Selama 5 tahun Maya mengorbankan seluruh hidup dan cita-citanya demi merawat bagas, Suaminya yang koma dan lumpuh akibat akibat kecelakaan.
Maya harus bekerja keras banting tulang untuk biaya ruah sakit dan selalu setia menemani sang suami dengan air mata dan doa.
Akhirnya membuahkan hasil, Bagas perlahan-lahan sembuh.
Tapi apa yang Maya dapat, Setelah sembuh, Bagas mendapatan pekerjaan bagus dan ia malah menjalin hubungan dengan teman kantornya yang bernama Rania, Karena ia malu memiliki istri seperti Maya yang terlibat kusam akibat penderitaan selama bertahun-tahun.
Perceraian itu akhirnya terungkap saat Maya menemukan surat cerai di saat hari pernikahan mereka yang ke-7 tahun.
Maya pun harus bangkit dari kehidupan, pengorbanannya selama ini ternyata sia-sia, iya akan menunjukkan ketulusannya akan menjadi penyesalan terbesar Bagas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SulSya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 25
Klakson mobil terdengar kontras di pelataran rumah mungil tempat Nayla menepi.
Sebuah sedan hitam mewah mengilap berhenti persis di depan pagar.
Tak lama kemudian, pintu belakang terbuka, menampilkan sesosok wanita berpenampilan sangat anggun.
Clarissa, sepupu Nayla yang sudah bertahun-tahun tinggal di luar negeri, turun dengan langkah anggun.
Perhiasan emas minimalis dan tas bermerek yang melingkar di lengannya langsung menegaskan kelas sosial wanita itu.
Nayla yang sedang menyiram tanaman di teras menghentikan kegiatannya.
Matanya membelalak tak percaya.
"Clarissa?" bisik Nayla lirih.
Clarissa melepaskan kacamata hitamnya, lalu tersenyum tipis sembari menatap sekeliling halaman rumah yang jauh dari kata mewah. "Lama tidak berjumpa, Nayla.
Boleh aku masuk?"
Nayla menyapu keringat di dahi dengan punggung tangannya, lalu buru-burung mengangguk. "Tentu... masuklah. Maaf, rumahku berantakan."
Mereka berdua kini duduk di ruang tamu yang sederhana. Clarissa memandangi cangkir teh hangat yang disajikan Nayla dengan tatapan iba.
"Aku baru dengar kabar tentang rumah tanggamu minggu lalu," Clarissa membuka percakapan, memecah keheningan di antara mereka. "Ibu bilang kau dan Aris sedang dalam proses berpisah?"
Nayla menunduk, meremas jemarinya di atas pangkuan. "Hubungan kami memang sudah tidak bisa dipertahankan, Clar. Terlalu banyak luka."
Clarissa menghela napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. "Dan Aris... apa dia mempersulit proses penceraian kalian?"
Nayla tertawa getir. "Dia menolak bertanda tangan. Aris sengaja menggantung statusku, dan... secara finansial dia berusaha menekan mentalku.
Dia tahu aku tidak punya cukup dana untuk menyewa pengacara hebat."
"Sudah kuduga," potong Clarissa tegas. Matanya memancarkan rasa gemas sekaligus simpati.
"Pria seperti Aris itu tipikal. Ketika dia tahu dia kehilangan kendali atas dirimu, dia akan menggunakan uang sebagai senjata untuk mengikatmu."
Clarissa kemudian meraih tas kulit mewahnya. Ia mengambil selembar cek kosong dan sebuah kartu nama pengacara ternama, lalu meletakkannya di atas meja kaca di antara mereka.
Nayla menatap dua benda itu dengan kening berkerut. "Clarissa, apa ini?"
"Itu bantuan dariku," jawab Clarissa tanpa ragu. "Tulis berapa pun nominal yang kau butuhkan untuk menyelesaikan urusan ini.
Dan pengacara di kartu nama itu adalah salah satu yang terbaik di ibu kota. Dia bisa memastikan kau keluar dari pernikahan ini tanpa kehilangan hak-hakmu."
Nayla menatap Clarissa, matanya mulai berkaca-kaca. Ada rasa haru yang membuncah, tetapi juga ada rasa canggung yang menahan dirinya.
"Clar... aku tidak bisa menerima ini," kata Nayla pelan sambil menggeser cek itu kembali ke arah sepupunya.
"Ini terlalu banyak. Masalahku dengan Aris seharusnya menjadi tanggung jawabku sendiri."
"Tanggung jawabmu?" Clarissa menaikkan nadanya, suara ketegasannya memenuhi ruangan.
"Nayla, dengarkan aku! Berhenti bersikap terlalu sopan pada situasi yang menghancurkan hidupmu! Aris memanfaatkan kelemahanmu karena dia tahu kau tidak punya modal untuk melawan di pengadilan."
"Tapi aku tidak mau berutang padamu, Clarissa. Hubungan keluarga kita bisa canggung jika..."
"Siapa yang bilang ini utang?" sela Clarissa cepat. Ia meraih tangan Nayla dan menggenggamnya erat. Tangannya yang halus terasa sangat hangat di kulit Nayla yang dingin.
"Nayla, kita ini saudara. Saat kau berjuang sendirian bertahun-tahun menahan kelakuan Aris, aku tidak ada di sini.
Biarkan kali ini aku membantumu berdiri. Jangan anggap ini utang, anggap ini investasi untuk kebebasan dan masa depanmu."
Airmata yang ditahan Nayla akhirnya menetes juga. "Kenapa kau melakukan ini untukku, Clar? Kita bahkan sudah jarang mengobrol sejak kau menikah..."
Clarissa tersenyum samar, ada kilat kepedihan di matanya yang tak pernah Nayla lihat sebelumnya.
"Karena aku tahu bagaimana rasanya terjebak dengan pria yang salah, Nayla.
Bedanya, dulu aku tidak punya siapapun yang mengulurkan tangan padaku. Aku tidak mau sepupuku mengalami penderitaan yang sama hanya karena masalah uang."
Suasana hening sejenak. Hanya terdengar detak jam dinding dan isak tangis halus dari Nayla.
"Aris tidak akan menyerah begitu saja, Clar," ujar Nayla seraya mengusap air matanya. "Dia punya koneksi, dan dia mengancam akan menghabiskan tabunganku di persidangan."
Clarissa tersenyum sinis. "Biarkan dia mencoba. Dia belum tahu siapa yang berdiri di belakangmu sekarang.
Pakai pengacara itu, Nayla. Jangan biarkan Aris memeras energi dan harga dirimu lagi."
Nayla menatap cek di atas meja, lalu beralih menatap mata sepupunya. Keteguhan di mata Clarissa perlahan mengalirkan keberanian baru dalam dadanya.
Sudah terlalu lama ia merasa sendirian dan tak berdaya.
"Terima kasih, Clarissa..." bisik Nayla tulus. "Aku... aku benar-benar tidak tahu harus membalasnya bagaimana."
Clarissa menggenggam erat jemari Nayla sekali lagi sebelum berdiri. "Balaslah dengan cara memenangkan kebebasanmu dan hidup bahagia. Itu sudah lebih dari cukup bagiku."