NovelToon NovelToon
Kembali Ke Meja Yang Sama

Kembali Ke Meja Yang Sama

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Perjodohan
Popularitas:204
Nilai: 5
Nama Author: Cuek Tapi Manis

Kembali ke Meja yang Sama
Romance • Office Romance • Second Chance
Tiga tahun setelah putus tanpa penjelasan, Alya pikir dia sudah move on — sampai hari pertama kerja di kantor baru, dia sadar atasannya sendiri adalah mantan yang paling ingin dia lupakan.
Raka. Dingin. Profesional. Seolah tak pernah mengenalnya.
Tapi di balik topeng atasan yang terkontrol itu, ada rahasia yang selama ini disembunyikan — alasan sebenarnya kenapa dia pergi dulu, tanpa kata, tanpa jejak.
Setiap rapat jadi medan perang batin. Setiap proyek yang mempertemukan mereka berdua jadi ujian rasa yang belum sepenuhnya mati. Alya harus memilih: bertahan profesional, atau membiarkan luka lama terbuka lagi demi kebenaran yang mungkin akan menghancurkan segalanya — atau menyatukan mereka kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cuek Tapi Manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kejujuran Terakhir

Alya duduk di kursi yang disediakan, tepat di samping Raka, tangan mereka masih saling bertautan di bawah meja, tersembunyi dari pandangan orang-orang di sekelilingnya meski keberadaan mereka berdua yang datang bersama sudah cukup menjadi pernyataan tersendiri. Ia melirik sekeliling ruangan—Pak Hendra dan Bu Marlina duduk di satu sisi meja, tampak tegang namun berusaha menjaga wibawa mereka sebagai tuan rumah pertemuan ini; di sisi lain, seorang pria yang Alya duga adalah ayah Sarah, mengenakan setelan jas abu-abu yang rapi dengan aura tenang yang justru terasa lebih mengintimidasi dibanding kemarahan terbuka; dan Sarah sendiri, duduk dengan punggung tegak, ekspresinya jauh lebih tenang dari yang Alya bayangkan, seolah ia sudah membuat perdamaian dengan apa pun yang akan terjadi hari itu.

"Baiklah," kata ayah Sarah, memulai pembicaraan setelah keheningan canggung yang sempat menggantung di ruangan. "Nama saya Bapak Wijaya, saya rasa kita belum pernah berkenalan secara langsung, Alya." Ia mengangguk sopan ke arah Alya sebelum melanjutkan. "Saya rasa lebih baik kita langsung masuk ke inti pembicaraan, mengingat kompleksitas situasi yang sudah berkembang dalam beberapa hari terakhir."

Pak Hendra berdeham, tampak sedikit gelisah di kursinya. "Pak Wijaya, sebelum kita lanjut, saya rasa penting untuk—"

"Biarkan saya bicara dulu, Pak Hendra," potong Raka tiba-tiba, suaranya tegas namun tetap sopan, membuat semua orang di ruangan menoleh kaget ke arahnya. Ini pertama kalinya Raka memotong pembicaraan ayahnya sendiri di depan orang lain.

Pak Hendra menatap anaknya dengan campuran keterkejutan dan kekhawatiran, tapi akhirnya mengangguk pelan, memberi ruang bagi Raka untuk bicara.

Raka menarik napas panjang, menggenggam tangan Alya sedikit lebih erat di bawah meja sebelum melepaskannya dan meletakkan kedua tangannya di atas meja, menatap satu per satu orang di ruangan itu. "Saya tau pertemuan ini diadakan untuk membahas kelanjutan perjanjian antara kedua keluarga—keluarga saya dengan keluarga Pak Wijaya, soal saya dan Sarah. Tapi saya rasa, sebelum kita membahas soal investasi atau kesepakatan bisnis apa pun, ada satu hal yang harus saya sampaikan dengan jelas, ke semua orang di ruangan ini."

Ia berhenti sejenak, matanya sekilas melirik ke arah Alya sebelum kembali menatap kedua orang tuanya. "Saya tidak akan menikahi Sarah."

Kalimat itu jatuh ke tengah ruangan seperti batu yang dilemparkan ke permukaan air tenang, menciptakan riak yang terasa di wajah semua orang yang hadir. Bu Marlina menutup mulutnya dengan tangan, Pak Hendra mengepalkan tangannya di atas meja, dan Pak Wijaya mengangkat alis, meski ekspresinya tetap terkendali.

"Raka," kata Pak Hendra, suaranya mulai meninggi, "kamu tau konsekuensi dari keputusan ini terhadap bisnis kita? Terhadap investasi yang sudah kita bangun selama delapan tahun terakhir?"

"Saya tau, Pa," jawab Raka, tidak gentar. "Dan saya siap menanggung konsekuensinya. Tapi saya tidak akan menikahi seseorang hanya demi menyelamatkan kesepakatan bisnis—terutama kalau itu berarti saya harus berbohong pada diri saya sendiri, dan pada Sarah, tentang perasaan yang sebenarnya tidak pernah ada."

Semua mata beralih ke Sarah, menunggu reaksinya. Tapi yang mengejutkan, Sarah justru tersenyum tipis, sebuah senyum yang jauh dari terluka.

"Sebenarnya," kata Sarah, suaranya tenang, "saya sudah menduga ini akan terjadi. Dan jujur saja, Papa," ia menoleh ke arah ayahnya sendiri, "saya juga tidak ingin menikahi seseorang yang hatinya jelas-jelas berada di tempat lain."

Pak Wijaya menatap putrinya, terkejut mendengar pengakuan itu. "Sarah, kita sudah membicarakan ini—"

"Aku tau, Pa," potong Sarah, lebih lembut namun tetap tegas. "Tapi aku sudah cukup dewasa untuk menentukan sendiri siapa yang aku mau nikahi. Dan aku tidak mau jadi bagian dari perjanjian yang dari awal memang bukan tentang cinta, tapi tentang menyelamatkan investasi perusahaan." Ia menghela napas, menatap ke arah Raka dan Alya sejenak. "Aku sudah lihat sendiri bagaimana Raka berubah setiap kali Alya ada di dekatnya. Itu bukan sesuatu yang bisa dipaksakan atau ditiru, Pa. Aku tidak mau menghabiskan hidupku bersama seseorang yang selalu membandingkan aku dengan orang lain di hatinya."

Ruangan itu hening sejenak, hanya suara AC yang terdengar mengisi kesunyian. Alya menatap Sarah dengan rasa hormat yang semakin dalam—keberanian perempuan itu untuk berbicara jujur di depan ayahnya sendiri, di tengah tekanan bisnis yang jauh lebih besar dari yang bisa Alya bayangkan, adalah sesuatu yang tidak mudah dilakukan.

Pak Wijaya menghela napas panjang, menyandarkan tubuhnya ke kursi, tampak mempertimbangkan sesuatu dalam diam untuk beberapa saat sebelum akhirnya berbicara lagi. "Baiklah," katanya akhirnya, suaranya lebih lunak dari sebelumnya. "Kalau memang begitu keadaannya, saya rasa tidak ada gunanya memaksakan pernikahan yang jelas tidak diinginkan kedua belah pihak. Tapi Pak Hendra," ia menoleh ke arah Pak Hendra, "ini berarti kita perlu membicarakan ulang struktur investasi kita, tanpa embel-embel ikatan keluarga seperti yang kita rencanakan sebelumnya."

Pak Hendra tampak pucat, jelas terlihat khawatir dengan implikasi finansial dari perubahan mendadak ini. "Pak Wijaya, saya harap kita masih bisa mempertahankan kerja sama bisnis kita, terlepas dari—"

"Tentu saja," potong Pak Wijaya, senyum tipis muncul di wajahnya. "Saya bukan orang yang akan menarik investasi hanya karena rencana perjodohan gagal, Pak Hendra. Perusahaan Anda tetap memiliki fundamental bisnis yang kuat. Saya hanya ingin memastikan bahwa ke depannya, kita membangun kerja sama berdasarkan kepercayaan bisnis yang murni, bukan lagi mencampuradukkannya dengan urusan pribadi anak-anak kita."

Kelegaan yang nyaris tidak bisa disembunyikan terlihat jelas di wajah Pak Hendra, dan untuk pertama kalinya sejak pertemuan dimulai, suasana di ruangan itu terasa sedikit lebih ringan.

Bu Marlina, yang sedari tadi diam mendengarkan, akhirnya menatap ke arah Raka dan Alya dengan mata yang berkaca-kaca. "Jadi," katanya pelan, "kalau bukan Sarah, apakah ini berarti—"

"Bu," potong Raka lembut, menggenggam kembali tangan Alya di atas meja kali ini, tidak lagi disembunyikan, "saya tidak akan memutuskan apa pun soal masa depan saya dan Alya di ruangan ini, di depan kesepakatan bisnis siapa pun. Itu akan menjadi keputusan kami berdua, kapan pun kami berdua siap, tanpa tekanan dari perjanjian atau tenggat waktu apa pun."

Semua mata beralih ke Alya, menunggu tanggapannya. Alya menatap Raka sejenak, merasakan kehangatan dari genggaman tangannya, sebelum akhirnya menatap ke arah orang tua Raka dan Pak Wijaya dengan keteguhan yang baru ia temukan pagi itu.

"Raka benar," kata Alya, suaranya jelas dan mantap. "Apa pun yang terjadi antara kami berdua ke depannya, itu akan menjadi pilihan kami sendiri—dibangun dari awal lagi, kali ini tanpa rahasia, tanpa perjanjian, dan tanpa tekanan dari siapa pun. Saya harap semua orang di ruangan ini bisa menghormati itu."

Bu Marlina mengusap air matanya sendiri, mengangguk pelan, sementara Pak Hendra, meski masih terlihat sedikit kecewa dengan berantakannya rencana yang telah ia susun bertahun-tahun, akhirnya juga mengangguk setuju.

Pertemuan itu berakhir tanpa kesepakatan pernikahan yang direncanakan, tapi dengan sesuatu yang jauh lebih berharga—kejujuran yang selama ini tidak pernah ada di antara kedua keluarga, dan untuk pertama kalinya, kesempatan bagi Alya dan Raka untuk benar-benar memilih jalan mereka sendiri.

Saat mereka berjalan keluar dari gedung bersama-sama, tangan masih saling bertautan, Alya menoleh ke arah Raka dengan senyum kecil yang mulai terasa lebih ringan dari sebelumnya. "Jadi," katanya, "sekarang apa?"

Raka menatapnya, matanya penuh dengan sesuatu yang selama delapan tahun tidak pernah benar-benar padam. "Sekarang," jawabnya pelan, "kita mulai dari awal. Pelan-pelan. Tanpa terburu-buru, tanpa tekanan siapa pun. Cuma kamu dan aku, memutuskan sendiri apa yang kita mau."

...Alya mengangguk, merasakan sesuatu yang hangat menjalar di dadanya—bukan lagi ketakutan atau keraguan, tapi harapan yang perlahan mulai tumbuh, kali ini dengan fondasi yang jauh lebih kokoh dari sebelumnya....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!