NovelToon NovelToon
Jodoh Tak Ada Yang Tahu

Jodoh Tak Ada Yang Tahu

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Dina Sen

Nara Askiya, gadis cantik yang memiliki tubuh tinggi dan menawan, tak salah jika banyak laki-laki yang mendambakannya, ia terkenal sopan anggun dan cerdas, berprofesi sebagai seorang pengawas di sebuah mall terkenal di kota itu.
namun nasib hidupnya tak se indah gambaran dirinya, ketika ia menikah dengan kekasih yang ia cintai dan sangat ia dambakan.
penghianatan mengubah hidupnya saat acara ijab akan di laksanakan, ia harus menelan kepahitan saat tahu sang kekasih pergi meninggalkannya tanpa aba-aba tanpa ucapan tanpa penjelasan.
Namun, di tengah kepedihan itu... ada seorang laki-laki gagah yang rela menutupi malu keluarganya di hari yang seharusnya bahagia bagi Nara, semua sempat mendapat perdebatan namun akhirnya Nara menerima laki-laki itu' dialah Deon Satya, laki-laki yang tak Nara ketahui adalah seorang pemilik mall tempatnya bekerja yang hidupnya memilih sederhana. bagaimana kehidupan Nara dan Deon usai menikah tanpa rasa cinta dan mengenal? apakah Nara akan menerima Deon...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dina Sen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

keadaan Nara

Deon cemas, ia kembali mengusap wajahnya, pandangannya jatuh pada kunci mobil di atas meja.

“Aku ke sana...” ucapnya

Namun langkahnya terhenti. Mall itu adalah tempat yang selama ini ia miliki dan kelola secara diam-diam dari Nara. Jika ia datang terburu-buru, terlebih dengan sikap panik, bukan tidak mungkin ada orang-orang yang mungkin mengenalinya sebagai pemilik mall.

Ia tidak bisa mengambil risiko. Selama ini, Deon sengaja menyembunyikan identitasnya dari Nara. Ia belum siap jika semua rahasia itu terbongkar hanya karena keadaan darurat seperti ini.

“Raka.”

“Iya, Pak?”

“Kamu antarkan Nara.”

Raka terdiam. “Saya, pak?”

“Iya kamu, siapa lagi? kamu tahu sendiri posisi ku.”

“Oh iya, baik Pak. Tapi kalau Bu Nara bertanya...”

“Katakan suami ibu, meminta ibu pulang. karena kamu memberi kabar orang rumah.”

Raka mengerutkan kening. “Tidak jadi bahan pertanyaan itu, pak?"

“tidak akan.”

“Lalu kalau beliau menolak?”

Deon menatap tajam ke arah layar ponselnya, meski Raka tidak bisa melihatnya.

“Raka.”

“Iya, Pak.”

“Jangan banyak bertanya.”

Raka menghela napas. “Baiklah.”

Deon kemudian menambahkan, “Pastikan dia pulang. Kalau kondisinya memburuk, langsung bawa ke rumah sakit.”

“Baik, Pak.”

Panggilan berakhir.

Deon masih berdiri di dekat meja makan. Tangannya mengepal, sementara pikirannya dipenuhi kekhawatiran.

Ia ingin melihat Nara secara langsung, memastikan perempuan itu baik-baik saja. Namun untuk saat ini, ia hanya bisa menunggu di rumah.

Di ruang kesehatan mall, Nara duduk bersandar di atas ranjang pemeriksaan. Wajahnya terlihat pucat. Seorang petugas kesehatan baru saja memberinya air putih.

“Bagaimana sekarang, Bu?” tanya petugas itu.

Nara mengangguk lemah. “Sudah agak baik.”

“Tadi sempat pingsan, Sebaiknya Ibu pulang dan beristirahat. Kalau masih mual atau pusing, sebaiknya diperiksa lebih lanjut di rumah sakit.”

Nara menggeleng pelan. “Tidak perlu. Saya masih bisa bekerja.”

Petugas itu menatapnya tidak percaya.

“Bu, tadi Ibu pingsan.”

“Saya hanya terlalu lelah.”

“Justru karena itu, Ibu harus beristirahat.”

Tidak lama kemudian, Raka datang ke ruang kesehatan. Ia berdiri di dekat pintu sambil menatap Nara dengan wajah cemas.

“Mba Nara?”

Nara menoleh. “ Raka?”

“Iya. Saya diminta mengantar Ibu pulang.”

Nara mengernyit. “Mengantar saya pulang?”

Raka mengangguk. “Suami mba, meminta mba izin kerja malam ini. mba harus beristirahat.”

Nara terdiam. Ia tidak menyangka Deon akan seperhatian ini padanya.

“saya tidak apa-apa, Raka. Masih bisa kerja kok.”

Raka menatapnya khawatir, “Suami mba, nanti marah kalau mba tetap memilih bekerja." jawabnya hati-hati.

Nara menghela nafas, lantas berdecak. “ck, aku masih kuat Raka."

“mba, nanti kalau mba nggak pulang, suami mba marah... Dan menganggap mall ini terlalu memaksa karyawan bekerja dalam keadaan sakit."

Nara tersenyum, "baiklah, aku nurut sama kamu."

Raka menatapnya dengan wajah lega. “nah gitu dong, mba. Jadi saya kan nggak di tegur atasan."

Nara menghela napas.

Raka melanjutkan, “Saya sudah mengurus izin kepada bagian terkait. Ibu tidak perlu khawatir.”

Nara kembali sedikit ragu. “Tapi...”

“sudah, nggak usah tapi-tapi mba... Nanti suami mba marah sama saya."

Kalimat itu membuat Nara terdiam.

Ia membayangkan Deon yang sejak tadi mengingatkannya untuk makan dan menyuruhnya beristirahat. Mungkin pria itu benar-benar akan marah jika tahu dirinya memaksakan diri bekerja dalam keadaan belum makan.

Selain itu juga, rasa mual kembali naik ke tenggorokannya. Nara menutup mulut, lalu menunduk.

Raka langsung berdiri lebih dekat. “Mba Nara?”

Nara menggeleng lemah. “Aku tidak apa-apa.”

Melihat keadaan Nara yang semakin lemas, Raka akhirnya membantu mengambilkan tasnya.

“Sudah, Mba. Kita pulang saja.”

Kali ini Nara tidak menolak.

...

Perjalanan menuju rumah tak berlangsung lama. Nara duduk di kursi penumpang dengan kepala bersandar pada sandaran. Sesekali ia memejamkan mata, berusaha menahan rasa mual yang masih datang dan pergi.

Raka beberapa kali meliriknya melalui kaca spion.

“mba Nara, kalau masih pusing, bilang saja.”

“Iya, Raka.”

“Kalau perlu, kita ke rumah sakit.”

Nara menggeleng. “Tidak usah. Rumahku dekat kok, lagian cuma telat makan."

Tidak lama kemudian, mobil memasuki komplek perumahan. Raka mengurangi kecepatan, lalu berhenti di depan rumah putih yang baru ditempati Deon dan Nara.

Nara membuka mata ketika mobil berhenti.

“Sudah sampai, mba.”

“Iya, Raka... Terimakasih ya.”

"iya, mba.

Raka turun lebih dahulu, lalu membukakan pintu untuk Nara. Perempuan itu turun dengan hati-hati. Namun sebelum mereka berjalan menuju pintu, Raka tiba-tiba mengubah ekspresinya.

Ia berpura-pura melihat rumah tersebut dengan wajah bingung.

“mba, ini rumah mba?”

Nara menoleh heran. “Iya.”

“Oh…” Raka mengangguk-angguk. “Saya kira rumah mba jauh.”

Nara menatapnya beberapa saat, lantas tersenyum.

“enggak, aku baru pindah kok."

Raka langsung memasang wajah canggung, sebelumnya ia memang sudah tahu. Hanya saja sesuai permintaan Deon' atasannya, ia pun harus pura-pura.

“Oh, iya. bagus rumahnya mba, Alhamdulillah baru nikah langsung tinggal sendiri mba."

Nara mengangguk, "iya, Alhamdulillah Raka."

“ya sudah, mba Nara masuk. Mba istirahat saja dulu... Besok kalau masih cuti bilang saya saja."

Nara mengangguk. "iya, trimakasih Raka."

Tak lama, Deon keluar dari dalam rumah menjemput Nara di teras. Deon dan Raka pura-pura tak saling kenal secara pribadi.

“Nara..." ucap Deon usai dirinya mendekat pada Nara. "ayok masuk."

Nara menoleh, "iya Deon."

"mas, trimakasih ya... Sudah mengantar istri saya..." ucap Deon pada Raka.

“Sama-sama, mas.”

Raka berdeham pelan, lalu segera berpamitan.

“Kalau begitu, saya pulang dulu. mba istirahat, soal cuti katakan saja sama saya.”

“Iya, Raka.”

Raka mengangguk, lalu masuk kembali ke mobil. Setelah mobilnya pergi meninggalkan komplek, Nara berjalan di bantu Deon masuk ke dalam rumah.

“Nara.”

"hm."

"kamu kenapa nggak mau dengarkan ucapanku?" tanya Deon khawatir usai sampai di dalam rumah.

Nara terdiam ia hanya menghela nafas.

Deon menutup pintu.

"nggak apa-apa, Deon..." jawab Nara akhirnya,

Nara berjalan menuju kamar, Deon mengikuti. "kamu jangan nggak apa-apa terus, Nara. Aku kan sudah katakan, jangan lupa makan."

Sampai di dalam kamar, Nara duduk di tepi ranjang tidur sembari menahan rasa mual. "aku ingin istirahat, Deon."

Deon tak bicara banyak lagi, ia lantas menyuruh Nara beristirahat.

"kamu istirahat, aku mau ambilkan teh hangat sebentar."

Nara mengangguk.

Deon buru-buru menuju dapur, niat hati ia membuatkan teh hangat dan makanan untuk Nara, namun melihat isi kulkas yang ternyata kosong Deon pergi tanpa izin pada Nara.

sunyi, hanya suara jam dinding yang terdengar. Nara pun tak menyadari deon pergi untuk beberapa menit, setelah sedikit lama Nara merasa aneh.

1
sakura
...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!