NovelToon NovelToon
Terlempar Ke Era Majapahit

Terlempar Ke Era Majapahit

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: MF015

Raka melewati gapura misterius di Laweyan dan terbangun di hutan zaman Majapahit. Tiba-tiba ia bertemu Sekar dan mengetahui bahwa ia terlempar ke tahun 1350 M saat Hayam Wuruk baru dinobatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MF015, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Tamu dari Seberang Lautan

Roti kedua juga habis di tangan Sekar.

Raka tidak sampai hati memprotes. Gadis itu mengunyah dengan wajah serius, seperti seorang tabib yang sedang menguji ramuan baru, lalu mengangguk pelan seakan memberi nilai.

"Rasanya aneh," katanya. "Tapi enak. Kau membuatnya sendiri?"

"Bukan. Dibuat di... tempat yang jauh sekali."

"Seberapa jauh?"

Raka membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ia sadar bahwa jawaban jujur akan membuatnya dicap gila, atau lebih buruk lagi, dicap tukang sihir. Ia pernah membaca cukup banyak tentang masa ini untuk tahu bahwa orang yang tak bisa dijelaskan biasanya berakhir dengan masalah.

"Seberang lautan," katanya akhirnya. "Jauh di seberang lautan. Kapal saya karam, dan saya terdampar. Saya tidak ingat bagaimana sampai ke hutan ini."

Sekar menyipitkan mata. Ia jelas tidak sepenuhnya percaya, tapi ia juga tidak membantah. "Banyak saudagar dari negeri jauh datang ke Wilwatikta," katanya pelan. "Dari Campa, dari Cina, dari negeri-negeri yang namanya tak bisa kuucapkan. Tapi mereka tidak berpakaian sepertimu, dan mereka tidak tersesat di hutan Kalimati sambil menggenggam benda hitam yang tak menyala."

"Ini..." Raka melirik ponselnya. "Ini jimat. Jimat dari kampung saya. Tapi sedang tidak bertenaga."

Itu bohong yang lumayan, pikirnya. Dan, jujur saja, tidak sepenuhnya salah.

Sekar mengangkat bahu, lalu menaruh keranjangnya di tanah dan mulai memeriksa isinya. Ada berbagai dedaunan, akar-akar kecil, dan beberapa kuntum bunga berwarna kuning. "Aku harus pulang. Ibuku menunggu. Kalau kau tak punya tempat lain, ikutlah. Desa kami tak jauh. Tapi dengarkan baik-baik."

Ia menunjuk Raka dengan telunjuk yang kasar oleh pekerjaan.

"Jangan bicara soal 'seberang lautan' pada sembarang orang. Sejak Baginda dinobatkan, prajurit sering lewat, mencari kabar tentang pendatang. Banyak yang curiga pada orang asing, apalagi yang tak jelas asalnya. Kalau Ki Buyut bertanya, katakan saja kau saudagar yang kena musibah. Mengerti?"

"Mengerti," kata Raka. Ia terharu juga. Gadis ini baru bertemu dengannya lima menit, tapi sudah mengajarinya cara bertahan hidup.

"Satu lagi." Sekar menatap jaket biru Raka. "Lepas kain anehmu itu. Orang desa akan menatapmu seperti melihat hantu."

Raka melepas jaketnya dan melipatnya ke dalam ransel. Kaus abu-abu di baliknya hanya sedikit lebih biasa, tapi lumayan. Sekar meminjaminya selembar kain panjang dari keranjang, yang ia lilitkan di bahu Raka dengan gerakan cepat dan tidak sabar, seperti sudah biasa mengurus orang keras kepala.

"Sudah. Sekarang kau tampak seperti orang yang mungkin berasal dari suatu tempat."

"Terima kasih. Mungkin."

Jalan menuju desa menembus hutan, lalu keluar ke hamparan yang membuat Raka berhenti melangkah.

Sawah. Terasering hijau yang berlapis-lapis menuruni lereng bukit, berkilau oleh air pagi, dikelilingi barisan pohon kelapa dan pinang. Burung bangau putih berdiri di pematang. Di kejauhan, asap tipis mengepul dari atap-atap ijuk. Tidak ada kabel, tidak ada tiang listrik, tidak ada papan iklan rokok. Hanya langit yang luas, biru pucat, dan sesuatu yang selama ini tak pernah ia sadari: keheningan yang bersih.

"Ada apa?" tanya Sekar.

"Tidak apa-apa," kata Raka. Suaranya sedikit bergetar. "Hanya... indah sekali."

Sekar mengerutkan dahi. "Itu cuma sawah."

"Justru itu," kata Raka.

Mereka berjalan menyusuri pematang. Petani-petani yang sedang membajak dengan kerbau menoleh, menatap Raka dengan rasa ingin tahu yang sopan. Beberapa anak kecil berlari-lari mengikuti dari jauh, berbisik-bisik, dan setiap kali Raka menoleh, mereka menjerit kecil lalu bersembunyi di balik batang pisang.

Raka mulai memperhatikan hal-hal kecil yang tak pernah ia temukan di buku: kain para petani yang ujungnya diselipkan di pinggang, caranya mereka menyapa Sekar dengan sebutan "Nyai Sekar" meski ia tampak masih sangat muda, bau tanah yang dibajak, dan lagu pendek yang dinyanyikan seorang perempuan sambil menumbuk padi. Bahasa mereka bagai arus yang makin lama makin bisa ia ikuti. Entah kenapa otaknya seperti mau menyesuaikan diri dengan cepat.

"Kau jarang bicara," kata Sekar tanpa menoleh.

"Saya sedang belajar mendengar."

"Untuk orang yang bilang kapalnya karam, kau tak tampak sedih."

Raka terdiam. Pertanyaan yang tajam. Gadis ini bukan hanya baik hati, tapi juga cerdas.

"Saya... masih terlalu kaget untuk merasa sedih," katanya akhirnya, dan itu adalah kalimat paling jujur yang ia ucapkan sejak pagi.

Sekar tidak menjawab, tapi langkahnya sedikit melambat, seperti memberi ruang.

Rumah Sekar berada di ujung desa, sebuah rumah panggung kayu dengan atap ijuk dan tiang-tiang yang menjulang. Di bawah lantainya tersimpan lumbung kecil dan beberapa ayam yang mematuk-matuk tanah. Di halaman, sebatang pohon sawo rindang memayungi bale bambu.

Di dalam, di atas tikar pandan, terbaring seorang perempuan paruh baya yang wajahnya pucat dan keringat dingin membasahi dahinya. Napasnya pendek-pendek.

"Ibu," kata Sekar. Seluruh sikap tegarnya langsung runtuh menjadi suara lembut yang nyaris tak terdengar. "Aku bawa daunnya."

"Siapa itu?" bisik perempuan itu, matanya melirik Raka.

"Tamu, Ibu. Orang yang tersesat. Namanya Raka."

"Nyai Lastri," kata perempuan itu dengan senyum lemah. "Selamat datang di gubukku yang miskin, Nak. Maaf tak bisa menyambutmu dengan layak."

Raka berlutut di dekat tikar. Ia tidak punya pelatihan medis, tapi ia pernah mengikuti kursus pertolongan pertama untuk pemandu wisata, dan ia tahu betul tanda-tanda demam tinggi: kulit panas, bibir pecah-pecah, dan tubuh yang lemas.

"Sudah berapa hari sakitnya, Nyai?" tanyanya.

"Empat hari," jawab Sekar. "Awalnya hanya mual. Lalu demam. Tabib desa sudah memberi ramuan, tapi tak banyak membantu."

"Airnya dari mana?"

Sekar mengerjap. "Dari sumur desa. Kenapa?"

"Semua orang di desa minum dari sumur yang sama?"

"Ya. Tapi hanya Ibu yang sakit seperti ini. Beberapa orang lain juga mual-mual beberapa hari lalu."

Raka merasakan sesuatu berdesir di dadanya. Dugaan buruknya cukup masuk akal: air yang tercemar. Ia tak bisa memastikan, tentu saja, tapi ia tahu satu hal sederhana yang pasti tak merugikan.

"Sekar, boleh saya minta tolong? Rebus air sampai mendidih betul. Banyak. Lalu biarkan dingin sebelum diminum. Berikan itu pada Nyai Lastri, sedikit-sedikit tapi sering. Dan jangan biarkan siapa pun minum air mentah dari sumur itu untuk sementara."

Sekar menatapnya curiga. "Merebus air? Untuk apa? Air kan sudah bersih."

"Percayalah. Itu cara dari kampung saya. Air tampak jernih belum tentu bersih."

Seharusnya itu cukup untuk membuatnya terdengar seperti orang gila. Tapi Sekar menatap ibunya yang gemetar di atas tikar, lalu menatap Raka lagi, dan keputusan di matanya terbentuk dalam sekejap.

"Baik," katanya. "Aku coba."

Raka mengeluarkan satu hal lagi dari ranselnya, sebuah strip kecil tablet parasetamol yang selalu ia bawa untuk turis yang pusing, dan seketika ia ragu. Tangannya berhenti di udara.

Ini bukan sekadar obat. Ini adalah benda dari tujuh abad ke depan. Kalau ia memberikannya, apa yang akan terjadi? Apakah itu mengubah sesuatu? Ia pernah membaca cukup banyak cerita fiksi tentang perjalanan waktu untuk tahu bahwa setiap tindakan kecil bisa merembet. Tapi di depannya terbaring seorang perempuan yang demam, dan di sampingnya berdiri anak gadisnya yang ketakutan.

"Sejarah," pikirnya getir, "tidak akan runtuh hanya karena satu tablet."

Ia membelah satu tablet menjadi dua dengan kuku, lalu menyerahkannya pada Sekar. "Ini obat penurun demam dari negeri saya. Larutkan setengahnya dalam air hangat dan berikan pada Ibu. Hanya itu. Jangan lebih."

Sekar menerimanya dengan hati-hati, seakan benda itu terbuat dari kaca. "Kalau ini beracun..."

"Kalau ini beracun, kau boleh memakai sabitmu padaku."

"Aku memang berniat begitu," kata Sekar tanpa senyum, dan Raka baru menyadari bahwa itu mungkin bukan lelucon.

Sore harinya, demam Nyai Lastri turun sedikit. Tidak banyak, tapi cukup untuk membuatnya tertidur dengan tenang. Sekar duduk di samping ibunya cukup lama, tak mengatakan apa-apa, hanya mengusap dahinya.

Raka duduk di bale bambu di halaman, memandang matahari yang pelan-pelan tenggelam di balik bukit. Langit berubah jingga, lalu ungu, lalu biru tua. Ketika bintang pertama muncul, ia mengira itu pesawat terbang. Baru kemudian ia ingat bahwa tidak ada pesawat di sini.

Dan bintang-bintang itu... banyak sekali. Tak terhitung. Milky Way terbentang jelas di atasnya, pita cahaya yang belum pernah ia lihat sepanjang hidupnya di kota. Ia terpana.

Ia mengeluarkan buku catatannya dan pensil dari ransel, lalu menulis di halaman kosong dengan tangan yang masih sedikit gemetar:

Saka 1272. Hari pertama. Desa di dekat hutan Kalimati. Sekar. Nyai Lastri. Rebus air.

Ia menatap tulisan itu cukup lama. Lalu menambahkan satu baris lagi di bawahnya:

Jangan ubah sejarah. Jangan ubah sejarah. Jangan ubah sejarah.

Ia tersenyum getir. Kalimat itu terdengar bagus di kepalanya. Dalam praktiknya, dalam waktu kurang dari satu hari, ia sudah memberikan obat dan nasihat kesehatan pada penduduk desa.

"Kau menulis apa?"

Raka hampir melompat. Sekar berdiri di ambang pintu, memegang sebuah cangkir tanah liat berisi air hangat dan menyodorkannya padanya.

"Catatan," katanya. "Supaya saya tidak lupa."

"Lupa apa?"

"Siapa saya."

Sekar duduk di ujung bale, cukup jauh untuk menjaga jarak, cukup dekat untuk mengobrol. Ia menatap langit.

"Ibu minta aku mengucapkan terima kasih," katanya akhirnya, singkat. "Dia bilang kau orang baik."

"Dia belum tahu saya."

"Aku juga belum." Sekar menoleh dan menatapnya lurus. "Tapi kalau ibuku sembuh, aku akan memercayaimu sedikit lebih banyak."

"Itu... sudah lebih dari cukup."

Mereka diam. Jangkrik berderik, dan jauh di ujung desa seekor anjing menyalak.

Lalu, dari arah gerbang desa, terdengar suara yang tak cocok dengan malam setenang itu: bunyi kentongan dipukul bertalu-talu, cepat dan panik, diikuti derap banyak kaki kuda.

Sekar langsung berdiri. Wajahnya berubah tegang.

"Prajurit," bisiknya. "Mereka datang malam-malam. Raka... cepat masuk. Jangan keluar sebelum kupanggil."

1
Kam1la
tuntutan sama dengan syarat...
mimief
mang sial
pinter bet dia🫣
mimief
ya..mau sebesar apapun jabatan mu
dia tetap anak remaja yg belum banyak pengalaman 🥹
mimief
oooooooo....MG
wahhhhhh
mimief
sang ratu bukan?
eh pas Hayam Wuruk naik tahta,ratu nya masih hidup ga si Thor?
wkwkwkwkwkwk
kyk nya aku pas ini kena remedial ni🤣🤣
mimief: mungkin beliau yg nyari ya, bagaimana pun ttp darah dari saudara sendiri 🥹
total 2 replies
mimief
tapi kayaknya,kalau bukan sama yg punya
dia ga akan bereaksi deh
coba aja
yah...Raka ga jadi pulang 🥹
Kam1la
Sekar akhirnya bakal menemukan keluarga kandungnya
Kam1la
Hendar punya ambisi yg membahayakan seseorang
Ranti Calvin
👍
mimief
wah....pulang Raka
apakah ada yg kebawa juga🥹
Kam1la
apakah akan terbuka seperti duaan, malam jumat Kliwon..
Kam1la
Sekar diculik. kebakaran modus nya untuk pengalihan saja...
Kam1la
Pernikahan itu akhirnya bakal tetap terjadi...
Kam1la
Raka berhadapan langsung dengan hayam Wuruk....
mimief
apakah Raka akan membawa sekar ke masa depan?
itu sebabnya namanya juga ga tercatat di sejarah?
apakah keruntuhan Majapahit ttp terjadi...
mimief
apakah sebenarnya Hayam Wuruk tau keberadaan Sekar
dan menghilangkan nya langsung,itu sebabnya Sekar ga pernah tercatat dalam sejarah?🥹
mimief
tapi emang pada saat itu
gajah Mada kekuasaan nya bener bener menyamai raja si ya
di satu pihak karen Hayam Wuruk terlalu muda buat mangku jadi seorang raja.
tapi.... harusnya 🥹🥹🥹
mimief
wah ..berat Baginda
kalau aku melarang mu,akankah kau mendengar ku?
mimief
sama...aku juga🫣🤣🤣🤣
mimief
wah...
memang aura pemimpin ga bisa boong ya
pantes dia legenda tak terbantahkan 🥹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!