galih terkungkung di desa oleh kekangan ayahnya yang keras. Rasa sayang dan kenangan manis itu sejujurnya masih tersimpan rapi di dalam sudut hati Galih yang paling dalam.
Gadis itu berjalan beriringan dengan seorang pemuda bertubuh tinggi, berambut rapi gaya klimis, serta mengenakan jam tangan mewah yang berkilau disiram cahaya matahari. Pemuda itu memegang pundak Mila dengan mesra.
Jantung Galih berdegup tak beraturan. Ada kebahagiaan terpancar karena bisa melihat kembali paras cantik yang amat dirindukannya, namun ada pula paku kepedihan yang mendadak menusuk dadanya saat melihat siapa yang berdiri di samping gadis itu.
Pasangan itu memilih duduk di meja bagian tengah. Galih menarik napas panjang, berusaha menetralkan gemetar di tangannya. Ia mencoba menegakkan bahunya, merapikan apron kusam yang melilit pinggangnya, lalu melangkah mendekati meja mereka dengan memaksakan seulas senyum.
"Selamat siang... Mau pesan apa?" sapa Galih dengan suara yang sedikit bergetar.
Mila mendongak, berniat menyebutkan pesanan. Namun, begitu pandangannya beradu dengan mata Galih, ucapan gadis itu terhenti seketika. Bibirnya yang berpoleskan lipstik tipis sedikit terbuka.
"Ga-Galih...?" bisik Mila kaget.
Melihat reaksi Mila yang mengenalinya, Galih tak sanggup menahan senyum mewarnai bibirnya. Rasa rindunya seolah pecah. "Iya, Mil... Ini aku, Galih. Apa kabar?"
Namun, respon yang diharapkan Galih sama sekali tidak terwujud. Senyuman di wajah Mila mendadak sirna, berganti dengan raut wajah canggung, tegang, dan serba salah. Mata gadis itu perlahan bergerak, mengamati penampilan Galih dari ujung rambut hingga ujung kaki. Pandangannya tertuju pada kaos oblong kusam Galih, apron berbercak bumbu di pinggangnya, celana jinsnya yang memudar, serta sandal jepit yang membalut kakinya. Tak lupa, lebam kebiruan di pipi Galih yang masih berbekas jelas.
Ada guratan rasa malu dan jijik yang sangat tipis terpancar dari tatapan Mila, tatapan yang begitu asing bagi Galih.
Pemuda tampan di samping Mila yang memamerkan kunci mobil sedan di atas meja mendadak menaikkan sebelah alisnya. Ia melirik Galih dengan pandangan meremehkan, lalu menoleh pada Mila.
"Sayang, kamu kenal sama pelayan ini?" tanya pemuda itu dengan nada suara yang sengaja ditinggikan, sarat akan keangkuhan.
Galih baru saja hendak membuka mulut untuk menjelaskan bahwa mereka adalah mantan kekasih saat SMA dulu yang pernah saling menyayangi. Namun, sebelum Galih sempat mengeluarkan satu kata pun, Mila dengan cepat menyahut.
"Cuma teman lama pas sekolah dulu kok, Gavin," potong Mila cepat. Suaranya terdengar kaku dan dingin, sama sekali tanpa kehangatan yang dulu selalu hadir saat ia memanggil nama Galih. "Teman seangkatan aja, nggak akrab-akrab banget."
Pengakuan itu menghantam dada Galih dengan telak. Rasa perih merayapi jiwanya, jauh lebih menyakitkan daripada pukulan atau tendangan ayahnya di rumah. Mila, gadis yang dulu berjanji akan selalu mengingatnya, kini menyangkal kedekatan mereka di depan pria lain seolah-olah Galih adalah sebuah aib yang harus disembunyikan.
Pemuda bernama Gavin itu tertawa renyah, sebuah tawa meremehkan yang amat menyakitkan telinga. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kayu sambil bersedekap dada.
"Oh, syukur deh kalau cuma kenalan biasa," ujar Gavin seraya memandangi Galih dari atas ke bawah dengan tatapan menghina. "Soalnya aku kaget aja. Cewek secantik dan seberkelas kamu masa bergaul dekat sama orang miskin dan lusuh begini. Nanti bisa merusak level kamu, Sayang."
Mila hanya tersenyum tipis dan terkekeh canggung mendengar ucapan Gavin, tanpa ada niat sedikit pun untuk membela Galih atau menegur kesombongan pacar barunya itu. Ia justru memalingkan wajah, enggan menatap mata Galih yang terluka.
Galih berdiri mematung di samping meja. Buku-buku jarinya mencengkeram buku catatan kecil di tangannya hingga memutih. Hatinya hancur berkeping-keping. Mila yang ada di hadapannya sekarang bukan lagi Mila yang polos dan penyayang yang pernah ia kenal di desa. Kota besar rupanya telah mengubah gadis itu menjadi sosok yang glamor, sombong, dan memandang rendah orang lain berdasarkan harta.
Meski dadanya terasa sangat sesak dan air mata menuntut untuk menetes, Galih berusaha keras mempertahankan sisa-sisa harga dirinya. Ia menarik napas dalam-dalam, menegakkan kepalanya, lalu memaksakan sebuah senyuman formal di bibirnya. Ia sadar betul posisinya saat ini, dia hanyalah seorang pelarian miskin yang tak punya apa-apa, sementara pemuda di depannya punya segalanya.
"Iya, Mas... Saya cuma teman sekolahnya Mbak Mila dulu," sahut Galih dengan nada suara seramah mungkin, mencoba profesional sebagai pelayan warung. "Jadi, mau pesan lauk apa hari ini, Mas, Mbak?"
Gavin tersenyum puas, merasa menang dan superior atas jawaban Galih. Ia lalu menyebutkan beberapa menu makanan mahal di warung itu dengan gaya bahasa yang penuh kesombongan.
Setelah mencatat pesanan mereka, Galih membalikkan badan dan melangkah menuju dapur belakang. Setiap jengkal langkah kakinya terasa begitu berat. Di balik kepedihan dan kekecewaan atas perubahan sikap Mila, sebuah api tekad yang baru mendadak membakar dada Galih. Ia bersumpah pada dirinya sendiri, suatu hari nanti ia harus berhasil dan membuktikan bahwa seorang pelarian miskin sepertinya juga mampu berdiri tegak dengan terhormat di kota ini.